Memberi Pelajaran

Awalnya Meisya sangat membenci pria itu. Namun kali ia berhasil membuat Meisya hanyut dalam pikirannya.

"Tidak buruk juga, tampan, sispek, dia juga tau cara menghargai wanita, walaupun sedikit mesum," batin Meisya.

Pikiran Meisya saat ini membuat tubuhnya bergidik merinding, ia berusaha menepis rasa kagumnya.

"Apa ini, kenapa tiba-tiba aku memikirkannya," batin Meisya tersadar dari lamunannya.

Beberapa kali Justin menangkap mata Meisya sedang mencuri pandang padanya. Merasa ada peluang, ia sengaja memberikan sedikit perhatian kepada gadis itu.

"Makanlah yang banyak, karena kau tidak akan menemukannya di restoran manapun," ucap Justin memasang senyum semanis mungkin.

"Kau tidak perlu mengingatkannya, dia itu gadis pemakan banyak! tanpa kau suruh juga dia akan makan dengan rakus," jawab Eros kesal.

"Apa yang kau katakan! aku bukan gadis yang seperti itu!" teaiak Meisya kesal.

Setelah makan malam selesai Eros dan Meisya bersiap akan pergi.

"Ingat yang ku katakan tadi," ucap Eros mendekati Justin.

"Suruh Vallen memulangkannya sebelum aku mengambilnya secara paksa," bisik Eros.

"Kalau tidak percaya, datang saja, aku tunggu kunjunganmu," jawab Justin santai.

"Ayo Meisya, kita pergi," ajak Eros.

"Terima kasih, untuk hidangan malam ini," ucap Meisya malu-malu.

"Sama-sama," jawab Justin tersenyum.

Eros menarik Meisya agar menjauh dari Justin, lalu merangkul gadis itu dengan posesif.

"Hentikan, aku tidak bisa bernafas!" ucap Meisya ngomel.

"Tidak, tunggu sampai tiba di istana!" jawab Eros.

Ketika Eros melihat Meisya mulai akrab dengan Justin ia merasa cemburu. Jadi ia berencana ingin memanas-manasi Justin. Namun entah mengapa saat di depan Justin mereka seperti kucing dan tikus, tidak ada romantisnya sama sekali. Justru membuat mereka terlihat konyol.

Justin menatap kepergian Meisya dan Eros di balik tebalnya kabut.

"Semakin kau menjaganga, semakin aku menginginkannya," batin Justin.

***

Di istana Noble The Castle.

Owen memasuki ruangan Vallen, terlihat saat ini Vallen sedang merangkai Mahkota dari batu blue saphire.

"Belum tidur, pangeran?" tanya Owen.

"Aku tidak bisa tidur sebelum menyelesaikan mahkota ini," jawab Vallen.

"Sepasang mahkota yang indah, tapi dari mana kau mendapatkan batu blue saphire?" ucap Owen heran.

"Aku menyelam ke dasar danau, tempat di mana Ayah membuang jasad Ratu Amber, dan Raja Ruby," jawab Vallen.

"Jangan bilang itu.." ucapan Owen terpotong.

"Benar, ini sisa puing-puing mahkota ayah dan ibunya Belliana, aku memperbaikinya" jawab Vallen.

"Untuk apa,?" tanya Owen.

"Aku akan mengembalikan semua hal yang pernah hilang dari Belliana," jawab Vallen.

"Sebenarnya saya kesini ingin menyampaikan sesuatu tentang dia," ucap Owen.

Mendengar kabar tentang Vladine, Vallen yang dari tadi tidak memperhatikan Owen, ia langsung meletakkan mahkota itu, dan menatap Owen.

"Ada apa?" tanya Vallen.

"Justin menyuruhku untuk menyampaikan pesan ini padamu," jawab Owen.

"Cepat katakan!" titah Vallen tidak sabar.

"Vla.. Vladine menghilang," ucap Owen ragu.

"BRAK!!" Vallen menggebrak meja dengan kasar.

"Bagaimana bisa gadisku menghilang! Bukankah aku menyuruh kalian untuk mengawasinya!" bentak Vallen.

"Maafkan kelalaian kami, pangeran," jawab Owen menunduk.

"Dimana Justin sekarang?" tanya Vallen.

"Dia pergi mencari Saddam," jawab Owen.

"Benar juga, ini pasti ada sangkut pautnya dengan anak itu," batin Vallen.

"Kau tetaplah di sini, jangan tinggalkan Istana," ucap Vallen.

"Baik, pangeran," jawab Owen.

Vallen menghilang dari ruangannya, ia pergi untuk menyusul Justin menemui Saddam.

***

"Tidak salah lagi, pasti dia ada di sini," batin Saddam.

Justin memasuki sebuah hotel di dunia manusia, seluruh pelayan dan staf hotel membungkukan badan saat Justin melewati mereka.

Hotel itu bisa di bilang milik keluarga katharos, karena Vallen pemegang saham terbanyak di sana.

"Apa Saddam menginap di sini?" tanya Justin ke resepsionis.

"Benar, Tuan, dia berada di kamar VIP03," jawab resepsionis.

"Panggilkan dia kemari," perintah Justin.

"Baik, Tuan," jawab Resepsionis.

Resepsionis menelepon ke kamar Saddam.

"Halo Tuan Saddam, anda sedang di tunggu Tuan Justin di Loby bawah," ucap resepsionis.

"Katakan aku tidak ingin menemuinya," jawab Saddam acuh.

Saddam langsung mematikan sambungan telepon sepihak.

"Mengganggu kesenanganku saja," gumam Saddam menggerutu.

"Tuan Saddam tidak ingin bertemu dengan anda," ucap Resepsionis.

"Brengsek!" Justin mengumpat.

Dengan marah Justin menaiki lift, menuju kamar Saddam.

"Keluar kau bajingan! Jangan hanya bisa menyusahkan orang lain! Sialan!" teriak Justin di depan pintu kamar Saddam.

Sebenarnya Justin bisa kapan saja menembus ruangan itu, tapi banyak staf dan bodyguard di sana, ia harus bertindak senormal mungkin untuk menutupi identitas mereka sebagai vampir.

"Sudah ku bilang, aku tidak ingin menemuimu," jawab Saddam dari dalam.

Dengan emosi Justin menendang kamar hotel, hingga pintunya rubuh dengan sekali tendangan. BRUAKK!!!

Para staf dan bodyguard hotel tertegun, mereka mulai berkerumun mendekat ke kamar Saddam.

Suara tepuk tangan terdengar dari dalam. Saddam saat ini bertepuk tangan mengelilingi Justin.

"Sepertinya aku tertangkap basah," ucap Saddam.

"Jangan menguras kesabaranku! Katakan di mana Vladine!" bentak Justin.

"Aku tidak tau," jawab Saddam.

Justin langsung maju mencengkram kerah baju Saddam.

"Cepat katakan dimana dia, brengsek!" bentak Justin kesal.

"Jangan kurang ngajar, meskipun aku bukan pewaris, aku tetap kakakmu!" ucap Saddam.

Saddam menepis kasar tangan Justin, mereka berkelahi dengan sengit, saling menendang meninju satu sama lain.

Vallen sedang berjalan sambil merapikan dasinya, saat ini dia memasuki hotel yang sama dengan Justin dan Saddam.

"Selamat datang, tuan Vallen," sapa Resepsionis.

"Apa 2 saudaraku ada di sini?" tanya Vallen.

"Benar Tuan, mereka sedang bertengkar di lantai VIP," jawab Resepsionis.

Vallen langsung masuk menaiki lift, saat pintu lift terbuka sudah terlihat Justin dan Saddam berkelahi di koridor VIP.

Justin melempar Saddam hingga kepentok tembok. Lalu Justin Mencengkram kuat kerah lehernya, dan mengangkatnya ke atas.

"Di mana dia?" tanya Justin melotot.

Terlihat hidung Saddam sudah mengeluarkan darah, lalu pria itu meringis dan tertawa.

"Bodoh, kau seharusnya tidak mencarinya di sini, tapi di alam baka sana," ucap Saddam.

"Apa maksutmu?" tanya Justin.

"Aku sudah mendorongnya dari atas gedung, meskipun aku tidak menemukan jasadnya, tapi seharusnya dia sudah matikan," jawab Saddam menyeringai.

"Jadi, kau membunuhnya?" tanya Vallen.

Saddam langsung menoleh ke sumber suara. Saat ini Vallen berjalan mendekati Justin dan Saddam. Raut wajahnya sangat dingin dan muram.

"Lihat, malaikat mautmu datang," ucap Justin.

Vallen menghantam wajah Saddam, menghempaskannya, menariknya kembali lalu menendangnya.

Vallen melepas ikat pinggangnya dengan kasar, mancambuk Saddam dengan brutal, lalu melilitkan ikat pinggang ke tubuh Saddam.

"Sial, aku terperangkap oleh matanya yang terkutuk itu," batin Saddam.

Saddam tidak bisa membalas, karena tubuhnya terkunci oleh mata Vallen, mata Vallen memiliki hipnotis yang mematikan. Membuat lawannya lumpuh saat bertatapan dengannya.

Merasa belum puas, Vallen menendang dinding kaca hotel hingga pecah.

"PRANK!!!" suara pecahan kaca berserakan di mana-mana.

"Kau pikir kau siapa! Berani melakukan itu padanya ha!" bentak Vallen tepat di depan wajah Justin.

Vallen menyeret Saddam tanpa ampun menuju ruangan VIP pribadinya.

Semua pengunjung dan staf hotel berkerumun melihat kejadian itu, mereka berbisik-bisik, ada beberapa di antara mereka yang merekam kejadian itu.

"Apa yang kalian lihat! Bubar!" bentak Justin pada semua orang.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!