Terlihat beberapa pedagang sedang menyiapkan barang dagangannya.
Aiden mendongakkan kepalanya ke atas, dahinya sedikit mengkerut karena cahaya matahari yang silau. Ia takjub melihat wahana biang lala yang menjulang tinggi ke langit.
"Benda ini, mengingatkanku pada sesuatu," batin Aiden.
Wajahnya berubah sedih dan muram, lalu ia melangkahkan kakinya pergi dari sana.
Belum berapa jauh ia melangkah, ia melihat di depannya ada Vladine yang sedang jongkok di pinggir jalan. Jarak mereka hanya beberapa meter saja.
"Sedang apa gadis bodoh itu," batin Aiden.
Saat ini Vladine sedang mengajak bermain seekor kucing. Ia tertawa sambil mengelus kepala dan menggelitik perut kucing itu.
"Oh iya, aku masih menyimpan satu potong ayam goreng dari Eros," gumam Vladine.
Dia pun melepas tas sekolahnya, mengambil ayam goreng yang ia bungkus dengan kertas, lalu ia berikan kepada kucing itu.
Dengan rakus kucing itu menyambar sepotong ayam goreng yang diberikan oleh Vladine.
"Pelan-pelan, tidak ada yang mau mencuri jatahmu," ucap Vladine gemas, ia mengelus kepala kucing itu.
"Melihat kebaikan dan kelembutanmu, membuatku ragu bahwa kau adalah Belliana," batin Aiden.
Vladine berdiri dan hendak membawa kucing itu pulang. Namun saat ia menoleh ke belakang ia melihat Aiden mematung di belakangnya.
"Aiden, sejak kapan kau ada di sana?" tanya Vladine.
"Barusan," jawab singkat Aiden.
Saat Aiden mendekat, tiba-tiba kucing yang di gendong Vladine meronta dan meraung.
"Rrrrrrr.. meooouuooong.." suara raungan kucing.
"Sepertinya kucing ini takut padamu," ucap Vladine.
Kucing itu terus meraung dan menatap benci Aiden. Mungkin insting kucing kuat dan mengetahui bahwa Aiden bukanlah manusia.
"Dasar kucing aneh," hardik Aiden.
"Coba elus kepalanya, agar dia terbiasa denganmu," pinta Vladine.
Saat Vladine menyodorkan kucing itu ke Aiden tiba-tiba kucing itu loncat dan mencakar tangan Aiden. Meninggalkan bekas cakaran yang panjang dan dalam.
"Akh.. kucing sialan," umpat Aiden.
Lalu kucing itu langsung lari, kabur meninggalkan mereka. Tetesan darah mengalir di tangan Aiden.
"Aiden!" Vladien terkejut.
Ia langsung mengambil sapu tangan di balik saku roknya dan menyeka luka di tangan Aiden.
"Ayo kita pulang, agar aku bisa mengobati lukamu di rumah," ucap Vladine.
"Ini semua salahmu, jadi kau harus bertanggung jawab," jawab Aiden.
"Iya, aku tau," Vladine merasa bersalah.
Di tengah perjalanan Aiden menoleh ke arah Vladine.
"Sebenarnya ini tidak sakit, namun agar bisa terus di sampingmu, aku harus berpura-pura menderita," batin Aiden.
Setelah lumayan lama berjalan, mereka pun sampai di rumah Vladine dan duduk di sofa.
"Tunggu sebentar," pinta Vladine.
Ia mengambil sebaskom air, kain, dan obat merah. Lalu ia membasuh darah di tangan Aiden dan mengobatinya.
"Maafkan aku, kau sampai di cakar seperti ini," ucap Vladine.
"Baiklah, tapi ada syaratnya," jawab Aiden.
"Apa syaratnya?" tanya Vladine.
"Sebagai kompensasi, kau harus menemaniku pergi ke karnaval malam ini," jelas Aiden.
"Tapi malam ini aku harus kerja," Vladine bimbang.
"Yasudah, jangan harap aku maafkan!" ancam Aiden.
"Baiklah, aku akan ikut," Vladine pasrah.
Mendengar jawaban Vladine membuat Aiden menyeringai puas.
"Kau sudah makan?" tanya Aiden.
"Sudah tadi di sekolah, seseorang memberiku ayam goreng sepiring tanpa nasi," jawab Vladine.
"Apakah dia laki-laki?" Aiden penasaran.
"Iya, dia sangat menyebalkan tapi cukup baik," jawab Vladine.
"Lain kali jangan menerima apapun pemberian dari pria, bodoh!" tegas Aiden.
Vladine menatap heran ke Aiden, entah mengapa Aiden terlihat marah.
"Aku akan kelaparan jika menuruti perkataanmu, kau juga tahu aku tidak memiliki uang untuk membeli makanan enak di kantin," jawab Vladine.
Aiden tertegun, ia tersadar bahwa hidup Vladine sangat pas-pasan.
"Besok aku harus membuatkan bekal untuknya, agar dia tidak menerima apapun dari laki-laki lain," batin Aiden.
"Aku lelah sekali, aku mau tidur siang, awas jika kau masuk dalam kamarku!" Tekan Vladine.
"Blam!" suara pintu kamar Vladine di tutup.
"Aku harus mengunci pintu kamarku, aku tidak boleh tertipu oleh kepolosan wajahnya," batin Vladine.
Mendengar batin Vladine membuat Aiden terkekeh.
"Siapa juga yang mau sama gadis berdada rata sepertimu," teriak Aiden.
"Tutup mulut kotormu, Aiden!" balas Vladine.
Tak terasa jam telah menunjukan pukul 17:00, sebentar lagi matahari akan terbenam. Vladine pun terbangun dari tidurnya.
Ia keluar dari kamar, mencari keberadaan Aiden. Namun ia tak melihat ada Aiden di sana.
"Dimana dia?" batin Vladine.
Vladine menuju kamar mandi di belakang rumahnya. Ia terkesan semua gentong air telah di isi penuh.
"Apakah dia yang melakukan semua ini?" gumam Vladine.
Tanpa pikir panjang Vladine langsung mandi. Lalu ia menyibukkan diri dengan membersihkan rumah.
Ia terus melihat jam di dinding, matahari sudah terbenam namun ia tak kunjung melihat Aiden.
"Aneh sekali, kenapa aku jadi mencemaskannya?" batin Vladine heran.
"Tok.. tok.. tok.." suara ketukan pintu.
Vladine buru-buru membuka pintu. Terlihat Aiden menenteng banyak kantung plastik berisikan bahan makanan.
"Apa kau menungguku dari tadi?" tanya Aiden.
"Tidak, kau dari mana saja?" jawab Vladine berbohong, namun raut wajahnya jelas menunjukan bahwa ia khawatir.
"Aku belanja keperluan kita," terang Aiden.
"Kau mendapatkan uang sebanyak itu dari mana?" tanya Vladine penasaran.
"Apa kau kira aku ini miskin sepertimu," jawab ketus Aiden.
"Ayo masuk ke dalam," ajak Vladine.
Setelah masuk, Aiden meletakkan barang belanjanya di atas meja.
"Aku juga membelikan makanan jadi untukmu, makanlah," ucap Aiden.
"Terima kasih, Aiden," jawab Vladine tersenyum
"Yasudah, aku mandi dulu, sebentar lagi kita akan pergi ke karnaval," ucap Aiden.
"Baiklah," jawab Vladine.
***
Lapangan terlihat sangat ramai, di padati oleh warga yang berkunjung ke karnaval. Kerlap-kerlip lampu hias melengkapi riuhnya acara malam ini. Tak sedikit juga pedagang yang menjajakan barang dagangannya.
"Huft.. ahirnya kita sampai" ucap Vladine.
Saat ini Vladine dan Aiden sudah sampai di gerbang masuk karnaval. Mereka pun masuk dan berkeliling menikmati acara.
Di tengah jalan, tiba-tiba Vladine berhenti, dan ia menatap Aiden.
"Ada apa?" tanya Aiden.
Vladine tidak menjawab, ia hanya menunjukan jarinya ke salah satu wahana.
"Kau ingin naik itu?" tanya Aiden.
"Iya, dari dulu aku selalu penasaran bagaimana rasanya," jawab Vladine.
"Baiklah, tunggu disini, aku akan beli karcis," ucap Aiden.
Setelah mengantri cukup lama, ahirnya Aiden kembali dengan membawa 2 karcis masuk.
"Ayo kita ke sana," ajak Aiden.
"Kau serius, hyaa aku terlalu bersemangat untuk ini," jawab Vladine antusias.
"Tentu saja," jawab Aiden.
Vladine terlihat sangat senang dan bersemangat. Saat sedang berada di puncaknya, mesin di matikan sejenak. Mereka dapat melihat pemandangan yang sempurna dari atas sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments
will
.
2023-11-22
1
will
mantap
2023-11-22
1