Setelah mengerti cara memasangnya, Kamal pun mulai memasang sendiri, sehingga pekerjaan mereka menjadi lebih cepat ketika bekerja sendiri sendiri.
Pemasangan yang begitu mudah, serta dilakukan oleh dua orang. sehingga sebagian dari tanah milik Farhan sudah tertutupi oleh mulsa. mereka berdua terus semangat bekerja, Tanpa ada kata menyerah sedikitpun. cara bertani Fathan yang luar biasa, membuatnya sangat enjoy dan menikmati bertani.
Lagi asik bekerja, terlihat dari arah jalan besar ada seorang laki-laki dengan baju berlumuran Lumpur. dia berjalan dengan amarah yang tak terbendung, dia terus mendekati kebun Fathan.
"Hai ban9sat! kurang ajar!" bentak orang itu dengan suara keras, membuat Fathan dan Kamal menoleh ke arahnya. mereka berdua mengerutkan dahi tanpa mengerti apa yang pria itu maksud.
"Kamu memang benar-benar enggak tahu etika! Dasar anak tol0l!" merasa diacuhkan, pria itu kembali membentak Fathan dan Kamal. sehingga membuat pamannya kesal, karena sedang capek ada yang memarahi tanpa alasan yang jelas.
"Kenapa Sobri, udah tua bukannya mikir! malah main bentak-bentak aja. Kayak orang yang gak waras!" jawab kamal sambil bangkit dari tempat jongkoknya, kemudian dia mendekati ke arah Sobri sambil membawa parang yang bisa digunakan untuk membersihkan rumputan.
Melihat kamal mendekati membawa parang, dengan cepat Sobri pun mengeluarkan golok dari serangkanya. membuat Fathan yang sejak dari tadi memperhatikan, dia segera bangkit lalu berlari menuju ke arah mereka.
"Sabar Mang! sabar! ini sebenarnya ada apa?" cegah Fathan sambil menahan tangan mamangnya, yang sudah tersulut emosi.
"Lepaskan Tan! biar Mamang tebas leher orang aneh ini! datang marah-marah tanpa menjelaskan terlebih dahulu." Jawab Kamal sambil terus menggelinjang ingin melepaskan genggaman tangan Fathan.
"Lepaskan, Dia! anak gobl0k! biar gua tebas lehernya. Atau kalian maju dua-duanya biar si Samber nyawa puas." tantang Sobri sambil menyunggingkan senyum sinis ke arah mereka berdua.
"Mamang udah! tolong sabar dan sadar!" Tahan Fathan memohon, sambil menatap ke arah mamangnya. mendapat tatapan dari keponakannya dengan serius, Kamal pun diam. kemudian Fathan maju beberapa langkah mendekat ke arah Sobri, Dia tidak terlihat takut meski lawan yang dihadapi sedang membawa golok.
"Maaf Kang Sobri, ini sebenarnya ada apa? kok, tiba-tiba marah. maaf kalau saya punya salah!" ujar Fathan dengan nada pelan tidak ada sedikitpun raut marah di wajahnya.
"Halah! jangan pura-pura, gobl0k! Jangan pura-pura nggak tahu, jangan Sok suci!" ujar Sobri sambil terus menatap ke arah Fathan seperti harimau yang takut kehilangan buruannya.
"Jangan! aa, uu, Sobri! Emang kita ngurusin pekerjaan lu. jadi kita harus tahu begitu?" Sindir kamal sambil mengangkat satu sudut bibirnya.
"Sudah Mang diam! mamang sudah nggak muda lagi. malu sama si Idan kalau mengikuti hawa nafsu terus." ujar Fathan menenangkan.
"Kesel Tan! Apalagi cuaca masih panas begini."
"Tolong jelaskan Mang Sobri! sebenarnya ini ada apa? perasaan semenjak saya pulang, kita baru ngobrol sekarang." ujar Fathan sambil menatap kembali ke arah Sobri.
"Hai anak sial4n! ngapain lu pulang dari kota, udah jelas-jelas tempat tinggal lu di sana. jangan-jangan benar apa yang dikatakan oleh orang-orang. kamu dipecat, gara-gara nyolong uang perusahaan!" jawab Sobri tidak nyambung membuat kamal semakin mengeratkan gigi. Dia tidak terima melihat keponakannya dihina seperti itu.
"Ya sudah, kalau akang datang ke sini, hanya untuk menghina saya. silakan, lanjutkan! saya lagi kerja." Jawab Fathan sambil mendorong tubuh pamannya yang ada di belakang agar menjauh dari Sobri.
Melihat lawan bicaranya pergi, amarah sobri yang udah sampai ke ubun-ubun, dengan cepat berlari menuju ke arah Fathan. dengan mengangkat goloknya.
"Lari Tan! orang gila mau membunuh kita." Kamal yang terus memperhatikan Sobri. melihat golok yang hendak menerjang ke arah dirinya dia pun berlari dengan cepat.
Mendengar ucapan pamannya, dengan cepat dia pun membalikkan tubuh. benar saja beberapa meter lagi Sobri akan sampai ke arahnya.
"Berhenti kang Sobri! Saya di sini sudah memasang kamera, nanti Mamang bisa masuk penjara, karena Mamang sudah melakukan ancaman pembunuhan!" ingat Fathan yang tetap tenang, namun pandangannya tetap awas.
"Ayo lari Tan!" ajak Kamal yang sudah kalah pamor, dia takut ketika melihat golok yang ada di tangan Sobri, sehingga dia sudah berlari lumayan cukup jauh untuk menyelamatkan diri. namun orang yang diperingatkan hanya terdiam menunggu serangan itu datang.
Sobri yang sudah diperingatkan oleh Fathan, dia tidak menggubrisnya. dia menyerang Fathan dengan goloknya mengarah ke dahi. anak muda yang sudah terlatih, dia hanya sedikit menggeserkan tubuhnya ke arah samping, kemudian menangkap tangan sobri lalu diputarkan ke arah belakang tubuhnya. kemudian menekan menjatuhkan tubuh Sobri ke arah tanah, lalu dihimpit dengan tubuh Fathan yang kekar.
"Ambil Mang!" Seru Fathan sambil melempar golok sobri yang sudah berhasil dia rampas.
Kamal yang sudah lari sangat jauh, dia pun berlari kembali mendekati arah golok, lalu mengambil golok itu sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Fathan. kemudian ia membuang golok Sobri jauh dari mereka. agar tidak ada korban jiwa. setelah membuang golok, kamal pun mengambil tali rafia, bekas ikatan bambu.
"Ikat Tan! kita serahkan ke Kecamatan." ujar Kamal sambil memberikan tali rafia yang baru ia ambil. Fathan pun mengangguk kemudian dia mengikat tangan Sobri ke arah belakang, tak lupa Kamal pun membantu mengikat bagian kakinya.
Setelah dirasa Mang Sobri tidak akan berontak, mereka berdua pun menggotong tubuh paruh baya itu, ke dekat pohon jambu yang tidak berbuah.
"Lepaskan saya, tolong!" Pinta Sobri memohon, Setelah dia tidak bisa melakukan perlawanan.
"Enak aja kamu minta dilepaskan! kalau keponakan saya tidak menghindar. mungkin dahinya sekarang udah terbelah menjadi dua." jawab Kamal sambil hendak melayangkan tamparan, namun Fathan Sigap menahan tangan pamannya, agar tidak jadi menyiksa orang yang sudah tidak berdaya.
"Udah Mang! sudah biarkan saja! saya kan udah selamat, kita tanya kenapa tua bangka ini, bisa semarah sekarang." ujar Fathan yang sebenarnya dia juga sudah terpancing emosi, sehingga dia memanggil Sobri tua bangka.
"Ya udah! Kalau nggak boleh ditampar kita kubur hidup-hidup aja Tan! di galian tanah bekas pupuk, lumayan buat tumbal kebun kita agar subur!" jawab Kamal sambil tersenyum membuat Sobri meringis ketakutan.
"Idenya boleh juga!" jawab Fathan menambah ketakutan sobri.
"Tolong! tolong! maafkan saya, saya khilaf!"
"Khilaf apaan? masa khilaf sampai mau membunuh orang?" Jawab Kamal sambil menatap sinis ke arah pria yang sudah ditawannya.
"Mang Sobri, Kenapa memang mau membunuh saya? Apa salah saya? perasaan saya tidak pernah berurusan dengan Mamang?" tanya Fathan mulai mengintrogasi orang yang hendak merenggut nyawanya.
"Lepaskan saya! maaf saya khilaf!" Pinta Sobri tanpa menjawab pertanyaan Fathan.
"Saya sudah Maafkan Mang! tapi kalau Mamang tidak menjawab apa alasannya, Mungkin saya akan membawa masalah ini ke jalur hukum. Kebetulan saya selalu mengabadikan tentang pertanian saya dengan kamera. Jadi saya punya cukup bukti untuk melaporkan Mamang." ujar Fathan sambil menunjuk ke arah kamera yang masih menyala.
"Jangan! jangan! kasihani saya yang hanya orang miskin. jangan laporkan Kejadian ini, tolong!" ujar Sobri mengiba.
"Ya sudah, makanya jawab! Jangan ngelantur ke mana-mana!" bentak Kamal yang merasa gemas.
"Tolong maafkan ketelodoran saya, Mal!" ujar Sobri sambil mengalihkan tatapan ke arah kamal.
"Ya udah, Tan! kita kubur aja, lagian nggak akan ada orang yang tahu ini. ditanya ke mana, jawabnya ke mana." ujar Kamal sambil hendak menarik tubuh Sobri yang terikat.
"Sabar Mang! kalau kita tidak tahu permasalahannya, kita tidak akan bisa intropeksi diri. mungkin ini bukan salah Mang Sobri, tapi ada kesalahan kita."
"Sama orang beginian mah, jangan dikasihani Tan! nanti ngelunjak!"
ketika mereka mengintrogasi Sobri, terlihat ada seorang yang berlari menuju ke arah mereka. baju pria itu penuh dengan Lumpur, dia berlari terengah-engah menghampiri ke arah Fathan.
"Hati-hati kang! hati-hati!"teriak Asep, dari jauh juga dia sudah berteriak.
Namun ketika Asep sampai ke tempat mereka berkumpul, dia menatap tajam ke arah Sobri. tampa Fathan sadari kakinya sudah melayang ke arah dada pria itu.
Bugh!
Aduh!
"Ban9sat! gara-gara kamu Bapak gua hampi celaka."
"Celaka bagaimana, sep!"
"Jatuh ke Lumpur sawah!" jawab Asep.
"Sekarang bagaimana keadaan Kang sabroni?" Tanya Kamal yang merasa khawatir.
"Bapak sudah pulang ke rumah, untung tidak terjadi apa-apa! kalau terjadi sesuatu sama bapak gua! lu adalah orang yang pertama yang harus bertanggung jawab, setan!" ancam Asep sambil melayangkan tendangan Kembali menuju ke arah muka Sobri yang baru bangun. namun Fathan dengan cepat menepuk dengkul Asep, sehingga keseimbangan tubuh pria itu agak sedikit terguncang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 115 Episodes
Comments