Keesokan harinya...
Pagi-pagi sekali, Bara sudah bersiap-siap untuk meninggalkan apartemen dan mulai hari ini tugasnya akan lebih besar menggantikan Vino mengurus perusahaan daripada beberapa bulan ini hanya menjaga dan mengurus segala keperluan Tania di apartemen.
Keputusan Vino ini tentu membuat Tania bersedih karena setelah ini ia tidak akan mempunyai teman lagi untuk saling berbagi cerita. Selama beberapa bulan ini, hanya Bara lah tempatnya mencurahkan segala keluh kesahnya, terlebih selama berada di apartemen Tania tidak pernah berkomunikasi dengan orangtuanya, karena ia tidak ingin orangtuanya tahu bagaimana sesungguhnya kehidupan yang ia jalani selama berada di apartemen, yang orangtuanya tahu ia tinggal bersama dengan Vino meskipun mereka tahu pernikahannya hanyalah sebuah kontrak. Dan disetiap ia bersedih Bara selalu mampu menghiburnya.
"Pak Vino, Nona Tania, saya pamit ya." ucap Bara setelah memasukkan kopernya kedalam bagasi.
"Kamu sudah lama bekerja dengan saya, jadi saya tidak perlu menjelaskan lagi bukan? Apa saja yang perlu kamu kerjakan." ucap Vino.
Bara mengangguk, "Iya, saya paham, Pak." jawabnya kemudian masuk kedalam mobilnya.
Setelah mobil Bara sudah meninggalkan pelataran apartemen, Vino mengajak Tania untuk masuk namun Tania sepertinya tidak ingin beranjak dan terus memperhatikan mobil Bara yang sudah mulai menjauh.
Vino pun mendengus kesal, sikap yang ditunjukkan Tania kenapa selalu saja mengarahkannya pada tuduhan Elzara Setelah mobil Bara sudah tak terlihat lagi, Tania menoleh menatap Vino yang ternyata juga sedang menatapnya.
"Maaf, Pak, bukannya saya lancang tapi kalau boleh tahu apa alasan Bapak merubah perjanjian awal kita?" tanya Tania.
"Kenapa, apa kamu keberatan?" Vino balik bertanya.
"Bukan seperti itu maksud saya, Pak. Hanya saja saya khawatir Bu Elza tidak akan setuju jika Pak Vino tinggal disini."
"Kamu tidak perlu memikirkan hal itu, yang perlu kamu lakukan hanyalah memastikan bayi itu tumbuh dengan sehat didalam kandungan kamu." ucap Vino.
'Karena nanti saat dia sudah lahir, saya harus memastikan itu anakku atau bukan. Jika terbukti itu bukan anakku, kamu akan menerima akibatnya karena sudah berani menipu saya.' sambungnya dalam hati.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Tania meninggalkan Vino begitu saja dan masuk kedalam apartemen.
Sementara Vino yang juga hendak masuk, langkahnya terhenti saat ponselnya berdering. Ia mencebikkan bibirnya melihat nama yang tertera di layar ponselnya. My beloved wife. Ah entah kenapa panggilan sayangnya itu sudah terasa tak berarti lagi baginya semenjak Elzara selalu menuduh dirinya tidak bisa memiliki keturunan, ia jadi berpikir untuk merubah nama panggilan di ponselnya itu menjadi nama Elzara saja.
"Halo, kamu dimana dan kenapa semalaman kamu gak pulang? Jangan bilang kamu lagi sama Tania, ingat janji kamu Vino, kamu hanya akan mengunjungi dia sesekali saja dan tidak akan terlelap diatas ranjangnya."
Pertanyaan beruntun serta peringatan langsung saja terlontar setelah Vino menjawab panggilannya itu, Vino terkekeh mendengarnya.
"Tania juga istriku, jadi sudah sewajarnya kan kalau aku tidur dengannya." ucap Vino lalu menarik sudut bibirnya seolah mengejek lawan bicaranya diseberang telepon.
"Yah aku memang pernah berjanji padamu untuk tidak tidur bersama Tania, aku hanya akan meminta hak ku lalu setelah itu aku akan pergi meninggalkannya. Tapi setelah aku pikir-pikir lagi, sepertinya aku berubah pikiran dan menarik janjiku itu. Aku membayar Tania dengan jumlah yang tidak sedikit, jadi akan sangat rugi jika aku tidak menikmatinya sepuasku." sambung Vino yang membuat wajah Elzara memerah padam.
Dengan emosi yang memuncak, diseberang sana Elzara kembali mengatakan jika anak yang dikandung Tania bukanlah anak Vino dengan nada yang tinggi. Bahkan secara terang-terangan ia mengatakan jika bayi itu adalah anaknya Bara. Dan Vino pun hanya bisa menahan nafas mendengarnya kemudian mematikan sambungan telepon itu begitu saja.
Setelah mengatur nafasnya yang memburu, Vino pun kembali melanjutkan langkahnya masuk kedalam apartemen.
...__________...
Satu minggu sudah Tania dan Vino tinggal bersama di apartemen, dan dalam waktu sesingkat itu Tania sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Vino. Namun tetap saja Vino tidak seperti Bara yang selalu bisa menghiburnya. Sikap Vino yang temperamen nya tegas dan tidak suka berbasa-basi membuat Tania lebih banyak menyendiri ketika telah selesai dengan tugasnya mengurus segala kebutuhan Vino seperti menyediakan makanan dan pakaian. Dan untuk pekerjaan yang lainnya tentu ART yang mengerjakannya.
Namun, ternyata Vino tidak menyukai sikap Tania yang lebih banyak diam dan seperti menganggapnya tidak ada. Sikap Tania itu membuat Vino berpikir jika istrinya keduanya itu bersedih karena kehilangan Bara. Ah apa-apaan ini?
Meskipun pernikahannya hanyalah sebuah kontrak, tetapi apakah pantas wanita bersuami memikirkan laki-laki lain bahkan bersedih karena laki-laki itu tak berada disisinya lagi. Pikiran Vino benar-benar kalut, ia tak bisa berpikir jernih untuk itu semua. Yang ada dalam pikirannya sekarang hanyalah ucapan Elzara yang membuatnya tidak tenang. Emosi pun menguasai dirinya saat ini terlebih karena sikap Tania yang suka menyendiri semenjak tidak ada Bara, dan akhirnya Vino pun meluapkan emosinya itu.
"Apa yang membuatmu tampak bersedih seperti itu, apa karena Bara? Apakah kamu merindukan dia, katakan Tania!" sentak Vino sembari menggebrak meja makan.
Tania yang sedari tadi hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa memakannya, terkejut dan refleks menjatuhkan sendoknya.
"A-pa yang Pak Vino katakan?" tanya Tania dengan raut terkejut sekaligus bingung, ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba Vino mengatakan hal seperti itu.
"Tidak usah berpura-pura lagi, Tania. Selama ini kamu memiliki hubungan kan dengan Bara? Oh, atau jangan-jangan benar, anak yang kamu kandung itu bukanlah anakku tetapi anaknya Bara. Kalian berdua bersekongkol kan untuk menipu saya!"
"Pak Vino!" untuk yang pertama kalinya Tania menyebut nama laki-laki yang menyewa rahimnya itu dengan lantang seraya berdiri dari tempat duduknya. Tatapannya menatap Vino dengan tajam.
Begitupun dengan Vino, ia juga berdiri dari tempat duduknya. Tatapannya beradu dengan Tania yang kini sama-sama tersulut emosi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
febby fadila
knp vino nggak cari tau dulu jangan langsung nuduh aja
2025-03-16
0
Bahrul Ulum
kan...
tengkar akhirnya... knp gk d bicarakan secara baik"...?
jangan d simpan klo punya uneg" yg gk enak d pikiran
2024-02-13
3
Wirda Wati
lanjuuy
2023-09-23
3