Sore ini Saddam sedang menikmati pemandangan di atas hotel. Seluruh anggota katharos bisa menikmati saham yang telah ditanam oleh Vallen di dunia manusia.
Tanpa sengaja, mata tajamnya membidik sesuatu yang tidak biasa. Ia melihat Vladine duduk sendirian termenung di depan halte bus, dia terduduk lesu seperti sedang menunggu seseorang.
"Kenapa dia seperti ayam yang kehilangan induknya," gumam Saddam.
Saddam bergegas menyusul tempat Vladine berada, sekaligus ia ingin kembali mengambil kalung yang sengaja ia tinggalkan.
"Kesempatan bagus, para pengawalnya tidak ada," batin Saddam.
Saat Vladine duduk melamun, Saddam ikut duduk berpura-pura sedang menunggu bus juga.
"Maaf, apa kita pernah bertemu?" Saddam membuka percakapan.
"Entahlah, aku tidak ingat," jawab Vladine.
"Kau yang waktu itu menabrak ku di jalan, dan aku rasa kalungku ada bersamamu," jelas Saddam.
"Oh iya, aku ingat, ternyata ini milikmu ya," ucap Vladine.
Ia merogoh kantung bajunya, dan memberikan kalung pada Saddam.
"Ini aku kembalikan," ucap Vladine tersenyum.
"Sepolos ini?" batin Saddam tercengang.
Ia tidak menyangka Belliana sangat berbeda dengan yang dulu ia kenal. Selain fisik, wataknya juga berubah. Walaupun begitu ia tetap bertekad tidak akan lengah dan tidak akan mengampuni gadis ini.
"Pemberhentian bus sudah habis, kenapa kau tidak pulang?" tanya Saddam.
"Lagi pula di rumah dan di sini sama saja, tidak ada yang menungguku. Huft.." jawab Vladine lesu.
"Jadi Aiden sudah pergi, baguslah tidak ada yang menghalangiku lagi," batin Saddam.
Saddam melihat ke sekitar, ia tidak mungkin menghabisi Vladine di tempat ramai seperti ini. Lalu ia berfikir bagaimana caranya untuk mengambil hati Vladine agar gadis itu menaruh rasa percaya padanya.
"Bagaimana dengan secangkir kopi?" tawar Saddam.
"Aku belum gajian," jawab Vladine
"Aku akan mentraktir mu apa saja," ucap Saddam.
"Benarkah?" tanya Vladine dengan mata berbinar.
"Iya. Sebagai rasa terima kasih karena kau telah mengembalikan kalungku," jawab Saddam.
"Baiklah," ucap Vladine.
"Kalau begitu ikut aku," ajak Saddam.
Saat Saddam menggandeng tangan Vladine, ia langsung terbang ke puncak gedung tertinggi.
"Siapa kau sebenarnya!" teriak Vladine.
Saat ini ia sangat ketakutan, berada di puncak gedung yang sangat tinggi. Saddam perlahan maju dan terus mendesaknya untuk mundur hingga ia berada di ujung beton, jika ia mundur selangkah lagi maka ia akan jatuh ke bawah.
"Seseorang tolong aku!" teriak Vladine.
"Teriak saja, tidak ada yang bisa menolong mu di sini, hahaha," ucap Saddam.
"Aku tidak mengenalmu, dan apa salahku," ucap Vladine.
"Salahmu karena kau lahir di dunia ini! Kau adalah sumber dari seluruh penderitaan keluargaku!" bentak Saddam.
"Semoga tidurmu yang kedua ini nyenyak, Belliana," ucap Saddam.
Saddam mendorong Vladine dengan kekuatan anginnya, Vladine terhempas dan terjun bebas dari gedung.
"Aaaaaaa, tolong!!!!" teriak Vladine.
"Mampus!" batin Saddam.
Melihat Vladine terjatuh, Saddam tersenyum puas dan pergi. Ia berpikir tujuannya sudah tercapai.
Tiba-tiba Vladine pingsan, namun di tengah ketidak sadarannya ia merasa seperti sedang di gendong seseorang.
Orang itu adalah Aiden, kapanpun Vladine dalam keadaan bahaya, Aiden juga dapat merasakannya, karena mustika miliknya telah ia tanamkan pada Vladine. Sehingga batin mereka terikat.
"Baru 3 hari ku tinggalkan sudah begini," batin Aiden.
Aiden tidak memiliki keputusan lain, ia harus membawa Vladine ke dunia Vampir. Selain untuk melindungi, ia juga harus menculiknya.
Setelah menembus air terjun, lalu mereka ke istana demon empire. Tapi ia tidak langsung membawanya masuk. Aiden merebahkannya di depan gerbang istana. Menunggu sampai ia tersadar. Lalu Aiden menghilang.
"Aku dimana?" ucap Vladine.
Ia menemukan dirinya sendirian di halaman istana yang asing menurutnya. Istana yang di selimuti oleh kabut dan awan tebal.
"Mungkinkah aku sudah mati, karena terjatuh dari gedung tadi," batin Vladine.
Vladine semakin panik, ia berlari menuju gerbang yang menjulang tinggi, setinggi menara. Ia ingin keluar dari sana. Namun tangan mungilnya tidak mampu membukanya.
"Apa yang harus kulakukan," batin Vladine.
Ia hampir putus asa, namun saat Vladine memutar badan, ia melihat pintu istana di ujung sana. Sesaat ia ragu untuk masuk. Tapi pikirnya pasti lebih aman jika ia masuk ke dalam sana.
"Tok.. Tok.." Vladine mengetuk pintu.
"Kriett.." suara pintu terbuka.
Pintu terbuka bersamaan dengan petir dan badai yang turun di luar teras. Suasananya sangat mencekam. Vladine memberanikan diri untuk masuk.
Saat ia masuk, semua lilin yang awalnya padam kini menyala satu persatu. Membuat Vladine merinding. Terlihat seorang pria turun dari tangga.
"Aiden," ucap Vladine.
Setelah Aiden turun, Vladine juga di kejutkan oleh kedua saudara Aiden, yaitu owen dan celio. Mereka tiba-tiba muncul tepat di hadapan Vladine seperti hantu.
"Hah," Vladine tercekat.
Ia kaget hingga terduduk di lantai, perlahan mundur dengan mengesot, saat ia ingin keluar, namun pintu tertutup dengan sendirinya.
"BLAM!!!" suara pintu.
"Selamat datang," ucap Aiden.
Vladine terus mundur, hingga terpojok di pintu.
"Siapa kalian sebenarnya?" tanya Vladine ketakutan.
Karena sudah kepalang tanggung, Aiden pun membongkar identitasnya. Ia mengubah bola matanya menjadi merah dan memamerkan taringnya. Meskipun begitu ia malah terlihat sangat tampan.
Vladine yang ketakutan langsung lari tak tentu arah, lututnya sangat lemas dan gemetar, namun tetap ia paksakan untuk lari dari para vampir itu.
"Aku pasti sedang mimpi buruk, vampir itu hanya mitos, sadarlah Vladine!" batin Vladine.
Ia masih meyakinkan dirinya sendiri untuk melawan rasa takut itu, dan masih mengira semua itu hanyalah mimpi buruknya.
Dia memasuki ruangan secara acak, dan mengunci pintu. Namun ia tidak sadar, ia telah masuk ke kandang harimau, itu adalah kamar Celio.
Ia melihat sekeliling, terdapat foto Celio di dinding. Bertepatan dengan itu Celio juga masuk. Vladine tertegun, ia teringat oleh seseorang.
"Adam," batin Vladine.
"Apa yang kau lihat!" ucap Celio kasar.
"Kau kah itu, Adam?" tanya Vladine.
"Aku Celio, bukan Adam!" jawab Celio.
"Tapi, kau sangat mirip dengan..," ucap Vladine terpotong.
"Sebaiknya kau pergi dari sini, sebelum aku berubah pikiran," jelas Celio.
Tatapan Celio kini berubah menjadi serius, ia sengaja menampakan wujud yang menakutkan, agar Vladine segera lari darinya.
Benar saja, setelah melihat itu Vladine dengan gesit lari membuka kunci pintu dan segera keluar dari ruangannya.
"BLAMM!!" suara pintu.
"Kenapa.. kenapa harus gadis itu!" teriak Celio.
Celio melempar semua barang yang ada di kamarnya, memecahkan semua vas dan pajangan yang ada di sana. Ia merasa kecewa dan frustasi.
"Tidak, aku pasti tidak salah mengenali," batin Vladine.
Ia terus berlari mencari jalan keluar, menyusuri ruangan yang sangat luas. Sedikit sulit karena pencahayaan yang kurang. Tiba-tiba ia didekap Aiden dari belakang.
"Mmmph.. mphh.." Vladine berusaha meraung.
Vladine meringis kesakitan, ia merasa lehernya seperti ditusuk dengan sesuatu yang tajam. Ia merasakan darah segarnya mengalir dari leher hingga ke dadanya.
Semakin ia memberontak, semakin Aiden menekan tengkuknya.
"Akh.." rintih Vladine.
Kesadarannya perlahan menghilang, dan pandangannya semakin kabur. Vladine pingsan. Ia tidak kuat menahan darahnya dihisap untuk pertama kalinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments