Beberapa murid sedang berkumpul di lapangan, mereka baru selesai ikut penyeleksian peserta lomba lari.
Vladine meluruskan kakinya yang terasa letih setelah berlari. Ia melepas sepatunya dan meletakkannya di samping. Sepatu berwarna biru putih itu terlihat sangat lusuh dan robek.
Semua gerak-gerik Vladine sedari tadi diperhatikan oleh Kate, Kate merasa kesal karena ia gagal, sementara Vladine lolos.
"Sekolah elit, sepatu sulit, ups.." ejek Kate.
Setelah mengejek, Kate membungkam mulutnya, lalu tertawa bersama gengnya dan melirik ke arah Vladine.
Vladine yang merasa di hina, ia hanya diam dan tersenyum tipis.
"Makanya sekolah itu sesuai kemampuan dan isi dompet!" bentak Kate.
Kali ini Kate dan gengnya berdiri dan berjalan menghampiri Vladine.
Vladine yang sudah tak tahan, akhirnya ikut berdiri dan menatap tajam ke arah Kate.
"Saya ada di sini karena otak saya mampu! Daripada kalian dompet tebal tapi isi otak tidak ada," jawab Vladine melotot.
"Jaga mulutmu ya!" kecam Kate mendorong Vladine.
"Apa!" Bentak Vladine mendorong balik.
"Ayo beri dia pelajaran, Kate," ucap salah satu anggota gengnya.
"Kalian pikir saya takut," jawab Vladine.
"Kurang ajar!" ucap Kate
Kate langsung maju dan menjambak rambut Vladine, Vladine pun tidak tinggal diam, dia menjambak balik rambut Kate.
"Rasakan ini," ucap Kate ngos-ngosan.
Mereka semakin mundur membuat Vladine terpojok, Vladine yang sudah kehilangan kesabaran akhirnya menemukan titik lemah kate dan membantingnya ke tanah.
"Bruk.. Akh!" Kate menjerit.
Vladine tersenyum puas setelah berhasil mengalahkan Kate.
"Cukup, hentikan!" suara teriakan guru.
Seorang guru dan satpam berlari dan menghampiri mereka.
"Apa-apaan ini, Vladine!" bentak guru.
Setelah membantu Kate berdiri dan memapahnya, guru itu menatap tajam ke arah Vladine.
"Dia duluan yang menyerang saya, Bu!" ucap Vladine membela diri.
"Tidak, Bu, saya tidak tau apa salah saya, tiba-tiba dia menjambak saya dan membanting saya ke tanah," sanggah Kate.
"Ya, benar itu, Bu," teman Kate memberi kesaksian palsu.
Kate memainkan drama, ia pura-pura menangis dan tidak berdaya di hadapan guru. Serta teman gengnya yang menyudutkan Vladine, membuat guru menyalahkan Vladine atas kejadian ini.
"Dengar Vladine, jika kejadian ini terulang kembali, saya tidak akan segan-segan membuat kamu kehilangan biaya siswa!" bentak guru.
Vladine yang mendengar itu hanya diam dan tersenyum kecut.
"Orang tua Kate adalah salah satu donatur terbesar di sekolah ini, jadi.." ucapan guru terputus saat Vladine mengamuk.
"Jadi karena orang tuanya donatur, dia bisa memperlakukan saya seenaknya? Begitukah maksud Ibu!" bentak Vladine.
Ia berusaha membendung air matanya, terasa sesak sekali diperlakukan semena-mena. Rasanya ia ingin sekali memberontak.
"Berani-beraninya ya kamu membentak saya, sekarang berdiri hormat ke bendera sampai bunyi bel pulang!" bentak guru itu.
Guru itu pergi bersama Kate dan para gengnya. Sebelum pergi, Kate memalingkan wajahnya ke belakang dan menjulurkan lidah ke arahnya.
Emosi Vladine memuncak, tapi kali ini ia berusaha untuk mengontrolnya. Karena kalau tidak, bisa jadi ia benar-benar akan kehilangan biaya siswanya.
Vladine pasrah. Di bawah terik matahari, ia berdiri hormat menghadap tiang bendera. Sebenarnya ia saat ini ia sudah merasa lelah dan lemas.
"Jadi seperti ini orang miskin diperlakukan," gumam Vladine.
Vladine menggigit bibir bawahnya, mencengkram kuat ujung bajunya. Ia telah berusaha sekuat tenaga agar tidak menangis, tapi pada akhirnya, air matanya tetap turun begitu saja.
Ia sudah terbiasa sendirian, hidup dengan ketidak adilan, tiada seorangpun yang bisa membelanya. Namun entah kenapa kali ini rasanya begitu sakit dari sebelumnya.
***
"Treng.. treng.. treng.." suara bel pulang.
Semua murid berhamburan keluar kelas. Kelas Eros ada di lantai 2, dari atas Eros bisa melihat jelas pemandangan yang ada di bawah.
"Sedang apa dia di sana?" batin Eros.
Melihat Vladine yang sudah pucat dan gemetar di lapangan, ia segera menuruni tangga untuk menghampiri gadis itu.
Vladine sudah tidak kuat lagi, pandangannya kabur, lalu ia pingsan, tepat ia akan ambruk, Eros telah menangkapnya.
"Vladine, bangun!" ucap Eros menepuk pipinya.
Melihat Vladine yang tidak sadarkan diri, Eros langsung menggendongnya dan mengantarnya pulang.
***
Aiden sedang baring di atas sofa milik Vladine. Ia terus menatap jam dinding.
"Lama sekali, seharusnya dia sudah pulang dari tadi," gerutu Aiden.
Tiba-tiba Aiden merasakan hawa yang mencekam, ia berusaha menghirup aroma itu dalam-dalam.
"Wiki family," batin Aiden.
Aiden langsung terperanjat, dan segera mengintip di balik jendela. Ia melihat saat ini Vladine sedang digendong oleh seorang pria.
Yang lebih membuatnya kaget, pria itu adalah Eros, calon Raja Serigala di Imperial Stone.
"Apa yang terjadi padanya, mengapa dia bersama serigala sialan itu, dan seragam sekolah mereka juga sama," batin Aiden bertanya-tanya.
Dengan ekspresi dingin, Aiden ingin sekali merebut Vladine dari gendongan Eros, entah mengapa melihat Vladine digendong oleh pria lain membuat ia merasa cemburu.
Namun Aiden sadar, ia tidak bisa mengambil keputusan dengan gegabah, kali ini dia harus sembunyi agar tidak ada yang menyadari bahwa dia sudah mengetahui tempat Belliana di sembunyikan oleh Vallen.
Ia hanya dapat bersembunyi di loteng dan mengintip semuanya lewat celah.
Eros membuka pintu, sepintas ia ragu ingin merebahkan Vladine di kamar atau di sofa, tapi akhirnya ia memilih merebahkan Vladine di sofa.
"Bagus, akan kubunuh kau jika berani masuk ke kamarnya," batin Aiden.
Eros melangkah ke dapur mengambil segelas air minum. Lalu menaruhnya di atas meja, sembari menunggu Vladine sadar, Eros membelai pipi Vladine.
"Sempurna," gumam Eros.
"Singkirkan tanganmu dari wajahnya, sialan," batin Aiden.
Jantung Aiden menggebu, perasaannya tidak terima jika Vladine di dekati oleh pria lain.
"Hm.." ucap Vladine lirih.
Tidak butuh waktu lama, akhirnya Vladine tersadar, ia membuka matanya perlahan. Badannya terlihat sangat lemas.
Eros meraih punggungnya dan membantunya duduk, menyodorkan segelas air minum.
"Terima kasih," ucap Vladine.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu?" tanya Eros khawatir.
"Kate menghinaku dan menjambakku, lalu aku membalasnya, tapi pada akhirnya hanya aku sendiri yang dihukum oleh guru," jawab Vladine.
Dengan iba, Eros menatap wajah Vladine yang lemah, menyedihkan dan tidak berdaya, ia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga wanita yang dia cintai dengan baik.
Eros langsung memeluknya. Vladine menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Eros. Membenamkan rasa sakit hatinya dalam dalam dan membuangnya dalam dekapan Eros.
Aiden menggertakan gigi, melihat kejadian itu wajahnya memerah, ia sangat marah kali ini.
"Lihat saja gadis kecil, aku akan menghukummu, karena kau berani memeluk pria lain," batin Aiden.
Setelah perasaannya tenang, Vladine meraih kalung di saku bajunya dan meletakkannya di atas meja.
"Hampir saja aku melupakan ini," ucap Vladine.
Raut wajah Eros langsung berubah, lelaki itu tampak terkejut melihat benda itu. Eros sangat tau asal usul kalung itu. Hanya vampir berdarah murni alias keturunan katharos yang memilikinya.
"Dari mana kamu mendapatkan kalung itu?" tanya Eros.
"Aku tidak tahu, tadi pagi aku menemukannya di tumpukan bukuku," jawab Vladine.
Vladine menyandingkan kalung itu dengan kalung miliknya.
"Entah kenapa kalung ini sangat mirip dengan kalungku, tapi mungkin hanya sebuah kebetulan," ucap Vladine.
"Coba ingat-ingat kembali, hari ini kau bertemu dengan siapa?" tanya Eros.
"Ah iya, aku ingat, tadi pagi aku menabrak seorang pria saat aku berangkat sekolah," jawab Vladine.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments
will
mantap .
2023-11-22
1
kok gak up lagi ka? lanjut dong
please......, 🥰🥰🥰
2023-01-25
3