Chapter 14

"Arrghhh!!!" 

Erwin berteriak keras saat  melihat kepergian Gita. Ia benar-benar tidak menyangka jika wanita itu akan membalas perbuatannya.

Setibanya di rumah ia langsung melemparkan semua barang-barang di kamarnya dan berteriak untuk meluapkan kemarahannya.

Orang tua Erwin berusaha menenangkannya dan menasihatinya, namun pemuda itu justru semakin menggila saat mendengar nasihat dari kedua orang tuanya.

Melihat putranya yang mengamuk seperti orang kesurupan membuat Ruminah kemudian meminta bantuan para tetangga untuk menenangkannya.

"Pergi kalian semua!!" hardik Erwin saat melihat beberapa orang memasuki kamarnya

"Pergi kalian semua atau aku akan membunuh kalian satu persatu!" ancam Erwin membuat semua orang langsung bergegas meninggalkan ruangan itu

Setelah peristiwa itu, semua orang di kampung tak berhenti membicarakan tentang Erwin. Berita tentang alasan Gita meninggalkan pemuda itu juga tersebar dengan cepat hingga membuat semua orang tak bersimpati kepada Erwin bahkan mengutuk perbuatannya kepada Gita.

Mereka bahkan mengatakan jika pemuda itu sedang mendapat karmanya karena telah menyakiti Gita.

Desas-desus tentang para warga kampung yang menyalahkan perbuatannya dan mengucilkannya membuat Erwin semakin geram dan mendendam kepada Gita.

Erwin yang terus mengurung diri di dalam kamarnya membuat ibunya khawatir dan mendatangi orang pintar untuk mengecek kondisinya.

"Bagaimana keadaan putraku Aki, aku takut terjadi sesuatu dengannya. Apalagi dia tidak mau makan ataupun keluar dari kamarnya," tanya Ruminah

"Sebaiknya kita biarkan saja dia untuk sementara waktu, aku yakin tidak lama lagi dia akan membaik seperti sedia kala," jawab Dukun itu

"Bagaimana saya bisa yakin?" tanya Ruminah

"Karena dia punya tekad yang kuat," jawab sang Dukun

"Jadi saya harus gimana Aki??"

"Buatkan makanan kesukaannya dan jangan bicara apapun tentang wanita yang sudah membuatnya seperti itu. Aku akan membantunya melupakan wanita itu!" sahut sang Dukun

"Terimakasih Aki," jawab Ruminah

Seperti yang diperintahkan Sang dukun Ruminah segera memasak makanan kesukaan Erwin dan mengajak putra bungsunya untuk makan.

"Keluarlah untuk makan, Emak sudah memasakkan makanan kesukaan mu Le," ucap Rum mencoba membujuk putranya

Tidak lama Erwin keluar dari kamarnya.

"Syukurlah kamu akhirnya keluar juga,"

Ruminah mengajak pemuda itu menuju meja makan dan menuangkan makanan untuknya.

Setelah menghabiskan tiga piring nasi, Erwin kemudian bergegas pergi mendatangi dukun langganannya.

Ia meminta kepada dukun itu untuk mengirimkan santet kepada Gita agar wanita itu mati.

"Apa kau benar-benar ingin membunuhnya?" tanya Ki Anom

"Tentu saja Aki, kali ini aku benar-benar muak dengannya dan ingin memberikan pelajaran yang setimpal atas apa yang ia lakukan padaku," jawab Erwin dengan tatapan penuh dendam

"Baiklah kalau begitu, tapi jangan menyesali keputusan mu," sahut Aki Anom

Sang dukun kemudian segera menyiapkan semua pernak-pernik yang ia butuhkan untuk menyantet targetnya.

Ki Anom menyiapkan sebuah boneka kayu dan ia meletakkannya di sebuah meja kecil tempat dimana ia meletakkan semua sesaji untuk melakukan ritual itu.

Lelaki itu juga mempersiapkan beberapa jarum dan benda tajam lainnya.

"Apa kamu akan menusuknya dengan jarum ini?" tanya Erwin mengambil sebuah jarum yang tertata rapi diatas meja.

"Kalau kamu ingin ia segera mati maka aku akan menggunakan jarum emas ini, tapi jika kau menginginkan dia mati perlahan-lahan maka aku akan menggunakan jarum perak beracun untuk menyiksanya," jawab Ki Anom

"Kalau begitu pakailah jarum perak saja, aku ingin melihat dia benar-benar menderita saat menemui ajalnya. Aku ingin dia menyesal karena telah berurusan denganku," jawab Erwin

"Baiklah kalau begitu, aku akan segera memulai ritualnya," sahut Ki Anom segera membakar dupa dan membaca mantera.

Sementara itu Gita langsung berguling-guling kesakitan saat sang dukun mulai menusukkan sebuah jarum ke tubuh boneka kayu.

"Arrrrgghhh, sakit!!" seru Gita sambil memegangi perutnya

Barra yang melihat istrinya meliuk-liuk kesakitan langsung menghampirinya.

"Kamu kenapa?" tanya Barra menatap wajah Gita yang terlihat begitu pucat

"Entah kenapa tiba-tiba perutku terasa sakit sekali seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum," jawab Gita

Barra kemudian menempelkan telapak tangannya diatas perut Gita untuk memeriksa keadaannya.

Seketika rahangnya langsung menegang saat mengetahui seseorang berusaha membunuhnya dengan santet. 

"Dasar dukun laknat, rupanya kau belum jera berhadapan denganku," Barra kemudian mencabut satu persatu jarum yang menancap di seluruh tubuh Gita dan melemparnya kembali ke pengirimnya.

"Arrghhh!!" kini giliran Ki Anom yang menjerit kesakitan saat ribuan jarum santet yang di kirimnya justru berbalik menyerangnya.

"Dasar makhluk laknat, beraninya kau menyerang ku!" seru Ki Anom kemudian mencabuti satu persatu jarum yang menancap di tubuhnya

Melihat Ki Anom terus menjerit kesakitan membuat Erwin panik dan ketakutan.

"Apa yang terjadi denganmu Aki?" tanya Erwin

"Tolong ambilkan keris yang tergantung di dinding," ujar Ki Anom sembari mencabuti jarum-jarum santet  yang menancap di tubuhnya.

Erwin semakin terkejut saat melihat darah segar mengalir di tubuh Ki Anom. Lelaki itu langsung memejamkan matanya dan menggerakkan kerisnya untuk melawan Barra.

"Sekarang terimalah pembalasan ku makhluk biadab!" seru Ki Anom melemparkan kerisnya

*Jrassh!!

Barra segera menangkap keris itu dengan sigap.

"Dasar dukun brengsek, kau kira bisa membunuh ku hanya dengan keris pusaka itu,"

Mengetahui Ki Anom terus menyerangnya membuatnya kembali membalikkan serangan itu hingga balik menyerang sang pengirim yaitu Ki Anom sendiri.

Seketika tubuh Ki Anom terpental dan dari mulutnya langsung menyembur darah segar saat keris yang dikirimnya menancap di jantungnya.

Seketika Erwin langsung menghampiri Ki Anom dan berusaha menolongnya.

"Bagaimana keadaan mu Aki?"' tanyanya sambil membantu lelaki itu bangun

"Sepertinya wanita itu dilindungi oleh makhluk gaib yang sangat sakti, bahkan aku tak bisa mengalahkannya. Sebaiknya kau segera temui Ki Buyut Warno yang ada di desa tetangga. Aku yakin guruku akan bisa mengalahkan makhluk itu," ucap Ki Anom berusaha mencabut keris yang menancap di tubuhnya

"Lalu bagaimana dengan Aki?" 

"Aku akan berusaha semampu ku untuk melawannya,"

Dengan kekuatan yang tersisa, Ki Anom kembali duduk bersila di depan sesaji yang sudah ia sediakan ia kembali memejamkan matanya. Kali ini mulutnya terus komat-kamit membaca sebuah mantera.

Seketika angin kencang berhembus masuk kedalam kosan Gita membuat semua benda-benda di kamar itu langsung berterbangan.

Barra segera menangkap tubuh Gita yang juga ikut melayang terbawa angin.

Lelaki iyu kemudian memusatkan kekuatannya dan dengan sekali jentikan jari tangannya seketika membuat angin berhenti dan berbalik menghantam kediaman ki Anom hingga porak-poranda.

Lelaki itu kembali terpental saat angin kencang menghantam tubuhnya.

Melihat Ki Anom masih bisa bangun, Barra kembali menggerakkan tangannya dan menggerakkan keris ki Anom yang tergelatak di lantai dan mengarahkannya kepada lelaki itu.

Ki Anom memekik keras saat keris itu berhasil menggorok lehernya hingga ia tewas seketika.

Erwin yang ketakutan melihat Ki Anom tewas mengenaskan  langsung bergegas pergi meninggalkan tempat itu.

Terpopuler

Comments

Esti Restianti

Esti Restianti

pertarungan baru di mulai

2022-12-25

0

ngerii 😖

2022-11-29

1

⏤͟͟͞R Kᵝ⃟ᴸ❣️𝐙⃝🦜

⏤͟͟͞R Kᵝ⃟ᴸ❣️𝐙⃝🦜

dih ngerinya lehernya di gorok sama keris sendiri. senjata makan tuan ki

2022-11-27

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!