Tak lama seteleh Bara keluar dari kamar, Vino terbangun dan sontak memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.
"Pak Vino, Bapak baik-baik aja kan?" tanya Tania terlihat khawatir.
Vino tersentak kaget, kenapa bisa ada Tania padahal seingatnya ia mengurung wanita itu dikamar apartemen. Vino pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dan ia semakin terkejut mendapati dirinya berada dikamar apartemen. Vino dengan cepat turun dari atas tempat tidur.
"Kenapa saya bisa ada disini, dimana Bara?" tanya nya sambil meringis memegangi kepalanya.
"Tadi Bara yang membawa Pak Vino kemari dalam keadaan sudah tak sadarkan diri." jawab Tania.
Vino tak lagi menggubris ia mengayunkan langkah menuju sofa dan mendudukkan tubuhnya disana, kepalanya benar-benar terasa pusing dan berat.
Tania mengambil segelas air yang tersedia diatas nakas lalu memberikannya pada Vino, sejenak Vino menatap segelas air itu dan Tania bergantian kemudian mengambilnya segelas air itu dan meminumnya hingga habis.
Vino mengucapkan terima kasih sembari memberikan gelas yang sudah kosong itu, dan seteleh menyimpan gelasnya Tania pun mendudukkan tubuhnya disamping Vino.
Meski sebelumnya mereka sempat bertengkar dan Tania masih tidak terima dengan tuduhan itu, namun jauh dari lubuk hatinya yang terdalam Tania merasa iba melihat ayah bayi yang dikandungnya ini terlihat tak berdaya seperti itu.
Tania pun menawarkan diri untuk memijat kepala Vino dan Vino menyetujuinya karena kepalanya memang benar-benar terasa sakit.
Dengan penuh kelembutan Tania memijit kepala Vino, dan Vino sendiri begitu menikmati pijatan itu karena ini adalah pertama kalinya seseorang memijit kepalanya selain sang Mama yang kini sudah lama tinggal diluar Negeri.
Vino yang terbuai dengan pijatan Tania, dikagetkan dengan keributan diluar yang entah ulah siapa, Vino pun meminta Tania untuk membantunya keluar dari kamar ingin melihat siapa yang sudah membuat keributan diapartemen nya.
"Dan jangan-jangan dua bulan lalu Nona Tania hampir kehilangan janinanya itu adalah ulah Bu Elzara juga?"
Vino terperangah mendengar apa yang dikatakan Bara begitupun dengan Tania yang sangat terkejut, Vino mengalihkan tatapannya pada Elzara yang terlihat menatap asistennya itu dengan tajam sembari mengepalkan kedua tangannya.
"Kalau iya kenapa? Kamu bisa apa, huh! Kamu tidak bisa berbuat apa-apa kamu tidak punya bukti." Elzara tertawa setelah mengatakan itu.
Di ambang pembatas ruangan Vino yang ditemani Tania mengepalkan kedua tangannya dengan erat mendengar pengakuan istri pertama nya itu, sakit kepala yang dirasakannya menguap entah kemana bergantikan dengan emosi yang memuncak, rahangnya mengeras dan Tania yang berdiri tepat disampingnya sampai bergidik ngeri melihat sorot mata Vino bak tombak yang runcing.
"Bara memang tidak bisa berbuat apa-apa, tapi aku bisa!" Ucap Vino dengan suara menggelegar yang membuat Bara dan Elzara serentak menoleh kearahnya.
Wajah Elzara seketika terlihat pucat melihat keberadaan Vino, sementara Bara hanya bisa menundukkan kepalanya sambil dalam hati ia berdoa semoga Vino mendengar semua pengakuan Elzara.
Vino melepaskan tangan Tania yang memegangi bahu nya, lalu menghampiri Elzara yang terlihat ketakutan.
"Aku benar-benar gak nyangka jika kamu bisa serendah itu melakukan hal keji, Elza. Apa mau kamu? Kenapa kamu mau menyingkirkan janin Tania apa salah dia sama kamu?" tanya Vino masih berusaha setenang mungkin.
"Kamu tanya apa salah Tania? Dia salah karena serendah itu mau-maunya saja menerima tawaran kamu. Dia gak lebih dari seorang ****** yang menjual tubuhnya sendiri demi uang."
"Tania tidak pernah menjual dirinya karena aku menikahi dia!" sentak Vino yang membuat Elzara seketika bungkam. Entah kenapa ia merasa tak terima Elzara mengatai Tania seperti itu, karena memang sejak awal perjanjiannya dengan Tania ia tidak pernah menganggapnya serendah itu karena ia tahu Tania menerima tawarannya demi ayah nya yang harus segera mendapatkan pengobatan. Maka dari itu ia memutuskan adanya pernikahan selama proses kerja sama itu agar Tania tak kehilangan martabatnya sebagai wanita, dan memiliki status yang jelas saat berpisah dari nya nanti meskipun kata perawan tak ada lagi pada diri Tania.
"Dan kamu harus ingat satu hal, Elza, aku melakukan ini semua karena kamu sendiri yang selalu menuduh aku yang tidak bisa memiliki keturunan. Aku hanya ingin membuktikan jika aku sehat dan terbukti bahwa sebenarnya kamu lah yang tidak bisa memiliki keturunan, bukan aku!" sambung Vino penuh penekanan.
Elzara memalingkan wajah nya, sungguh ia seperti sudah tak punya muka berhadapan dengan Vino. Perbuatannya sudah terbongkar dan ia hanya bisa berharap jika Vino tak melaporkannya pada pihak berwajib mengingat bagaiman murkannya Vino saat janin Tania terancam keguguran karena ulah nya yang mencampurkan Zat kimia yang sering digunakan untuk aborsi, kedalam makanan Tania. Belum lagi, tuduhan yang sering ia layangkan pada suaminya itu kini berbalik pada nya, namun ia merasa tak percaya jika dirinya tidak bisa memiliki keturunan mengingat gaya hidupnya selama ini yang sudah sempurna menurutnya.
Sementara Vino, ia menghela nafasnya lalu berbalik menatap Tania yang tertunduk dalam, entah apa yang dipikirkan wanita itu sekarang. Semua nya sudah terungkap dan Elzara lah dalang dibalik semua nya, dan sungguh Vino merutuki perbuatannya yang sudah menuduh bahkan sampai mengurung ibu dari calon anaknya itu didalam kamar hanya karena terpengaruh dengan ucapan Elzara.
Vino mengalihkan tatapannya pada Bara, laki-laki yang merupakan orang kepercayaan nya itu yang juga sudah ia anggap seperti adik sendiri, bagaiman bisa ia sampai menuduhnya bersekongkol dengan Tania, padahal ia tahu sendiri selama bekerja dengannya tak pernah sekalipun asistennya itu membuatnya kecewa dalam hal sekecil apa pun, yang ada Bara selalu membuatnya merasa puas dengan hasil kerja nya.
Tanpa mengurangi harga dirinya, Vino pun meminta maaf pada Tania dan Bara langsung dihadapan Elzara, karena itu memang adalah kesalahannya.
"Tidak perlu meminta maaf, Pak, saya bisa memahami situasinya. Jika saya yang berada diposisi Pak Vino pasti saya juga terpengaruh dan mungkin saja saya akan melakukan yang lebih daripada hanya mengurung Nona Tania didalam kamar dalam keadaan perut kosong."
Vino merasa tertampar dengan ucapan Bara itu, tapi ia tahu asistennya itu tidak bermaksud untuk menyindirnya karena ia melihat tatapan Bara yang terus tertuju pada Elzara.
"Beruntung Pak Vino masih bisa berpikir rasional dan tidak bertindak gegabah." sambung Bara.
Vino bernafas lega karena ternyata Bara bisa memahami nya, namun seketika hatinya mencelos melihat Tania yang terus membuang muka dari nya. Melihat itu kembali kekesalan timbul di hatinya dan dengan cepat ia menghampiri Elzara dan mencengkeram erat pergelangan tangannya.
"Ingat ucapanku ini baik-baik, Elza. Jika kamu masih berani mengusik Tania dan calon anakku, saat itu juga aku akan langsung menceraikan kamu dan aku tidak akan memberikan sedikit pun hartaku padamu." setelah mengucapkan kalimat penuh peringatan itu, Vino menghempaskan tangan Elzara dan memintanya segera pergi dari apartemen.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
febby fadila
cereiin aja sdah jls2 pebuatanx elza itu suatu kriminal
2025-03-16
0
Fitriyani
knp g lgsg kamu ceraikan aja sih vino ....
2023-09-25
4
Tiara
Vino sendiri yang menyuruh si Bara untuk menjaga dan mengawasi Tania tp dia jg tdk mempercayainya😇😠
2023-09-24
1