Lautan Darah 2

Gadis kecil itu tertidur karena kelelahan menangis. Vallen yang masih memiliki hati nurani menggendong anak itu, dan membawanya keluar dari sana.

"Tidak mungkin aku meninggalkannya sendirian di tempat ini," batin Vallen.

Saat ia menuruni tangga, banyak mayat yang bertebaran di mana-mana. Vallen meneteskan air mata, melihat setiap lantai di banjiri dengan darah. Pemandangan yang sangat menyayat hati.

Vallen menutupi mata anak itu, ia takut jika gadis kecil itu terbangun dan melihat semua ini. Pasti akan membuatnya tambah trauma.

Setelah keluar dari Istana Amber, Vallen memutuskan untuk memutar Arah, ia tidak mau melewati pemukiman warga yang telah ia bunuh.

"Bukan arwah mereka, tapi rasa bersalah yang telah menghantuiku," batin Vallen.

Saat ia menyusuri hutan belantara, ia melihat seekor kuda putih yang diikat di batang pohon.

"Bukankah ini milik Ayah," batin Vallen.

Vallen mendekat dan bersembunyi di balik semak-semak, menurunkan gadis yang sedang tidur itu ke tanah, ia melihat ayahnya bersama beberapa prajurit sedang menyeret mayat Raja dan Ratu Ruby ke danau.

"Ikat tubuh mereka dengan besi, pastikan mereka tenggelam ke dasar danau," perintah Raja Katharos.

"Baik, Baginda," jawab prajurit.

Setelah itu, mereka semua pergi melanjutkan perjalanan kembali ke Istana Noble the castle. Kini hanya tersisa Vallen dan anak itu di tengah hutan.

Dengan penuh rasa kasihan, Ia menatap gadis kecil itu. Ia telah membunuh seluruh klan dan keluarganya, kini hanya tersisa gadis itu sebatang kara.

Vallen membelai pipinya dengan lembut, menatap matanya yang sembab. Ia tidak tega melihat anak yatim piatu yang saat ini ada di hadapannya.

"Mulai hari ini, aku akan menjagamu," ucap Vallen.

Vallen meraih dan menggendong kembali anak itu, ia berjalan tak tentu arah.

"Tidak mungkin aku membawanya pulang ke Istana, jika Ayah tahu pasti ia akan membunuh anak ini," batin Vallen.

Tiba-tiba angin bertiup halus di dekat lehernya, membuatnya merasa merinding.

"Terima kasih," bisikan suara perempuan di telinganya.

Vallen langsung menepis telinganya, ia memutarkan badan, ke depan dan kebelakang, tapi tidak ada siapa-siapa selain mereka.

"Sepertinya kami harus segera pergi dari sini," batin Vallen.

Vallen mempercepat langkahnya, tanpa ia sadari, jauh di belakang mereka ada seorang wanita cantik bercahaya sedang tersenyum melambaikan tangan pada mereka. itu adalah arwah Ratu Ruby yang berterima kasih karena Vallen telah menyelamatkan anaknya.

Setelah ia berjalan cukup lama, akhirnya ia melihat sebuah rumah tua di tengah hutan, dekat dengan pinggir danau.

Rumah yang sudah terbengkalai.

Tiba-tiba gadis kecil itu terbangun, ia kembali menangis, dan Vallen membawanya masuk.

"Ayah, Ibu, hu..uu.. " gadis kecil terisak.

"Shut.. jika paman yang tadi mendengar tangisanmu ia akan kemari dan membunuhmu juga," ucap Vallen.

"Sekarang aku tidak punya siapa-siapa," ucap anak itu.

"Masih ada aku disini, aku akan menjagamu, jadi berhentilah menangis," jawab Vallen.

Vallen memeluk anak itu, berusaha menenangkannya.

"Aku haus," ucap gadis kecil itu dengan suara parau.

Vallen menyodorkan tangannya, gadis kecil itu menatapnya dengan heran.

"Tunggu apa, gigitlah," ucap Vallen.

Anak itu langsung meraih tangan Vallen, menghisap darahnya sangat kuat tanpa jeda. Setelah puas anak itu melepas lengan Vallen dari cengkramannya.

"Siapa namamu?" tanya Vallen.

"Belliana," jawab Anak itu serak.

Vallen jongkok, melepas jubah putra mahkotanya, dan menggelarnya ke lantai. Ia duduk bersandar ke tembok, lalu meraih gadis kecil itu dan merangkulnya.

"Kalau dilihat-lihat, sepertinya anak ini seumuran dengan Adikku, Saddam," batin Vallen.

Gadis kecil itu kembali gemetar, menatap kosong ke depan. Pembunuhan kedua orang tuanya masih terbayang-bayang di kepalanya. Vallen yang menyadari itu, ia langsung memeluk Belliana erat-erat.

"Semua akan baik-baik saja," ucap Vallen membelai rambutnya.

Badannya terasa pegal, setelah membantai besar-besaran ia belum tidur sama sekali, bahkan sepanjang jalan ia harus menggendong seorang gadis kecil.

Mereka tertidur hingga matahari terbit. Cahaya matahari masuk lewat celah celah genteng yang bolong.

Vallen terbangun, saat ia baru membuka mata, ia sudah melihat Belliana duduk di pangkuannya, dan melotot padanya.

"Hoii, kau mengagetkanku, Bocah!" ucap Vallen kaget.

"Kau tidur lama sekali, aku lapar!" jawab Belliana kecil.

"Tu.. buhmu ber.. rat," ucap Vallen.

Vallen mengangkat Belliana dan menurunkannya dari tubuhnya. Lalu Vallen berjalan keluar dari rumah itu. Belliana juga mengikutinya dari belakang.

"Apa kau tuli, aku lapar!" teriak Belliana.

"Bukan hanya seumuran, ternyata sifatnya juga sama menyebalkannya," batin Vallen.

Vallen menoleh kebelakang, tersenyum paksa sambil melototkan mata ke arah Belliana.

"Aku tahu, tunggu sebentar disini, jangan kemana-mana," ucap Vallen geram.

"Kau mau kemana?" tanya Belliana.

"Berburu sesuatu," jawab Vallen melangkah keluar rumah.

"Aku ikut!" Belliana berlari menyusul Vallen.

Vallen berhenti, dan menarik baju Belliana mengangkatnya ke atas, seperti anak kucing.

"Berhenti, kau hanya akan menyusahkanku!" ucap Vallen.

Setelah itu Vallen melesat berlari dengan cepat, disusul oleh Belliana di belakang.

"Dia sangat keras kepala," batin Vallen.

Langit kini senja, matahari akan terbenam. Setelah berapa jam berburu di atas bukit, mereka pulang membawa 5 ekor kelinci.

"Kau suka kelinci kan?" tanya Vallen.

Belliana hanya mengangguk angguk senang. Vallen menguliti kelinci dengan pedangnya, lalu menyusun beberapa potong kayu. Ia menjentikkan jarinya untuk mengeluarkan api.

"Wah.. keren sekali, ajari aku," ucap Belliana bertepuk tangan.

"Aku bilang ajari aku!" rengek Belliana menarik lengan Vallen karena di acuhkan.

"Anak kecil sepertimu tidak akan bisa melakukannya," jawab Vallen.

Saat Vallen sibuk membolak-balikkan kelinci panggangnya, Belliana berteriak.

"Lihat aku! Aku juga bisa melakukannya," ucap Belliana.

Vallen tidak menghiraukan ucapan gadis kecil itu, ia tetap terus memanggang. Sambil memikirkan alasan yang tepat jika bertemu Ayahnya nanti karena ia datang terlambat.

Tanpa sepengetahuan Vallen, Belliana menaruh telapak tangannya pada sebuah batang pohon, seluruh bagian pohon itu langsung terbakar.

Spontan Vallen menoleh kebelakang, ia dengan cepat mengambil nafas panjang dan meniup kencang ke arah pohon itu, seketika api itu padam.

"Bagaimana kau bisa melakukannya?" tanya Vallen.

"Kau terlalu meremehkanku, hump" jawab Belliana cemberut melipat kedua tangannya.

"Gadis kecil ini.. dia bisa mengimbangiku dengan cepat," batin Vallen.

"Dengar, jangan melakukan apapun yang mencolok, kalau tidak, Paman itu akan menemukanmu," ucap Vallen.

"Mm.." jawab Belliana mengangguk.

Setelah memastikan Belliana sudah makan, Vallen mengajaknya masuk ke dalam rumah. Lalu ia bersiap akan pergi.

"Jangan kemana-mana sampai aku kembali," ucap Vallen.

"Bisakah aku ikut? Aku takut disini sendirian," pinta Belliana lirih.

Vallen membungkuk mengelus rambut gadis kecil itu dengan lembut. Menatap dengan penuh kasih sayang.

"Mulai sekarang, kau harus belajar mandiri, belajar melawan rasa takut, karena aku tidak bisa setiap waktu ada di sampingmu, kau mengerti?" ucap Vallen.

Belliana diam tidak bergeming.

"Besok saat matahari terbit, aku akan kembali lagi kesini," ucap Vallen.

"Janji?" ucap Belliana mengacungkan jari kelingking.

"Janji," jawab Vallen tersenyum melingkarkan jari kelingkingnya.

"Tapi bagaimana jika aku lapar?" tanya Belliana.

Vallen menunjuk 3 kelinci hidup yang dia ikat di pojok.

"Kalau aku haus?" tanya Belliana.

Vallen menunjuk kembali kelinci itu.

"Kalau aku.." ucap Belliana terpotong.

"Semua kebutuhanmu sudah aku sediakan! Kau tunggu saja sampai aku kembali, aku benar-benar tidak punya waktu lagi!" bentak Vallen kesal.

"Huft.. jaga dirimu," ucap Vallen menarik nafas panjang.

Vallen melambaikan tangan kepada Belliana yang masih berdiri di depan pintu dengan cemberut.

Ekspresi gadis kecil itu membuat Vallen tidak tega, tapi apa boleh buat dia juga harus kembali ke Istana.

"Hush! hush!" Vallen menepiskan tangan, mengkode Belliana untuk masuk, seperti mengusir ayam.

Dengan sangat tidak iklas, Belliana menuruti perkataan Vallen, ia menutup pintu dengan kasar.

"BLAM!" suara pintu di banting.

Belliana duduk meringkuk di balik pintu.

"Aku sangat merindukan kalian," ucap Belliana terisak mengingat kedua orang tuanya.

Terpopuler

Comments

Lia Kumalasari

Lia Kumalasari

bagus banget ayo up lagi kak q suka

2023-02-20

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!