"Aku kembali," ucap Meisya.
Meisya berdiri di depan pintu istana imperial stone dengan rambut dan baju yang basah kuyup. Saat dia melihat Eros duduk di ruang tamu, ia langsung melengos melihat ke arah lain.
"Pelayan! Siapkan baju hangat untuknya," titah Eros.
Setelah menatap Meisya sekilas, Eros langsung pergi meninggalkannya, tanpa mengucapkan kata maaf.
Meisya tidak menghiraukan hal itu, saat ini ia sangat malas untuk bertemu dan melihat Eros.
Setelah ganti baju, ia langsung masuk ke kamar. Tanpa menutup pintu ia langsung menenggelamkan diri di atas kasur. Air matanya kembali mengalir saat melihat foto masa kecilnya bersama kedua orang tuanya, lalu ia meraih bingkai foto itu.
"Sampai saat ini aku belum mengerti kenapa kalian memintaku untuk berjanji," ucap Meisya berbicara sendiri.
Ia tidak sadar saat ini Eros masuk, ia secara langsung membawakan bubur dan susu hangat untuknya.
"Kalian memaksaku untuk tinggal di sini, sampai nanti kalian datang menjemputku, tapi nyatanya kalian tidak pernah kembali! Jika kalian melihat apa yang ia lakukan padaku hari ini apakah kalian masih menyuruhku untuk setia padanya!" Meisya terisak.
Ada sedikit rasa bersalah di hati Eros, melihat Meisya bergumam sendiri dengan sebingkai foto. Sejenak ia mengingat kembali adegan ratusan tahun yang lalu.
*Flashback* saat pembantaian sesama vampir darah murni yang di lakukan oleh pasukan Katharos kepada seluruh anggota Kerajaan Vampir Ruby atas perintah Raja Katharos, Ayah Vallen.
Dini hari, terdengar suara auman serigala bersahutan di luar Istana. Saat itu Istana kerajaan serigala masih bernama Wicky Imperial, jauh sebelum di kutuk oleh Belliana menjadi Imperial Stone.
Sepasang pasutri yang bersimpah darah lari tertatih memasuki Istana Wicky Imperial dengan menggendong seorang anak kecil perempuan.
Mereka memaksa untuk bertemu dengan Raja Gilbert, Ayah Eros, untuk meminta perlindungan. Saat ini kerajaan Vampir Ruby sedang di porak porandakan oleh pasukan Katharos. Akibatnya seluruh anggota Kerajaan Ruby terbunuh, termasuk kedua orang tua Belliana yang saat itu adalah Raja dan Ratu di Istana Amber.
Setelah Istana Amber berhasil di takhlukan oleh Clan Katharos, para penduduk yang masih tersisa berhamburan mencari tempat berlindung.
Salah satunya adalah vampir pasutri ini, mereka adalah pelayan dari Vampir Ruby. Mereka selamat dari pembantaian di Istana.
"Apa yang kalian inginkan?" tanya Raja Gilbert.
"Tolong kami Paduka, sembunyikan anak kami dari kejaran Katharos," jawab sang suami.
"Tidak, kerajaan serigala bukanlah tempat penampungan bagi vampir," jawab Raja Gilbert.
"Kami bersedia melakukan apa saja, asalkan Paduka mengizinkan anak kami tinggal di sini, kami hanya ingin dia selamat," jawab sang suami.
"Kami mohon, Paduka," pinta sang Istri.
"Baiklah, tapi ada syaratnya," jawab Raja Gilbert.
"Ya, apapun itu kami bersedia," jawab sang suami.
"Anakmu harus berjanji untuk mengabdikan hidupnya dan setia pada penerus tahta kami hingga ahir hayat," ucap Raja Gilbert.
"Dan kami akan menghapus identitasnya dari vampir menjadi serigala sejati," imbuh Raja.
"Kami menerimanya, Tuan," ucap sang Suami.
"Siapa namamu,?" tanya Raja Gilbert menghampiri anak pasutri itu
"Meisya," jawab Anak itu.
Meskipun terlihat galak, Raja Gilbert memperlakukan anak kecil itu dengan lembut. Menatapnya dengan kasih sayang.
"Meisya, dengarkan Ibu, tinggalah di sini sampai kami menjemputmu pulang, ya," ucap Ibunya.
"Tidak mau, Bu," jawab Meisya.
"Ibu dan Ayah hanya pergi sebentar saja," ucap Ibunya.
"Oke, tapi jangan lama ya," jawab Meisya.
"Iya sayang, coba lihat kakak yang di sebelah sana!" ucap Ibunya menunjuk ke arah Eros.
Eros sedang berdiri tidak jauh dari Ayahnya, ia menyaksikan semua kejadian itu. Saat itu ia sudah beranjak remaja, dan sudah bisa mencerna apa yang sedang terjadi.
"Berjanjilah untuk menuruti semua perintahnya dan setia padanya, karena kakak itu yang akan menjagamu selama kami belum kembali," ucap Ibunya.
Meisya kecil yang tidak tau apa artinya janji, ia hanya mengiyakan ucapan Ibunya.
"Iya, Bu. Meisya janji," jawab Meisya.
Setelah memastikan anaknya di terima oleh Raja Gilbert, kedua pasutri itu melambaikan tangan pada Meisya, perlahan keluar dari kerajaan serigala.
Lantai yang mereka lewati penuh dengan bercak darah, terlihat mereka sangat terluka parah dan sekarat. Eros hanya menatap kedua pasutri vampir itu yang pergi meninggalkan seorang putri.
Sampai Meisya kecil berubah menjadi dewasa kedua pasutri itu tidak pernah kembali.
*Flashback selesai*
Eros tersadar dari lamunan masa lalu, ia dengan pelan meletakkan bubur dan susu di samping ranjang Meisya, tanpa ketahuan. Lalu keluar dari sana.
***
Meisya terbangun setelah ketiduran, ia tertidur karena kelelahan menangis. Saat ia menoleh ternyata sudah ada bubur dan susu di sampingnya, lalu ia meraihnya.
"Susunya sudah dingin," batin Meisya.
Mengerti bahwa itu pasti dari Eros, dengan mata yang sembab ia keluar dari kamar. Perasaannya sekarang sudah jauh lebih baik setelah kejadian tadi.
"Terima kasih," ucap Meisya.
Eros yang sedang mengasah pedang peninggalan Ayahnya, ia langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Sama-sama," jawab Eros singkat.
"Maaf, atas ketidak sopananku tadi," ucap Meisya tertunduk.
"Aku juga," jawab Eros.
Eros perlahan maju menghampiri Meisya dan mengelus kepalanya. Untuk pertama kalinya Eros memperlakukan Meisya dengan lembut.
"Lihat! aku sudah mengasah pedang kesayanganku," tunjuk Eros.
"Untuk apa?" tanya Meisya. Karena selama ini ia tidak pernah melihat Eros menggunakan pedang peninggalan Ayahnya itu.
"Akan ku tebas kepala orang yang berani menyentuhmu," jawab Eros.
"Anda tidak perlu sampai segitunya, Pangeran," ucap Meisya.
"Tentu saja, karena kau adalah amanat Ayahku, yang harus ku jaga," jawab Eros.
Perasaan Meisya seperti terbang melayang di atas angin. Untuk pertama kalinya Eros menghargai keberadaannya.
"Rasanya seperti mimpi," batin Meisya.
***
Di Istana Noble The Castle
Celio masuk ke ruangan Haidar, dengan tidak sopan ia menggebrak meja Haidar.
"Kenapa kau tidak memberitahuku dari awal!" ucap Celio dengan emosi menggebu.
"Apa itu?" tanya Haidar.
"Kenapa kau tidak pernah mengatakan padaku jika Belliana hidup dalam diri gadis yang aku cintai semasa hidup!" jawab Celio.
"Dengar Celio, apa kau tidak membaca isi kontrak sebelum aku membangkitkanmu?" tanya Haidar.
"Isi kontrak apa yang kau maksut, aku tidak mengerti!" jawab Celio.
Haidar mengangkat jari telunjuknya, laci lemari terbuka dengan sendirinya. Lalu secarik kertas terbang ke arah meja Haidar, lalu di raih olehnya.
Terlihat kertas dengan cap jempol darah yang bertuliskan nama Adam Volker.
"Di kontrak ini, tertulis perjanjian, setelah aku membangkitkan mu, kau tidak bisa menggabungkan urusan kehidupan sebelumnya dengan kehidupanmu yang sekarang, dan kau harus mengutamakan kepentingan Demon Empire di banding urusan pribadimu," ucap Haidar.
"Aku sudah menepatinya, setelah aku bangkit, aku tidak pernah menemuinya, bahkan aku juga tidak pernah terjun ke dunia manusia," jawab Celio.
"Tapi aku tidak terima, bila Belliana yang selama ini di targetkan oleh Demon Empire adalah Vladine, kekasihku saat remaja, oh tidak, bahkan aku belum sempat mengutarakan perasaanku padanya!" sambung Celio.
Haidar berdiri menghampiri Celio, untuk pertama kalinya ia mendengar anak itu mengeluh, karena selama ini Celio tidak pernah mengutarakan isi pikirannya pada siapapun.
"Aku sangat mengerti perasaanmu, tapi aku tidak bisa mentolerir nya," ucap Haidar menepuk pundak Celio.
Setelah mengatakan itu Haidar menghilang, ia juga tidak tau bagaimana menghadapi Celio yang sedang patah hati berat.
Setelah sekian lama ia berusaha melupakan. Namun sekarang gadis itu ada di depan matanya, dan akan tinggal bersamanya dalam satu atap.
Celio menggigit bibir bawahnya, dengan emosi berlari ke arah cermin, lalu meninjunya, ia mengepalkan tangannya yang penuh dengan darah.
"Kalau seperti ini, bagaimana aku bisa melupakannya, brengsek," batin Celio.
Celio pergi meninggalkan ruangan Haidar dengan pecahan kaca yang berserakan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments