Setelah Gita bersedia untuk menjadi istrinya Barra mangajak wanita itu menuju ke alam Jin tempatnya tinggal.
Ia sengaja membawanya untuk membersihkan tubuh wanita itu dari pengaruh jimat dan guna-guna yang kembali di kirim oleh sang Dukun.
Setibanya di kediamannya, Barra menyuruhnya untuk tinggal di sebuah rumah yang terletak di tengah-tengah danau.
Barra kemudian meninggalkan gadis itu untuk menemui kedua orang tuanya.
Sang Raja begitu murka saat Barra menyampaikan keinginannya untuk kembali menikahi seorang manusia.
Ia tak habis pikir kenapa putranya tak jera menikahi seorang manusia yang hanya akan menyakiti dirinya.
"Apa kau tahu sekarang kau masih menjalani Hukuman karena telah melanggar aturan alam gaib?"
"Tentu saja Romo," jawab Barra
"Lalu untuk apa kau meminta ijin padaku untuk menikahi manusia yang hanya akan membunuh dirimu sendiri!" hardik sang Raja Jin
"Aku tak tahu kenapa aku juga ingin menikahinya, ia mengingatkan aku kepada Ros," jawab Barra
"Terserah padamu sajalah, toh bagaimanapun aku melarang mu tetap saja kamu tak akan pernah mendengarkan aku. Hanya saja kau harus ingat jika suatu saat kau kehilangan kekuatanmu, aku tidak bisa menolong mu lagi!" sahut Sang Raja
"Baik ayah, aku akan menanggung semuanya sendiri, jika suatu hari ini terjadi sesuatu denganku suatu hari nanti,"
Barra kemudian meninggalkan ayahnya dan menemui Gita.
Ia kemudian meminta wanita itu untuk mempersiapkan diri karena besok pagi ia akan menikahinya secara resmi.
"Kau adalah wanita kedua yang aku bawa ke negeri ini, meskipun ini bukan pernikahan yang pertama bagiku namun aku harap ini akan menjadi pernikahan ku yang terakhir," ucap Barra menatap sendu wajah istrinya
"Kenapa?" tanya Gita begitu penasaran
"Entahlah," jawab Barra kemudian membaringkan tubuhnya di atas ranjang
Tidak lama dua orang wanita memasuki kamar itu dan mengajak Gita untuk menuju ke sebuah sendang.
Wanita itu kemudian diminta untuk berendam dalam sendang itu sambil membersihkan tubuhnya.
Gita merasa aneh ketika melihat air sendang yang jernih tiba-tiba berubah keruh saat ia mulai membersihkan tubuhnya. Semakin lama warna airnya semakin keruh hingga berwarna merah seperti darah.
Gita yang ketakutan segera keluar dari dalam sendang,
"Jangan takut, air itu berubah warna karena sedang menetralisir teluh yang ada dalam tubuhmu," ucap Barra
Gita kemudian kembali berendam di sendang setelah mendengarkan ucapan Barra.
Setelah cukup lama berendam di dalam air sendang, kembali air di kolam itu berwarna jernih. Saat itulah Barra memintanya untuk segera mengakhiri ritualnya.
"Sepertinya sudah cukup,"
Dua orang wanita kembali datang dan mengajak wanita itu kembali ke kamarnya. Mereka kemudian merias Gita menjadi seorang pengantin yang sangat cantik.
Selesai memakai gaun pengantin, dua wanita itu membawa Gita ke sebuah aula pernikahan.
Di sana semua orang sudah menunggu sang mempelai wanita, termasuk Barra yang tak berkedip menatapnya.
Meskipun acara pernikahan terlihat sederhana entah kenapa Gita merasa jika pernikahan itu benar-benar seperti nyata.
Ia bahkan melihat ayah dan ibunya ada di tempat itu, begitupun dengan Merlin sahabatnya.
Namun saat ia mengajak mereka berbicara tak ada seorangpun yang menjawab pertanyaan darinya.
Seorang penghulu segera duduk dihadapannya dan bersiap memulai akad nikah mereka.
Gita menatap lekat kearah Barra yang sudah siap untuk melafadzkan janji suci pernikahan yang akan mengikatnya kedalam sebuah hubungan suci yang disebut pernikahan.
Barra terlihat begitu gagah dan berwibawa dengan tuxedo berwarna hitam. Entah kenapa pesonanya yang begitu menawan belum mampu meluluhkan hati Gita yang menikahinya hanya karena sebuah Dendam.
Setelah acara akad berlangsung, Barra kemudian mengajak wanita itu pulang.
"Sekarang saatnya kita pulang dulu, aku tak mau semua orang khawatir denganmu jika kau terlalu lama di sini," ucap Barra
Benar saja, saat kembali pulang, Gita mendapati dirinya terbaring di sebuah rumah sakit,
Ia perlahan membuka matanya dan menatap wanita disebelahnya yang terlelap sambil memegangi tangannya.
"Ibu??" ucap Gita mencoba membangunkan ibunya
Seketika Suryati terbangun saat mendengar suara anaknya.
"Alhamdulillah kami sudah bangun nak," wanita itu langsung memeluknya erat seolah ia sudah lama tidak melihatnya
"Kenapa ibu bersedih, sebenarnya apa yang terjadi padaku?" tanya Gita
Suryati kemudian menceritakan tentang keadaan Gita yang ditemukan dalam keadaan pingsan di rumahnya dua hari lalu.
"Dokter bilang kamu kelelahan, dan juga depresi hingga dua hari tak sadarkan diri. Alhamdulillah sekarang ibu lega setelah melihat mu kembali tersenyum," jawab Suryati
Malam itu Gita diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit.
Setibanya di rumahnya gadis itu terkejut saat melihat Barta sudah mendengkur di kamarnya.
Ia kemudian menghampiri lelaki itu dan memintanya untuk pergi dari kamarnya.
"Kenapa aku harus pergi, bukankah sekarang kamu istriku. Jadi kamar ini berarti kamarku juga kan?" tanya Barra
"Tetap saja aku gak suka, apalagi kita menikah bukan karena cinta!" sahut Gita mendengus kesal
Melihat Barra kembali menarik selimutnya, dan memejamkan matanya, membuat Gita langsung mendorongnya membuat pria itu jatuh dari tempat tidurnya.
*Buughh!!
"Astoge, sayang kok kamu gitu sih sama aku, untung encok ku gak kambuh!" pekik Barra memegangi pinggangnya
"Makanya jangan tidur di kamar orang sembarangan!"
"Ya kali suami gak boleh tidur di kamar istrinya," sahut Barra
"Kita belum boleh tidur bersama sampai kamu berhasil membalaskan dendam ku kepada orang yang sudah membuat ku menderita," jawab Gita
"Astaga, cobaan apa lagi ini, masa sih aku harus puasa di malam ini?" ucap Barra
"Kamu akan terus puasa sampai kamu bisa membawa mayat orang yang membuat ku menjadi perawan tua kehadapan ku,"
"Astaghfirullah Gita, sekarang kan kamu sudah punya suami yang ganteng dan menerima kamu apa adanya so untuk apalagi kamu dendam kepada lelaki itu. Ingat dendam hanya akan membuat hidupmu tidak tenang. Bukankah memaafkan itu lebih baik, lagipula meskipun kamu tak membalasnya aku yakin karma itu ada. Suatu saat dia pasti akan mendapatkan adzab atas perbuatannya," ucap Barra mencoba menasihatinya
"Tapi tetap saja aku mau menikah denganmu karena kamu mau membalaskan dendam kepada orang yang sudah membuat ku menderita, tapi kalau kau mengingkari janji mu lebih baik kita cerai saja,"
"Astaghfirullah, nyebut Git. Ingat kita baru nikah, malam pertama aja belum masa udah mau cerai aja, apa kata dunia,"
"Terserah kamu aja, kalau masih mau lanjut ya ikuti permintaan ku kalau kamu berubah pikiran yaudah kita end aja," jawab Gita acuh
"Baiklah jika itu mau mu, sekarang katakan apa yang harus aku lakukan?" tanya Barra
"Katakan padaku siapa orangnya yang sudah membuatku seperti ini?" tanya Gita menatap nanar kearah Barra
Lelaki itu kemudian menarik lengan Gita dan mencium bibirnya hingga wanita itu tak bisa menolaknya.
Barra semakin memperdalam ciumannya membuat Gita bisa merasakan betapa lembut dan manisnya bibir pria itu,
Tiba-tiba Gita mendorong tubuh Barra saat melihat wajah pria itu berubah menjadi sosok lelaki yang begitu dikenalnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
⏤͟͟͞R Kᵝ⃟ᴸ❣️𝐙⃝🦜
wah wah barra bijak amat yak
2022-11-27
0
⏤͟͟͞R Kᵝ⃟ᴸ❣️𝐙⃝🦜
katanya wewe ganteng tapi kok encokan🤣🤣
2022-11-27
0
⏤͟͟͞R Kᵝ⃟ᴸ❣️𝐙⃝🦜
cuma halu itu gita bukan orang tuamu yg rl kyaknya
2022-11-27
0