Karena tidak ingin direkturnya terganggu, Bara mengambil alih troli makanan yang dibawa suster itu dan akan membawanya sendiri masuk kedalam ruang rawat Tania.
Sementara suster itu, hanya menanggapinya dengan anggukan lalu pergi, namun sesekali ia menoleh kebelakang melihat Bara hingga akhirnya pria itu sudah masuk kedalam ruang rawat.
Setelah meletakkan semangkuk bubur dan semangkuk sup diatas meja yang terletak disamping ranjang pasien, Bara keluar dari ruangan itu dan kembali bergabung bersama ART diluar.
"Tania, ayo bangun kamu harus makan dulu." Vino menepuk-nepuk pundak Tania yang masih berbaring membelakanginya.
Tania yang belum sepenuhnya tertidur, sedikit menggeliat lalu berbalik. Walau merasa enggan untuk makan, namun ia tetap bangun karena tidak ingin berdebat dengan laki-laki yang berstatus suaminya itu.
Vino pun membantu Tania untuk bersandar, lalu ia mengambil semangkuk sup dan bubur yang diletakkan oleh asisten Bara diatas meja meja.
"Pak, apa bisa makannya nanti saja, saya belum lapar." ujar Tania.
Vino menghela nafasnya," Kalau kamu tidak makan, tenaga kamu akan semakin lemah. Sementara didalam rahimmu sekarang sedang tumbuh calon anakku. Ingat Tania, saya akan menuntut kamu jika sampai terjadi sesuatu pada bayi itu."
Pada akhirnya Tania pun mengangguk, ia sadar ia siapa, permintaannya yang sekecil apapun tidak akan berlaku untuk dikabulkan karena ia tak lebih dari sekedar wanita bayaran yang harus menuruti semua permintaan laki-laki dihadapannya itu.
Vino pun menyuapi Tania dengan telaten, sementara Tania menerima suapan demi suapan dengan rasa mual yang menderanya, namun ia menahan rasa itu agar laki-laki yang sedang menyuapi nya ini tidak marah.
Beberapa saat kemudian, dua mangkuk makanan itupun tandas tak bersisa. Vino tersenyum simpul melihat Tania makan dengan lahap, ia pun meletakkan mangkuk itu kembali diatas meja lalu mengambil bungkusan obat dan segelas air putih.
"Sekarang minum Vitaminnya, supaya anak saya tumbuh dengan sehat didalam rahim kamu."
Tania tak menanggapi, wajahnya terlihat sedikit meringis merasakan sesuatu yang aneh di perutnya. Tangannya pun mengusap perutnya yang perlahan mulai terasa nyeri. Keningnya mulai basah dengan peluh seiring meningkatnya rasa nyeri yang ia rasakan.
"Pak, perut saya sakit," rintih Tania, ia menekan perutnya yang membuat Vino terkejut, apalagi setelah melihat wajah Tania yang semakin terlihat pucat dari sebelumnya.
Vino pun dengan cepat meletakkan kembali vitamin dan segelas air itu diatas meja.
"Kamu kenapa?" tanya Vino panik, ia mencoba mengelus perut Tania, dan Tania refleks mencengkram lengannya.
"Sakit sekali, Pak."
Melihat Tania yang terlihat sangat kesakitan, Vino pun panik ia melepas tangan Tania yang mencengkram lengannya lalu berlari keluar untuk menyuruh asisten Bara memanggil dokter.
Tak lama kemudian dokter pun datang bersama dua orang perawat, mereka segera membawa Tania ke ruang IGD untuk diperiksa lebih lanjut. Sementara itu Vino menunggu sembari menerka-nerka apa yang terjadi pada Tania, istrinya itu hanya memakan makanan dari rumah sakit yang sudah tentu pasti terjamin kebersihannya. Lalu bagaimana Tania bisa mengeluh sakit perut seperti itu?
Satu jam kemudian...
Dokter yang menangani Tania menghampiri Vino yang duduk di kursi tunggu sambil memejamkan matanya.
"Pak Vino,"
Vino pun membuka matanya, ia dengan cepat berdiri melihat dokter yang menangani Tania sudah berada di hadapannya.
"Dokter, apa yang terjadi pada Istri saya, kenapa dia bisa sakit perut seperti itu?" tanya Vino khawatir.
Dokter itu menghela nafasnya, kemudian menyodorkan sebuah amplop yang berisi hasil pemeriksaan Tania dari laboratorium, pada Vino.
"Apa ini, Dok?" Vino hanya menatap amplop itu tanpa membukanya.
Kembali dokter itu menghela nafasnya lalu menjelaskan tentang hasil pemeriksaannya. "Dari makanan yang dimakan oleh Bu Tania, kami mendapati zat kimia yang sering digunakan untuk aborsi."
Vino terperangah mendengarnya, ia sketika murka karena ia tahu Tania hanya memakan makanan yang telah tersedia dari rumah sakit. Namun, yang ia tidak tahu bagaimana zat kimia itu bisa ada didalam makanan itu.
"Lalu bagaimana dengan kandungan istri saya?!" tanyanya dengan nyalang.
"Pak Vino tenang saja, beruntung kita bertindak dengan cepat sehingga kandungan Ibu Tania bisa diselamatkan." jawab dokter itu.
"Saya tidak mau tahu, pihak rumah sakit ini harus bertanggungjawab, kalian harus menemukan siapa pelakunya dan bawa dia ke hadapan saya!"
"Bara, urus semuanya." setelah memberi perintah pada asistennya, Vino memasuki ruangan dimana Tania masih diperiksa oleh beberapa suster.
...___________...
Dua bulan telah berlalu, namun hingga saat ini masih belum ditemukan juga siapa pelaku yang telah mencampurkan zat kimia kedalam makanan Tania. Namun, semenjak kejadian itu Vino lebih waspada dalam mengawasi istri keduanya itu, Tania hanya boleh memakan makanan yang dimasak oleh ART. Dan jika ingin memakan makanan luar harus ia sendiri yang membelinya.
Di usia kandungan Tania yang sudah memasuki bulan ketiga, Vino lebih banyak meluangkan waktunya untuk Tania. Jika sebelumnya ia lebih banyak menghabiskan waktunya dirumah utama, namun sejak dua bulan terakhir Vino lebih memilih untuk langsung ke apartemen sepulangnya dari kantor.
Berbagai macam makanan ia bawakan untuk Tania, tak jarang ia menyuapi istrinya itu. Dengan sikapnya yang seperti itu Tania mulai merasa nyaman, dan perlahan rasa yang tak seharusnya ada tumbuh begitu saja karena semua perhatian yang diberikan Vino.
Namun, saat mengingat kembali akan statusnya yang sesungguhnya, yang hanya sebagai wanita bayaran untuk mengandung dan melahirkan anak Vino, Tania berusaha untuk mengabaikan perasaannya itu meski Vino selalu membuatnya merasa nyaman.
Seperti pagi ini, sebelum berangkat ke kantor Vino menyempatkan datang ke apartemen membawakan sarapan untuk Tania.
"Aku suapin ya," ucap Vino sambil tersenyum seperti biasanya.
Namun, saat melihat Tania menggeleng entah kenapa ia merasa kecewa.
"Dua bulan ini Bapak memperlakukan saya seperti anak kecil, tapi mulai hari saya akan mengurus diri saya sendiri, Pak. Bapak juga tidak perlu sering-sering datang kemari membawakan ini dan itu. Disini sudah ada Bara dan ART yang memenuhi semua kebutuhan saya."
Wajah Vino yang sebelumnya terlihat sumringah kini terlihat datar dengan gurat kekecewaan karena ucapan Tania barusan.
"Ekhem," Vino berdeham guna mengurai rasa yang begitu tak enak dihatinya, kemudian meletakkan semangkuk bubur itu di meja.
"Saya akan berangkat ke kantor. Apa kamu ingin sesuatu? Rujak misalnya, nanti sepulang dari kantor akan saya belikan." ucapnya seraya berdiri.
"Tidak ada, Pak." jawab Tania.
Vino pun segera pergi dari apartemen dengan perasaan yang begitu tak nyaman, entah kenapa ia benar-benar merasa kecewa dengan penolakan Tania kali ini. Padahal istri keduanya hanya tidak ingin disuapi tapi ia merasa diabaikan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Eka 'aina
alurnya kecepatan
2025-03-08
1
Bahrul Ulum
mulai ada rasa rasa ya vin...
2024-02-13
2
Nurmila Nurmila
tak seru terlalu banyak iklan
2023-11-19
0