Permata Pertama

"Lihat itu, indah sekali pemandangannya," ucap Vladine.

Aiden tidak menjawab, ia terlihat murung dan hanya menatap kosong ke bawah. Vladine berusaha membuka topik pembicaraan untuk mengubah suasana hati Aiden.

"Apa sebelumnya kau pernah ke sini?" tanya Vladine.

"Ya, pernah," jawab Aiden singkat.

"Dengan siapa?" tanya Vladine penasaran.

"Dengan orang yang sangat aku benci di sisa kehidupanku sebelumnya dan selanjutnya," jawab Aiden.

"Apa orang itu sangat berarti bagimu," Vladine semakin penasaran.

"Dulu, sebelum dia meninggalkanku begitu saja," jawab Aiden.

Mendengar penjelasan Aiden dan raut wajahnya yang rapuh, Vladine tidak ingin lagi meneruskan pertanyaannya.

"Sebaiknya aku mengubur dalam-dalam rasa penasaran ini, itu hanya akan menyakitinya," Vladine bergumam dalam hati.

Aiden yang mendengar kata hati Vladine membuatnya sedikit terenyuh, dan meliriknya sekilas. 

"Seandainya kau tau," batin Aiden.

Setelah menaiki wahana, mereka lanjut berkeliling kembali. Aiden berniat memberikan hadiah kepada Vladine.

"Tunggu disini, jangan kemana-mana," ucap Aiden.

"Baiklah," jawab Vladine.

Aiden menuju tempat penjual perhiasan, ia melihat sebuah penjepit rambut berbentuk kupu-kupu, yang terbuat dari perak.

"Ini pasti cocok di pakai olehnya," batin Aiden.

"Aku mau yang ini," tunjuk Aiden pada kaca etalase.

"Baik, Tuan, segera kami bungkus" ucap penjual.

Setelah Aiden membelinya, lalu ia simpan ke dalam kantung celananya.

***

Di restoran tempat kerja Vladine…

"Tidak biasanya dia bolos bekerja," ucap Justin.

Saat ini menejer Vladine sedang duduk bersama pria misterius di dalam restoran.

"Cari dia, dan jangan berhenti sebelum menemukannya," ucap pria misterius.

"Baik, Pangeran Vallen," jawab Justin.

Setelah berbicara pria yang bernama Vallen itu meneguk habis wine yang bertuliskan tahun 1985 hingga tak tersisa setetespun, lalu ia pergi meninggalkan Justin di dalam restoran.

***

Saat Vladine sedang mengantri, semilir angin berhembus lembut, kabut mulai menebal di sekitar lapangan. Tercium hawa yang kuat.

Hidung Aiden tidak berhenti menghirup aroma itu dalam-dalam. Seperti ia sedang menyadari sesuatu.

"Mereka ada di sini," batin Aiden.

"Kembang gula sama es krim vanilanya 1 ya, Buk," ucap Vladine.

"Siap, neng," jawab penjual itu.

Sesorang menepuk pundak Vladine, dan membuatnya spontan menoleh ke belakang.

"Menejer Justin," sapa Vladine.

"Ternyata kau di sini," ucap Justin.

"Maafkan aku Pak, saya tidak bekerja malam ini, karena saya sedang menemani teman saya melihat pasar malam," jelas Vladine.

"Tidak masalah, lalu mana temanmu?" tanya Justin.

"Ini di.." ucap Vladine terpotong.

Saat ia menoleh ke sampingnya Aiden sudah tidak ada.

"Tadi dia ada di samping saya, tapi mungkin dia sedang pergi sebentar," ucap Vladine.

"Oh begitu," jawab Justin.

"Pak Justin mau gabung sama kami?" ajak Vladine.

"Tidak, lanjutkan saja bersenang-senangnya, saya harus pergi," jawab Justin.

"Baik, Pak. Hati-hati," ucap Vladine.

Justin segera meninggalkan Vladine, ia tak ingin Vladine merasa terganggu dengan kehadirannya.

"Ini neng, kembang gula sama es krimnya," ucap penjual.

"Makasih ya buk," jawab Vladine.

"Sudah selesai?" tanya Aiden.

Vladine kaget melihat Aiden yang dalam sekejap sudah berdiri kembali di sampingnya.

"Kau dari mana tadi?" tanya Vladine.

"Aku tadi berkeliling sebentar, ayo pulang, aku mengantuk sekali," ajak Aiden.

"Baiklah, kita pulang," ucap Vladine.

Vladine berjalan sambil menyeruput es cream yang ada di tangannya.

"Terima kasih ya, Aiden," ucap Vladine.

"Untuk apa?" tanya Aiden.

"Semenjak kau hadir, aku tidak kesepian lagi," jelas Vladine.

Aiden seketika langsung menoleh pada Vladine, senyum tulus Vladine membuat matanya berbinar.

Tiba-tiba Aiden mendekatkan kepalanya dan menjilat ujung bibir Vladine. Vladine tertegun dan kaget.

"Aku hanya membantu membersihkan sisa es krim di bibirmu," ucap Aiden santai.

"Ada apa denganku, kenapa tubuhku tidak bisa menolak," batin Vladine.

Ia merasakan sensasi yang berbeda, sensasi yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Aiden hanya tersenyum tipis tanpa menoleh ke arah Vladine.

Lampu jalan menerangi sepanjang jalan mereka, Aiden heran kenapa dari gadis itu diam dan tidak banyak bicara seperti biasanya.

Saat Aiden meliriknya, terlihat Vladine sangat lesu dan mengantuk. Dengan sigap Aiden berjongkok dan menggendongnya.

"Gadis ini sepertinya kelelahan," batin Aiden.

Tidak lama di gendong, Vladine pun tertidur, setelah melihat Vladine terlelap Aiden langsung melihat ke depan dan kebelakang, setelah ia rasa sepi tidak ada orang, ia mengeluarkan kekuatannya berlari secepat kilat.

Tibalah mereka di dalam rumah Vladine. Ia meletakkan tubuh Vladine di atas kasur dengan lembut dan menyelimutinya.

"Haidar benar, benci dan cinta itu beda tipis," gumam Aiden.

Setelah cukup lama ia memandangi wajah Vladine yang sedang terlelap, ia membelai rambutnya, dan mengecup keningnya.

"Selamat tidur, Belliana," bisiknya di telinga Vladine.

Aiden keluar dari kamar dan berbaring di sofa. Sudut matanya mengeluarkan setetes air mata yang langsung mengering menjadi permata, lalu ia genggam, dan ia pun terlelap.

***

Kicauan burung dan sinar matahari menerpa wajah Vladine, hingga membuatnya terbangun.

"Hoam.." Vladine duduk dan menggeliyat.

Ia mendengar suara orang yang sedang menumis. Dan ia tercium aroma yang sangat enak.

Ia sudah menduga, pasti Aiden sedang memasak, ia segera turun dari kasur dan menuju ke dapur.

"Makanlah, aku sudah membuat sarapan dan bekal untukmu," titah Aiden.

"Kau tidak perlu repot-repot seperti ini, Aiden," ucap Vladine.

"Tidak repot sama sekali," jawab Aiden.

Vladine menarik kursi dan duduk di meja makan. Aiden memberinya sepiring nasi goreng dan sepotong ayam goreng, tidak luput segelas susu putih.

"Aku sudah membuatkanmu bekal, jadi jangan menerima siapapun yang memberimu makanan!" tegas Aiden.

"Kenapa?" tanya Vladine.

"Karena mudah bagi orang lain untuk meracuni gadis bodoh sepertimu," ketus Aiden.

"Sebenarnya agar kau tidak lagi menerima makanan dari laki-laki sialan kemarin itu," batin Aiden.

"Iya-iya," jawab Vladine kesal.

***

Di istana Noble the castle…

Beberapa orang sedang duduk berkumpul di meja panjang melingkar, terdapat 1 kursi yang berbeda dari yang lain, yang lebih menjulang tinggi dan terbuat dari emas serta di lengkapi dengan butiran permata yang berkilau.

"Lapor, Pangeran, Tuan Saddam tidak berhasil di temukan," ucap Elton.

Ucap seorang kepala pelayan bernama Elton yang sedang berjongkok di hadapan pria yang sedang memegang segelas wine merah. Pria itu adalah Vallen.

"Hentikan pencarian," titah Vallen.

"Baik, Pangeran, saya permisi," jawab Elton.

Elton bangkit dan keluar dari ruang utama istana. Meninggalkan Vallen dan ke 3 saudaranya yang sedang berunding.

"Vladine bulan depan akan genap berusia 17 tahun," ucap Justin.

"Itu artinya kita harus cepat menyusun rencana pernikahan, sebelum vampir yang lain mencium keberadaannya," sambung Deon.

"Ya, aku setuju denganmu, Deon,"  jawab Owen.

"Tapi, apakah kita akan tetap melangsungkan acara pernikahan dan penobatan Pangeran Vallen menjadi raja tanpa kehadiran Saddam," protes Justin.

Vallen melirik ke kursi kosong di samping justin, saddam adik sulungnya itu memang selalu merepotkannya.

"Huft.." Vallen memejamkan matanya dan menghirup nafas panjang.

"Bruak!" suara pintu di tendang.

"Sopanlah sedikit, Saddam!" Tegur Justin.

Pria bernama Saddam itu masuk dengan acuh dan arogan.

"Aku tak sudi menghargai, apa lagi hadir di acara penobatan anak durhaka sepertimu, Vallen," hardik Saddam.

Terpopuler

Comments

will

will

.

2023-11-22

1

will

will

mantap

2023-11-22

1

Ru Kayah

Ru Kayah

semangat nulis nya, aku tunggu 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰

2022-12-21

5

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!