BAB 3.
Dengan kecepatan penuh, Vino melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Beruntung hari ini akhir pekan sehingga jalanan tak begitu padat dari hari biasanya. Hanya dalam waktu kurang dari 30 menit, mobil sport milik Vino sudah terparkir rapi di pelataran rumah sakit.
Dengan langkah cepat, ia langsung menuju ruangan dimana istri keduanya itu sedang dirawat. Wajah yang selalu terlihat datar dan dingin saat dihadapan Tania, kini terlihat begitu khawatir dengan kondisi wanita yang kini sedang mengandung calon anaknya, terbaring tak sadarkan diri diatas ranjang rumah sakit.
Vino merasa lega mendengar penjelasan asistennya tentang kondisi kehamilan Tania yang baik-baik saja. Asistennya itupun memberitahu jika sebelumnya Tania sempat sadar tetapi kembali tertidur karena pengaruh obat yang diberikan dokter. Namun, saat mendengar tentang kenapa Tania bisa sampai pingsan ia menggeram tertahan menatap ART yang ia pekerjakan khusus untuk mengurus segala keperluan Tania di apartemen. Dan setelah mendengar penjelasan ART itu tentang ancaman Tania yang akan mogok makan jika tidak diperbolehkan membantu membersihkan apartemen, Vino hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar, kemudian kembali berbalik menatap wajah pucat istri keduanya itu yang masih belum sadarkan diri.
'Ini tidak bisa dibiarkan, aku tidak mau jika sampai calon anakku kenapa-kenapa. Aku harus melakukan sesuatu.' gumam Vino dalam hati.
"Kalian berdua silahkan tunggu diluar, nanti akan saya panggil jika saya butuh sesuatu." perintahnya pada asistennya dan ART tersebut.
Setelah Bara dan asisten rumah tangga itu keluar dari ruang rawat Tania, Vino menarik kursi lalu membawanya ke sisi ranjang dimana Tania berbaring, kemudian ia duduk di kursi itu sambil terus memandangi wajah lelap Tania yang masih terlihat pucat.
Kedua bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman, entah kenapa ia teringat malam-malam panas yang ia lakukan bersama Tania, dan kini telah membuahkan hasil sekaligus berhasil membuktikan pada istrinya pertamanya jika ia bisa memiliki keturunan.
Beberapa saat terus memandangi wajah lelap istri keduanya itu, Vino mengulurkan sebelah tangannya mengusap perut Tania yang masih datar.
"Terima kasih karena telah mengandung anakku. Kamu tahu? Aku sangat bahagia karena sebentar lagi aku akan menjadi seorang Ayah. Hal yang selalu aku nantikan selama tiga tahun lamanya."
Namun, beberapa saat kemudian senyumnya memudar kala mengingat perjanjian yang pernah ia buat bersama Tania. Setelah Tania melahirkan, bayi itu akan menjadi miliknya sepenuhnya. Dan Tania, gadis malang itu harus pergi jauh dari kehidupannya setelah menerima pelunasan bayarannya.
"Seandainya saja aku dan Elzara bisa memiliki keturunan, mungkin ini semua tidak akan pernah terjadi. Kamu tidak akan pernah masuk dalam kehidupan ku, dan saat ini mungkin kamu masih menjadi cleaning service di perusahaan ku."
Vino menarik tangannya dari atas perut Tania, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Maaf jika nanti aku akan mengambil bagian dari hidupmu, karena itu sudah menjadi kesepakatan kita berdua. Semoga setelah kerja sama kita berakhir, kamu bisa memulai kehidupanmu yang baru dengan bahagia tanpa bayang-bayang perjanjian yang pernah kita buat. Dan aku sendiri berjanji akan merawat anak kita dengan baik."
Tak lama kemudian, Tania pun akhirnya siuman setelah kembali tertidur karena pengaruh obat.
"Pa-k," Tania terkejut saat bangun mendapati Vino berada di sampingnya. Ia ingin bangun, namun Vino mencegahnya.
"Tetaplah berbaring, Tania. Jangan terlalu banyak bergerak, kondisi kamu masih lemah." ujar Vino sambil membenarkan posisi berbaring istri keduanya itu.
Setelah itu, Vino kembali duduk di tempatnya semula sambil menatap Tania dengan datar seperti biasanya.
"Apa yang kamu lakukan sehingga kamu seperti ini, kamu ingin membunuh anakku, huh?"
Tatapan tak bersahabat yang Vino tunjukkan membuat Tania bergidik ngeri. Namun juga terperangah dengan apa yang diucapkan suaminya itu.
Membunuh anak? Apa maksudnya?
"Apa yang Bapak bicarakan, saya tidak pernah berniat mencelakai siapapun, apalagi seorang anak kecil?" Tania berusaha untuk bangun lagi, dan kali ini Vino membantunya untuk bersandar.
"Jangan melakukan hal-hal yang bisa membahayakan kandungan mu. Aku akan menuntutmu jika sampai terjadi sesuatu pada calon anakku." ujar Vino, ia menatap dengan lekat wajah Tania yang nampak terkejut.
"Kamu hamil, Tania. Apa kamu tidak menyadari itu, huh?"
Tania menggeleng pelan sebagai jawabannya dengan raut yang masih nampak terkejut. Namun, beberapa saat kemudian ia menundukkan kepala menatap perutnya lalu mengusap nya dengan lembut.
"A-ku hamil?"
"Iya, kamu sedang hamil calon anakku. Jadi aku mohon dengan sangat agar kamu menjaga dengan baik kandunganmu itu."
Tania menatap Vino sekilas, kemudian kembali menatap perutnya. Tangannya masih mengelus perutnya yang masih rata itu seiring senyum tipis dibibirnya. Ia sungguh tak percaya jika saat ini ia sedang hamil, ia akan segera menjadi seorang ibu. Namun, senyumnya perlahan memudar kala mengingat perjanjian itu, bayi yang dikandungnya ini bukanlah miliknya. Ia hanya berperan untuk mengandung dan melahirkannya saja.
"Apa kau ingin makan sesuatu? Aku akan meminta Bara untuk membelikannya." ucap Vino yang membuyarkan lamunan Tania.
"Tidak ada, Pak." jawab Tania sambil menggeleng pelan.
"Aku hanya ingin istirahat, apa bisa Bapak meninggalkan saya sendirian disini." ucap Tania yang seketika membuat kedua bola mata Vino membulat.
"Kamu mengusir saya, huh?"
"Bukan seperti itu, Pak, saya hanya ingin istirahat." jawab Tania, ia sedikit ngeri melihat tatapan Vino yang begitu tajam seolah ingin menerkam nya.
"Lalu apa masalahnya? Kalau ingin istirahat ya istirahat saja. Saya akan tetap disini memantau kamu."
"Tapi, Pak,"
"Tidak ada tapi tapian, ini perintah!" telak Vino yang membuat Tania diam.
Tania pun kembali berbaring dengan membelakangi Vino.
Sementara itu, diluar ruang rawat Tania, Bara mencegah seorang suster yang membawa troli makanan, yang hendak masuk ke ruang rawat Tania. Sejenak Bara memperhatikan suster itu yang memakai kacamata hitam dan juga masker.
Bara menghentikan langkah suster itu, dengan menahan troli makanan yang dibawanya.
"Sus, bisa tolong lepas kacamatanya?"
"Maaf, Pak saya sedang sakit mata."
"Apa ini makanan untuk Nona Tania?" tanya Bara.
"Iya, Pak." jawab suster itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
febby fadila
waduuu susterx mencurigakan
2025-03-16
0
Bahrul Ulum
waduh
ada yg gk beres ini...
2024-02-13
1
Mirna Loden Mirna Mirna
pasti elzara
2023-10-29
1