Vino kembali kamar seteleh Bara berpamitan kembali ke kantor. Dilihatnya Tania masih tertidur pulas dengan posisi yang masih sama. Seteleh menutup pintu kamar ia melangkah menuju ranjang dan perlahan naik ke tempat tidur lalu berbaring disamping Tania dengan posisi saling berhadapan.
Vino mengulurkan tangannya mengusap perut Tania, didalam sana ada bagian dari dirinya yang sedang tumbuh dan akan menjadi penerusnya kelak.
Namun, sayang anaknya itu bukan lah terlahir dari rahim wanita yang dicintainya. Ah tidak, tidak ada lagi kata cinta untuk siapa pun termasuk kepada Elzara yang selalu ia ratukan, kini dan seterusnya cinta dan kasih sayangnya hanya akan tercurah kepada anaknya saja.
...__________...
Pagi hari yang begitu cerah, namun wanita yang tengah berbadan dua itu masih betah bergelung dibalik selimut, entah kenapa akhir-akhir ini ia malas sekali untuk bangun pagi.
Tak lama kemudian pintu kamar terbuka, Vino masuk dengan membawa nampan yang berisi semangkuk bubur dan segelas susu khusus ibu hamil. Ia meletakkan nampan itu diatas nakas lalu merangkak naik ke tempat tidur untuk membangunkan Tania.
"Ayo bangun, saya bawakan sarapan untuk kamu," ujar Vino sambil menepuk pundak Tania.
"Pak, saya masih ngantuk biarkan saya tidur sebentar lagi." Tania menarik selimut dan menutupi kepalanya.
"Kamu harus segera bangun dan habiskan sarapanmu, seteleh itu kita pergi kerumah sakit untuk periksa kandungan kamu."
Mendengar itu Tania seketika membuka selimutnya dan langsung mendudukkan tubuhnya. Ia sangat senang mendengar Vino akan mengajaknya kerumah sakit karena memang sudah dua bulan ini ia tidak pergi memeriksa kandungannya.
"Pak Vino serius, hari ini kita kerumah sakit periksa kandungan?" tanya Tania antusias.
Vino menganggukkan kepalanya dan Tania pun langsung turun dari ranjang, ia mengambil handuk lalu segera masuk kedalam kamar mandi.
Sementara itu Vino merapikan tempat tidur hal yang tidak pernah ia lakukan, dan alasannya adalah tidak ingin membuat ibu dari anaknya itu kelelahan. Kemudian Vino membuka lemari untuk menyediakan pakaian Tania, dan ia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat ukuran baju-baju Tania yang sepertinya tidak akan bisa dipakai saat nanti perutnya sudah semakin membesar.
Beberapa saat terus memperhatikan pakaian Tania didalam lemari dan bingung harus mengambil yang mana, Vino langsung menoleh mendengar pintu kamar mandi terbuka, ia tertegun melihat Tania keluar dari kamar mandi hanya mengenakkan handuk menutupi bagian tubuhnya dan rambutnya tergerai dengan sisa-sisa air yang menetes diujung rambut membuat Vino tanpa sadar menelan salivanya dengan kasar.
Tanpa memperdulikan Vino yang terus menatapnya, Tania dengan santainya berjalan kearah lemari dan seteleh mengambil pakaian ia segera kembali masuk kedalam kamar mandi. Tania merutuki dirinya kenapa tadi hanya mengambil handuk dan tidak mengambil bathrobe.
Seteleh selesai berpakaian dan juga sudah menghabiskan sarapannya, Tania segera mengajak Vino untuk pergi kerumah sakit, ia sudah tidak sabar melihat bagaimana pertumbuhan bayinya didalam rahimnya. Saat nanti ia akan berpisah dari bayinya itu moment seperti inilah yang akan ia rindukan.
Sesampainya dirumah sakit, Tania langsung dirujuk keruang poli kandungan dan langsung melakukan pemeriksaan tanpa harus mengantri seperti yang lain nya, dan Tania tidak heran lagi dengan hal itu mengingat siapa yang bersamanya sekarang. Orang seperti Vino tentu bisa melakukan apa saja termasuk seperti saat ini.
"Dok, bagaimana perkembangan kandungan Istri saya?" tanya Vino, seteleh dokter selesai melakukan USG.
"Sejauh ini perkembangannya bagus, janinnya juga sehat. Di usia janin 3 bulan wajah sudah dilengkapi mata, hidung dan mulut. Tulang dan otot juga sudah terbentuk. Kuku-kuku pada jari pun sudah mulai tumbuh dan alat kelamin juga sudah mulai terbentuk, namun belum berkembang secara sempurna sehingga belum terlihat jenis kelaminnya." jawab dokter itu menjelaskan.
Tania tersenyum mendengar penuturan dokter, ia juga berharap bayi dalam kandungannya tumbuh dengan sehat hingga di lahirkan nanti. Karena bagaimana pun juga bayi itu adalah darah dagingnya meskipun nanti tidak bisa ia miliki.
''Saya tidak mempermasalahkan apapun jenis kelaminnya, laki-laki atau perempuan bagi saya sama saja. Yang terpenting bayi saya tumbuh dengan sehat didalam rahim Ibunya sampai hari persalinan."
Ucapan Vino membuat Tania terharu, segitu sayangnya kah laki-laki itu pada bayi ini sehingga tidak mempermasalahkan apapun jenis kelaminnya, yang biasanya seorang pengusaha seperti Vino sangat mengharapkan keturunan laki-laki sebagai penerusnya.
Dokter pun tersenyum mendengar penuturan Vino, kemudian berkata, "Ibu Tania beruntung sekali mempunyai Suami yang pengertian seperti Pak Vino. Tapi tolong dibantu memantau pergerakan Ibu Tania ya, Pak, usia kandungan 3 bulan masih rentan mengalami keguguran jadi kalau bisa Ibu Tania jangan dibuat terlalu kelelahan." ujarnya sambil menatap Vino penuh makna.
Vino yang mengerti maksud dokter itu hanya tersenyum menanggapinnya, tentu ia akan sangat menjaga kandungan Tania dan tidak akan membuatnya kelelahan dalam hal apapun, maka dari itu ia tidak akan membiarkan Tania mengerjakan apapun bahkan ia sendiri sudah tidak pernah meminta haknya lagi semenjak Tania dinyatakan hamil.
Setelah mendapatkan resep vitamin yang harus rutin dikonsumsi Tania, mereka pun berpamitan pulang. Dan seteleh menebus obatnya Vino mengajak Tania ke sebuah restoran mewah yang sama sekali belum pernah dikunjungi Tania.
Vino memanggil pelayan dan ia mengatakan pada pelayan itu untuk menyediakan makanan khusus Ibu hamil, harus dipastikan dagingnya benar-benar matang merata sebelum disajikan dan masih banyak lagi yang Vino katakan pada pelayan itu yang membuat Tania geleng-geleng kepala karena menurutnya Vino sangat berlebihan.
Beberapa saat menunggu makanan pun datang sesuai dengan permintaan Vino.
"Makan yang banyak, semua makanan ini sangat bagus untuk Ibu hamil." ucap Vino sembari menyajikan makanan kedalam piring Tania.
"Pak...
"Kamu cukup duduk manis dan nikmati hidangan ini, jangan protes dengan apa yang aku lakukan ini. Hanya menyajikan makanan kedalam piringmu tidak akan menjatuhkan harga diriku sebagai laki-laki." ujar Vino lagi menyela ucapan Tania, ia tahu wanita itu pasti ingin protes dan melarangnya menyajikan makanan.
"Cepat habiskan makananmu, karena setelah ini masih ada tempat lain yang harus kita datangi." ucap Vino lagi karena Tania hanya diam saja menatap makanannya.
"Kemana, Pak?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
sur yati
beli baju tania
2024-03-25
0
Dinda Ainun
Mau belanja kyknya...
Ditunggu selalu kelanjutannya kakak...
2022-11-19
4
Sukliang
beli bsju hamil
2022-11-18
2