Meisya berlari ke arah Eros yang sedang bermain basket bersama teman-temannya di lapangan.
"Vladine tidak masuk lagi hari ini," ucap Meisya.
"Benarkah, apa kau sudah memastikannya?" tanya Eros.
"Aku sudah mencarinya ke penjuru sekolah, tapi aku tidak menemukannya," jawab Meisya.
"Tumben sekali, ada apa dengannya," batin Eros.
"Lagi pula Vladine sudah dewasa, kalian tidak perlu mencemaskannya," ucap Rian.
"Tapi beberapa hari lagi lomba akan di mulai, dan kita semua sebagai osis penanggung jawabnya," jawab Eros alasan.
"Itulah alasan mengapa aku ingin menjadi murid biasa saja, tidak perlu terikat dengan urusan yang membosankan seperti ini," ucap Albert.
"Ya, kau benar, tapi kita terlalu tampan, hingga para siswi memilih kita sebagai anggota osis," Jawab Mike.
"Ya, beginilah nasib orang tampan," ucap Albert.
"Bisa diam tidak! aku sedang membicarakan sesuatu yang serius!" bentak Eros.
"Giliran menyangkut Vladine aja baru serius, huu.. dasar," gerutu Mike.
Eros tidak ada waktu untuk menghiraukan celetuk Mike.
"Meisya!" panggil Eros.
"Iya," jawab Meisya.
"Nanti siang coba kau datangi rumahnya, berpura-pura mengunjunginya," titah Eros.
"Baik, Eros," jawab Meisya. Karena ada di lingkungan sekolah, Meisya tidak memanggil Eros dengan sebutan pangeran.
"Aku berharap ini bukan kabar buruk," batin Eros.
Setelah pulang sekolah, Meisya langsung mendatangi rumah Vladine. Dari jauh rumah Vladine seperti bangunan yang tidak di huni. Sampah dan daun kering berserakan di mana-mana.
"Aku tidak pernah melihat halamannya sekotor ini," batin Meisya.
Meisya menggedor-gedor pintu, namun sama sekali tidak ada jawaban dari dalam. Lalu ia meniup kaca jendela dan mengelap debu dengan tangannya.
"Tidak ada orang," gumam Meisya sambil mengintip jendela.
Meisya kembali ke Istana Imperial Stone untuk melapor, ia segera menghampiri Eros untuk menghadap.
"Dia tidak ada di rumah, pangeran," ucap Meisya.
"Ini aneh sekali, tiba-tiba dia menghilang," jawab Eros.
"Bagaimana kalau nanti malam saya datangi saja tempat kerjanya," usul Meisya.
Mendengar usulan dari Meisya, Eros langsung berdiri, dan menarik dagunya.
"Kau berharap sekali aku mengutusmu ke sana hm.." ucap Eros.
"Untuk memastikan bahwa Vladine baik-baik saja," jawab Meisya.
"Alasan, bilang saja agar kau dapat menemui vampir brengsek itu," jawab Eros dengan tatapan sinis.
"Bu.. bukan seperti itu, Tuan," jawab Meisya gugup.
"Kalau begitu aku akan menemanimu kesana, untuk mengantisipasi terjadinya hal yang tidak menyenangkan," ucap Eros.
"Baiklah, Tuan," jawab Meisya.
"Sejak kapan dia berubah posesif seperti ini," batin gadis itu.
"Hm.. jangan harap kalian bisa bermesra-mesraan jika ada aku di sana, hahaha," batin Eros menyeringai puas.
"Ada apa, kenapa pangeran menatapku seperti itu?" tanya Meisya heran melihat tingkah Eros.
"Tidak, lupakan saja, bersiaplah nanti jam 7 malam," ucap Eros.
"Baik, Tuan" jawab Meisya.
Bulan telah menggantikan posisi matahari. Tapi malam ini langit tertutup kabut tebal. Cuaca yang dingin dan mendung, menambah kesan malam yang mencekam.
Eros dan Meisya memasuki Restoran tempat kerja Vladine. Terlihat saat ini Justin sedang meracik mocktail. Tangannya dengan lihai mencampur soda dan bir dan mengocoknya dengan ritme.
"Dia.. seperti barista sungguhan," gumam Meisya terpesona.
"Berani-beraninya kau memujinya di depanku, Meisya," batin Eros melotot.
"Masuklah, aku tau kalian dari tadi berdiri di sana," ucap Justin.
Eros dan Meisya perlahan berjalan menghampiri Justin.
"Silahkan duduk, kebetulan aku sedang membuat makan malam," ajak Justin.
"Tidak perlu, kami hanya ingin singgah sebentar, lalu pergi," jawab Eros acuh.
"Ayolah, anggap saja ini sebagai permintaan maafku padamu dan gadis di sebelahmu," ucap Justin ramah.
"Gadis.. dia memanggilku dengan kata gadis," batin Meisya. Pipinya kali ini memerah.
"Baiklah, aku ingin mencicipi seberapa baik masakanmu," jawab Eros gengsi padahal dia juga saat ini sedang lapar.
Justin mengeluarkan daging panggangnya dari dalam oven, harum masakannya menyerbak di seluruh ruangan restoran, sangat menggugah selera.
"Humm.. dari aromanya saja sudah enak sekali, aku tidak sabar mencobanya," ucap Meisya bersemangat.
"Hentikan! Dari tadi kau memujinya," bentak Eros kesal.
"Kenapa pria ini sensitif sekali," batin Meisya menatap sinis Eros.
Lalu Justin mulai menyusun semua hidangannya ke atas meja, untuk mereka nikmati bersama.
Setengah kancing kemeja yang terbuka, serta tetesan keringat yang turun dari leher ke dadanya Justin membuat pria itu terlihat menggairahkan.
"Sialan, kenapa aku jadi teringat hari itu," batin Meisya.
Jiwa naluri Meisya sebagai seorang perempuan meronta-ronta. Beberapa kali ia menahan salivanya, melihat vampir seeksii itu.
"Kenapa anak ini bertingkah aneh sekali," batin Eros heran melihat Meisya yang beberapa kali menggelengkan kepalanya seperti berusaha melupakan sesuatu.
Justin menggeser kursi dan ikut duduk, merasa gerah, ia melepas kemejanya dan melipatnya ke pangkal kursi. Memperlihatkan kulit yang putih dan perut yang sispek.
Meisya yang melihat itu mulutnya langsung menganga, tatapannya terpaku pada Justin. Wanita mana yang tidak tergoda dengan vampir seperti Justin.
"Sempurna," batin Meisya.
Reflex Eros langsung menutup kedua mata Meisya dengan tangannya. Ia tidak terima bila Meisya melihat pemandangan indah seperti ini.
"Lepaskan! Ada apa denganmu!" teriak Meisya memberontak, berusaha melepas tangan Eros dari matanya.
"Hentikan tatapan genit mu itu, sialan!" ucap Eros kesal.
"Tanganmu menghalangi pandanganku, bagaimana caranya aku bisa makan!" ucap Meisya.
Eros melepas tangannya dengan kasar.
"Mengganggu saja," batin meisya cemberut.
Justin yang melihat itu tertawa puas dalam hati. Ia sengaja menebar pesona di depan Meisya, terlihat jelas raut wajah Eros cemberut, ia melipat kedua tangannya dengan kesal.
"Makanlah, aku tidak menaruh racun di dalamnya," ucap Justin.
Mereka bertiga membalik piring saji, mulai menyantap masakan yang telah disiapkan Justin.
"Ladys first," ucap Justin menuangkan mocktail ke gelas Meisya, lalu ke gelas Eros, dan yang terahir ke gelasnya.
"Kenapa kau membuatnya sendiri, di mana Vladine?" tanya Meisya membuka percakapan.
"Sudah 2 malam dia tidak masuk kerja," jawab Justin.
"Sudah 2 hari juga Vladine tidak datang ke sekolah," ucap Eros.
"Oh, begitukah," jawab Justin acuh.
"Kenapa responmu biasa saja, apa Vallen tidak mengetahui ini?" tanya Eros.
"Sebenarnya aku mulai jenuh mengurusi sesuatu yang bukan urusanku, gadis itu ya urusanmu dengan Vallen, kenapa aku harus mencemaskannya," jawab Justin.
Justin mengiris potongan daging, menancapkannya ke garpu, dia memasukan daging itu ke mulutnya dan mengunyah dengan tegas.
"Aku sekarang memiliki urusan yang baru, dan tidak kalah juga pentingnya," imbuh Justin.
Mata justin langsung melirik ke arah Meisya. Menatapnya lekat-lekat. Membuat gadis itu salah tingkah.
"Aku jadi curiga, jangan sampai ini adalah perbuatan kalian," ucap Eros.
"Apa maksutmu?" tanya Justin.
"Aku tau rencana pembangkitan Belliana, jadi kalian menyembunyikannya dariku, menculiknya, dan melancarkan semua rencana kalian, agar tidak ada yang menghambat pernikahan Vallen dan Belliana," jawab Eros menerka.
"Benar, ada rencana seperti itu, tapi kami sama sekali belum memulainya," ucap Justin menyangkal.
"Omong kosong," jawab Eros tidak percaya.
"Terserah kau percaya atau tidak, tapi itu kenyataannya," ucap Justin.
"Dengar, sampaikan ini kepada Vallen, kalau sampai benar dia menyembunyikan Vladine, memaksa gadis itu untuk menikah dengannya, aku tidak akan segan," ancam Eros.
"Baik, nanti ku sampaikan," jawab Justin santai.
"Luar biasa, daging ini enak sekali," ucap Meisya berusaha mencairkan suasana.
"Jika kau mau, kau bisa singgah kapan saja, aku akan membuatnya untukmu," jawab Justin tersenyum.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments