"Ya, beliau memang sudah lama tahu tentang Lisa, sebenarnya sudah dua kali beliau datang ke rumah, yang pertama dulu waktu Lisa belum lulus SMA"
"Oh jadi beliau sudah lama berniat menjodohkan Lisa dengan anaknya?" tanya paman
"Iya Rus, tapi mas dulu bilang Lisa ingin lanjut kuliah, lagian mas belum mau menikahkan Lisa waktu itu karena masih terlalu muda!"
"Pantas beliau terus menunggu Lisa, buat anaknya !"
"Begitulah Rus, beliau berkata akan menunggu Lisa sampai lulus kuliah! karena memang beliau hanya ingin Lisa yang menjadi menantunya"
"Ya sudah, kita serahkan saja sama Lisa biar dia berfikir dulu, langkah apa yang ingin dia ambil!"
"Bapak cuma berharap kamu bisa mengambil keputusan yang benar dan sesuai hati kamu Lis!"
"Iya pak biar Lisa fikir-fikir dulu dan biar kami saling kenal dulu!"
"Ya sudah kamu jangan terlalu jadikan beban pikiran ya! nantinya bisa menganggu aktivitas dan kinerja di bisnis kamu!" ucap bibi
"iya Bi, tapi kalau bisa jujur sih, sebenarnya saya belum berfikir ke arah situ, hanya berfokus ke bisnis dulu, karena banyak yang ingin saya wujudkan". ucap ku
"Tidak apa-apa Lis, ini kan baru tahap pengenalan jadi kamu santai saja dan jalani saja seperti biasa!"
"siap bi! Nanti saya coba agar bisa akrab dengan dia!"
********
# Pertemuan saya dengan Iqbal
Nama dia sebenarnya Muhammad Iqbal Maulana, tapi dia biasa di panggi Iqbal.
Dia anak dari bapak RT di desa sebelah desa saya, kata bapak kami masih ada hubungan keluarga.
Tapi jujur saya sebenarnya malu, karena sebelumnya kami tidak pernah bertemu.
Jadi hari ini pertama kali kami bertemu, kami pun janjian untuk bertemu di sebuah C0FFEE SHOP terkenal di kota ini.
Awalnya kami ragu-ragu untuk saling sapa, hanya berani duduk saling curi-curi pandang.
"Hmmmm..... Kamu Lisa kan, anak dari paman Basri?" ucap nya memulai percakapan di tengah kebisuan kami
"Iya mas!" ucap ku singkat
"Jangan panggil mas dong, panggil saja kakak atau Iqbal saja!"
"Eh... maaf mas, eh.... Kak!"
"Tu kan kamu salah lagi!, kok jadi grogi gitu sih?"
"Saya tidak grogi kok kak, itu tadi cuma salah ucap saja!"
"Oh gitu ya? saya kira kamu grogi bertemu dengan saya?"
"Tidak kok kak! saya santai saja".
"Jadi, apa kesibukan kamu sekarang ini?"
"Kalau sekarang saya sibuk mengurus bisnis jualan online dengan kedai makanan cepat saji begitu"
"Oh jadi kamu juga punya kedai, apa namanya dan di mana lokasinya? sempat saya dan teman-teman lagi jalan kan bisa mampir ke situ!"
"Namanya "Kedai Dek Lis" kak, lokasinya di jalan Anggrek, samping SD negeri Tunas Bangsa, no 19".
"Seperti saya selalu lewat situ jika sedang jalan bareng teman-teman!"
"Oh gitu ya kak? iya lokasinya kan depan jalan raya!"
"Hmmm.... Kapan-kapan jika saya jalan-jalan dan kebetulan lewat, bisakah saya singgah?"
"Bisa kok kak! kan di situ tidak ada larangan yang tertulis, di larang singgah".
"Kamu tuh dek, bisa saja!"
Setelah beberapa jam kami bertemu dan berbincang-bincang seperlunya saja, kami pun sama-sama pamit untuk pulang,
Sebelum pulang ke rumah Indah, saya sempatkan mampir dulu ke tempat usaha, untuk sekedar mencek keadaan dan keamanan di situ.
Sehabis dari tempat usaha, saya pun langsung pulang ke rumah Indah.
# Di rumah Indah
"Assalamualaikum...."Ucap ku
"Waalaikum salam..." ucap Indah yang sudah dari tadi menunggu kedatangan saya.
"Maaf ya saya pulangnya lama, karena saya sempatkan untuk cek tempat usaha dulu, sekedar untuk memastikan semua aman!"
"Kok minta maaf sih! Saya juga baru pulang kok."
ucap Indah
"Hee.... Saya kira kamu sudah lama nunggu saya?"
"Oh iya, bagaimana awal pertemuan kalian tadi, seru atau biasa saja?"
"Biasa saja kok Ind!"
"Masa sih Lis? Dia orangnya perhatian atau gimana menurut kamu?"
"Lumayan sih Ind! Kami juga tidak terlalu banyak bicara, karena kami kan baru ketemu jadi agak gimana gitu".
"Kan biasanya kita itu terkesan saat baru pertama bertemu, sehingga kita bisa tau dia orang nya gimana, apa dia ramah, baik, atau sebaliknya?"
"Dia ramah kok, karena dia yang duluan aja saya bicara"
"Jadi, dari hati kamu yang paling dalam bagaimana, apa ada rasa atau biasa saja?"
"Hmmmmm..... Jujur dia orang ganteng sih, dan baik, bahkan waktu kami bertemu dia tidak pernah pegang ponsel!"
"Jadi dia serius banget gitu bicaranya?"
"Iya padahal, ponselnya bunyi-bunyi gitu tapi, dia tidak merespon."
"Mungkin dia tidak ingin di ganggu, saat bersama kamu Lis! Cieee.... Cieee.....
"Ih kamu tu ya Ind! Suka banget ngeledek saya!"
"Hmm... Maaf ya Lis!"
"Sudah ah Ind, jangan bahas dia terus, nanti dia cegukan terus!"
"Kamu kasihan kan sama dia? itu tandanya?????"
"Ih itu kamu mulai lagi! oh iya, bibi dan paman di mana?"
"Ada kok di kamar, ih jangan mengalihkan pembicaraan kamu Lis!"
"Ih kamu ya Ind, nanti saya tidak mau curhat sama kamu lagi ah,"
"Ceritanya kamu ngambek ya Lis?"
"Begitulah Ind!"
"Katanya ngambek tapi, kok masih jawab pertanyaan saya sih?"
"Hmmmm..... Nanti saya juga akan ledekin kamu!"
"Ledekin apa tu Lis?"
"Ledekin jika kamu juga di jodohkan!"
"He..... He....... He...... Semoga saja tidak Lis! soalnya saya tidak mau di jodohkan!"
"Ya sudah! kita tidur yuk Ind!"
"Oh cukup untuk hari ini saya ledekin kamu, besok-besok lagi baru lanjut."
"Tau ah Ind, sesuka kamu saja!"
"He.... He.... He..... Iya dong Lis!" ucap Indah sambil tertawa
Begitulah saya jalani hari-hari, semenjak bertemu dengan Iqbal saya selalu di ledekin oleh Indah.
Hinnga suatu hari saya lagi sibuk-sibuknya, di kedai sehingga saya pun tidak mendengar telpon yang masuk.
"Assalamualaikum..... Di mana Lisa?" ucap orang yang belum saya lihat siapa dia
"Itu Bu di dalam,!" ucap salah satu karyawan saya
"Lagi sibuk banget ya Lis?" ucap orang itu lagi yang ternyata adalah Indah.
"Eh Indah, iya ni saya sibuk banget! ada apa kok tiba-tiba datang jam segini? memang kamu lagi tidak sibuk di butik?"
"Sibuk sih Lis! tapi saya kesini karena kamu tuh, sudah di telpon juga dari tadi, tapi tidak di angkat-angkat juga!"
"Oh kamu tadi telpon, maaf ya Ind! soalnya ya begini deh keadaan saya"
"Bukan cuma saya yang telpon tapi ibu mu juga, tapi kamu tidak angkat jadi beliau telpon saya."
"Loh ibu! ada apa kok ibu terlpon kayak penting sekali gitu!"
"Ibu kamu mau sampaikan ke kamu, bahwa bapak kamu sedang sakit gitu, saya juga tidak terlalu banyak tanya soalnya ibu kamu kayak sedih banget!"
"Ya sudah, sebentar selesai ini saya telpon ibu, dan terima kasih ya kamu sudah repot-repot ke sini, padahal kamu juga lagi sibuk di butik!"
"Iya karena ibu mu khawatir, karena kamu tidak kunjung angkat telepon kami."
"Iya, ponsel saya taruh di atas meja tu di sana jadi saya tidak dengar jika ada telpon masuk"
"Ya sudah saya kembali dulu ke butik ya, jangan lupa kamu telpon ibu!"
"Siap, hati-hati ya!"
"Ok" ucap Indah sambil melangkah menuju ke luar kedai
Setelah beberapa menit kemudian kerjaan saya pun selesai, dan saya pun segera meraih ponsel yang ada di meja itu.
Setelah saya nyalakan layarnya terlihat banyak banget panggilan masuk dari ibu, Indah, dan Kakak saya.
Saya pun sontak termenung, dan bertanya-tanya ada apa dengan bapak kok mereka sampai menelpon sebanyak ini?
"Mba itu ada yang cari!" ucap karyawan saya dan memecah lamunan saya
"Eh. eeeeee. I.. Iyaaaa... Ada apa?"
"Kok melamun sih mba? Itu ada yang cari mba tuh!" ucapnya lagi sambil menunjuk orang tersebut
"Oh iya tunggu saya temui!"
"Iya mba saya kembali bekerja dulu ya?"
"Iya"
Sebelum saya menemui orang tersebut, saya sempatkan untuk merapikan busana yang saya kenakan ini,
Takutnya terlihat seperti sudah perang dunia, karena terlalu sibuk.
Setelah saya merasa ok, saya pun ke arah orang itu, dan ternyata dia adalah kak Iqbal.
"Eh Lis, lagi sibuk ya? maaf jika saya menganggu kamu!"
"Hmmmm..... Tidak apa-apa kok kak! Tadi sih iya sibuk, tapi sekarang sudah agak santai sedikit, kita duduk di situ yuk!" ajak ku sambil menuntunnya ke tempat duduk.
"Iya Lis? Jadi kapan kamu mau pulang ke kampung?"
"Pulang! saya tidak mau pulang dulu kak!"
"Kamu tidak pulang jenguk bapak kamu?"
"Bapak, emmmm...... Saya tidak tahu nih kak?"
"Bukannya kata bapak saya, paman Basri lagi sakit! Apa kamu belum tahu soal itu?"
"Sebenarnya ibu dan kakak saya tadi menelpon, saya tidak sempat angkat karena tidak terdengar dan saya juga sangat sibuk,
Indah pun sudah datang kesini tadi menyuruh saya buat cepat-cepat telpon balik mereka.
Dan pas saya lagi siapmau telpon, eh kak datang".
"Oh maaf jadi, gara-gara kedatangan saya kamu sampai tidak sempat telponan ya?"
"Ndak apa-apa kok kak! Kan saya juga jadi dengar kabar dari kak"
"Iya dan kata bapak sudah agak parah! Bahkan makan pun sudah sulit!"
"Kok bapak sakit dan sudah separah itu, tapi mereka baru telpon saya sekarang?"
"Mungkin mereka tidak mau membuat kamu terlalu cemas, sampai nekat pulang tergesa-gesa. Takutnya kalau berkendara dengan keadaan panik kan gimana gitu!"
"Iya juga ya kak! Pasti jika saya terlalu panik, pasti tidak terlalu fokus berkendara"
"Iya itu yang mereka takut kan!"
"Tapi, tetap saja saya merasa sedikit kecewa, karena baru tahu sekarang bapak sakit sudah separah ini."
"Ya sudah, begini saja kamu pikirkan kapan mau pulang biar kak yang antar kamu!"
"tidak usah kak, nanti saya pulang sendiri saja!"
"Saya khawatir jika kamu pulang sendiri!"
"Kan saya bisa pulang dengan Indah!"
"Iya kalau Indah tidak sibuk dan dia mau?"
"Sesibuk apapun, pasti dia mau menemani saya!"
"Pokoknya saya yang akan mengantar kamu, biar dengan Indah juga tidak apa-apa! Sekalian saya juga jenguk paman."
"Nanti saya pikir dulu kak!, Soalnya bukan apa-apa sih, takutnya Jika kita datang bersama nanti apa kata orang-orang yang ada di sana?"
"Kita tidak usah dengar mereka! Kan lagian sebentar lagi kita sudah sah! Iya kan!, Kamu mau kan terima saya?"
"Hmmm.... Jangan gombal deh! Setuasinya lagi tidak pas"
"Siapa yang gombal? Saya ini serius!"
"Ihhh..... Tau ah! saya mau siap-siap dulu mau pulang, istirahat baru besok pulang ke kampung!"
"Ya sudah! saya juga mau pamit pulang, tunggu saya besok ya, baru kita sama-sama ke kampung!"
"Liat besok aja, kalau bibi dan paman izinkan kita pulang bareng!"
"Ya sudah besok saya minta izin kepada ibu dan bapaknya Indah!"
"Terserah kak!" ucap ku sambil melangkah masuk ke kedai dengan sedikit tersenyum.
Besoknya saya pun pulang ke kampung, di temani oleh Indah dan juga kak Iqbal.
Setelah kami sampai, saya pun tanpa salam langsung masuk ke dalam rumah dan menuju kamar bapak.
Di situ saya melihat mereka semua sedih, dan meneteskan air mata.
Saya pun langsung ke dekat bapak dan memeluknya erat, bapak pun segera membuka matanya, dan melihat saya yang baru datang ini.
"Ohhh.... Ka.. Ka...Mu sudah. Ada. Lis? ucap bapak dengan nada sangat rendah dan terbata-bata
"Iya pak ini Lisa! kenapa saya baru di kabari sekarang?"
"Kami sebenarnya sudah lama mau kabari kamu Lis! tapi bapak selalu melarang kami!" ucap ibu
"Tapi, jika Lisa telpon kalian bilang baik-baik saja?"
"Iya karena bapak, selalu bilang jangan memberi tahu kamu keadaannya, takut nanti kamu cemas dan jadi beban pikiran buat kamu, dan tidak fokus mengurus usaha kamu!"
BERLANJUT........
...MAAF MASIH BANYAK TYPO.. JANGAN LUPA UNTUK BERKOMENTAR ATAU MEMBERI MASUKAN DAN SARAN!!!!!!...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments