Malam harinya sesuai pesan sang paranormal Gita segera menyiapkan semua yang dia minta. Ia mulai menyiapkan kembang telon lengkap dengan sesaji yang ia letakkan di kamarnya.
Tidak lupa ia juga menyiapkan secangkir kopi hitam dan juga sepiring camilan untuk sang dukun.
"Kamu lagi ngapain sih Git, kok dari tadi gak keluar kamar?, terus juga bolak-balik bawain makanan ke kamar. Memangnya kamu lagi ngapain sih?" tanya Suryati menghampirinya
"Aku ...aku hanya...." belum selesai Gita mengakhiri kata-katanya, Suryati langsung merangsek masuk kedalam kamarnya
Wanita itu begitu terkejut saat melihat sesaji di kamar putrinya.
"Apa-apaan ini, kau membuat sesaji ini untuk apa, apa kau ingin memanggil hantu. Yang benar saja Gita, apa yang harus aku katakan jika Kyai Sodiq tahu kamu melakukan hal-hal menyimpan seperti ini!" seru Suryati yang begitu terkejut dengan tindakan putrinya
"Aku tahu kamu kecewa dengan orang yang sudah membuat mu begini. Tapi bukan seperti ini cara membalas mereka, ingat nak...kita ini orang beragama jadi lakukan semuanya sesuai ajaran agama kita, jangan sampai karena dendam kita akan menjadi sama jahatnya seperti mereka. Sekarang bersihkan kamarmu atau ibu yang akan melakukannya?" tanya Suryati
"Baik," jawab Gita langsung membereskan sesaji di mejanya.
Saat melihat ibunya keluar dari kamarnya ia kembali menata sesaji itu dan menutup pintu kamarnya.
"Ah aman!" ucapnya sembari mengelus dada
"Terimakasih sayang sudah menyiapkan makanan untukku, tahu aja kalau aku lagi laper," ucap Barra membuat Gita kaget saat melihat kehadirannya di belakangnya.
"Astaghfirullah, kebiasaan selalu saja mengagetkan, bisa gak sih gak ngagetin!" hardik Gita
"Udah bawaan orok susah," jawab Barra kemudian segera duduk didepan sesaji itu dan mulai menghirup aroma makanan itu.
"Itu bukan buat kamu, jadi jangan coba-coba menyentuhnya!"
Gita langsung menyingkirkan sesaji itu dari hadapan barra dan meletakkannya di meja riasnya.
"Kalau bukan untuk aku terus buat siapa, lagian tidak ada makhluk astral lain di sini selain diriku,"
"Pokoknya jangan sentuh, atau aku akan marah padamu selama tujuh hari tujuh malam," sahut Gita kemudian keluar dari kamarnya
Wanita itu kembali terkejut saat melihat ibunya berdiri di depan kamarnya.
"Astaghfirullah Ibu, ngagetin aja!" seru Gita
"Ada tamu nyariin kamu," ucap Suryati
Gita segera bergegas keluar untuk melihat siapa yang datang.
Wanita itu terkejut saat melihat sang dukun dengan penampilan berbeda datang ke rumahnya.
"Bagaimana kau bisa tahu rumahku?" tanya Gita
"Seorang dukun sakti bisa tahu apapun apalagi kalau cuma alamat doang, apa kamu sudah mempersiapkan semuanya?" tanya lelaki itu
"Tentu saja," jawab Gita
Wanita itu kemudian diam-diam mengajak lelaki itu ke kamarnya tanpa sepengetahuan ibunya.
Sang dukun terkejut saat mengetahui Gita membawanya masuk ke kamarnya.
"Kenapa kau membawaku ke sini?" tanya sang dukun memperhatikan seisi kamar Gita
"Jangan salah sangka, aku membawamu ke sini agar ibuku tidak tahu kalau aku sedang mengadakan ritual," bisik Gita
Lelaki itu hanya diam dengan tatapan mata nanar saat Gita memberitahukan alasannya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" ucap Gita begitu ketakutan saat melihat sang dukun menatapnya tajam
"Menyingkirlah dari sini jika kamu masih ingin hidup!" seru lelaki membuat Gita langsung menjauh darinya.
"Apa kamu mengusir ku?" tanya Gita
"Bukan kamu tapi dia!" seru sang dukun menunjuk kearah Barra,
Lelaki itu kemudian menarik Gita dan menyerang Barra.
Gita yang melihat pria itu menyerang suaminya berusaha untuk memisahkan mereka dan memberitahu bahwa bukan Barra alasan ia datang menemuinya.
Gita segera memasang badan saat Barra jatuh tersungkur setelah terkena serangan sang dukun.
"Dia bukan hantu jahat, bahkan dia yang menolong ku dari jin yang mencoba membunuh ku!" seru Gita mencoba menghentikan pertarungan Barra dengan sang dukun.
"Tidak ada makhluk gaib yang baik nona, kamu mungkin sudah diperdaya olehnya hingga begitu mempercayainya," ucap Sang Dukun kemudian meninggalkannya
"Apa kamu sengaja memanggilnya untuk mengusir ku?" tanya Barra sinis
"Bukan begitu, jangan salah paham aku hanya ingin meyakinkan Erwin kalau aku benar-benar percaya padanya, itu saja," jawab Gita
"Semoga saja ucapanmu benar," jawab Barra kemudian menghilang dari pandangannya.
Setelah peristiwa itu Gita kemudian menghubungi Erwin dan berterima kasih seolah-olah dukun itu sudah membantunya.
Ia juga sengaja mentraktir pemuda itu sebagai ucapan terima kasih padanya.
Melihat kedekatan mereka membuat Erwin berpikir jika wanita itu memiliki rasa padanya, hingga berniat melamar gadis itu.
Beberapa hari kemudian Erwin melamar Gita untuk ke tiga kalinya. Ia datang didampingi oleh keluarganya ke kediaman Gita. Kedua orang tua Gita menyambut kedatangan mereka dengan hangat dan mempersilakannya masuk. Erwin tampak tegang mengingat penolakan Gita sebelumnya. Bagaimanapun rasa trauma itu masih ada dan membekas dalam dirinya. Ia terus mengusap keringat dingin yang terus membanjiri keningnya saat menunggu Gita yang tak kunjung keluar dari kamarnya.
Tidak lama Gita keluar didampingi oleh sepupunya. Hari itu Gita terlihat begitu cantik dengan riasan wajah yang membuatnya terlihat semakin mempesona. Erwin bahkan tak berkedip saat melihat wajah cantik wanita itu di hadapannya ..
Semua orang kini menatap kearah Gita yang tersenyum simpul menatap kearah Erwin .
"Ayolah Nak Erwin segera utarakan maksud kedatangan kamu kesini, jangan bilang kalau kamu juga mau menggagalkan rencana mu untuk menikahi Gita setelah tiba di rumah ini," ucap Suryati saat melihat Erwin diam termangu menatap putri semata wayangnya
"Tentu saja tidak bu, saya hanya terkesima memandang kecantikan Dek Gita yang membuat ku jadi tak bisa berkata-kata," jawab Erwin membuat semua orang langsung tertawa mendengarnya
"Baiklah kalau begitu langsung saja,"
Erwin kemudian mengambil nafas panjang sebelum ia mengutarakan maksud kedatangannya hari itu.
Semua orang tampak cemas menunggu jawaban Gita setelah Erwin mengutarakan maksud kedatangannya..
Sebaik-baiknya balas dendam adalah membuat orang yang menyakiti kita bahagia dan menjatuhkannya saat ia sedang berada di puncak kebahagiaannya
Kata-kata Barra masih terngiang di telinga Gita membuat wanita itu tetap diam tak menjawab pertanyaan Erwin.
"Ada yang bilang kalau diamnya wanita saat dipinang oleh seseorang adalah pertanda ia setuju atau menerima pinangan dari pihak lelaki. Bagaimana juga kita harus memakluminya karena mungkin ia malu untuk mengatakannya, atau dia gak mau dibilang terlalu agresif hingga memilih untuk diam, bagaimana menurut pak Kyai?" tanya ayah Gita
"Saya sih sependapat dengan ayah Gita,"
"Alhamdulillah," ucap semua orang bersyukur
Erwin begitu bahagia saat lamarannya di terima. Kali ini hanya tinggal selangkah lagi untuk menjadi suami Gita.
Setelah hari itu, hubungan Erwin dan Gita semakin dekat. Apalagi keduanya juga melakukan persiapan pernikahan mereka tanpa bantuan orang lain. Keduanya sengaja merancang pesta pernikahan sesuai keinginan mereka berdua. Bahkan Gita sengaja mendesign undangan pernikahan sendiri.
"Semuanya terlihat begitu perfect ya sayang, semoga pernikahan kita juga akan berjalan lancar dan perferct seperti yang kita rencanakan," ucap Erwin kemudian mengecup pucuk kepala Gita.
"Aamiin jawab Gita,"
Malam harinya menjelang pesta pernikahan, Gita sengaja membereskan semua baju-bajunya kedalam koper. Ia memang berencana meninggalkan Erwin di hari pernikahannya.
Ia ingin Erwin merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan pasangannya di hari pernikahannya.
"Kau harus merasakan apa yang aku rasakan Erwin, aku ingin tahu apa yang akan kau lakukan saat mempelai mu meninggalkan dirimu di hari pernikahan kalian??" ucap Gita kemudian meninggalkan sepucuk surat sebelum ia bergegas pergi meninggalkan kediamannya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
Esti Restianti
kirain Gita ga punya ayah,dari pertama aku bingung ko cuma ibunya aja,tapi itu kasian orang tua kamu nanti yang malu Git
2022-12-25
0
duh Gita gk ada takutnya 😖😖😖😖😖😖 susah klo hati dah dendam
2022-11-29
1
⏤͟͟͞R Kᵝ⃟ᴸ❣️𝐙⃝🦜
yuhuuu erwin karma otw broo🏃♀️🏃♀️🏃♀️
2022-11-27
0