Chapter 5

Malam itu juga Erwin langsung menemui paranormal tempat ia membeli teluh tersebut.

Saat mendatangi kediaman Ki Anom, Erwin tercengang manakala melihat kediaman paranormal itu porak-poranda.

Dimana Ki anom, apa dia sudah meninggal??

Erwin mengira Ki Anom sudah meninggal, saat melihat kediaman sang dukun yang hancur. Pada saat ia hendak meninggalkan tempat itu tiba-tiba seorang lelaki langsung menariknya.

"Ada apa kamu datang kemari malam-malam begini?" tanya lelaki itu sontak membuat Erwin ketakutan saat melihat wajahnya yang mengerikan

"A…aku mencari Ki anom," jawab Erwin terbata-bata

"Kenapa kau mencari ku?" tanya Ki Anom

Erwin kemudian menceritakan perihal kejadian di rumah Suryati. Ia juga menceritakan tentang jimatnya yang menghilang.

"Apa kau tahu gara-gara wanita itu hampir saja aku mati," jawab Ki Anom menghardiknya

"Maksudnya Gita yang melakukan semua ini kepada Aki??" tanya Erwin 

"Bukan gadis itu tapi makhluk yang melindunginya," jawab Ki Anom

Erwin menatap intens luka di wajah Ki Anom.

"Apa luka di wajahmu juga karena ulah makhluk itu?" tanya Erwin

"Benar, dia sudah mencekikku dan juga mencabik-cabik wajahku hingga seperti ini, dia bahkan menghancurkan rumahku seperti itu!" jawabnya seraya memperlihatkan semua luka di tubuhnya

"Lalu apa yang harus kita lakukan, apa makhluk itu akan menyakiti ku juga?" Erwin terlihat ketakutan saat membayangkan dirinya akan mengalami hal serupa seperti yang dialami oleh Ki Anom

"Kau tidak perlu takut aku pasti bisa mengalahkan makhluk itu, siapkan saja uangnya aku pasti akan membereskannya," sahut Ki Anom

"Baik Aki, berapapun yang kau minta aku akan memberikannya, asal aku tetap selamat dan Gita tetap menjadi perawan tua untuk selamanya," jawab Erwin

"Tentu saja, kau lihat saja nanti. Aku pastikan makhluk itu akan segera bertekuk lutut dihadapan ku," sahut Ki Anom

******

Hari itu Gita terpaksa harus kerja lembur karena permintaan sang atasan. Ia ditemani oleh Merlin terlihat menyelesaikan laporan keuangan yang sudah harus disetorkan besok pagi.

Merlin terlihat mengantuk hingga menyerahkan pekerjaannya kepada Gita.

"Sorry Git, gue udah gak kuat, tolong lanjutin ya. Tar kalau udah kelar bangunin gue," ucap Merlin kemudian merebahkan kepalanya di atas meja

Gita hanya mengangguk tanpa menoleh ke arah temannya itu.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, dan Gita akhirnya berhasil menyelesaikan tugasnya.

"Akhirnya kelar juga," 

Gita kemudian segera membangunkan Merlin dan mengajaknya pulang.

"Kamu kenapa sih jalannya lambat banget Mer, cepetan dikit apa dah malam nih," seru Gita kemudian menarik lengan sahabatnya

Tiba-tiba wanita itu menoleh ke arah Merlin yang hanya diam meskipun ia terus menggomelinya. 

"Tangan kamu dingin banget Mer, apa kamu sakit?" tanya Gita mengecek suhu tubuh sahabatnya

Lagi-lagi Merlin hanya mengangguk tanpa menjawab pertanyaannya.

"Yaudah besok gak usah masuk, biar aku izinin sama pak Bos," ucap Gita

Ia kemudian berdiri di depan lift menunggu lift turun.

Saat pintu Lift terbuka, Gita buru-buru mengajak Merlin untuk masuk kedalamnya. Namun gadis itu menolak masuk lift itu dengan alasan liftnya penuh.

"Yang benar saja, lift kosong gini lo bilang penuh, ngigo lo!" cibir Gita kemudian menarik lengan gadis itu 

Kali ini Merlin benar-benar kesal hingga mendorong Gita, saat gadis itu terus menariknya masuk ke dalam lift.

"Awww!" Gita memekik kesakitan saat ia jatuh tersungkur ke lantai.

"Kok kamu jahat banget sih Mer malam ini, gak biasanya lo kaya gini. Sebenarnya ada apa sih?" tanya Gita menghampiri sahabatnya itu

Tiba-tiba Mata Merlin membelalak dan berubah menjadi putih semua. Saat Gita mulai menyadari jika itu bukan Merlin sahabatnya, makhluk itu langsung menjambaknya saat melihat Gita akan melarikan diri.

Gita berusaha melepaskan diri dari Gadis itu namun sia-sia saja, tenaganya terlalu besar hingga ia sulit untuk mengalahkannya.

Melihat makhluk itu akan mencekik leher Gita, seketika Barra keluar dari lift dan menarik makhluk itu menjauh dari Gita.

Ia kemudian melemparkan makhluk itu hingga ia menghilang menjadi kepulan asap.

"Kenapa kau membunuh temanku!" seru Gita

"Dia bukan temanmu tapi mahluk halus yang menyerupai temanmu," sahut Barra

"Kalau dia bukan Merlin lalu dimana Merlin?" tanya Gita

"Coba tanyakan saja sama rumput yang bergoyang," jawab Barra terlihat acuh

"Ah sial!" pekik Gita

Gita kemudian memutuskan untuk kembali ke ruang kerjanya, ia melihat Merlin masih terlelap di atas meja kerjanya. Ia kemudian membangunkan sahabatnya itu dan mengajaknya pulang.

Melihat Merlin yang masih mengantuk membuat Gita tak sampai hati mengajak gadis itu naik bus. Ia kemudian memesan taksi online untuk mengantar mereka pulang.

"Sesuai aplikasi ya mbak," ucap sopir taksi

"Iya Pak,"  jawab Gita singkat

Taksi itu kemudian melaju meninggalkan area komplek tempat Laila tinggal.

Setibanya di gang depan kosan Gita, wanita itu segera turun dan membayar ongkos taksi.

Saat melintasi gang seorang lelaki tua menghadang langkahnya.

"Aku lihat auramu sangat gelap, sepertinya kau sedang diikuti oleh makhluk halus yang berusaha membujukmu untuk menjadi permaisurinya," 

Gita segera menoleh ke arah lelaki tua itu setelah mendengar ucapannya.

"Bagaimana kau tahu??" tanyanya membelakak

"Tentu saja aku tahu, aku bisa melihat semuanya hanya dengan melihat matamu," jawab lelaki itu

"Wah kau pasti seorang peramal yang hebat," jawab Gita

"Kalau kau tidak keberatan aku punya sebuah jimat yang bisa mengusir makhluk itu agar ia tak mengikuti mu lagi. Jimat ini juga adalah jimat keberuntungan yang akan membuatmu bertemu dengan jodohmu," ujar lelaki itu

"Tapi berapa harganya?" tanya Gita 

"Jangan khawatir aku memberikannya secara cuma-cuma. Anggap saja hari ini adalah hari keberuntungan mu," jawab lelaki itu kemudian meninggalkan Gita

Gita berusaha mengejar lelaki itu untuk berterima kasih, namun sayangnya ia berjalan begitu cepat jingga Gita kehilangan jejaknya.

Gita segera memakai gelang pemberian lelaki itu dan berjalan kembali ke rumah.

"Kenapa aku merasa pusing setelah memakai gelang ini," seketika Gita merasakan tubuhnya begitu lemas hingga ia hampir jatuh ke tanah

Beruntung ada seorang pemuda yang menolongnya.

"Apa kamu sakit??" tanya pemuda itu 

Gita terus menatap lekat pemuda di depannya itu.

 Tampan sekali, andai saja di mau mengantarku pulang, aku pasti bersedia jika menjadi selingkuhan mu,

"Tidak, hanya saja kepalaku agak sedikit pusing," jawab Gita

Ia kemudian segera bangun dan kembali berjalan mennuju kosannya. Namun karena masih pusing ia berjalan sempoyongan hingga membuat pemuda itu khawatir padanya.

"Sepertinya kau memang kurang sehat, bagaima jika aku mengantar mu pulang?" ucap pemuda itu

"Tentu saja aku bersedia," jawab Gita seketika langsung setuju.

Terpopuler

Comments

Esti Restianti

Esti Restianti

itu dukunnya Edwin kayanya

2022-12-25

0

Barra gaul .. genderuwo tahun berapa itu bahasanyaa ... Astogeeeeee kayak kita kita seumuran 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭

2022-11-28

1

⏤͟͟͞R Kᵝ⃟ᴸ❣️𝐙⃝🦜

⏤͟͟͞R Kᵝ⃟ᴸ❣️𝐙⃝🦜

astaghfirullah klo ngomong gak di pikir dlu neng🙈

2022-11-27

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!