Lautan Darah

Vallen menghempaskan dengan kasar tubuh Saddam ke dalam ruangan VIP pribadinya.

"Ingin rasanya aku membunuhmu saat ini juga!" bentak Vallen.

"Bunuh aku, bunuh! Bukannya dari dulu kau suka membunuh keluargamu sendiri!" teriak Saddam.

"PLAK!! Apa yang kau tahu bocah sialan!" bentak Vallen menampar Saddam.

Vallen menjambak kuat rambut Saddam, hingga kepalanya mendongak ke atas. Vallen menatap lekat-lekat mata Saddam. 

Ia membagi ingatannya pada Saddam. Memperlihatkan peristiwa pembantaian yang dilakukan katharos pada vampir ruby.

*Flashback ke ingatan Vallen.

Saat itu Vallen sudah beranjak remaja, hari dimana pembantaian yang sudah direncanakan Ayahnya akan dilaksanakan.

Vallen mendengar suara keributan di halaman belakang istana, ia segara turun ke bawah dan melihat para pasukan katharos sedang menyiapkan persenjataan.

"Semua bersiap! tengah malam nanti kita akan menyerang Istana Amber," ucap Raja Katharos memerintah Prajuritnya.

"Siap, Paduka!" jawab seluruh prajurit.

Setelah mendengar itu, Vallen berlari menghampiri Ayahnya, ia tidak setuju dengan keputusan tersebut.

"Apa Ayah akan benar-benar melakukannya?" tanya Vallen.

"Tentu saja, kita harus membantai seluruh Vampir Ruby, agar di masa depan hanya tersisa Vampir Katharos," jawab Raja.

"Kenapa sesama Vampir darah murni harus saling membunuh? Itu terlalu kejam menurutku!" ucap Vallen.

"Karena Vampir Ruby adalah ancaman terbesar bagi Katharos, jika kita tidak memusnahkannya, kitalah yang akan punah di masa depan," jawab Raja.

Vallen terdiam memikirkan ucapan Ayahnya, menurutnya ucapan Ayahnya ada benarnya juga.

Raja Katharos maju, memegang kedua pundak Vallen.

"Vallen, dengarkan Ayah. Pamanmu, Haidar telah pergi, ia tidak setuju dengan pembantaian ini, Ayah harap kau bersedia menggantikannya sebagai panglima perang," pintah Raja Katharos.

"Tapi aku masih terlalu muda untuk itu," jawab Vallen.

"Ayah percaya padamu," ucap Raja menepuk-nepuk pundak Vallen.

"Baiklah, aku akan melakukan yang terbaik," jawab Vallen menyanggupi.

"Kalau begitu, Pengawal! bawakan peti emas itu kemari!" teriak Raja.

"Siap, Paduka," ucap Pelayan.

Raja Katharos menyerahkan sebuah peti emas kepada Vallen.

"Berr.. rat sekali, apa ini isinya, Ayah," ringis Vallen mengangkat beban.

"Bukalah," ucap Raja.

Saat Vallen membuka peti itu ia langsung terpesona, sebuah pedang yang sangat panjang dan mengkilap, di hiasi permata zamrud.

"Itu hadiah untukmu, apa kau suka?" tanya Raja.

"Aku sangat menyukainya, Ayah, aku akan terus memakainya," jawab Vallen penuh Antusias.

"Bagus, bersiaplah, sebentar lagi kita akan menuju Istana Amber," ucap Raja Katharos.

"Siap, Ayah!" jawab Vallen.

Ditemani suara jangkrik, dan sinar bulan, Vallen, dan para pasukan katharos menyusuri hutan, menuju Istana Amber.

Mereka tidak memerlukan obor, karena mata mereka dapat melihat dengan jelas walaupun dalam kegelapan.

Vallen memimpin di depan, mereka mulai masuk ke pemukiman warga Vampir Ruby. Dengan ganas Vallen dan para pasukannya mulai membantai seluruh warga.

Mereka membantai dari rumah ke rumah, bahkan mereka tidak membiarkan 1 orang pun lolos. Anak kecil, dewasa, lansia, semua mereka bunuh.

Dengan lihai Vallen mengayunkan pedangnya untuk menebas lawan. Pedang dan baju Vallen berlumur darah.

"Sudah beres semua, Pangeran," ucap salah satu prajurit.

"Ayo kita segera menuju Istana Amber," jawab Vallen.

Mereka berkumpul kembali, lalu bergegas menuju ke Istana Amber, tempat di mana Raja dan Ratu Ruby berada.

Langkah Vallen berhenti, saat melihat Ayahnya sudah menunggu di depan gerbang Istana Amber.

"Ayah juga ada di sini?" tanya Vallen terkejut.

Raja tersenyum kepada Vallen, ia melihat sendiri kegigihan anaknya yang menyelesaikan tugas dengan rapi tanpa menimbulkan kegaduhan.

"Ayah bangga padamu," ucap Raja.

Vallen sebenarnya senang, mendengar dirinya dipuji, namun merasa dirinya bukan anak kecil lagi, ia malu jika harus dipuji di depan banyak orang.

"Kalau begitu, mari kita selesaikan semua ini," jawab Vallen.

"Kali ini, biar Ayah yang memimpin," ucap Raja.

Mereka semua dengan mengendap-ngendap masuk ke dalam Istana Amber.

Sebenarnya mereka bisa menghilang dan muncul tiba-tiba kapan saja, namun itu sangat beresiko jika dilakukan sekarang.

Dengan sigap mereka menebas semua prajurit istana, dan para pelayan. Hanya tersisa 1 ruangan yang belum mereka masuki.

Vallen memasuki ruangan itu lebih dulu. Saat ia masuk, ia melihat Raja dan Ratu sedang tertidur pulas.

Tiba-tiba pintu dibuka, ada seorang gadis kecil, cantik, berambut hitam panjang, masuk ke kamar. Vallen terpaksa bersembunyi di belakang pintu, ia menahan nafas.

"Ibu, bawakan aku kelinci, aku sangat haus," pinta Anak itu lirih.

Raja dan Ratu yang tidak mendengarnya tetap tertidur pulas. Lalu Vallen maju, dan membungkam gadis itu dari belakang.

"Mmmm.. mmm.." gadis itu memberontak.

Vallen segera membuka lemari besar, lalu bersembunyi bersama anak itu di dalamnya, tapi mereka masih bisa melihat luar di balik celah-celah lemari. Vallen memangku gadis kecil itu, namun tangannya masih membungkam mulutnya.

Raja Katharos masuk dengan membawa pedang, perlahan maju menghampiri ranjang dan…

"SWING!!" Raja Katharos membunuh Raja dan Ratu Ruby yang sedang tidur dengan sekali tebas.

Darah membanjiri ranjang mereka, hingga ke lantai. Wajah Raja Katharos penuh dengan cipratan darah, menatap kedua jasad dengan ekspresi dingin tanpa rasa bersalah.

Gadis kecil syok melihat kedua orang tuanya dibunuh, ia membulatkan matanya, air matanya perlahan jatuh membasahi tangan Vallen.

Vallen bisa merasakan badan gadis kecil itu gemetar ketakutan, ia berusaha berontak dan ingin teriak namun Vallen mendekapnya dengan kuat dari belakang dan membungkam mulutnya. Tenaga gadis itu juga tidak cukup untuk menandingi tenaga Vallen.

"Bawa mayat ini," titah Raja Katharos pada prajurit.

Para prajurit mulai memasukan mayat Raja dan Ratu ke dalam karung dan membawa mereka keluar.

Vallen bersembunyi hingga suasana menjadi sunyi. Pertanda semua orang telah pergi dari Istana Amber.

Dia melepaskan kedua tangannya yang sedari tadi menahan gadis kecil itu. Anak itu langsung keluar dari lemari. Menatap ranjang yang sudah bersimbah darah, dan menangis sejadi-jadinya.

"Ayah! Ibu! Hu… hu.. u.." teriak gadis itu.

Vallen keluar dari lemari dan berdiri di belakang gadis kecil itu. Melihat gadis kecil itu berlutut dan menangisi kedua orang tuanya membuat Vallen merasa tidak tega.

Ia menghampiri gadis kecil itu dan berjongkok di depannya. Membelai poni yang menutupi wajah gadis itu, dan menyelipkannya di telinganya.

"Paman itu membunuh orang tuaku," ucap anak itu dengan suara yang serak dan parau.

Vallen langsung meraih dan memeluk gadis kecil itu, seketika badan gadis itu gemetar, mencurahkan semua rasa sakitnya dan menangis sejadi-jadinya di pelukan Vallen.

"Hu… hu… Ibu…" gadis itu terisak.

Vallen berusaha menenangkannya, mengelus-elus rambutnya. Ia juga tersadar telah melakukan dosa yang besar. Membantai semua orang yang tidak bersalah.

"Apa yang sudah kami lakukan," batin Vallen.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!