Gita begitu bahagia saat mengetahui seorang pemuda tampan mau mengantarnya pulang.
Malam itu ia benar-benar bahagia hingga tak bisa tidur.
"Sepertinya gelang ini memang jimat keberuntungan ku, bagaimana tidak?, baru sebentar saja aku memakainya, aku langsung mendapatkan seorang kenalan pemuda tampan. Ia bahkan memberikan nomor telponnya padaku." gumam Gita tersipu-sipu
Karena tak bisa memejamkan matanya terpaksa ia menonton sebuah film agar ia mengantuk.
Namun sayangnya matanya tetap terjaga karena ia terus memikirkan pemuda itu.
"Andai saja dia ada di sini, oh betapa bahagianya aku!" seru Gita membayangkan pemuda itu ada di sampingnya
Saat ia benar-benar merasa mengantuk tiba-tiba ia seperti melihat pemuda itu menghampirinya.
"Bagaimana kau bisa masuk?" tanya Gita dengan wajah berseri-seri
"Tentu saja karena kau tidak mengunci pintunya," jawab pemuda itu kemudian berbaring di sampingnya
"Kau sangat cantik meskipun tanpa make up," ucap pemuda itu membelai wajah Gita
Seketika pujian pemuda itu membuat Gita melayang hingga tak sadar jika ia tengah berhadapan dengan seorang mahluk halus yang menyerupai pemuda tampan.
Ia bahkan tak menolak saat makhluk itu melucuti satu persatu pakaiannya dan berusaha menjamahnya.
Sementara itu Barra merasa kesal Melihat Gita yang hanya pasrah saat makhluk itu berusaha menodainya.
"Ah sial, gara-gara jimat itu aku tidak bisa menolongnya. Kenapa ia bodoh sekali, Padahal aku sudah menawarkan diri untuk jadi pelindungnya tapi ia malah menolak ku. Lagipula Kenapa aku masih peduli dengannya, toh dia sendiri yang tak menginginkan keberadaan ku. Beginilah nasib jadi hantu baik hati yang selalu tak bisa menutup mata saat melihat seorang wanita menderita," celoteh Barra mengamati Gita dari atas pohon nangka.
Melihat makhluk itu semakin berani, membuat Barra merasa harus menyelamatkan wanita itu.
Barra segera mengambil kain dan melemparnya ke wajah Gita hingga gadis itu gelagapan.
Ia kemudian menarik mahluk itu dan menghajarnya tubuhnya terhempas ke langit-langit kamar.
Makhluk itu terus memohon ampun saat Barra terus menyiksanya.
Jeritan makhluk itu membuat Gita langsung sadar dan melepaskan kain yang menutupi wajahnya.
"Aku paling benci dengan makhluk omes sepertinya, dia hanya bisa mencoreng nama baik Wowo ganteng seperti gue," ujar Barra melepaskan tinjunya kearah mahluk itu
"Arrghhh!!"
Lelaki itu kemudian menatap lekat kearah Gita. Ia kemudian menjentikkan jarinya ke arah wanita itu.
Seketika Gita langsung bisa melihat wujud asli makhluk yang sudah berusaha menggodanya.
"Sekarang lihatlah wajah asli cogan yang kau puja-puja itu!" cibir Barra
Wajah Guta mendadak pucat dan ia langsung pingsan saat melihat makhluk itu dengan wujud aslinya.
"Oi, bangun!" seru Barra mencoba menyadarkan Gita
"Masa baru lihat buto Ijo doang langsung pingsan gimana kalau lihat kolor ijo!" Barra kemudian menepuk-nepuk pipi gadis itu membuat Gita perlahan membuka matanya saat mendengar suara bising di telinganya.
Ia begitu terkejut saat mendapati dirinya bangun dalam keadaan bugil. Bukan hanya itu dia begitu malu saat melihat Barra berdiri di hadapannya tanpa rasa risih memandang tubuhnya.
Gita segera menarik selimut dan menutupi tubuhnya.
"Tidak usah terkejut," seru Barra dengan nada tinggi
"Sekarang bukan saatnya untuk melihat hal-hal seperti itu, yang terpenting saat ini adalah kau cepat lepaskan gelang itu atau kau akan celaka!" seru Barra
Tiba-tiba Gita merasakan kemarahan dalam diri Barra, Entah apa penyebabnya namun tetap saja ia tak bisa menyembunyikan rasa takutnya.
"Sebaiknya kau terima saja tawaranku, jika kau tidak ingin makhluk seperti tadi menggodamu lagi. Dukun jahat itu sudah memasang jimat laknat yang sengaja membuat semua hantu-hantu mendekatimu, jadi sekarang kemanapun kau pergi semua hantu-hantu bisa melihat mu dengan jimat itu. Dan jimat itu pula yang membuatku tak bisa mendekatimu. Sebaiknya kau buang saja jimat itu!" seru Barra
"Aku tidak percaya dengan ucapanmu, justru jimat ini adalah pembawa keberuntungan bagiku, dan aku tidak akan pernah membuangnya!" tolak Gita
"Terserah kau saja, aku juga tak bisa memaksa mu untuk percaya padaku. Suatu saat kau akan menyadari jika ucapanku itu benar. Dan saat itu terjadi jangan pernah mengingat ku lagi karena aku tidak akan peduli denganmu lagi, sudah cukup aku membantumu selama ini!" seru Barra kemudian menghilang dari hadapan Gita.
Wanita itu terus memandangi gelang yang ada di tangannya. Untuk beberapa saat kata-kata Barra masih terngiang di telinganya namun ia berusaha menepis semuanya dan tetap yakin jika gelang itu adalah jimat pembawa keberuntungan untuknya.
Pagi harinya, Merlin datang ke kosan Gita dan mengajaknya untuk menghabiskan akhir pekan dengan menginap di sebuah villa bersama teman-teman kerja mereka.
Gita setuju dan langsung mengemasi pakaiannya.
Setibanya di Villa, semua orang langsung berebut memilih kamar tidur. Karena Gita yang adalah peserta terakhir maka ia mendapatkan kamar paling ujung dekat dengan dapur. Namun gadis itu tak keberatan dan segera masuk ke dalam kamarnya.
Karena ia sangat ngantuk setelah semalaman tidak tidur. Gita akhirnya terlelap dalam kamarnya.
Entah kenapa tiba-tiba gadis itu seperti berada di suatu tempat yang begitu asing.
Di sana ia melihat banyak rumah mewah dengan pepohonan besar di halaman rumahnya. Tanpa aba-aba kakinya tiba-tiba melangkah masuk ke dalam sebuah rumah yang paling besar.
Di sana ia disambut bak seorang puteri Raja, seorang pria tampan duduk diatas singgasana dan mengulurkan tangan ke arahnya.
Saat ia hendak meraihnya tiba-tiba sebuah rantai langsung mengikat kakinya hingga ia tak bisa bergerak untuk meraih tangan lelaki di hadapannya.
Ia berusaha melepaskan diri dari rantai yang mulai memasung kedua kakinya, namun percuma saja karena ia tak berhasil melepaskan rantai besar itu.
Pria itu begitu marah saat melihat Gita tak mau meraih lengannya, ia segera bangun dan tiba-tiba wajahnya seketika berubah menjadi makhluk yang menyeramkan.
Ia kemudian menghancurkan rantai yang mengikat kaki Gita dan menggendong wanita itu menuju ke sebuah peraduan yang dipenuhi dengan bunga-bunga.
Kali ini Gita berusaha melarikan diri dari makhluk itu saat ia berusaha menodainya.
Ia terus menjerit meminta tolong namun tak seorangpun datang menolongnya.
Gita kemudian teringat ucapan Barra dan segera melepaskan gelang yang melingkar di jarinya. Ia melemparkan gelang itu wajah sang makhluk halus tersebut.
Mahluk itu mengerang keras dan semakin murka di buatnya, ia langsung melemparkan Gita ke atas ranjang dan mencoba merajamnya.
Namun tiba-tiba seseorang menarik kepalanya dan langsung melemparnya hingga tubuhnya terhempas menghantam dinding bangunan.
"Jangan coba-coba menyentuh calon permaisuri ku, atau aku akan menghancurkan tubuhmu berkeping-keping!" pekik Barra
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
mars
gara2 baca karyamu nih kak aq jadi suka baca novel
2023-01-27
0
Ani ani
asik.. bara mncri cinta ..☺️ mna trio koplak☺️☺️
2022-12-30
0
Esti Restianti
ini ceritanya novel horor,tapu dari awal ga ada serem"nya menurutku,krn ketutup sama kelakuan" absurdnya Barra,dari awal dia ada sampai ke trio koplak dan lanjut disini,lebih fokus sama lawaknya di banding seremnya,lain dari yang lain pokoknya🤣
2022-12-25
2