Berkumpul
Fathan yang sedang mengejar adiknya. tidak terlalu memperhatikan tulisan itu. dia dengan cepat masuk ke dalam rumah, mencari keberadaan adiknya. ternyata di dalam rumah adiknya tidak ditemukan, Fathan pun berjalan menuju ke arah dapur, terlihat ibu dan adik pertamanya Farah. Mereka sedang sibuk membuat cemilan untuk hari lebaran.
Melihat kedatangan anaknya, Sri pun bangkit dari tempat duduknya, meninggalkan gorengan kue cincin yang ada di dalam panci. kemudian dengan cepat memeluk orang yang baru pulang dari kota, Dengan pelukan begitu erat. sesekali Ibu Fathan mencium kening anaknya. rasa kangen yang sudah menyelimuti jiwanya, tak bisa terbendung lagi. Hanya deraian air mata sebagai ungkapan kebahagiaan itu. Karena hanya setahun sekali, Mereka bisa berkumpul bersama seperti sekarang.
"Bagaimana keadaanmu Nak? kamu sehat kan? Kamu kurusan ya? Kamu jarang makan ya, di sana?" ujar Sri memberondong anaknya dengan banyak pertanyaan. Sambil melepaskan pelukannya, menatap anak laki-lakinya itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. kemudian dia memeluk kembali Fathan dengan pelukan yang lebih erat.
"Alhamdulillah baik bu! Ibu juga sehat kan." jawab Fathan dengan suara agak sedikit Parau, dia juga merasakan hal yang sama, yang tak kuasa menahan Haru. Karena bisa berkumpul dengan keluarganya.
"Ibu Gantian dong, pelukannya!" Rengek Farah yang matanya sudah dipenuhi dengan cairan kebahagiaan.
"Sebentar! Ibu masih kangen sama anak ibu!" jawab Sri, namun walau dia berkata demikian, dia tetap melepaskan pelukan itu. Memberikan waktu agar anak-anaknya saling melepas rasa kangen.
Setelah pelukan Sri terlepas, Fathan pun meregangkan tangan untuk mengajak Farah berpelukan. Dengan menyeka cairan bening yang ada di pipinya, Farah pun menghampiri lalu memeluk kakaknya dengan begitu erat.
"Aku kangen Kakak!" Hanya kata itu yang keluar dari mulut parah meski suaranya sedikit tertahan.
"Iya! kakak juga kangen sama Farah. Bagaimana kuliahmu lancar?"
"Alhamdulillah, lancar Kak! Terima kasih sudah membiayai Farah. Untuk bisa berkuliah." ujar Farah melepaskan pelukannya, kemudian dia menyusut kembali cairan bening dengan ujung baju.
"Sarah ke mana?" tanya Fathan sambil memindai area sekitar, mencari keberadaan adiknya yang paling Tengil.
"Nggak tau! mungkin ke WC." jawab Sri yang tak melihat lagi keberadaan anak paling bungsunya.
"Ada-ada aja Bocah Tengil itu!" gumam Fathan. namun terlihat dari arah kamar, Sarah menyumbulkan kepala, dia menatap haru ke arah kakaknya.
"Sini! Emang kamu nggak kangen sama kakak?" ujar Fathan sambil meregangkan tangan.
Dengan malu-malu Sarah pun mendekat, kemudian memeluk kakaknya dengan begitu erat. mungkin tadi dia merasa canggung, sehingga Sarah berlari menjauh.
Fathan meregangkan tangan, untuk mengajak semua keluarganya berpelukan bersama-sama.
"Kalian curang! Masa Bapak nggak diajak." ujar Farhan yang baru masuk ke dapur.
"Bosan Pak! kalau pelukan sama bapak. kita kan setiap hari berpelukan, ketika bapak mengantarku ke sekolah." Celetuk Sarah menunjukkan sikap aslinya.
"Yah kok begitu!" ujar Farhan yang terlihat kecewa
"Sini pak! ayo kita berpelukan bersama!" ajak Fathan sambil meregangkan tangannya. akhirnya mereka Berlima pun berpelukan bersama-sama, melepas kangen Setelah sekian lama tidak bertemu.
Selesai berpelukan, Mereka pun duduk kembali di dapur, sambil melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
"Kamu puasa nggak, Tan? kalau nggak puasa Ibu bikinkan kopi." tawar Sri sambil mengangkat goreng kue cincin yang terlihat sudah menghitam, karena kelamaan berenang di dalam minyak panas.
"Alhamdulillah puasa Bu! Kebetulan tadi fathan membawa makanan dari kosan. lagian Sayang kan kalau nggak puasa. tinggal satu hari lagi!" jawab Fathan.
"Ya Sudah kalau kamu puasa sebaiknya kamu istirahat dulu. Apalagi semalam Ibu yakin kamu nggak bisa tidur kan di bis."
"Gimana mau bisa tidur Bu, dianya aja naik mobil Elf di atapnya." jawab Farhan mewakili anaknya.
"Yah apalagi kalau begitu! Sana kamu istirahat dulu di kamar. Kebetulan tadi Sarah sudah merapikan kamar kamu. nanti setelah bangun, baru berkunjung ke rumah saudara dan Tetangga." seru Sri.
"Nggak ah, Bu! Fathan libur cuma 4 hari, Sayang kalau waktu sesingkat ini, hanya dipakai untuk tidur."
"Terus mau ke mana sekarang?"
"Si Idan sudah pulang belum ya Bu? soalnya kemarin ketika Fathan telepon, katanya dia gak punya duit buat mudik."
"Menurut Mang Arman, ketika Tadi salat subuh berjamaah dia baru pulang menjemput anaknya." Jawab Farhan yang mengetahui bahwa Idan sudah pulang.
"Berarti Idan sudah pulang?"
"Iya siapa lagi Yang dijemput Mang Arman, kalau bukan anaknya. Lagian kan Mang Arman sama Bi Sari, cuma punya anak satu kan!"
"Ya sudah! Fathan ke rumah bibi Sari dulu, mau bertemu dengan Idan." pamit Fathan sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Ya sudah! terserah kamu aja." jawab Sri yang sudah tahu sikap Fathan.
Setelah mendapat izin, dia pun masuk kamarnya terlebih dahulu. terlihat kamar yang sudah rapi dengan wangi parfum yang memenuhi rongga hidung, membuat Fathan tersenyum atas apa yang diberikan oleh adik terkecilnya. setelah berada di dalam kamar, dengan cepat dia pun mengganti baju. Selesai mengganti baju dia pun keluar dari rumah, untuk menemui Sari, yang jarak rumahnya hanya terhalang satu rumah tetangga.
"Fathan, kapan pulang?" tanya Sari yang sedang menjemur pakaian yang baru saja ia cuci.
"Baru sampai Bi! Idan udah pulang, belum?" Jawab Fathan sambil mencium punggung tangan adik ibunya.
"Sudah tadi malam! namun sampai sekarang dia masih belum bangun. ya sudah, ayo masuk! malah diajak ngobrol." ajak Sari setelah menjemur pakaian terakhirnya.
Mendapat ajakan seperti itu, Fathan pun berjalan mengikuti bibinya masuk kedalam rumah. terus menuju ke kamar Idan.
"Woi! bangun! udah siang seperti ini, masih molor!" ujar Fathan sambil menarik selimut yang menutupi tubuh Idan.
Namun yang dibangunkan hanya menggeliat sebentar, lalu ngorok kembali. Merasa usahanya sia-sia, Fathan memindai area sekitar. terlihat ada salon aktif yang berada di pojok kamar. dengan jahil dia memindahkan salon itu ke dekat kepala Idan. setelah posisinya pas. Fathan menyalakan musik dengan volume yang sangat keras. sehingga Idan yang masih tertidur lelap, dengan terperanjat bangun, menatap tajam ke arah Fathan. namun tatapan itu berubah seketika. ketika orang yang hendak ia marahi. adalah saudara sekaligus sahabat masa kecilnya.
"Fathaaaan!" teriak Idan dengan sangat keras agar suaranya terdengar.
"Bangun! sayang amat kamu pulang kalau waktunya hanya dipakai untuk tidur." ujar Fathan.
"Apa?" tanya Idan Yang Tak Mendengar.
Melihat Idan yang seperti itu, Fathan pun mematikan kembali suara musik yang sangat kencang. kemudian dia menyalami sahabatnya itu, lalu memeluknya sebentar, hanya untuk melepas kangen.
"Gimana sehat bro?" tanya Fathan sambil tersenyum.
"Sehat! tapi itu sebelum kamu ganggu waktu tidurku." jawab Idan mendelik.
"Lagian ngapain Jam segini masih tidur! sayang banget tau, Bro! kalau kita pulang kampung hanya dihabiskan untuk tidur."
"Ngantuk tan! malam baru pulang." jawab Idan yang mengambil kembali selimut yang tadi ditarik oleh Fathan untuk menutupi tubuhnya kembali.
Melihat sahabatnya seperti itu, Fathan pun dengan kesal menarik tangan Idan. lalu menyeretnya ke arah kamar mandi, walaupun Idan berteriak agar Fathan melepaskan tarikannya, namun dia terus menarik sahabatnya itu. setelah berada di kamar mandi. Fathan mengambil Gayung untuk mengguyur tubuh idan.
"Apa-apaan sih! dingin tau!" ujar Idan yang menatap kesal ke arah sahabatnya itu. namun dengan acuhnya Fathan keluar dari kamar mandi, lalu menemui bibinya yang sedang membuat kue lebaran.
Idan yang disiram oleh Fathan, mau tidak mau. dia harus bersentuhan dengan air. dengan terpaksa dia pun mandi, agar tubuhnya kembali segar. setelah selesai mandi Idan mengganti bajunya, lalu menghampiri ibu dan saudara sepupunya yang sedang mengobrol.
"Nah gitu kan cakep! Kalau sudah mandi." ujar Fathan yang menyunggingkan senyum bahagia.
"Ini semua gara-gara lu! yang kurang ajar!" jawab Idan sambil mengambil kue yang telah matang, tanpa ragu lagi Iya memasukkan kue itu ke dalam mulutnya.
"Emang kamu nggak puasa dan?" tanya Fathan yang menatap heran ke arah saudaranya itu.
"Astagfirullah! saya lupa!" ujar Idan sambil menutup mulutnya, kemudian dia mengambil kue lagi.
"Halah si Idan! Mana mau dia puasa." jawab Bibi Fathan menyahuti.
"Hehehe. habis perjalanan jauh Bro! kan boleh tuh kalau kita tidak berpuasa." jelas Idan sambil kembali mengambil kue.
"Fathan kamu puasa? kalau nggak, ya sudah makanin kuenya! dari tadi sibuk membuat kue, sampai lupa menawari tamunya."
"Alhamdulillah puasa Bi! sayang kan tinggal satu hari lagi."
"Bener Than! lagian apa neraka itu panas. kamu jangan ngikut-ngikut sepupumu." jawab Idan sambil tersenyum.
"Tahu neraka panas! tapinya lu menantang?" Jawab Fathan menyahuti.
"Hehehe. Oh ya ngapain lu pagi ini sudah datang ke sini. Bukannya nanti sore atau besok atau lusa lu baru ke sini. ganggu tidur orang saja!" tanya Idan yang masih kesal dengan kelakuan sepupunya.
"Hahahha! Lagian Otak lu molor terus sih. Mending Kita kumpulkan semua teman teman kita. untuk memeriahkan acara malam takbiran. masak kita pulang setahun sekali, tidak memberikan kesan yang berarti bagi keluarga kita."
"Bener tuh! ajak Idan jangan sampai dia tidur terus." sahut Sari.
"Capek Bu! Kan Idan baru pulang."
"Alah alasan! Fathan aja yang baru sampai, dia masih segar bugar tuh!"
"Fathan kan, bukan manusia Bu!"
"Terus kalau bukan manusia, apa dong?"
"Pentol korek kayu!"
"Hush! kamu tuh kalau bercanda suka kelewatan."
"Bagaimana mau nggak? kita kumpulkan teman-teman kita." tanya Fathan sambil tersenyum, melihat tingkah laku kedua saudaranya. Sedikitpun dia tidak merasa tersinggung, dengan ucapan Idan, karena sudah tahu dengan sikapnya yang suka bercanda
"Ya sudah! ayo kita ke rumah si Ferdi. kebetulan tadi malam aku pulang bareng dia!" ajak Idan yang tidak mau diceramahi oleh ibunya.
"Kebiasaan kalau dinasehati itu, suka pergi." gerutu Sari sambil terus melanjutkan pekerjaannya.
Dengan tersenyum Fathan pun berdiri dari tempat duduknya, tak lupa sebelum pergi dia pamitan kepada bibinya terlebih dahulu. kemudian mengikuti Idan yang sudah keluar duluan, setelah sampai di luar, Mereka pun berjalan menuju ke rumah Ferdi untuk memeriahkan acara malam takbiran.
Beruntung ternyata di rumah Ferdi, sudah berkumpul beberapa teman Fathan lainnya. sehingga dia tidak harus susah susah, mendatangi satu persatu teman lamanya.
Setelah berkumpul. Fathan pun menyampaikan maksud dan tujuannya. yang hendak memeriahkan acara malam takbir. para sahabat yang mendengar rencana Fathan, mereka menyambut dengan penuh antusias. karena benar, mereka semua pulang dari kota, hanya untuk memeriahkan kampungnya, meski itu hanya setahun sekali.
Dari perkumpulan itu akhirnya diputuskan! bahwa para Pemuda dan Pemudi. akan membuat balon udara dan meriam bambu. serta tak lupa Mereka pun menyewa sound system, agar acara takbiran menggema di kampungnya.
Para pemuda sahabat Fathan. akhirnya membagi tugas masing-masing. ada yang mencari bambu untuk membuat meriam bambu, ada yang mencari kertas wajit untuk membuat balon udara. Ada juga yang pergi ke Kecamatan untuk membeli karbit. semuanya bergerak demi meriahnya acara tersebut, karena mereka ingin membuat acara mudik mereka berkesan. tak lupa di sela sela pekerjaan, mereka mengabadikan momen itu, dengan berfoto selfie. Kemudian menguploadnya di sosial media masing-masing.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 115 Episodes
Comments