Kalung Pedang Permata

"Tenanglah, aku tidak mengundangmu sebagai saksi kerajaan, tetapi aku mengundangmu sebagai saudaraku," ucap Vallen dengan mata sayu.

"Saudara? Bahkan kau saja tidak pantas untuk kami panggil kakak!" bentak Saddam.

Suasana berubah hening. Vallen terdiam, dan terlihat beberapa kali memijat keningnya yang terasa pening melihat ulah Saddam.

Saddam menunjuk buku bersampul merah, yang saat ini sedang berada tepat di depan Vallen. Buku itu bertuliskan "Silsilah Kerajaan Katharos".

"Tutup buku tidak berguna itu! Karena sampai kapanpun, namamu tidak akan pernah terukir di dalam sana!" ucap Saddam.

"Cukup, Saddam!" teriak Justin.

"Kau harus mematuhi apapun perintah dari Pangeran Vallen!" ucap Owen.

"Ya, tapi itu hanya akan terjadi di dalam mimpi kalian saja," jawab Saddam.

Saddam segera memalingkan tubuh dan membelakangi mereka semua, saat ia akan meninggalkan ruangan, Justin berdiri hendak menghalaunya.

Namun Vallen mengangkat tangannya, memberi isyarat untuk membiarkan Saddam pergi. Lalu Saddam menoleh dan menatap tajam Vallen.

"Lain kali, kau tidak usah susah payah mencariku lagi, jika hanya ingin membuang waktuku untuk hal yang tidak berguna seperti ini," sarkas Saddam.

Setelah mengatakan itu, Saddam menghilang. Meninggalkan ke empat saudaranya di dalam ruangan itu.

Vallen memejamkan mata dan menghirup nafas panjang. Entah harus dengan cara apa agar Saddam bisa memaafkannya.

Namun Vallen juga tak ingin memaksanya, karena ia sadar, ia pernah menorehkan luka yang sampai kapanpun tidak akan pernah dilupakan oleh Saddam dan para saudaranya.

Saat ini Saddam kembali menampakan wujudnya tepat di depan pintu masuk istana Noble The Castle.

"Merepotkan sekali," gerutu Saddam.

Saddam kembali memakai jaket, dan memasang kaca mata hitam miliknya. Ia terlihat lebih casual dibandingkan dengan saudaranya yang lain yang berpakaian sangat formal menurutnya.

Ia memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak, menyegarkan kembali urat-uratnya yang menegang setelah bertemu dengan Vallen.

Saat di perjalanan tiba-tiba ia di tabrak oleh seorang gadis yang sedang berlari.

"Bruk.. Akh!" suara mereka bertabrakan.

Gadis yang menabraknya kini sedang berjongkok mengumpulkan kembali buku-bukunya yang tercecer di jalan.

"Maafkan aku, aku sangat terburu-buru hingga menabrakmu," ucap gadis itu membungkuk.

Saat gadis itu membungkuk, Saddam tertegun melihat kalung yang menjuntai dari leher gadis itu. Saddam sangat mengenali kalung itu.

"Tidak mungkin," batin Saddam.

"Aku sudah terlambat, sekali lagi maafkan aku, aku harus pergi," ucap gadis itu.

Melihat tidak ada respon dari Saddam, tanpa pikir panjang gadis itu langsung pergi meninggalkan Saddam yang masih mematung di sana.

Setelah berlari cukup jauh akhirnya gadis itu sampai di depan gerbang sekolah. Ternyata gadis yang menabrak Saddam tadi adalah Vladine.

"Huh.. syukurlah, aku tidak terlambat," ucap Valdine ngos-ngosan.

"Cepat masuk! Sebentar lagi gerbangnya akan saya tutup," ujar Satpam.

"Iya, Pak," jawab Vladine.

Vladine berjalan menyusuri koridor sekolah, saat ia sedang berjalan, ia melihat Eros dan teman-temannya sedang duduk di bawah tiang koridor.

"Astaga, pagi-pagi aku sudah penampakan," batin Vladine.

Vladine mengangkat tangan kanannya untuk menutupi wajah dan matanya saat melewati Eros. Vladine masih merasa canggung dengan kejadian kemarin.

Eros yang melihat tingkah konyol Vladine membuatnya terkekeh, dan menggelengkan kepala.

"Apa semua wanita di dunia ini aneh sepertinya?" batin Eros bertanya-tanya.

Sesampainya di kelas, Vladine hendak menyusun buku paket di bawah kolong mejanya, namun ia menemukan sesuatu yg terselip di tumpukan bukunya. Sesuatu itu sangat berkilauan.

"Apa ini?" gumam Vladine.

Ia mengambil sebuah kalung permata merah berbentuk pedang. Ia bingung, siapa pemilik kalung ini.

"Mengapa kalung ini mirip dengan kalungku," batin Vladine.

Meisya tiba-tiba menghampiri dan memeluknya dari belakang.

"Selamat pagi, Vla," ucap Meisya.

"Selamat pagi juga, Mey," jawab Vladine.

"Ke kantin yuk, sarapan," ajak Meisya.

"Duluan saja, aku sudah sarapan tadi di rumah," tolak Vladine.

"Tumben kamu sarapan di rumah," Meisya heran.

"Semenjak ada yang menemaniku di rumah, dia selalu memasak untukku, dan masakannya enak sekali," jawab Vladine antusias.

"Siapa dia? Kamu tidak pernah cerita padaku," protes Meisya.

"Seorang pria, malam itu dia sedang terluka, lalu aku membawanya pulang, dan sudah berapa hari ini dia membuatku tidak kesepian lagi di rumah, dia menjagaku, menemaniku, meskipun dia sangat menyebalkan dan sedikit mesum," bisik Vladine.

"Apa! Seorang pria!" teriak Meisya terkejut.

Vladine langsung membungkam mulut Meisya.

"Jangan teriak, dan jangan cerita ke siapa-siapa," bisik Vladine dengan mata melotot.

"Menyebalkan, selama ini kamu tidak mau cerita padaku," protes Meisya.

"Bukannya aku tidak mau cerita, tapi belum sempat," jawab Vladine.

"Siapa pria itu?" tanya Meisya yang semakin penasaran.

"Namanya.." ucapan Vladine terputus.

Ucapan Vladine terputus saat seorang guru masuk ke dalam kelas, dan proses belajar mengajar pun di mulai.

Namun setelah guru mengabsen para siswa, tiba-tiba Meisya mengangkat tangannya.

"Ya, ada apa Meisya?" tanya guru.

"Saya izin ke toilet sebentar, Bu," izin Meisya.

"Iya, silahkan," jawab guru.

Vladine menatap Meisya, ia merasa heran, biasanya Meisya akan mengajaknya jika ia ingin ke toilet, tapi kali ini Meisya tidak mengajaknya.

"Mungkin dia sangat kebelet," batin Vladine.

Bell istirahat berbunyi, hingga detik ini Meisya belum kembali ke dalam kelas. Vladine berinisiatif menyusulnya ke kamar mandi. Namun ia juga masih tidak menemukannya.

"Di kamar mandi tidak ada, lalu dia kemana?" batin Vladine.

Saat Vladine akan kembali menuju kelas, ia melihat Meisya sedang duduk dengan Eros di tepi lapangan basket. Mereka seperti membahas sesuatu dengan serius.

"Oh, pantas dari tadi dia tidak kembali ke dalam kelas, ternyata dia sedang bersama Eros," gerutu Vladine.

Vladine merasa ia tidak ingin mengganggu kesenangan sahabatnya itu, lalu dia sendirian menuju kelas.

Namun tanpa ia sadari, saat ia akan pergi, Eros telah melihatnya dari jauh.

Di dalam kelas saat ini sedang sunyi, hanya dia sendirian, teman-temannya yang lain sedang makan di kantin.

Perlahan dia membuka bekal makanan yang di telah di siapkan Aiden tadi pagi untuknya. Ia mendekatkan hidungnya pada kotak itu.

"Hm.. aromanya enak sekali, masakan Aiden memang tidak pernah gagal," gumam Vladine.

Dengan bersemangat ia mulai melahap bekalnya.

"Makan itu pelan-pelan," ucap seorang pria.

Saat Vladine mendongakkan kepalanya ke atas, ternyata yang sedang di hadapannya saat ini adalah Eros. Tanpa basa-basi pria itu mencuil makanannya.

"Hm.. enak sekali masakanmu," ucap Eros.

"Itu bukan masakanku, tapi seseorang memasaknya untukku," jawab Vladine.

"Benarkah? Bisa kau bagi sedikit untukku?" tanya Eros.

"Tidak, kau punya banyak uang untuk ke kantin," jawab Vladine cemberut.

"Tapi aku hanya ingin milikmu ini, sedikit saja," pinta Eros.

"Ayolah," Eros kembali memohon.

"Iya-iya," Vladine pasrah.

Eros mulai menyendok makanan itu ke dalam mulutnya. Vladine yang melihatnya sedikit heran.

"Apa kau tidak jijik sendok itu bekas mulutku?" tanya Vladine.

"Tidak sama sekali," jawab Eros.

Setelah ia makan beberapa sendok, ia menyisakan setengahnya untuk Vladine. Lalu ia mengembalikan kotak makanan Vladine ke mejanya.

"Ini, terima kasih," ucap Eros.

Setelah mengganggu Vladine makan siang, Eros pergi dengan senyuman jail tak lupa ia juga memberikan kedipan matanya pada Vladine.

Vladine yang melihat itu ia mengernyitkan alisnya, ia juga memicingkan mata memberikan tatapan benci pada Eros.

Terpopuler

Comments

will

will

mantap

2023-11-22

1

will

will

.

2023-11-22

1

will

will

mntp

2023-11-22

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!