Meisya sedang berdiri di depan cermin. Ia sedang sibuk memilih gaun yang telah di siapkan Eros untuk ia pakai di perjamuan nanti malam.
"Bagaimana ini, sudah berapa hari tanda kissmark ini tidak mau hilang," gumam Meisya.
Ia panik, karena semua gaun yang di pilihkan oleh Eros memperlihatkan leher jenjangnya. Sedangkan saat ini lehernya di penuhi oleh tanda kissmark dari Justin.
Dengan terpaksa Meisya menutupi lehernya menggunakan Syal bulu, agar tidak ada yang curiga padanya.
Meisya turun ke aula. Kini aula sudah di padati para tamu undangan. Perjamuan ini di adakan untuk mengumumkan hari penobatan Eros menjadi Raja Serigala.
"Selamat malam," sapa Meisya membungkuk.
Meisya menghampiri Eros yang sedang berkumpul dengan para anggota penting serigala. Sudah menjadi tugas Meisya untuk selalu berada di dekat Eros.
"Nona Meisya, kau sangat cantik," ucap seorang anggota.
"Aku rasa pusat perhatian malam ini akan tertuju padamu," imbuh anggota yang lain.
"Terima kasih, Tuan," jawab Meisya sopan.
"Kalau begitu nikmatilah pestanya, kami permisi," ucap Eros menggandeng Meisya.
"Baik, Pangeran," jawab para anggota.
Eros menarik Meisya ke tepi aula.
"Apa kau meriang?" tanya Eros.
"Tidak, Pangeran," jawab Meisya.
"Lalu kenapa kau memakai syal bulu yang sangat tebal?" tanya Eros.
"Saya.." ucapan Meisya terpotong.
"Kau lebih menawan tanpa syal ini," ucap Eros.
Eros langsung menarik syal yang melilit leher Meisya. Begitu syal lepas, Meisya dengan spontan menutupi lehernya dengan tangan. Sikapnya membuat Eros curiga.
"Kenapa lehermu?" tanya Eros.
Meisya bingung harus menjawab apa, jantungnya berdegup kencang, ia takut Eros akan marah besar padanya.
"Lepaskan tanganmu, saya mau lihat!" titah Eros.
Untuk pertama kali Meisya mengabaikan perintahnya dan tidak menjawab ucapannya. Hal itu membuat Eros kehilangan kesabaran.
Eros langsung menarik tangan Meisya dengan paksa. Betapa terkejutnya Eros melihat leher meisya penuh dengan bekas kissmark.
"Apa ini, Meisya!" bentak Eros.
Meisya hanya diam dan gemetar. Ia sangat malu dan takut menghadapi Eros dengan keadaan yang seperti ini.
Instrumen piano berhenti, semua orang sedang menatap ke arah mereka. Beberapa orang menatap Meisya dengan tatapan nanar.
"Katakan siapa yang melakukan ini padamu!" bentak Eros.
Meisya tidak menjawab, ia hanya bisa menunduk dan menangis. Tidak bisa membela dirinya sendiri di depan pewaris tahta dan di depan semua tamu undangan.
"Baiklah, kalau kau tidak mau memberi tahuku, aku akan mencari tahunya sendiri," ucap Eros menekan lehernya.
Hanya dengan menyentuh, Eros bisa tahu apa yang terjadi pada Meisya. Ia pun juga tau siapa pelaku yang telah melecehkannya.
Dengan marah Eros menarik Meisya keluar di depan semua orang. Dengan sekejap mata mereka berdua telah sampai di depan istana Noble The Castle, kerajaan para katharos.
"Ampuni aku, Pangeran. Tolong hentikan," pinta Meisya.
Meisya tidak mau masuk, tidak ada pilihan lain Eros menyeretnya secara paksa. Air mata Meisya bersatu dengan guyuran hujan.
"Keluar kalian, sialan!" Teriak Eros dari teras.
Eros berusaha menerobos masuk. Saat pengawal ingin menyerang mereka, Vallen mencegahnya.
"Biarkan mereka masuk!" ucap Vallen.
Dengan keadaan basah kuyup dan emosi yang menggebu, Eros masuk menyeret Meisya dan menghempaskannya ke hadapan Vallen.
"Lihat apa yang di lakukan saudaramu padanya!" bentak Eros.
Melihat keadaan meisya yang sangat memperihatinkan, Vallen mengangkat dagunya. Ia melihat dengan jelas banyak tanda kissmark di lehernya.
"Siapa yang melakukan ini padanya?" tanya Vallen.
"Saya, Pangeran," jawab Justin.
Dengan berani Justin melangkah maju dan mengakuinya. Deon membulatkan mata, ia terkejut. Ia masih tak menyangka bahwa Justin akan melakukan sesuatu yang di luar nalar.
"Saya tidak pernah mengizinkan siapapun untuk menyentuhnya, menciumnya, apa lagi berbuat seperti ini padanya!" bentak Eros.
"Tapi saya menginginkannya," ucap Justin dengan santai.
Mendengar jawaban Justin membuat Meisya kaget dan mengangkat kepalanya, ia menatap pria yang telah menyebabkannya dalam masalah besar.
Eros menggertakan gigi, mengepalkan tangannya, bersiap untuk menghajar Justin. Tapi kakinya di tahan oleh Meisya.
"Tolong hentikan!" pinta Meisya terisak.
"Apa kau telah jatuh cinta padanya?" tanya Eros penasaran.
Melihat Meisya yang langsung terdiam dan tertunduk, Eros langsung mengetahui jawabannya.
"Dengar Meisya, selain kau harus setia padaku, kau juga harus tetap suci, tidak ada seorangpun yang boleh menyentuhmu, lihat bercak di lehermu, kau seperti wanita yang kotor!" bentak Eros di hadapan semua orang.
Eros seperti kehilangan kendali, ia tidak pernah merasa semarah ini. Ia sangat tidak terima bila Meisya jatuh cinta dan di sentuh oleh orang lain selain dirinya.
Mendengar ucapan Eros, membuat Meisya sakit hati, ia berusaha untuk berdiri, dan menatap lekat Eros.
"Jadi seperti itu kah aku di matamu, apa kau pikir aku menikmatinya, apa kau pikir aku yang menginginkannya!" jawab Meisya.
"Kau sangat tidak sopan," ucap Eros.
"Selama ini aku setia padamu, selalu melaksanakan perintahmu, namun tetap saja kau menganggap ku seperti binatang peliharaan! Kau menyeret ku di depan semua orang, membuat semua orang tau apa yang terjadi padaku, apakah aku juga tidak boleh memiliki harga diri!" bentak Meisya dengan suara bergetar.
Hati Meisya terasa lega, untuk pertama kalinya ia berani membela diri, untuk pertama kali dalam hidupnya ia membantah Eros.
Eros hanya terdiam, ia merasa bersalah. Yang di katakan Meisya ada benarnya, tidak seharusnya ia mempermalukan Meisya di depan semua orang.
Justin berjongkok menghampiri Meisya. Lagi-lagi ia melepas jasnya untuk menutupi tubuh Meisya yang basah kuyup.
Tadi Eros hanya melihat bekasnya, kali ini ia melihat kemesraan itu tepat di depan matanya. Eros merasa cemburu melihat Meisya di dekati oleh pria lain. Karena selama ini Meisya hanya patuh dan dekat dengannya.
Merasa panas dan tak tahan, Eros perlahan pergi dari sana dan meninggalkan Meisya sendiri berhadapan dengan para katharos. Tapi sebelum pergi Eros masih sempat untuk menoleh kebelakang.
"Aku menunggumu pulang," ucap Eros melirik Meisya, lalu pergi.
Meisya tidak menjawab, ia hanya menatap Eros dengan tatapan benci yang tidak bisa ia utarakan.
"Aku menunggumu dari dulu, berusaha sesabar mungkin menghadapi mu, menjadi seperti yang kau mau, tapi kau tidak pernah melihatku, Eros," batin Meisya.
Ia terisak di depan Justin, menumpahkan semua rasa sakit dan perjuangan yang tidak pernah di hargai.
"Maaf, karena aku kau jadi seperti ini," ucap Justin.
Justin membelai rambut Meisya, ia merasa sangat bersalah karena ulahnya menyebabkan Meisya di marahi Eros.
"Bahkan saat ia menangis, ia tetap cantik," batin Justin terpesona.
"Jangan sentuh aku," ucap Meisya menepis tangan Justin.
Meskipun Meisya sedang marah pada Eros, ia tetap mengingat perintahnya untuk tidak di sentuh oleh siapapun, walaupun sebenarnya hatinya meleleh karena sikap Justin padanya.
Meisya berjalan hendak pergi dari istana Noble The Castle. Namun tangannya di cekal oleh Justin.
"Kalau begitu, izinkan aku mengantarmu," pinta Justin.
"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri," tolak Meisya.
Sepanjang perjalanan Justin mengikuti Meisya dari belakang, memastikan bahwa gadis itu sampai di Imperial Stone dengan selamat.
Sekembalinya Justin di istana noble, ternyata Vallen sudah menunggunya di atas tangga.
Vallen menyadari bahwa saudaranya sedang jatuh cinta, namun ia segera memperingatkan adiknya itu.
"Serigala dan vampir selamanya tidak akan pernah bisa bersatu, sebaiknya kau berhenti sebelum kau terluka," ucap Vallen.
Justin tidak menghiraukannya, ia melewati Vallen secepat hembusan angin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments