Aiden saat ini sedang berada di Demon Empire. Ia langsung menghadap kepada Pemimpin Klan, Haidar.
Haidar sebenarnya termasuk keturunan katharos, lebih tepatnya ia adalah paman dari Vallen. Namun ia di usir dari Noble The Castle karena memberontak. Ia menolak keputusan kakaknya, sang Raja Katharos, yaitu ayah Vallen.
Saat itu Raja Katharos mengangkat Haidar mejadi panglima perang, Ayah Vallen saat itu sangat berambisi untuk merebut istana Amber dan menghabisi semua keturunan Vampir Ruby, agar hanya menyisakan ras katharos. Dengan begitu tiada yang menandingi kekuatan katharos.
Namun, Haidar lebih mencintai perdamaian, ia tidak ingin membunuh sesama vampir, apa lagi harus menghabisi ibu Belliana, kekasihnya masa silam, walaupun dulu ibu Belliana pernah meninggalkannya dan lebih memilih Raja Ruby. Hingga lahirlah Vampir terkuat bernama Belliana. Ancaman terbesar para Katharos.
Karena penolakan dari Haidar, saat itulah raja Katharos mengusirnya keluar dari Noble The Castle. Dan sejak saat itu ia mendirikan Klannya sendiri bernama Clan Demon Empire. Haidar membangkitkan kembali manusia yang telah mati lalu menjadikannya vampir sebagai anak buahnya.
Dan disinilah Aiden, Celio, serta Edwin di satukan menjadi saudara oleh Haidar. Mereka di bangkitkan dari kematian dan menjadi anak serta anak buah setia Haidar.
Maka dari itu mereka bukanlah ras murni vampir, melainkan mereka menopang DNA dari gigitan Haidar pada jasad mereka, dan membuat mereka bangkit lalu menjadi vampir.
Meskipun begitu, Haidar telah menganggap mereka seperti anaknya sendiri. Semenjak ia di khianati oleh ibu Belliana, ia enggan memiliki keluarga, ia enggan menikah, hingga yang ia miliki hanyalah mereka bertiga. Bisa di bilang para Katharos hanya mencintai sekali dalam hidup mereka.
"Tumben kau datang menemui ku, Aiden," ucap Haidar.
"Aku.." jawab Aiden terpotong.
Kedatangan Celio dan Edwin yang menyusulnya kesana membuat Aiden enggan berbicara.
"Ku kira kau tidak akan kembali," ucap Edwin.
"Ck.. dia kembali pasti karena ada sesuatu," jawab sinis Celio.
"Berisik! Aku baru kembali kalian langsung merundungku!" bentak Aiden.
"Sudah-sudah! Hentikan!" Ucap Haidar melerai.
Haidar memasang kacamatanya, di depan meja ia melihat ketiga saudara ini memang jarang sekali akur. Ia juga melihat ada yang berbeda pada Aiden. Namun ia belum menyadarinya.
"Berita tentang Belliana aku telah mendengarnya, jadi apa yang akan kau lakukan, Aiden?" tanya Haidar.
"Saddam saat ini juga telah mengetahui tentang itu, ia berencana akan melenyapkan Vladine," jawab Aiden.
"Lalu kau meninggalkannya sendirian?" tanya Haidar.
"Ya, tapi Aku telah menanamkan jantung mustika ku padanya, setidaknya ia akan terus hidup dan baik-baik saja saat aku pergi," jawab Aiden.
"Ini bukan soal tentang hidup dan matinya, Aiden. Tapi tentang pernikahan dan kebangkitan jiwanya yang telah di rencanakan Vallen sejak lama, jikalau itu terjadi, akan fatal bagi kita semua!" ucap Haidar.
"Hari itu sudah semakin dekat," imbuh Celio.
"Bagaimanapun caranya, kau harus mencegah itu!" titah Haidar.
"Baik, Haidar!" jawab Aiden.
"Ingat, dalam hal ini jangan melibatkan perasaan, itu hanya akan membuatmu lemah dan hancur, belajarlah dari masa lalu," ucap Haidar.
"Aku mengerti," jawab Aiden.
Aiden pergi menuju air terjun terlarang, ia memutuskan untuk bermeditasi. Karena setelah ia memberikan mustikanya pada Vladine, ia menjadi lemah dan tidak memiliki kekuatan.
***
Vladine bertemu dengan Meisya yang baru tiba di sekolah, sahabatnya itu terlihat lesu.
"Tidak biasanya kau terlambat," ucap Vladine.
"Aku tidak bisa tidur semalam," jawab Meisya.
"Sama, aku juga," ucap Vladine murung.
"Ada apa denganmu?" tanya Meisya.
"Lelaki itu telah pergi, dia tidak tinggal lagi di rumahku," jawab Vladine.
"Oh, benarkah?" respon Meisya pura-pura tidak tahu.
"Tunggu, kenapa ada bercak di lehermu?" tanya Vladine.
"Apa, aku tidak mengerti maksudmu," jawab Meisya.
"Ini cermin, coba kau lihat!" ucap Vladine memberikan kaca.
"Aaaaaaa!!!!!" teriak Meisya.
"Kau habis kencan ya.. hm.." tanya Vladine.
"Tidak, sembarangan!" bentak Meisya.
"Lalu itu sebuah kissmark.." goda Vladine.
"Sialan, sepertinya vampir itu mencupangku saat aku tertidur," batin Meisya.
"Pipimu memerah lo hihihi.." ucap Vladine menggoda.
"Kencan apanya, pacar saja aku tidak punya, ini gara-gara gigitan nyamuk tau!" jawab Meisya.
"Ya ya ya, aku percaya," jawab Vladine memutar bola matanya.
Meisya benar-benar malu saat ini, ternyata banyak sekali tanda kissmark ulah Justin di lehernya. Pantas saja dari tadi semua orang menatapnya dengan aneh.
"Akan ku bunuh kau jika kita bertemu lagi," gumam Meisya.
Ia sangat kesal hingga mengepalkan tangannya. Sampai bel pulang sekolah ia tetap menutup tanda kissmark itu dengan rambut panjangnya.
"Vla," panggil Meisya.
"Ya, Mey, kenapa?" tanya Vladine.
"Nanti malam kita kerja kelompok yuk!" ajak Meisya.
"Tapi nanti malam aku kerja," jawab Vladine.
"Tidak masalah, aku bisa menunggu sambil membantumu di sana," ucap Meisya.
"Baiklah kalau begitu, sampai jumpa nanti malam ya," jawab Vladine.
Meisya tidak menjawab, ia hanya mengedipkan matanya tanda setuju. Ia sengaja mengajak Vladine kerja kelompok malam ini, agar memudahkannya dalam menjaga Vladine tanpa gangguan vampir bernama justin.
***
Di dalam restoran tempat Vladine bekerja sudah ada Vladine dan Meisya. Terlihat Meisya saat ini sedang membantu Vladine membereskan dapur.
"Sudah selesai," ucap Meisya.
"Kalau begitu kau duduklah di ruang istirahat, tunggu aku di sana," pinta Vladine.
"Baiklah," jawab Meisya.
Sambil menunggu Vladine, Meisya sibuk mengerjakan beberapa soal tugas sekolahnya.
Justin baru keluar dari ruangannya, ia hendak menyuruh Vladine pulang. Namun yang ia temui di ruang istirahat bukanlah Vladine.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Justin.
Mendengar suara Justin, Meisya terkejut bukan main. Orang yang ia hindari saat ini sedang berapa di depan matanya.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, kenapa kau mengikuti ku!" bentak Meisya.
"Apa? Mengikuti Mu?" tanya Justin heran.
"Dan siapa yang menyuruhmu menyupangku semalam bajingan!" teriak Meisya.
"Haha, kenapa kau marah.. di ****** olehku adalah impian semua wanita lo.." goda Justin.
"Kau melakukannya tanpa izinku!" bentak Meisya.
"Aku rasa itu adalah imbalan yang sepadan, kau meminjam bahuku, aku meminjam lehermu," jawab Justin santai.
"Apa semua vampir mesum dan tidak tau malu sepertimu!" bentak Meisya.
"Tergantung," jawab Justin santai.
"Kau.. akan ku beri tau apa itu sepadan," ucap Meisya menggebu.
Meisya maju dan memukul Justin secara brutal, Justin hanya bisa menangkis dan menghindarinya, hingga ia mendapatkan kesempatan mendorong Meisya ke sofa.
"Akh.." rintih Meisya.
Tepat saat justin akan melepas jasnya, tiba-tiba Vladine masuk.
"Ternyata kau membawa seorang tamu ya, Vladine," ucap Justin.
Meisya segera berdiri merapikan pakaian dan rambutnya yang berantakan.
"Maaf pak saya lupa meminta izin, dia Meisya, sahabatku di sekolah, saya membawanya ke sini untuk belajar bersama," jawab Vladine.
"Oh menarik, ternyata serigala juga bersekolah ya," ucap Justin.
"Serigala?" Vladine bingung.
"aku bilang Meisya, bukan serigala, kau salah dengar," jawab Justin.
Di depan Justin saat ini Meisya sedang melotot, ia khawatir kalau identitasnya akan di bongkar oleh Justin.
"Baiklah kalau begitu saya lanjut kerja dulu," pamit Vladine.
"Iya, kau lanjut saja bekerja, soal pelajaran, aku bisa sedikit membantu temanmu ini," ucap Justin tersenyum licik.
"Pak justin benar, kau bisa belajar darinya, dia cukup pintar hingga di angkat menjadi manajer di restoran ini lo.." imbuh Vladine.
"Tidak usah repot-repot, aku sudah selesai, kita bisa lanjutkan besok," jawab Meisya.
Kini ia buru-buru mengemasi buku ke dalam tasnya.
"Aku pulang dulu ya, sampai jumpa besok di sekolah," pamit Meisya.
"Tunggu! Kenapa kau tiba-tiba..." ucap Vladine.
"Da.." Meisya melambaikan tangan dan keluar dari restoran.
"Kenapa dia aneh sekali," ucap Vladine.
Justin yang melihat itu hanya terkekeh dan tersenyum puas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments