Mengejar
Melihat wanita cantik masih terdiam di dekat pintu, Fathan dengan cuek dia membuka nasi yang baru ia beli, lalu disiapkan ke dalam piring.
Setelah makanan tersaji, dia mulai menyantap makanannya seolah dia berada sendirian di rumah.
"Boleh ikut Duduk?" tanya Kirana yang terlihat ragu-ragu.
"Makan!" jawab Fathan yang terlihat acuh.
Kirana pun manggut, dia berjalan mendekati ke arah Fathan. kemudian dia duduk di sampingnya.
"Makan! nanti kalau sudah dingin nggak enak."
"Terima kasih!" jawab Kirana sambil mengambil bungkus nasi yang belum dibuka. dia mengikuti apa yang dilakukan oleh Fathan, menyimpan bungkusan itu di atas piring. dengan perlahan dia pun mulai menikmati makanannya. sesekali dia mencuri pandang ke arah pria yang acuh tak menghiraukan.
Tak ada pembicaraan ketika mereka melahap makanan masing-masing, seolah di ruangan itu tidak ada manusia yang mengisi.
Selesai makan malam, Fathan kembali merapikan bekas bungkus nasi, kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. untuk membersihkan tubuh terlebih dahulu, seharian bekerja membuat tubuhnya terasa lengket oleh keringat.
Truk! truk! truk!
Selesai membersihkan tubuh, pintu kamar Fathan diketuk oleh Kirana.
"Ada apa?"
Ditanya seperti itu Kirana tidak menjawab, Dia malah terfokus ke arah roti sobek yang dimiliki pria idamannya.
"Mau apa?"
"Anu, eeee, emmmmmm, eee!" jawab Kirana terlihat kikuk.
Mendapat orang yang ditanya tidak memberikan jawaban, Fathan pun dengan cueknya Dia memakai baju tanpa memperdulikan wanita yang sedang terkagum-kagum melihat bentuk tubuhnya.
"Apa aku boleh ikut salat" tanya Kirana.
"Boleh! kalau mau Ayo berjamaah?" ajak Fathan yang sudah menyiapkan tempat sholatnya.
Hati wanita itu Seolah bersorak, dengan segara Kirana pun masuk ke dalam kamar, langsung menuju arah kamar mandi hendak mengambil air wudhu. setelah selesai mengambil air wudhu terlihat di atas kasur sudah ada mukena yang biasa dipakai oleh keluarga Fathan ketika berkunjung ke kota.
Dengan hati yang berbunga-bunga, Kirana segera mengenakan mukena itu. karena terlihat Fathan sudah bersiap untuk melakukan salat Isya. Dia tidak mau membuat menunggu calon imammnya.
Selesai melaksanakan salat, fathan kembali ke ruang tengah sambil membawa semua peralatan kerja. biasanya ketika dia bekerja di rumah, dia akan mengerjakan itu di kamarnya. Namun karena sekarang ada Kirana, dia lebih memilih bekerja di ruangan itu.
"Mau kopi?" tawar Kirana yang baru keluar dari kamar Fathan.
Seperti biasa pria cuek itu tidak akan menjawab pertanyaan Kirana. dia terus Menatap layar laptop yang menampilkan gambar-gambar sketsa bangunan. Kirana yang sudah sangat paham dengan sikap pria yang selalu hadir dalam mimpi indahnya. dengan cepat ia membuatkan kopi lalu disimpan di hadapan Fathan
"Terima kasih!" hanya kata itu yang keluar dari mulut Fathan.
"Sama-sama! kamu nggak istirahat ini sudah malam, jangan dipaksakan nanti kamu sakit!" ingat Kirana meski dia sadar Fathan tidak akan menuruti perkataannya, namun dia tetap memberikan perhatian-perhatian lebih untuk pria itu.
"Kalau kamu ngantuk, kamu tidur di kamar!" Seru Fathan.
"Aku tidur di sofa saja, kamu aja yang tidur di kamar, kan habis kerja, tidurmu harus lelap!"
Mendengar seruan Kirana seperti itu, Fathan hanya melirik sebentar. kemudian menatap Kembali ke layar laptop. namun walaupun seperti itu Kirana tetap tersenyum karena sedikit demi sedikit dia bisa mengobrol dengan Fathan. Merasa bosan karena fathan tidak memberikan respon, akhirnya Kirana pun ikut memperhatikan layar.
"Sebentar! sebentar!" ujar Kirana ketika melihat kejanggalan yang ada di layar laptop, dengan segera dia mengambil Mouse yang dipegang oleh Fatha. sehingga kedua tangan mereka bersentuhan, membuat mata mereka saling beradu tatap. namun momen mendebarkan itu sangat sebentar, karena pria itu dengan cepat menarik tangannya.
"Ada apa?"
"Ini kan bangunan green and healthy! harusnya atap genteng bangunan ini dimanfaatkan untuk memasang panel surya." ujar Kirana sambil mengutak-atik laptop Fathan membenarkan apa yang menurutnya salah. karena walau begitu-begitu juga Kirana adalah salah satu lulusan universitas terbaik di bidang teknik sipil.
Fathan pun menggeser Sedikit tempat duduknya, memberi ruang agar Kirana bisa duduk dengan nyaman. dia terus memperhatikan ke layar laptop,.sesekali dia mencuri pandang ke arah wajah wanita yang sedang bergelut dengan komputer. dia tidak menahan wanita itu untuk membantunya, karena Fathan sangat care terhadap orang yang memberikan ide atau solusi, dia bukan orang yang egois sehingga dia mau menerima pendapat orang lain.
"Beginilah! konsep green and healthy, halaman bangunan harus ada taman dan pohon-pohon agar terlihat hijau, balkon balkon harus terisi penuh dengan bunga atau tanaman obat. atapnya kita gunakan panel surya agar menghemat konsumsi listrik." jelas Kirana setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Kenapa tamannya harus berbentuk love seperti itu?" tanya Fathan.
"Karena Cinta, adalah obat yang paling ampuh dari berbagai penyakit, maka dengan adanya cinta seperti ini, kita berharap semua orang yang berobat di sana bisa sembuh."
"Terima kasih!" hanya kata itu yang keluar dari mulut Fathan, walau sebenarnya Dia sangat mengagumi kepiawaian wanita yang mengejarnya, namun lidahnya terasa kelu ketika mau mengakui itu semua.
"Ya! terima kasih doang."
"Terus?"
"Pujilah kalau kamu mengagumi hasil kinerjaku!"
"Wah hebat! Saya suka!" ujar Fathan dengan ekspresi muka datarnya.
Kirana yang merasa kesal dia pun menggeser kembali tempat duduknya, membiarkan Fathan melanjutkan pekerjaan, kemudian dia membuka handphone untuk mengusir rasa jenuhnya.
Akhirnya ruangan pun kembali sunyi, Karena Mereka sibuk dengan dunianya masing-masing. terlihat Kirana sudah menguap beberapa kali, namun Fathan seolah Acuh tidak menghiraukannya. padahal dalam hatinya dia ingin menyuruh wanita itu untuk segera tidur di kamar.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara dengkuran halus yang keluar dari bibir gadis cantik yang berada di sampingnya, membuat Fathan melirik ke arah datangnya suara. dia menatap lekat wajah wanita yang selalu mengganggunya. perlahan dia membenarkan posisi tidur Kirana yang menyandar ke sofa, untuk dibaringkan agar gadis itu bisa nyaman.
Setelah beberapa saat berlalu, mulut Fathan pun mulai menguap. dengan cepat dia menutup layar laptop, kemudian menyimpannya ke dalam kamar. setelah alat alat kerjanya tersimpan, pria itu mulai merapikan kasur, dengan cara mengganti sprei dan sarung bantalnya. Setelah semuanya dirasa rapi, dia pun kembali ke ruang tengah, terlihat Kirana masih belum merubah posisi tidurnya.
Tanpa ada keraguan sedikitpun, Fathan mulai membopong tubuh Kirana, untuk dipindahkan ke dalam kamar. mendapat pergerakan berlebih di tubuhnya, perlahan Kirana pun membuka mata, rasanya dia ingin berteriak kegirangan ketika Fathan melakukan hal itu. namun sekuat hati dia tetap tenang, agar momen romantis yang sedang dia dapat tidak berantakan.
Setelah sampai di kamar, Fathan pun meletakkan tubuh Kirana ke atas kasur. lalu membenarkan kembali posisi tidurnya. kemudian menutup tubuh gadis cantik itu dengan selimut. setelah pekerjaannya di rasa selesai, Fathan memandang wajah Kirana sejenak yang masih tetap terlihat cantik meski dalam keadaan tertidur. membuat hati Kirana berdegup kencang, Tak kuat beradu tatap dengan pria yang selalu dia impikan.
Namun sayang tatapan itu tidak bisa dinikmati lama, karena Fathan dengan cepat memalingkan pandangan. lalu mematikan lampu kamar menggantinya dengan lampu tidur. Setelah itu dia pergi meninggalkan kamar, dengan membawa selimut yang tadi sudah ia siapkan.
"Kenapa malah keluar sih? bukannya tidur di samping gua!" Umpat Kirana dalam hati, berharap pria pujaannya menemani tidur di sampingnya. terhanyut dalam harapan dan angan-angan akhirnya Kirana pun kembali pergi ke alam mimpi, melanjutkan khayalan indahnya bersama pria yang ia idamkan.
Keesokan pagi.
"Bangun! bangun! ayo kita salat berjamaah kembali." ajak Kirana sambil menepuk-nepuk kaki Fathan, namun yang dibangunkan hanya menggeliat sebentar, tanpa merespon lebih tindakan Kirana.
Melihat Fathan seperti itu, Kirana pun Acuh, lalu kembali masuk ke kamar untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. selesai melaksanakan salat subuh, dia pun beranjak ke dapur lalu melihat apa saja yang bisa ia kerjakan. untuk menyambut pria pujaannya ketika sudah bangun.
Wangi masakan yang dibuat oleh Kirana, memenuhi ruang tengah. sehingga membuat Fathan yang tertidur lelap, perlahan dia mulai membuka mata. kemudian memperhatikan area sekitar, sambil mengingat kembali kejadian apa yang terjadi semalam.
"Salat dulu! nanti setelah salat kita sarapan bareng!" seru Kirana sambil tersenyum menyambut pagi dengan penuh kebahagiaan.
Mendengar kata salat, Fathan pun melihat ke arah jam dinding, dengan segera dia pun bangkit lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. dilangsungkan dengan melaksanakan kewajiban yang harus ia kerjakan.
Selesai melaksanakan salat, Mereka berdua berkumpul di ruang tengah, sambil menikmati makanan yang dibuat oleh Kirana.
"Kamu nggak dimarahin sama orang tua kamu?" tanya Fathan di sela kunyahannya.
"Marah kenapa?"
"Karena kamu nggak pulang semalam?"
"Enggak, Lagian Aku bukan anak kecil lagi.
"Kamu jangan keluyuran terus, kasihan orang tua kamu nanti mereka khawatir.
"Aku nggak keluyuran, aku kan di rumah kamu, di rumah calon suami." jawab Kirana senyum manis menghiasi bibirnya yang tipis.
Mendengar jawaban Kirana, Fathan tidak memberikan respon apapun, dia kembali terfokus dengan sarapan yang ada di tangannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 115 Episodes
Comments
Rainbow Scorpion Venom
bukannya kalau belum muhrim nggak boleh jamaah ya Thor, catatan kalau cuma berdua tapi kalau ada makmum lain boleh, misalnya yang makmumnya ada dua orang cewek atau satu cewek dan satu laki-laki, jadi kalau untuk cewek minimal dua tapi kalau ceweknya satu setidaknya ada makmum lakinya satu,
itu seingat saya sih kalau ada salah bisa dikoreksi
2024-01-10
0