Ketua Osis Menyebalkan

"Siapapun tolong aku, aku masih ingin perawan" batin Vladine.

Tak terasa baju seragamnya kini telah basah oleh keringat dan air matanya. Ia ketakutan, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan.

Jantungnya berdegup kian kencang.

"Tap.. tap.. tap.." suara tapak kaki.

Hingga ia mendengar suara ada orang yang masuk ke dalam kamar mandi, menyalakan wastafel. Membuat Vladine memiliki secercah harapan untuk kabur.

"Mmm.. mmm.." berontak Vladine.

Vladine berusaha berteriak di balik bungkaman itu dan berusaha menghentakan kakinya. Namun pria itu malah mengangkat tubuhnya, agar kakinya tidak bersuara.

Dan usahanya sia-sia. Orang itu tidak mendengar dan langsung keluar dari kamar mandi.

Tiba-tiba pria itu melepaskan cengkraman dan dekapannya. Saat Vladine berbalik ternyata pria itu adalah Eros.

"Dasar brengsek! Apa kau sembunyi di sini untuk menculik para gadis?" teriak Vladine.

"Aku tak tau jika ada gadis sebodoh ini," ucap Eros.

"Tutup mulutmu, dasar mesum!" jawab Vladine.

"Aku yang harusnya bertanya padamu, apa yang ingin kau lakukan di kamar mandi pria?" tanya Eros.

Vladine tercengang beberapa saat. Lalu ia menatap sekeliling.

"Tidak, ini tidak mungkin," batin Vladine.

Tiba-tiba ia menunduk, memejamkan matanya dan menarik nafas kasar.

"A.. aku.. maafkan aku, sepertinya aku salah masuk kamar mandi," ucap Vladine gugup.

"Gadis bodoh ini," batin Eros.

"Tadi.. tadi aku sedang malamun, hingga tidak sadar aku malah.." Vladine berusaha menjelaskan.

Perkataan Vladine terpotong saat Eros menempelkan jari telunjuknya ke bibir Vladine.

"Shutt.. sudah cukup," potong Eros.

Eros menatap Vladine, wajah polos gadis itu membuatnya tak tega.

"Ini memalukan sekali," batin Vladine memejamkan matanya.

"Ayo, aku bantu keluar dari sini," ucap Eros menggandeng tangannya.

Vladine melirik ke bawah, ia melihat tangannya yang di genggam oleh Eros. Tiba-tiba beberapa siswa pria masuk ke dalam kamar mandi.

Vladine takut, ia khawatir bila ada orang yang tahu bahwa ia dan Eros sedang berada di dalam 1 bilik kamar mandi.

"Kita harus merayakan kemenangan tim kita," ucap Albert.

"Ya, ide bagus, tapi kita harus berdiskusi dulu dengan Eros," jawab Mike.

Mendengar percakapan mereka, Eros pun menyadari bahwa yang ada di dalam kamar mandi saat ini adalah teman-temannya.

"Oh, ternyata mereka," gumam Eros.

Rian tidak sengaja menjatuhkan korek dari saku celananya, saat ia menunduk, ia tak sengaja melihat keanehan dalam bilik WC.

"Coba kalian lihat, di dalam bilik itu seperti ada 2 orang," ucap Rian.

"Kau salah lihat mungkin," jawab Albert.

"Serius, tadi aku melihat ada 4 kaki di sana!" ucap Rian meyakinkan.

Eros menyadari situasi mereka sedang darurat, ia langsung mengangkat tubuh Vladine dan menggendongnya.

2 gundukan gunung lembut terasa sekali menempel pada dada bidang eros.

Wajah mereka sama-sama memerah, dan tidak berani menatap satu sama lain.

"Iblis kecil ini menyiksa sekali," batin Eros.

Perasaan Eros yang sedang tidak karuan, membuatnya mengalihkan pandangan, dan membuang nafas kasar.

"Turunkan aku," pinta Vladine lirih.

"Diamlah, atau tidak kita akan ketahuan," bisik Eros.

"Ya Tuhan, jantungku," batin Vladine.

Mike ingin memastikan, perlahan-lahan suara langkah kaki semakin mendekat. Lalu Mike mengintip di bawah pintu.

"Sepatunya Eros," batin Mike.

"Bagaimana, ada berapa orang disana, Mike?" tanya Rian penasaran.

"Mungkin kau rabun, aku melihat hanya ada 2 kaki," jelas Mike.

"Tidak mungkin, aku yakin ada 4 kaki di sana," jawab Rian.

Mike mengedipkan mata kepada Albert.

"Ah perutku lapar sekali, ayo kita ke kantin," ucap Albert.

"Ya, aku juga lapar," jawab Mike.

Albert merangkul leher Rian, dan mereka bertigapun keluar dari kamar mandi.

"Huft…," Eros mengeluarkan nafas panjang.

"Tolong turunkan aku," pinta Vladine.

Eros dengan lembut menurunkan Vladine dari gendongannya. Vladine hanya mengalihkan pandangannya dan tidak berani menatap wajah Eros.

"Mm.. terima kasih," ucap Vladine. 

"Dasar gadis ceroboh," jawab Eros.

Eros meraih dagu Vladine, menariknya, dan menatapnya lekat-lekat. Jarak hidung mereka saat ini hanya 5 cm.

"Lain kali, jangan sembarangan masuk kamar mandi, paham!" tekan Eros.

"I.. iya kak," jawab Vladine.

Eros meraih tangan Vladine dan menuntunnya, Eros berhenti sejenak di depan pintu melihat situasi.

"Pergilah," ucap Eros.

Vladine hanya mengangguk, dan ia segera keluar berlari menuju kelasnya. Namun langkah kakinya terhenti saat mendekati kelas.

"Kalau aku masuk, pasti aku dimarahi," batin Vladine.

Vladine mengundurkan niatnya untuk masuk kelas, sudah lama ia terlambat masuk mengikuti pelajaran.

Lalu ia menuju kantin dan memesan makanan. Ia merogoh saku bajunya. Hanya ada selembar uang 10.000.

"Mbok, es teh 1 sama mie rebus 1 ya," pinta Vladine.

"Siap, Neng Din, mau di bawa ke meja sebelah mana?" tanya Mbok Sih.

"Yang di pojok aja, ini uangnya," jawab Vladine.

"Oke, ditunggu ya, Neng," ucap Mbok sih.

Vladine berjalan menuju meja paling pojok, di samping tembok. Ia masih belum menyadari bahwa Eros bersama teman-temannya juga ada di sana.

"Hm.. dia lagi," gumam Eros.

Eros memicingkan mata, dan terus melirik gerak-gerik Vladine dengan sudut matanya.

Vladine pun duduk, ia terus memikirkan kejadian di kamar mandi. Tiba-tiba ia menendang-nendang meja seperti orang gila.

"Astaga, itu sangat memalukan aaa!" gerutu Vladine.

Ia membenamkan kepalanya di antara tangan yang ia lekuk di atas meja. Eros langsung berdiri dan menghampirinya.

Saat Vladine mengangkat kembali kepalanya ia terkejut, Eros saat ini sudah ada di sampingnya.

"Ha.. kau lagi!" teriak Vladine kaget.

Vladine terkejut sekaligus malu, ia ingin kabur namun ia sudah terkepung, di sampingnya saat ini sudah ada Eros, dan disampingnya lagi adalah tembok.

Eros semakin mendekatkan wajahnya. Membuat Vladine takut dan memejamkan matanya.

"Bagus, habis dari kamar mandi pria, sekarang kau bolos," tekan Eros.

"Kruk.. kruk.." suara perut Vladine.

"Ah sial, kenapa kau bunyi di saat yang tidak tepat," batin Vladine menggerutu.

Vladine langsung memegang perutnya. Eros langsung mengerti.

"Neng Din, ini pesanannya," ucap Mbok Sih.

"Makasih ya, Mbok," jawab Vladine.

Mbok Sih menaruh es teh dan mie di atas meja Vladine.

Eros mengernyitkan alis, tiba-tiba ia berdiri kembali ke mejanya, dan mengambil jus buah naga serta sepiring ayam goreng. Lalu ia membawanya menuju meja Vladine.

"Makanlah yang banyak, karena aku tidak suka gadis kerempeng," bisik Eros.

Setelah berbicara, Eros mencubit hidung Vladine, lalu pergi bersama teman-temannya.

"Hey, terlalu percaya diri juga tidak bagus kawan, sejak kapan aku berharap kau menyukaiku!" teriak Vladine.

Mendengar itu Eros hanya tersenyum.

"Tanpa kau berharap, aku telah melakukannya selama ratusan tahun lamanya," batin Eros.

Setelah dari kantin, Vladine langsung menuju kelas, dan mengikuti pelajaran yang tersisa.

"Treng.. treng.. treng.." suara bel pulang sekolah berbunyi.

"Din, kamu kenapa diam dari tadi?" tanya Meisya.

"Aku tidak kenapa-kenapa, Mey," jawab Vladine.

"Ah syukurlah, aku kira kamu ada masalah," Meisya tersenyum.

"Aku yakin, kalau seandainya Meisya tau tentang apa yang aku alami hari ini dengan Eros, pasti dia marah padaku," batin Vladine.

"Din, bareng aku aja yuk," ajak Meisya.

"Gak usah, Mey, aku jalan kaki aja," jawab Vladine.

"Kalau gitu aku duluan ya," ucap Meisya.

"Ya, Mey. Hati-hati," jawab Vladine.

Saat ini Aiden sedang dalam perjalanan kembali ke rumah Vladine. Ia bisa saja menghilang dan muncul dalam sekejap mata, namun entah mengapa kali ini dia ingin berjalan-jalan sejenak.

Mata Aiden terpaku pada keramaian di tengah lapangan, perlahan-lahan Aiden mendekat.

"Oh, ternyata ada pasar malam di sini," gumam Aiden.

Terpopuler

Comments

will

will

.

2023-11-22

1

will

will

mntp

2023-11-22

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!