Jantung Pusaka

"Akan ku pastikan, ia membayar rasa sakit yang di rasakan oleh orang tuaku," ucap Saddam.

Aiden berusaha bangkit, ia menekan dadanya yang terasa sesak karena pukulan Saddam.

"Itu urusanmu dengan Vallen, jangan melibatkannya, sialan!" jawab Aiden.

"Ck.. Lagi pula anak durhaka itu sampai kapanpun tidak akan pernah membiarkan kalian bersama, jadi jangan buang waktumu untuk hal yang sia-sia, bodoh," Saddam berdecak.

"Lagi-lagi, kau mencaci saudaramu sendiri," ucap Aiden.

"Seandainya dulu dia tidak jatuh cinta pada Ratu neraka itu, pasti keluarga kami masih utuh!" jawab Saddam.

"Tutup mulutmu, keparat!" ucap Aiden.

Aiden tidak terima jika ada seorangpun yang menghina Belliana. Namun saat Aiden berlari secepat kilat untuk menyerang balik, Saddam sudah menghilang.

"Jangan memaksakan diri, jika kau tidak ingin mati untuk ke dua kalinya, hahaha," ucap Saddam.

Wujudnya sudah menghilang, namun suaranya masih menggema di atas bukit. Aiden seketika langsung cemas akan keselamatan Vladine. Ia bergegas kembali ke rumah gadis itu.

"Tok.. tok.. Tok.." suara ketukan pintu.

Kali ini tidak ada yang menjawab dan membuka pintu. Karena panik Aiden langsung membukanya. Ternyata pintunya tidak di kunci.

"Kebodohan inilah yang membuatku ragu meninggalkannya," batin Aiden.

Aiden melihat Vladine tertidur pulas di meja makan. Namun dia tidak tega membangunkannya. Dengan pelan ia duduk di depannya.

"Ah, kau sudah kembali?" tanya Vladine.

"Ya," jawab Aiden acuh.

Gadis itu terbangun, dan mengucek matanya. Aiden menatap semua makanan di meja masih utuh dengan mata bertanya.

"Aku sengaja menunggumu agar kita makan bersama, tapi aku malah ketiduran, maaf ya," ucap Vladine.

"Mulai besok kau tidak usah menungguku lagi," jawab Aiden dingin.

"Kenapa?" tanya Vladine.

Aiden tidak menjawab dan membalikan badan membelakangi Vladine.

"Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Vladine.

Entah mengapa benak Vladine menjadi sesak, ia tidak mengerti kenapa Adien ingin pergi.

Aiden memuntahkan sesuatu, ia sengaja membelakangi Vladine agar gadis itu tidak melihat saat ia mengeluarkan permata dari mulutnya.

"telan ini!" ucap Aiden.

"Apa ini?" tanya Vladine.

"Cepatlah!, aku tidak punya banyak waktu untuk menjawab pertanyaanmu," jawab Aiden.

Setelah memastikan Vladine menelannya, Aiden melangkah menuju pintu.

"Jangan lupa untuk selalu mengunci pintu," ucap Aiden sebelum pergi.

Vladine menatap punggung Aiden yang semakin menjauh dan kini menghilang dari pandangannya.

Aiden tidak berani menatap wajah gadis itu, pikirnya pasti saat ini gadis itu sedang memasang wajah yang sangat menyedihkan.

"Itu adalah ingatan dan kekuatanku, suatu saat nanti pasti akan berguna untukmu," batin Aiden.

***

Vallen baru saja memasuki Istana Imperial Stone, untuk menghadiri undangan makan malam dari Eros.

Dengan hormat Eros dan seluruh penghuni istana menyambut kedatangan Vallen. Kedua putra mahkota berbeda bangsa itu bertemu.

"Suatu kehormatan bagi kami, Pangeran Vallen," sapa Eros.

"Suatu kehormatan juga bagi kami," jawab Vallen.

Tentunya Vallen tidak sendiri, ia juga di kawal oleh ke 3 saudaranya, Justin, Dion, dan Owen. Bagaimanapun ia adalah pewaris tahta, tidak akan di biarkan sendiri masuk ke kandang musuh.

Kalau bukan karena tujuan yang sama, melindungi Belliana, gadis yang mereka cintai, selamanya bangsa vampir dan bangsa serigala adalah musuh bebuyutan.

Saat mereka sedang menikmati santapan, Vallen membuka suara.

"Katakan, apa yang membuatmu mengundangku ke sini?" tanya Vallen.

"Saudaramu yang memberontak telah mengetahui keberadaan Belliana," jawab Eros.

"Apakah maksudmu Saddam?" tanya Vallen.

"Ya, siapa lagi," jawab Eros.

"Bagaimana bisa?" tanya Vallen.

"Entah secara kebetulan atau di sengaja, pagi ini dia menabrak Vladine di dunia manusia, dan meninggalkan kalungnya," jawab Eros.

"Mungkinkah dia sengaja agar bisa melacak keberadaan Vladine," tebak Deon.

"Ya, aku yakin juga begitu," jawab Owen.

Makan malam telah usai, saat para katharos berpamitan, Eros membisikan sesuatu pada Vallen.

"Kalau sampai Vladine terluka karenanya, aku tidak akan membiarkan adikmu ada di dunia manapun," bisik Eros.

"Tenang saja, aku tidak akan membiarkan itu terjadi," jawab Vallen dengan tenang.

"Terima kasih atas jamuannya, selamat malam," ucap Justin mewakili Vallen.

Para katharos pun pergi dari imperial stone. Setelah mereka pergi, kabut tebal di sekitar istana menghilang. Bulan menampakan dirinya kembali. Suasana mencekam kini telah usai.

***

Vladine mencoba memejamkan mata, berusaha untuk tidur, namun ia tidak bisa.

"Seharusnya aku senang, pengganggu itu telah pergi, namun mengapa aku malah merasa kesepian," batin Vladine.

Sementara itu di seberang jalan, terlihat Meisya sedang bersembunyi di balik semak, ia mengawasi Vladine dari jauh. Ia harus tetap terjaga jangan sampai lengah.

"Sepertinya aku tidak akan tidur sampai besok, argh," keluh Meisya.

Rasanya ia sedang menangis tanpa air mata saat ini. Mengingat besok pagi ia juga harus menjaga Vladine di sekolah, Tiba-tiba lehernya di tekan sebuah pisau oleh seorang pria.

"Siapa kau!" tanya pria itu.

Meisya memutar kepalanya, 2 pasang bola mata berwarna merah dan kuning bertemu.

"A.. Aku di kirim oleh bangsa serigala untuk menjaga Vladine," jawab Meisya.

Keadaan berbalik, saat ini Meisya juga mengeluarkan cakar tajam yang hampir menusuk mata pria itu.

"Dan kau, apa urusanmu di sini?" tanya Meisya.

"Aku Justin, utusan Vallen," jawab Justin.

Justin melepaskan pisau miliknya, begitu juga Meisya menyembunyikan kembali cakarnya.

"Aku tak percaya Eros akan mengirim kucing betina lemah sepertimu," ucap Justin dengan tatapan sinis.

"Tutup mulutmu, aku di sini sudah seharian menahan kantuk dan lapar!" jawab Meisya.

"Ya, terlihat jelas dari kantong matamu mengendur," ucap Justin meledek.

"Berisik! kau sangat mengganggu," bentak Meisya marah.

Meisya berdiri dan hendak pergi meninggalkan pria menyebalkan itu.

"Tunggu" ucap Justin.

Justin menarik tangan Meisya, hingga ia kehilangan keseimbangan dan jatuh ke atas pangkuannya.

"Lepaskan aku, brengsek," ucap Meisya.

"Tidurlah, aku akan mengambil alih tugasmu," ucap Justin.

"Aku bilang lepaskan!" bentak Meisya.

Meisya tetap hendak pergi meninggalkan pria itu, lagi-lagi pria itu menariknya.

"Duduk!" ucap pria itu.

Meisya pun duduk, ia memasang wajah kesal. Untuk beberapa waktu mereka terdiam, tidak mengeluarkan sepatah katapun. Tidak lama kemudian Meisya tertidur.

"Benar-benar merepotkan," batin Justin.

Justin yang melihat itu membelai kepala Meisya dan menyandarkannya ke bahunya. Dengan posisi seperti itu mereka mengawasi Vladine sampai pagi.

Meisya terbangun karena sinar matahari. Namun ia menemukan hanya dirinya sendiri yang ada di sana, dengan jas yang masih melekat di badan. Sementara Justin entah menghilang kemana.

"Ini pasti milik Vampir menyebalkan itu," gumam Meisya.

Meisya segera pergi dari sana dan kembali ke Imperial Stone, untuk menyampaikan hasil pengawasan kemarin kepada Eros.

"Hoam.." Vladine menggeliyat.

Setelah bangun tidur, ia langsung menuju dapur. Benar saja, meja makan pagi ini kosong. Tiada lagi harum masakan Aiden.

"Jadi, dia benar-benar pergi," batin Vladine.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!