"Saya berusaha sekeras ini, untuk membuat kalian bangga sama saya,
tapi apa gunanya semua ini jika disaat-saat seperti ini, saya tidak bisa merawat kalian?
Sesibuk apapun saya, saya lebih mengutamakan keluarga dari pada harta dunia!" ucap ku
"Sudah Lis! Kami semua minta maaf, karena tidak memberi tahu kamu sejak awal bapak sakit!"
"Ya sudah, Lisa juga minta maaf, karena tidak mengangkat telpon dari kalian kemarin!"
"Iya sekarang kita harus sama-sama mendoakan bapak biar bisa cepat sembuh!" ucap kak Arif
"Memang bagaimana awal mula sehingga bapak bisa sakit seperti ini?"
"Ya seperti biasa Lis! Bapak pamit ke sawah dan ke kebun, tapi baru tengah hari bapak sudah pulang,
Jadi ibu pun bertanya, kenapa bapak hari ini cepat pulang dan mukanya juga sangat pucat!
Bapak bilang hanya sakit kepala saja, istirahat sebentar juga sudah baik.
Besoknya bapak merasa sudah agak baikan, kemudian beliau pergi lagi di sawah,
tidak lama setelah itu, kakak kamu pun datang membawa bapak yang keadaannya sudah pingsang.
Sejak dari situlah bapak terus menerus bertambah parah sakitnya, sampai seperti ini kondisinya sekarang." ucap ibu
"Kenapa bapak tidak di bawah ke rumah sakit?"
"Sudah Lis! cuma katanya sakit biasa saja, jadi kami bawa pulang. Dan sampai sekarang pun bapak tidak mau lagi ke rumah sakit!"
"Eh iya? kamu datang dengan siapa Lis?"
"Oh iya saya lupa Bu! tadi saya datang dengan Indah dan kak Iqbal."
Ibu pun segera menemui mereka di ruang tamu,
"Maaf ya! ibu tidak tahu kalau Lisa pulang dengan kalian!"
"Tidak apa-apa Bi! ucap mereka
"Oh iya Indah masih di dalam di dekat bapaknya"
"Bisakah kami masuk bi? kami ingin melihat paman" ucap Indah
"Silahkan nak kalian masuk saja!"
Kemudian Indah dan kak Iqbal pun masuk ke dalam kamar untuk melihat bapak.
"Maaf ya paman kami baru bisa datang untuk menjenguk paman!" ucap Indah
Bapak hanya mengangguk, untuk membalas ucapan Indah.
"Maaf ya Ind! bapak tidak bisa berbicara besar jadi hanya mengangguk!"
"Tidak apa-apa kok Lis! saya faham dengan keadaan paman."
Setelah dua hari Indah pun pamit pulang, kami faham karena dia juga sangat sibuk di butik ya.
Kak Iqbal juga pamit pulang ke rumahnya yang hanya bersebelahan desa dengan kami.
Saya pun belum mau kembali ke kota, karena kondisi bapak yang semakin memprihatinkan.
******
Tidak terasa saya sudah 1 Minggu berada di sini, namun kondisi bapak terus menurun,
Saya juga sangat bingung harus berbuat apa sekarang?
"Lis....! Lisa....! Cepat ke sini!
Tiba-tiba terdengar suara teriakan ibu setelah saya selesai shalat subuh hari ini,
"Iya bu, tunggu!" ucap ku sambil bergegas menemui ibu
"Ada apa Bu!"
"Bapak, hu hu hu hu hu!" suara ibu yang hanya bisa mengisi tanpa bisa berkata-kata lagi
"Bapak kenapa Bu?" tanya ku dan segera untuk memeriksa bapak
Dan di sinilah saya dan ibu hanya bisa menangis, sejadi-jadinya, sambil memeluk erat bapak,
Setelah beberapa menit kami terhanyut dalam keadaan sedih, ibu pun menguatkan hatinya dan menyuruh saya untuk segera menelpon kakak-kakak saya.
Saya pun segera pergi mengambil ponsel di kamar dengan keadaan masih terisak-isak,
Dan saya pun segera menelpon mereka untuk memberi tahu, tapi sepenjang telepon tersebut terhubung, saya tidak bisa berbicara hanya bisa menangis.
Kemudian mereka memutuskan telepon, dan segera bergegas ke sini. Mungkin mereka faham maksud saya,
Setelah mereka datang, kembali lagi tangisan kami pun pecah, sampai saat pak RT datang.
Kemudian beberapa warga pun ikut datang.
Sampai akhirnya keluarga kami pun sudah banyak yang datang, termasuk keluarga dari Indah dan kak Iqbal.
Indah dan bibi pun, segera menenangkan saya yang masih sangat sedih, dengan kepergian bapak.
# Permintaan terakhir papa yang sempat di tulis kak Siti
Setelah beberapa minggu kemudian, walaupun masih sangat sedih karena di tinggal bapak.
Namun saya harus tetap bangkit dan harus tetap menjalankan bisnis saya.
Saya tidak bisa berlarut terus dengan kesedihan, sehingga saya lupa dengan masa depan saya.
Ibu dan kakak saya juga memberi semangat, agar saya bisa bangkit dari kesedihan ini.
Jadi, saya memutuskan untuk kembali ke kota, untuk menjalankan kembali usaha tersebut.
Yang merupakan satu kenangan dari bapak, karena beliau yang membelikan tempat ini untuk saya.
Saya berjanji akan menjaga dan menjalankan bisnis ini seterusnya, agar di atas sana bapak bisa bangga dengan apa yang saya gapai.
Di saat saya ingin pamit kepada ibu dan kakak-kakak saya,
Tiba-tiba kakak Siti berkata sesuatu hal yang membuat saya sangat terkejut, sambil memberikan kertas yang berisi permintaan bapak itu.
Saya pun meraih kertas tersebut dengan perasaan ragu. Ragu apakah saya bisa memenuhi permintaan terakhir dari bapak?
Tapi, ibu pun berkata tidak harus segera memenuhinya, biar kami sama-sama mempersiapkan diri dulu.
Di sepanjang jalan, saya tidak berhenti berpikir apakah saya harus memenuhi permintaan ini atau tidak?
Karena banyak berpikir, saya tidak sadar bahwa saya sudah sampai di rumah Indah.
Di situ Indah, bibi, dan paman sudah menunggu kedatangan saya. Mereka pun memberi saya semangat supaya tidak sedih terus.
Setelah beberapa menit kami berbincang-bincang di ruang tamu, saya pun pamit untuk masuk ke dalam kamar bersama Indah
Sampai ke dalam kamar, saya pun curhat sama Indah sambil memberikan kertas tersebut untuk di bacanya.
"Bagaimana menurut kamu Ind? Apa yang harus saya lakukan?"
"Mungkin alangkah baiknya jika kamu mengikutinya Lis! Toh ini merupakan permintaan terakhir dari bapak kamu!"
"Tapi Ind?"
"Pasti sebelumnya paman sudah memikirkan hal ini matang-matang, sehingga beliau memutuskan hal ini,
Pasti menurut beliau kak Iqbal bisa menggantikan posisinya untuk mendampingi, menjaga dan membimbing kamu ke depannya Lis!"
"Jujur saya masih ragu dengan kak Iqbal!"
"Orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anak-anaknya Lis!, begitu pun dengan paman, beliau merasa kak Iqbal yang cocok dan mampu membahagiakan kamu."
"Hmmm....." gimana ya Ind?"
"Kan kamu tidak di suruh secepatnya, jadi kamu masih punya banyak waktu untuk berpikir dan berdoa kepada Allah, agar memberi petunjuk tentang semua ini!"
"Iya juga Ind!"
"Iya Lis! kamu santai saja dalam hal ini, dan coba dulu untuk lebih dekat dan mengenal kak Iqbal!"
"Siap Lis, terima kasih atas saran kamu ya!"
# Di tempat usaha
Setelah kemarin sampai di kota dan mendapat saran dari keluarga, hari ini pun saya memulai kembali kegiatan saya.
Ya kembali bekerja, untuk menggapai impian, agar bapak bangga dengan saya di atas sana.
Pas saya sampai, para karyawan memberi ucapan belasungkawa atas kepergian bapak.
Kemudian saya pun langsung mengecek pembukuan, karena hampir satu bulan lebih saya tidak datang.
Setelah selesai cek pembukuan, saya pun segera menghitung jumlah uang yang di setor karyawan saya.
Alhamdulillah banyak peningkatan, para karyawan saya pun bekerja dengan baik.
Para pelanggan yang tahu tentang meninggalnya bapak pun mengucapkan belasungkawa.
Tidak terasa, waktu shalat zhuhur pun tiba, saya pun segera pergi melaksanakan shalat.
Setelah shalat, saya pun lansung bersiap untuk makan siang.
"Assalamualaikum....." ucap seseorang yang tiba-tiba datang di sela-sela makan saya.
"Waalaikum salam....." ucap ku sambil menoleh ke orang tersebut yang ternyata kak Iqbal.
"Maaf ya dek saya datang jadi menganggu makan adek!"
"Tidak apa kok kak, saya juga sudah mau selesai! Oh iya kak sudah makan atau belum?"
"Sudah kok dek, sebelum kesini saya mampir makan dengan teman tadi"
"Oh iya ada apa kak, kok datang tanpa memberitahu saya dulu?"
"Tadinya saya jalan, sama teman dan kebetulan lewat sini, jadi saya sempatkan singgah untuk mengecek kamu!"
"Takutnya kamu belum masuk karena masih terlarut dalam kesedihan!" ucap kak Iqbal
"Kalau di tanya soal kesedihan, ya sebenarnya saya masih sedih tapi mau gimana lagi hidup harus tetap berlanjut!" ucap ku
"Oh iya dek? kamu sudah baca kan pesan terakhir dari paman, bapaknya adek?"
"Sudah kok kak!"
"jadi bagaimana keputusan adek soal hal tersebut?"
"Saya belum bisa memberikan keputusannya sekarang kak! saya masih butuh waktu untuk memikirkan hal ini!"
"Ya sudah, kakak tidak memaksa adek! kakak siap menunggu sampai adek mau menerima kak!"
"Siap kak! dan terima kasih sudah mau pengertian sama saya!"
*******
Hari-hari pun berlalu, dan saya sudah agak bisa menerima kenyataan bahwa bapak sudah tidak ada.
Saya dan kak Iqbal pun semakin dekat, karena saya sudah mengambil keputusan untuk memenuhi permintaan terakhir dari bapak tersebut.
Tetapi, saya belum mau cepat-cepat menikah. Jadi saya memutuskan untuk ta'aruf saja dulu.
Sampai saya benar-benar siap menjadi seorang istri.
Kami pun sepakat untuk berfokus ke bisnis dulu, untuk saat-saat sekarang ini.
Sampai kami bisa mencapai beberapa impian kami.
Karena saya sangat ingin membeli sebuah rumah, agar bisa membawa ibu tinggal dengan saya.
Kak Iqbal pun sangat mendukung keinginan saya, karena kasihan melihat ibu yang tinggal sendiri di rumah.
sebenarnya kakak-kakak saya sudah mengajak ibu tinggal di rumah mereka, tetapi ibu tidak mau karena masih ingin di rumah itu mengenang almarhum bapak.
Karena sampai saat ini ibu masih sering melamun, memikirkan almarhum bapak.
Saya kira hanya saya yang tidak bisa menerima kenyataan, akan tetapi ibu lebih terpukul dari saya.
Saya pun berharap semoga ibu mau ikut tinggal dengan saya nanti jika saya sudah punya rumah sendiri.
Setiap weekend, saya sempatkan untuk pulang sekedar menjenguk ibu.
Setiap hari pun saya selalu menelpon ibu, walau hanya beberapa menit saja, asal melihat beliau baik-baik saja hari ini.
Tapi, saya merasa ibu menyembunyikan kesedihannya kepada saya, terlihat dari keadaan tubuhnya yang terlihat semakin kurus, sejak kepergian bapak.
Saya pun selalu curhat sama Indah dan kak Iqbal, tentang ibu.
Kak Iqbal turut prihatin, sehingga dia selalu mengirimkan buah-buahan dan beberapa barang buat ibu.
BERLANJUT.....
...MAAF MASIH BANYAK TYPO.. JANGAN LUPA UNTUK BERKOMENTAR ATAU MEMBERI MASUKAN DAN SARAN!!!!!!...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments