Puing Petunjuk

Vladine memasuki kamar barunya. Matanya berbinar melihat kamar mewah yang bernuansa pink itu. Dan di dalamnya sudah diisi dengan barang keperluannya, dari mulai pakaian hingga kosmetik.

"Sejak kapan mereka menyiapkan ini?" batin Vladine.

Vladine melihat spring bed berukuran king size di tepi kamar, dengan semangat ia membanting diri dan loncat2 di atas tempat tidurnya.

"Ini 1000% lebih empuk dibanding kasurku di rumah," ucap Vladine girang.

Tiba-tiba Vladine terdiam, ia bingung harus sedih atau senang, perasaannya campur aduk, disekap oleh kumpulan vampir, namun mereka memperlakukannya dengan baik.

"Walaupun mereka menyogokku seperti ini, aku tidak boleh lengah, aku tetap harus mencari cara untuk kabur," batin Vladine.

"Bahkan aku sudah memberikanmu segala yang diimpikan oleh semua wanita kau masih tetap ingin kabur dari sini!" batin Aiden.

Aiden dari tadi mengintip Vladine dari celah dinding kamarnya. Ia dapat mendengar semua isi hati gadis itu dari jarak dekat.

"Tidak akan aku biarkan kau lari dari sini!" Ucap Aiden.

Aiden menghilang dan menampakan diri tepat di depan gerbang. Ia menggambar sebuah pola lingkaran, lalu ia membaca sebuah mantra.

Dalam sekejap muncul cahaya biru yang mengelilingi pagar istana. Celio dan Edwin yang sedang berada di dalam Istana melihat cahaya itu lewat jendela, segera mereka keluar.

"Apa yang dia lakukan?" tanya Celio.

"Dia sedang membuat segel keliling Istana," jawab Edwin.

"Untuk apa?" tanya Celio.

"Mungkin agar Vladine tidak bisa kabur dari sini," jawab Edwin.

Setelah itu, cahaya lingkaran itu menghilang. Dengan penuh senyum kemenangan Aiden kembali masuk dalam istana.

"Kau tersenyum seperti orang yang kesurupan," ucap Celio dingin.

"Kau bilang apa tadi!" bentak Aiden.

"Sudah.. sudah.. ayo kita makan, aku lapar sekali belum sarapan" ucap Edwin melerai.

Di meja makan Aiden menatap sinis Celio, namun Celio acuh tidak memperdulikannya.

"Kau sangat tengil dan menyebalkan" ucap Aiden.

"Aku tidak peduli dengan penilaianmu, bego!" jawab Celio dingin.

"Kurang ajar!!" bentak Aiden marah.

"Aiden, panggil Vladine turun makan," ucap Edwin.

Aiden menggebrak meja, saat melewati Celio, Aiden sengaja menoyor kepalanya. Mereka bertengkar seperti kakak adik sungguhan. Lalu Aiden pergi ke kamar Vladine untuk mengajaknya makan.

Aiden langsung muncul di depan Vladine, ternyata gadis itu sedang memakai baju.

"Vladine," ucap Aiden.

"Aaa!!! Tidak bisa kah kau muncul lewat pintu dan mengetuknya sebelum masuk!" bentak Vladine kaget.

"Cepat turun ke bawah, semua orang sudah menunggumu di meja makan," ucap Aiden.

Belum sempat Vladine merespon, Aiden langsung menerjangnya ke dinding, membuka paksa kerah baju Vladine.

Kancing kemeja Vladine berserakan, dengan gesit Aiden menyibak kerah bajunya, dan menancapkan taringnya ke dada vladine.

"Akh.. hentikan!" pekik Vladine.

Ia berusaha memberontak, namun tenaganya kalah jauh dari Aiden. 

"Cepat turun! sebelum aku melakukannya lagi!" bentak Aiden menyeka bibirnya.

"Iya-iya, aku turun sekarang!" jawab Vladine pasrah.

"Bagus, aku suka gadis penurut," ucap Aiden tersenyum puas.

"Dasar brengsek!" umpat Vladine dalam hati.

Aiden langsung melotot ke arah Vladine, gadis itu kaget dan langsung memasang senyum manis seolah-olah menuruti perkataan Aiden.

Aiden dan Vladine turun dari tangga bersama. Celio melihat Vladine menggenggam kerah bajunya yang robek, serta ada tetesan darah di sekitar dadanya.

"Aku kenyang," ucap Celio.

Celio berdiri meninggalkan meja makan, Aiden dan Vladine menghampiri Edwin.

"Ada apa dengannya?" tanya Aiden.

"Aku tidak tau, tapi akhir-akhir ini dia sensitif sekali," jawab Edwin.

"Celio.." batin Vladine.

***

"Sialan, brengsek kau Aiden!" teriak Celio.

Dia meluapkan emosinya dengan meninju pohon pisang di halaman belakang. Hingga lelah dan bosan.

Hanya taman satu-satunya tempat favoritnya. Tempatnya bersedih, tempatnya mencari ketenangan, tempatnya mencari inspirasi.

Celio terkenal dengan banyak karyanya, selain vampir ia juga seorang penulis, ia telah menulis banyak novel yang booming di dunia manusia.

Meskipun banyak penggemar, ia tidak pernah sekalipun turun untuk berjumpa dengan fansnya. Ia hanya bisa mengirim naskahnya ke pada penerbit dengan mengirim burung elangnya.

Namun beberapa hari ini fokusnya teralihkan karena kedatangan Vladine.

"Ini, kau pasti belum makan," ucap Vladine memberikan sepiring makanan dan segelas air putih.

"Kenapa harus kau?" tanya Celio lirih.

"Kenapa harus kau!" bentak Celio frustasi.

"Ka.. kalau kau tidak suka aku yang bawa, nanti aku akan menyuruh Edwin saja untuk mengantarkan mu makanan," ucap Vladine gugup.

"Bukan itu, ah, lupakan," jawab Celio.

"Aku taruh di sini, nanti Edwin akan membawakanmu makanan yang baru," ucap Vladine.

Gadis itu berdiri, dan meninggalkan Celio dengan tergesa-gesa. Celio menatap kepergian Vladine dengan emosional.

Celio meraih makanan yang di berikan oleh Vladine, dengan getir memasukan 1 suapan ke dalam mulutnya.

Pria itu mengunyah makanan dengan air mata yang berderai, mengingat semua kenangannya bersama Vladine saat ia masih remaja.

"Kenapa harus kau, Vladine," batin Celio.

Edwin menatap Celio dari jauh.

"Kenapa lagi bocah itu, makan sambil menangis," gumam Edwin mengangkat sebelah aslinya.

Edwin kembali ke dalam istana, membawa kembali makanan ke dapur.

"Kenapa balik?" tanya Vladine.

"Dia sudah makan, makanan yang kau bawa tadi," jawab Edwin.

"Benarkah?" heran Vladine.

"Dia makan sambil menangis, entah apa yang telah terjadi padanya, akhir-akhir ini bocah itu sangat emosional," ucap Edwin.

"Kenapa kalian selalu memanggilnya bocah? Padahal dia bukan anak-anak lagi," tanya Vladine.

"Dia yang paling muda di antara kami, mungkin umurnya sama sepertimu, dia menjadi vampir saja baru 4 tahun yang lalu," jawab Edwin.

"Oh ya, tapi muka kalian semua seperti seumuran," ucap Vladine tersenyum.

Vladine berusaha akrab dengan Edwin, untuk mengulik informasi identitas mereka, terutama Aiden dan Celio.

"Tentu saja, semua manusia yang menjadi vampir, ia akan terus awet muda, karena saat kami di bangkitkan kami di beri masing masing 1 permata abadi," jawab Edwin.

"Jadi sebelumnya kalian adalah manusia?" tanya Vladine penasaran.

"Iya, kecuali Haidar, ia vampir murni, pendiri Demon Empire," jawab Edwin.

"Apa kau juga tau asal usul Aiden dan Celio?" tanya Vladine.

"Tidak, meskipun kami cukup akrab, tapi kami tidak mengetahui kisah masa lalu masing-masing. Itu menjadi rahasia pribadi yang harus kami jaga, tapi setahuku vampir yang tertua di sini setelah Haidar adalah Aiden," jawab Edwin.

"Aku kira kau lebih tua di banding Aiden, karena kau lebih dewasa," ucap Vladine.

"Hahaha, jika bukan aku siapa lagi yang akan melerai Aiden dan Celio, tapi meskipun begitu aku harus selalu mengikuti perintah Aiden sebagai senior," jawab Edwin.

"Edwin!" teriak Aiden dari luar.

"Aiden memanggilku, sepertinya aku harus pergi," pamit Edwin.

"Baiklah, sampai jumpa," jawab Vladine melambaikan tangan.

Setelah Edwin keluar, Celio masuk ke dapur, meletakkan piring bekas makanannya.

"Terima kasih," ucap Celio dingin, lalu pergi.

Vladine tidak bergeming, saat ia melihat Celio ia terngiang-ngiang dengan ucapan Edwin.

"Dia yang paling muda di antara kami, mungkin umurnya sama sepertimu, dia menjadi vampir saja baru 4 tahun yang lalu," ucapan Edwin tadi.

"Adam juga menghilang sekitar 4 tahun yang lalu," batin Vladine.

"Apakah Celio adalah Adam.." gumam Vladine.

~Bersambung~

Jangan lupa Like, dan Komennya untuk mendukung karya ini 🤗

Terima kasih❤️

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!