Vladine perlahan membuka mata, berusaha mengumpulkan kesadarannya di bawah silaunya lampu. Pandangannya tertuju pada langit plafon yang mewah.
"Tunggu, ini.. ini bukan kamarku!" batin Vladine.
"Kau sudah sadar?" tanya Aiden.
Mendengar suara Aiden, Vladine langsung tercekat, ia kaget bukan main.
"Jangan mendekat!" bentak Vladine, ia perlahan mundur.
Terlihat Aiden sedang berdiri di samping ranjangnya, mata merahnya menatap Vladine dengan dingin.
"Siapa kalian sebenarnya, dan di mana aku?" tanya Vladine ketakutan.
"Kau sedang berada di Demon Empire, kami semua adalah vampir penghuni istana ini," jawab Aiden dingin.
Vladine berusaha untuk tetap tenang, ia mengingat kembali semua yang telah terjadi padanya.
"Mungkinkah aku sudah mati, karena terjatuh dari gedung tadi," gumam Vladine.
"Bodoh, kau belum mati! aku yang membawamu kemari," jawab Vladine.
"Tapi, kenapa kau membawaku ke tempat yang seperti ini?" tanya Vladine.
Aiden menghilang, dan tiba-tiba saat ini ia sudah berada di belakang Vladine. Mendekatkan wajahnya ke telinga gadis itu.
"Agar aku mudah menghisap darahmu sampai puas," bisik Aiden lirih.
Lagi-lagi Vladine terperangkap dalam dekapan Aiden. Pria itu menancapkan kembali taringnya ke leher Vladine.
"Ah.." Pekik Vladine, matanya terpejam, menahan rasa sakit.
Luka bekas tadi belum mengering, kini Aiden menanamkan kembali, namun tidak sekuat hisapan yang tadi.
Vladine menggigit tangan Aiden, lalu berbalik menendang burungnya, hingga Aiden merasa kesakitan.
"Ugh, sialan, berani-beraninya kau.." pekik Aiden.
Vladine tidak perduli, dengan cepat ia segera lari keluar dari kamar. Istana itu begitu luas dan rumit, ia bingung harus lewat mana. Hingga tidak sengaja memasuki lorong rahasia. Lorong itu sangat gelap tidak dapat di tembus oleh cahaya matahari, hanya di sinari beberapa obor yang menempel di dinding.
Di depan matanya saat ini terdapat puluhan pintu warna hijau. Dan hanya ada 1 pintu berwarna merah di ujung lorong.
"Gawat, jalan ini buntu," batin Vladine.
Vladine memutar arah ingin kembali, namun saat ia memutar badannya, sudah ada seorang pria asing yang berdiri tepat di depannya.
"Selamat datang, Vladine," ucap Edwin menyeringai.
"Si.. siapa kau?" tanya Vladine ketakutan.
"Panggil saja aku Edwin," jawab Edwin sambil memamerkan taringnya.
Melihat Edwin yang tersenyum buas membuat Vladine takut setengah mati, dan melangkah mundur. Namun semakin Vladine mundur, pria itu terus melangkah maju.
"Mau lari kemana," ucap Edwin tersenyum licik.
Edwin tidak sabar lagi, Vladine saat ini hanyalah seekor kelinci kecil baginya. Darahnya sangat pas untuk menghilangkan rasa dahaganya.
"Bugh.." Vladine tergelincir serpihan kerikil, hingga terjatuh, membuatnya terpaksa ngesot sambil mundur. Keringatnya mengalir deras, lututnya gemetar, kali ini rasa takut telah menguasai dirinya sepenuhnya.
"A.. apa yang kau inginkan," tanya Vladine.
Tiba-tiba Vladine merasa mentok, tidak bisa mundur lagi, seakan tubuhnya sedang di halangi oleh sesuatu. Padahal seingatnya lorong itu masih jauh dari ujungnya.
Saat Vladine mendongakkan kepalanya untuk melihat ke atas, ia melihat Aiden sedang berdiri di belakangnya, menatap wajah Vladine dengan mata melotot, kali ini Aiden benar-benar marah.
"Aaaa!!!" teriak Vladine kaget.
"Kau memang harus kuberi pelajaran, Vladine," ucap Aiden.
Gadis itu panik, di depan dan di belakangnya saat ini ada Aiden dan Edwin, keduanya adalah Vampir berdarah dingin.
Tanpa basa-basi, Edwin merangkak dan menyibak Rok sekolah milik Vladine. Lalu mengusap lembut paha gadis itu. Dan menancapkan taringnya dengan kasar.
"Akh!" pekik Vladine. Ia merasakan taring Edwin menusuk pahanya sangat dalam.
Belum selesai Edwin, kini Aiden juga mengusap wajah Vladine, dan menancapkan kembali taringnya di tempat vavoritnya, yaitu leher.
Vladine hanya bisa menggigit bibir bawahnya dan menangis, menahan rasa sakit yang dobel. Tubuhnya dihisap oleh 2 pria secara bersamaan.
Sekilas, ia melihat Celio sedang menatap mereka. Vladine sempat melambaikan tangan meminta bantuan, berharap Celio akan membantunya. Namun pria itu tidak perduli lalu pergi.
Merasa tubuh Vladine melemas, Aiden dan Edwin menghentikan kegiatan mereka. Memberi kesempatan untuk Vladine istirahat.
Edwin menyeka darah yang belepotan di bibirnya, ia terlalu rakus untuk menikmati darah Vladine.
"Rasa terbaik dari yang pernah ada," ucap Edwin menyeringai puas.
"Selanjutnya kau awasi dia, aku memiliki sesuatu yang harus ku kerjakan," titah Aiden.
"Baiklah, serahkan saja padaku," jawab Edwin.
Setelah mengatakan itu, Aiden menghilang. Lalu Edwin menggendong Vladine ala bridgestyle untuk kembali ke kamarnya.
Dengan kasar Edwin menghempaskan Vladine ke kasur.
"Dengar! Tetaplah disini, jangan membuat Aiden marah!" ucap Edwin.
Setelah itu, Edwin keluar dan mengunci pintu. Meninggalkan Vladine sendirian di sana.
"Aku hampir mati di dorong pria misterius, lalu sekarang aku harus siap mati di dalam kandang vampir" batin Vladine.
"Aku tidak bisa berdiam diri, aku harus keluar dari tempat yang mengerikan ini," batin Vladine.
Vladine mengusap air matanya, menatap ke sekeliling ruangan itu, sampai ia menemukan jendela tanpa pembatas, alternatif yang sempurna untuknya kabur.
Ia segera menyusun guling di ranjang, dan menutupinya dengan selimut, untuk mengelabui mereka.
"Argh.." rintih Vladine.
Butuh tenaga yang ekstra untuk membuka jendela tua penuh debu itu. Setelah berhasil membuka jendela itu, Vladine menatap ke bawah.
"I.. ini terlalu tinggi," batin Vladine.
Vladine baru tau kalau ia dikurung di lantai paling atas.
Dengan penuh tekad dan semangat untuk hidup, Vladine harus melawan rasa takutnya, dengan hati-hati ia turun dari jendela dan menyusuri atap ubin.
Kedua tangannya terus meraba dinding, menjaga keseimbangan badannya. Jantungnya saat ini berdegup kencang.
"Aku harus tetap tenang, salah sedikit saja, bisa-bisa aku pindah alam," batin Vladine.
Saat ini Celio sedang duduk sendirian menikmati sepuntung rokok di taman. Semua yang dilakukan Vladine saat ini sudah dipantaunya dari tadi.
"Byurrrr…" suara dentuman air.
Dengan perhitungan yang tepat, Vladine berhasil loncat, menjatuhkan dirinya di air kolam renang.
Dengan gelagapan ia berusaha untuk menepikan diri, keluar dari dalam kolam.
"Hah.. hah.. akhirnya aku berhasil keluar dari sana," ucap Vladine ngos-ngosan.
"Kau dari dulu memang cerdik," batin Celio.
Celio menyunggingkan senyum di wajahnya, ia terikat kontrak hingga tidak bisa melakukan apapun yang merugikan Demon Empire. Termasuk membantu Vladine keluar dari sana.
"Pergilah, aku tidak rela melihat para bajingan itu memanfaatkanmu," batin Celio.
Perjuangan Vladine masih panjang, sejenak ia berhenti dan berpikir bagaimana caranya agar bisa melewati gerbang raksasa itu.
Tidak ada pilihan lain, ia harus memanjatnya.
"Aku pasti bisa, argh.. pagar ini tidak jauh beda dengan pagar sekolah, hanya saja ini lebih tinggi," gumam Vladine terengah-engah.
Bersama tenggelamnya matahari, Vladine berhasil memanjat keluar dari gerbang itu, ia langsung berlarian tanpa arah, ia tidak tau saat ini ia sedang mengarah ke hutan terlarang.
Dengan tenaga yang tersisa, Vladine berusaha lari sejauh mungkin. Hanya mengandalkan cahaya bulan untuk menyinari jalannya.
Vladine tidak takut dengan kemungkinan adanya binatang buas, ia lebih takut jika tetap berada di istana vampir itu.
Langkah kakinya semakin pelan. Rasa dingin, lelah, dan lapar mulai menyelimuti dirinya. Perlahan-lahan ia gontai, pengelihatannya menjadi kabur.
"Se.. dikit.. lagi.." gumamnya terbata-bata.
"Brugh!!" Vladine pingsan di tengah hutan belantara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments