Di ruang tamu, Vino tengah berpikir keras atas apa yang dikatakan Elzara beberapa saat lalu. Logikanya tak dapat menerima begitu saja tuduhan Elzara pada Tania, namun sekali lagi mengingat keakraban Tania dengan Bara membuatnya kesal.
Mungkin, yah mungkin saja apa yang dikatakan Elzara ada benarnya. Namun tetap saja ia tidak boleh bertindak gegabah. Tak ingin mengambil pusing, Vino pun bergegas menuju apartemen. Ia harus melakukan sesuatu, setidaknya menjauhkan Tania dari Bara akan membuatnya sedikit lebih tenang.
Sepanjang perjalanan menuju apartemen, ucapan Elzara terus terngiang-ngiang di telinganya. Belum lagi bayangan kedekatan Tania dan Bara semakin membuatnya kesal. Vino pun menambah kecepatan laju mobilnya. Dan beberapa saat kemudian ia pun sampai di apartemen.
Dan lagi, ia disambut dengan pemandangan yang membuat kekesalan semakin menjadi. Di ruang tamu, Tania sedang menikmati bubur kacang hijau kesukaannya itu dengan ditemani oleh Bara. Keduanya terlihat bercanda tawa, entah apa yang mereka bicarakan.
Vino sampai mengepalkan kedua tangannya melihat pemandangan itu, namun ia tidak ingin memperlihatkan kemarahannya. Dengan santai ia melangkah ke arah dimana Tania dan Bara berada.
"Loh, Pak Vino balik lagi, apa ada yang ketinggalan Pak?" tanya Bara seraya berdiri dari tempat duduknya.
Sementara Tania tetap duduk menikmati bubur kacang hijaunya, namun ia mendongak menatap Vino sambil tersenyum.
"Apakah harus ada yang ketinggalan untuk saya kembali lagi kesini, hum?" Vino balik bertanya sembari menatap Bara dengan sinis.
Bara pun diam dengan menundukkan kepalanya. Dan Vino, ia mengalihkan tatapannya pada Tania yang juga sedang menatapnya.
''Apa perlu saya membayar tukang bubur kacang hijau itu bekerja disini, sehingga kamu tidak perlu repot-repot setiap hari meminta bantuan orang lain menemani kamu keluar dari apartemen hanya untuk membeli itu, hum?"
Vino menatap lekat istri keduanya itu. Dan Tania yang mengerti arah pembicaraan Vino hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa berani untuk menjawab.
Vino pun meminta Bara untuk meninggalkannya berdua dengan Tania, karena ada yang ingin dibicarakan dengan istrinya itu. Setelah Bara pergi, Vino membawa tubuhnya duduk di samping Tania.
Sejenak Vino menenangkan dirinya dari emosi yang menguasainya saat ini. Kalau pun jika memang bayi yang dikandung Tania bukanlah anaknya, namun tetap saja ia tidak boleh memarahi wanita yang sedang hamil itu karena takut berakibat fatal pada kandungannya. Vino pun menghela nafasnya sebelum mengutarakan niat kedatangannya.
"Hubungan pernikahan kita memang hanya sebatas kontrak, tapi bagaimana pun juga kamu sudah menjadi istri saya dan sudah seharusnya kita tinggal bersama. Mulai malam ini kamu akan tinggal dirumah saya dan sekarang cepat bereskan barang-barangmu, saya tidak suka menunggu terlalu lama."
Seketika Tania mengangkat wajahnya menatap Vino dengan kening mengkerut. Tidak pernah terbesit dipikirannya untuk tinggal bersama Vino, dikunjungi sesekali saja sudah cukup membuatnya senang dan sekarang suaminya itu mengajaknya untuk tinggal bersama.
Tania tersenyum miring, tentu saja ia tidak akan mau tinggal bersama dirumah Vino. Walaupun yang dikatakan Vino benar adanya mereka memang sudah seharusnya tinggal bersama, tetapi sebagai wanita ia masih memiliki perasaan untuk tidak menyakiti perasaan wanita lain. Ia tahu jika Elzara juga pasti tidak akan suka jika ia tinggal dirumah utama, dan lebih baik ia tinggal di apartemen karena memang statusnya bukanlah seperti Elzara meski mereka berdua sama-sama berstatus sebagai istri Vino.
"Kenapa kamu menatap saya seperti itu, apa kamu tidak dengar apa yang saya katakan? Cepat bereskan barang-barangmu!" ucap Vino dengan nada tinggi.
"Maaf, Pak, saya rasa itu tidak perlu. Sebaiknya saya tinggal disini saja." ucap Tania.
Vino menarik sudut bibirnya, penolakan Tania untuk tinggal bersama kembali menghanyutkan nya pada ucapan Elzara.
"Jadi kamu ingin tetap tinggal disini?" tanya Vino. Netranya tak lepas menatap Tania yang nampak mulai tak nyaman.
Tania hanya mengangguk sebagai jawabannya.
"Baiklah kalau itu mau kamu, berarti saya yang harus tinggal disini." ucap Vino kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Tujuannya sebelumnya adalah untuk menjauhkan Tania dan Bara, namun istrinya itu tidak mau ikut tinggal bersamanya jadi mau tak mau maka ia harus mengubah alur tujuannya.
"Tapi, Pak, bagaimana dengan Bu Elzara jika Pak Vino tinggal disini?"
Vino tak menggubris pertanyaan Tania, ia mengayunkan langkahnya berlalu dari ruang tamu untuk mencari keberadaan Bara asistennya itu.
Setelah menemukan Bara, tanpa basa basi Vino langsung saja mengatakan apa yang ingin dikatakannya.
"Mulai besok kamu tidak perlu datang kemari lagi, karena mulai malam ini saya akan tinggal disini dan tugas kamu sekarang adalah menggantikan saya mengurus perusahaan. Keputusan saya sudah bulat dan jangan sesekali kamu menanyakan alasannya."
Bara sedikit terkejut mendengar penuturan direkturnya itu yang membuat Vino geleng-geleng kepala. Tadi Tania yang menolak untuk tinggal bersama dan sekarang Bara yang nampak tekejut dengan keputusannya.
Ya Tuhan, apakah Tania dan Bara memiliki hubungan, apakah benar yang dikatakan oleh Elzara? Rasanya Vino tak percaya dengan itu semua, namun apa yang terjadi semuanya mengarah kesana.
"Baiklah, Pak, kalau begitu saya permisi untuk membereskan barang-barang saya."
Vino menatap tajam langkah Bara yang mulai menjauh, dalam hati ingin sekali ia menanyakan kecurigaannya terhadap asistennya itu. Namun, ia tak mau merusak kewibawaannya dengan bertanya hal yang belum jelas kebenarannya.
Sementara itu Bara yang berada di dalam kamarnya, tersenyum menatap koper berukuran besar yang berisikan barang-barangnya. Malam ini adalah malam terakhir ia berada di apartemen ini. Tugasnya menjaga Tania sudah selesai dan berganti ia mengurus perusahaan menggantikan direkturnya.
Awalnya ia memang terkejut mendengar keputusan Vino yang akan tinggal di apartemen karena sejak awal direkturnya itu sudah mengatakan hanya akan mengunjungi Tania sesekali saja dan dirinya lah yang ditugaskan untuk menjaga Tania. Namun, setelah dipikir-pikir lagi Bara turut senang dengan keputusan Vino, ia berharap semoga Vino berubah pikiran dan menjadikan Tania istri yang sesungguhnya. Dengan begitu, gadis malang itu akan terbebas dari kesengsaraan hidupnya selama ini. Karena sejujurnya Bara tidak sanggup membayangkan jika nanti Tania harus dipisahkan dengan bayinya. Yah, semoga Vino berubah pikiran, itulah harapan Bara saat ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
febby fadila
baguslah kalau vino percaya sama omongan elza biar anak yg di kandung tania untuk tania sendiri.. biar vino menyesal
2025-03-16
0
Bahrul Ulum
Vino, jangan sampai kamu terhasut oleh istri tuamu
2024-02-13
0
Wirda Wati
keren vino cukup bijak
2023-09-23
2