"Tania, bawa Pak Vino ke kamar kamu." bisik ibu lalu melangkah keluar menyusul suami dan putra nya.
Tania pun langsung menuntun laki-laki yang berstatus suaminya itu menuju kamar nya. Vino hanya bisa mengulum senyum saat Tania langsung saja merangkul lengannya dan membawa nya kedalam sebuah kamar yang sangat sederhana, dengan sebuah ranjang kecil yang hanya muat satu orang saja.
Vin mengedarkan pandangannya didalam kamar itu lalu beralih menatap Tania yang masih merangkul nya, dengan tatapan sendu.
"Dasar anak brengsek!" terdengar suara ayah yang memaki putra nya bersamaan dengan suara pecahan pot bunga yang di banting.
Vino langsung menuju jendela, dimana dari situ terlihat jelas pertengkaran ayah dan anak itu.
"Sudah Pak, hentikan," ibu menahan tangan ayah yang hendak melayangkan pukulan ke wajah David. "Nanti jantung Bapak kambuh lagi, jangan sia-siakan pengorbanan Tania, Pak." bujuk ibu.
"Tuh dengerin apa kata Ibu, lagian kenapa sih Ayah marah-marah, yang aku katakan itu benar Yah kalau Tania itu hanya menyewakan rahim nya saja apa lagi nanti kalau bayi nya sudah lahir. Pasti bayi itu akan di berikan pada laki-laki itu, dan apa nama nya itu kalau bukan menjual."
Vino mengepalkan tangannya mendengar ucapan David, entah kenapa ia merasa tidak suka mendengar nya meskipun begitu lah kebenarannya. Ia berbalik menatap Tania yang berdiri di belakang nya.
Vino menyuruh Tania untuk memanggil David masuk kembali kedalam rumah dan mengatakan akan memberikan uang pada David. Tentu saja Tania menolak dan melarang keras suaminya itu memberikan uang pada Kakaknya, karena ia takut Kakaknya itu akan keterusan meminta uang pada Vino. Tetapi karena Vino terus meyakinkannya jika semuanya akan baik-baik saja, Tania pun akhirnya keluar untuk memanggil kakaknya itu.
Di ruang tamu yang sebelumnya penuh keharuan atas pertemuan Tania dengan kedua orangtuanya sebelum kedatangan David, kini terasa tegang karena orang-orang yang berada di ruangan itu hanya saling menatap tanpa ada yang memulai pembicaraan.
"Kau ingin uang kan?" tanya Vino setelah beberapa saat terdiam, tatapannya begitu tajam menatap David. "Tapi aku minta satu hal, setelah aku memberikan uang jangan lagi mengganggu Tania ataupun kedua orangtuamu. Jika kau melanggar, kau akan tahu akibatnya." ucapnya pelan, namun penuh penekanan.
David langsung saja menyetujui permintaan Vino seolah ia menulikan telinganya atas kalimat ancaman itu, yang terpenting sekarang ia mendapatkan uang dan selebihnya akan ia pikirkan nanti.
Vino pun mengeluarkan semua uang yang ada didalam dompetnya dan langsung memberikannya pada David. Setelah mendapatkan uang David langsung saja pergi tanpa pemirsi ataupun mengucapkan terima kasih pada Vino yang sudah memberinya uang. Hari ini ia akan menantang kembali orang-orang yang sudah mengalahkannya dan dengan begitu yakinnya akan mengalahkan mereka semua.
"Sungguh keterlaluan." ucap ayah dengan lirih sambil menunduk. Ia benar-benar merasa tak enak pada Vino. Hari ini kedatangan putri dan menantunya itu membuatnya sangat senang, namun juga sekaligus merasa malu atas sikap putranya yang tidak tahu diri itu.
"Tidak apa-apa, kalian jangan sungkan melaporkan padaku jika David masih berulah atau mengusik kalian lagi. Selama Tania masih menjadi istriku, sudah tanggung jawabku untuk melindungi kalian berdua juga." ucap Vino.
Ayah dan Ibu hanya bisa mengangguk pelan, dan tidak tahu harus menanggapi apa ucapan Vino.
Beberapa saat suasana ruang tamu kembali hening, Vino berbisik tepat ditelinga Tania dan mengatakan ingin beristirahat di kamarnya. Tania pun berpamitan pada Ayah dan ibu untuk membawa Vino beristirahat di kamarnya.
Setelah berada didalam kamar, Tania tersentak kaget saat tiba-tiba saja Vino memeluknya dari belakang serta menghirup ceruk lehernya.
"Sepertinya aku harus membeli banyak stock parfum yang kau pakai ini, aku suka aromanya." ucap Vino dengan lirih. Yang tadinya hanya menghirup perlahan menjadi kecupan yang membuat Tania merasa geli.
"Seharusnya tadi Pak Vino tidak perlu memberi Kakakku uang," ucap Tania berusaha mengalihkan sensasi yang tiba-tiba menggerayang ditubuhnya akibat ulah Vino.
"Aku suka keberanianmu tadi melawan Kakakmu, tapi aku tidak mau mengambil resiko jika sewaktu-waktu aku lengah dan dia mencelakaimu karena tidak menuruti keinginannya. Lihat saja tadi dia berani ingin memukulmu, untung saja Ayahmu segera menahannya." ujar Vino tepat di telinga Tania.
"Maafkan sikap Kakakku, aku benar-benar tidak enak pada Pak Vino." Tania memejamkan mata merasakan hangat hembusan nafas Vino di belakang telinganya. "Aku janji akan mengembalikan uang sudah Pak Vino berikan pada Kakak ku."
Vino tersenyum menyeringai mendengar nya, terbesit satu ide untuk mengerjai wanita yang tengah mengandung anak nya ini. "Oh ya, tapi kira-kira kapan kau bisa mengembalikannya, hum?"
"Yang jelas setelah aku mendapatkan pekerjaan nanti." jawab Tania.
"Wah, itu masih lama sekali. Bagaimana kalau aku menawarkan sesuatu untuk mengganti uang yang sudah aku berikan pada Kakakmu?"
"Apa Pak Vino ingin mengajakku untuk bekerja sama lagi?" kekeh Tania.
"Yah, bisa di bilang seperti itu. Kerja sama yang aku tawarkan kali ini akan saling menguntungkan dan juga akan membuat kita sama-sama puas." ucap Vino dengan nada sensual yang membuat bulu kuduk Tania meremang.
"Kerja sama apa yang akan Pak Vino tawarkan kali ini?"
"Tidak sulit, aku hanya menginginkan mu malam ini. Bukan kah kita juga sudah lama tidak melakukan nya, hum? Aku yakin kau pasti merindukan belaian ku." Vino berusaha menahan tawanya di balik tubuh Tania.
"Pak Vino percaya diri sekali."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Dinda Ainun
Ditunggu kelanjutannya kak...
Apakah Vino akan mempertahankan Tania ataukah ttp dilepas?
2022-12-02
1
Yuli Ana
lanjut....jangan lama2 up nya thor..
2022-12-01
3