ks. 9

Berdebat

Keesokan paginya keluarga Farhan pun berkumpul di dapur setelah mereka menyantap sarapan pagi.

"Bapak hari ini mau ke mana?" tanya Sri mengawali pembicaraan pagi itu, wajahnya masih terlihat berseri-seri.

"Bapak mau ke sawah, mau mengecek airnya takut kering, soalnya beberapa hari ini nggak hujan."

"Ya sudah hati-hati! sebelum berangkat habiskan dulu tuh kopinya."

"Kak Farah nggak kuliah?" Tanya sarah yang melihat kakaknya masih diam.

"Enggak, kan Kakak sedang menyusun skripsi, Kakak kuliah di kamar aja."

Lagi asik mengobrol, dari arah depan rumah terdengar suara motor besar yang  berhenti didepan rumah mereka. membuat mereka saling menatap merasa heran, karena ada suara motor seperti itu.

"Siapa ya?" tanya Sri sambil menatap ke arah suaminya.

"Nggak tahu! Mungkin pacarnya kak Farah." Jawab Sarah menimpali.

"Hush kakak belum punya pacar. Bentar Farah lihat." ujar anak kedua, sambil bangkit berjalan cepat menuju ke arah pintu depan rumahnya.

"Kak Fatan!" teriak Farah membuat semua orang yang berada di dapur terperanjat kaget, dengan teriakkan anak tengahnya. Kemudian mereka pun berjalan menuju ke arah depan, tak lupa Farhan membawa kopi yang tadi di Tunjukkan oleh istrinya.

Benar saja apa yang diucapkan oleh Farah, terlihat Fathan sedang berdiri di ambang pintu, sambil menenteng kardus berisi pakaian.

"Assalamualaikum!" ujar Fathan sambil bergegas menghampiri kedua orang tuanya, untuk mencium punggung tangan mereka. namun Farhan dan Sri hanya saling menatap heran, kenapa anaknya bisa pulang mendadak seperti ini, tanpa memberi kabar terlebih dahulu.

"Kamu Ada apa pulang?" tanya Farhan tanpa mempersilahkan anaknya duduk terlebih dahulu.

"Fathan resign dari tempat kerja, Pak!"

"Apa?"

Brakk!

Tanya Farhan setelah mendengar penjelasan anaknya, tak terasa kopi yang sedang ia pegang terjatuh menimpa ke lantai. dia kaget seolah mendengar suara petir yang menggelegar di tengah siang hari bolong.

"Apa yang kamu bilang, kamu jangan bercanda Tan! Gak lucu tau." susul Sri yang meyakinkan, karena selama yang ia tahu anaknya tidak pernah berbohong sedikitpun.

"Iya Fathan resign Bu! Fathan ingin bertani mengembangkan kampung kita yang basicnya adalah Kampung petani." Ujar Fathan mengulangi jawabannya.

"Dasar bod0h! dasar gobl0k! aku menguliahkanmu tinggi-tinggi bukan untuk jadi petani. udah enak diangkat menjadi direktur, malah milih yang susah." bentak Farhan setelah yakin dengan apa yang ia dengar.

"Kamu bercanda kan, Tan? kamu pulang ke sini hanya untuk berpamitan, karena kamu akan lebih jauh tinggal dari kami." tanya Sri yang masih belum percaya dengan apa yang menimpanya.

"Nggak Bu! Fathan benar-benar sudah resign!"

"Dia tidak pernah berbohong dengan ucapannya Bu! pasti anak yang tidak tahu untung ini, dia sudah benar-benar resign dari kantornya. entah apa yang ada di pikirannya, padahal dengan dia bekerja seperti itu hidupnya bisa berguna. apa coba yang mau diambil dari bertani?" jawab Farhan yang sudah paham betul dengan karakter anaknya.

"Kenapa kamu resign!"

"Saya ingin bertani bu! saya ingin menjadi petani yang sukses. ingat! bapak dan ibu bisa menguliahkan saya, karena hasil dari ladang kita. Lagian tidak ada bedanya bekerja di sawah ataupun di ladang, dengan pekerja di kantor ataupun di lapangan. Yang terpenting adalah hasilnya."

"Bod0h! kamu benar benar Bof0h! Kamu itu tidak mengerti tentang Apa itu bertani. karena kamu belum tahu masalah besar yang dihadapi oleh pertanian. pupuk yang mahal, cuaca yang ekstrem, hama yang datang bagai hujan. Dan masih belum masalah yang lainnya. itu semua bisa menjadi resiko gagal panen, bisa rugi. kamu tinggal duduk manis sambil memutar otak, uang mengalir dengan begitu deras, Kamu memang benar-benar bod0h, bodoh banget!" ujar Farhan dengan kesal, matanya yang sudah memerah menatap tajam ke arah Fathan.

"Saya sudah mempelajari untuk menanggulangi gagal panen, Saya yakin dengan penanganan yang tepat dan cepat panen pun akan melimpah ruah."

"HAlah! tahu apa kamu tentang pertanian, kamu memegang cangkul aja tidak becus. Tolonglah! kamu kembali ke Jakarta dan kamu minta maaf kepada atasanmu, bahwa apa yang kamu ucapkan itu adalah kekeliruan.

"Tahu Pak! saya tahu betul tentang pertanian."

"Kamu dibilangin malah melawan!" Be.tak Farhan sambil mengangkat tangannya hendak menampar Fathan. namun dia tidak bergeming sedikitpun, dia tetap tersenyum seolah dia sudah siap dengan apa yang terjadi. namun tangan Farhan terhenti, ketika sesenti lagi mau menyentuh pipi anaknya. kemudian dia mengepalkan tangan itu lalu memukul dinding tembok.

"Fathan kamu pikirkan ulang kembali, bertani itu tidak semudah yang kamu bayangkan. buktinya banyak warga Kampung sini yang memiliki sawah yang begitu banyak, kebun yang begitu luas. Semua Itu tidak menjadikan mereka sebagai orang kaya di kampung kita. jujur! kami dengan kamu bekerja di kota, tarap kehidupan kami mulai membaik, kami tidak kesusahan dalam masalah finansial, jadi tolong pertimbangkan perkataan Bapak! Ibu yakin atasanmu akan memaafkan kesalahanmu." tambah Ibu Sri menasehati anaknya.

"Maaf Bu! Fathan sudah membulatkan tekad, karena ini adalah cita-cita saya dari dulu. kalian jangan khawatir karena saya yakin dengan bertani saya masih bisa menafkahi kalian."

"Halah Ngomong apa kamu! kamu itu hanya bocah ingusan yang sok-sokan ingin bertani, lihat siapa orang yang sukses dari pertanian, nggak ada kan? nggak ada orang sukses ketika mereka bertani. hanya kerugian dan kerugian lah Yang mereka dapat. Dan yang perlu kamu ketahui tanah kita tidak seperti tanah kampung lain, tanah kita terlalu kering untuk bercocok tanam, kamu harus mengerti itu."

"Saya sudah memikirkan semua itu Pak! Bapak tenang aja! Bapak nggak usah khawatir!"

"Tolong kembalilah ke kota, dan Bekerjalah seperti layaknya seorang karyawan, kamu jangan aneh-aneh seperti sekarang." usir ibunya.

"Anak bod0h! lihatlah Bapakmu ini! yang sudah bertani bertahun-tahun, apa yang bisa dihasilkan?"

"Karena cara bertani Bapak salah! makanya pertanian yang Bapak kelola, selalu mengalami kerugian." jawab Fathan yang mulai berani.

"Terus apa yang akan kamu lakukan, dan apa yang akan kamu tanam, agar pertaniaan itu tidak merugi."

"Pertama saya akan mengecek kontur tanahnya Seperti apa, lalu saya akan menentukan perawatan tanah itu. agar bisa subur seperti tanah-tanah di kampung lain. Lalu saya akan menentukan tanaman apa yang cocok dengan tanah kita."

"Itu cuma teori Tan! cuma teori! prakteknya akan susah! kamu tahu, berapa kali tanah kita dibawa ke lab, untuk dicek permasalahannya Seperti apa. namun sampai sekarang mereka tidak memberikan jawaban, tentang cara pengolahan tanah kita agar menjadi gembur. Apalagi kamu yang masih baru seumur jagung dan tidak pernah melakukan bertani. itu hanya buang-buang modal, buang-buang waktu, buang-buang kesempatan. sekarang kamu pulanglah kembali ke kota, minta maaf sama atasanmu, lalu Bekerjalah seperti biasa."

"Maaf Pak, Bu! Saya sudah membulatkan tekad saya, untuk membangun kembali kampung saya sendiri. dan saya berjanji akan menjadikan Kampung kita, sebagai Kampung pertanian berteknologi canggih."

"Kamu sarap kali ya! Dari mana modalnya? alat-alat pertanian itu sangat mahal. daripada kamu buang-buang uang untuk hal yang belum pasti, mendingan kamu kasih uang kamu ke orang tua. untuk membiayai pendidikan adik-adikmu, Agar suatu saat mereka bisa membantu orang tuanya, gak kaya kamu yang tidak tau terimakasih."

"Baik saya akan memberikan uang saya! namun Izinkan saya Untuk menggarap sawah bapak." ujar Fathan sambil menurunkan tasnya, kemudian dia membuka tas itu lalu mengeluarkan segepok uang berjumlah 50 juta.

Melihat tumpukan uang segitu banyak, Farhan dan Sri mata mereka terfokus ke arah tangan Arfan.

"Bagaimana?" Tanya Fathan sebelum memberikan uang itu.

"Tapi kamu bukan mau membeli sawah kami kan?"

"Enggak! saya nggak berniat membeli sawah bapak, saya cuma ingin Bapak memberikan kesempatan untuk mendukung cita-cita anaknya."

"Baik bapak akan Beri waktu kamu satu tahun, kalau kamu tidak berhasil dengan pertanian kamu. Tolonglah kembali ke kota dan Bekerjalah seperti biasa, Bapak yakin! banyak perusahaan yang mengharapkan kamu bekerja di perusahaannya." Melihat uang sebanyak itu, akhirnya hati kedua orang tua Fathan pun mulai luluh, menurut pikiran mereka uang lima puluh juta cukup untuk bertahan hidup satu tahun.

"Terima kasih atas kepercayaannya!" jawab Fathan sambil menyerahkan uang yang ada di tangannya kemudian dia pun masuk ke kamar untuk merapikan pakaiannya.

Setelah menyimpan barang bawaannya dia pun keluar dari kamar, meski ada keluarganya namun mereka tak saling menyapa. Fathan tidak memperdulikan itu, karena dia yakin waktu lah yang akan menjawab atas keraguan mereka.

"Bagaimana nih Bu, Bapak malu sama tetangga karena bapak sudah memberitahu bahwa anak kita sudah menjadi direktur."

"Bukan bapak saja yang malu, Ibu juga malu pak! apalagi tadi malam kita sudah mengadakan acara syukuran besar-besaran. Nanti bagaimana ucapan mereka.

Sarah dan parah yang dari tadi menyimak, mereka tidak memberikan tanggapan apapun. namun di hati mereka ada kengerian yang tidak bisa dijelaskan, karena mereka tahu kehidupan mereka bisa seperti sekarang. itu gara-gara Kakaknya yang bekerja di luar kota. sedangkan sekarang mereka tidak tahu harus menggantungkan kehidupannya ke siapa lagi. apalagi melihat keadaan orang tuanya yang sangat memprihatinkan, walaupun memiliki sawah yang lumayan luas. Itu tidak bisa menjamin kehidupan mereka, karena dari hasil panen mereka hanyalah kegagalan dan kegagalan.

"Entahlah Bu! bapak bingung dengan pemikiran anak bod0h itu."

"Ya sudah! sekarang Biarkan saja seperti itu, mungkin lambat laun dia akan mengerti tentang pertanian yang sangat merumitkan. lama-lama dia akan menyerah dan kembali bekerja di kota."

Episodes
1 KS. 1
2 ks. 2
3 ks. 3
4 ks. 4
5 ks. 5
6 ks. 6
7 ks. 7
8 ks. 8
9 ks. 9
10 KS. 10
11 KS. 11
12 KS. 12
13 KERANJANG SAYUR 13
14 ks. 14
15 ks. 15
16 ks. 16
17 ks. 17
18 ks. 18
19 ks. 19
20 ks. 20
21 ks. 21
22 ks. 22
23 ks. 24
24 ks 25
25 KS. 26
26 ks. 27
27 ks 28
28 ks 29
29 ks 30
30 ks 31
31 ks 32
32 ks 34
33 Ks. 34
34 KS. 35
35 KS. 35 B
36 Ks. 36
37 KS. 37
38 KS. 38
39 KS. 39
40 KS. 40
41 KS. 41
42 KS 42
43 KS. 43
44 KS 44
45 KS. 45
46 KS. 46
47 KS. 47
48 KS. 48
49 KS. 49
50 KS. 50
51 KS. 51
52 KS. 52
53 ks 53
54 KS. 54
55 KS. 55
56 KS. 56
57 KS. 57
58 ks 58
59 KS. 59
60 ks 60
61 KS. 61
62 ks. 62
63 Ks. 63
64 KS. 64
65 ks. 65
66 Ks 66
67 Ks 66
68 KS 68
69 KS. 69
70 Ks. 70
71 ks. 71
72 KS 72
73 KS. 73
74 KS. 74
75 KS. 75
76 KS. 76
77 ks 77
78 Ks. 78
79 KS 79
80 KS. 80
81 Ks. 81
82 KS. 82
83 KS. 83
84 KS 84
85 KS. 85
86 ks. 86
87 KS. 87
88 KS. 88
89 ks. 89
90 KS. 90
91 ks. 91
92 KS. 92
93 KS. 93
94 ks. 94
95 KS. 95
96 KS. 96
97 ks 97
98 KS. 98
99 KS. 99
100 KS. 100
101 KS. 101
102 KS. 102
103 KS. 103
104 KS. 104
105 ks. 105
106 KS. 106
107 KS. 107
108 KS. 108
109 KS. 109
110 KS. 110
111 KS. 111
112 KS. 112
113 KS. 113
114 Ks. 114
115 KS 115 TAMAT
Episodes

Updated 115 Episodes

1
KS. 1
2
ks. 2
3
ks. 3
4
ks. 4
5
ks. 5
6
ks. 6
7
ks. 7
8
ks. 8
9
ks. 9
10
KS. 10
11
KS. 11
12
KS. 12
13
KERANJANG SAYUR 13
14
ks. 14
15
ks. 15
16
ks. 16
17
ks. 17
18
ks. 18
19
ks. 19
20
ks. 20
21
ks. 21
22
ks. 22
23
ks. 24
24
ks 25
25
KS. 26
26
ks. 27
27
ks 28
28
ks 29
29
ks 30
30
ks 31
31
ks 32
32
ks 34
33
Ks. 34
34
KS. 35
35
KS. 35 B
36
Ks. 36
37
KS. 37
38
KS. 38
39
KS. 39
40
KS. 40
41
KS. 41
42
KS 42
43
KS. 43
44
KS 44
45
KS. 45
46
KS. 46
47
KS. 47
48
KS. 48
49
KS. 49
50
KS. 50
51
KS. 51
52
KS. 52
53
ks 53
54
KS. 54
55
KS. 55
56
KS. 56
57
KS. 57
58
ks 58
59
KS. 59
60
ks 60
61
KS. 61
62
ks. 62
63
Ks. 63
64
KS. 64
65
ks. 65
66
Ks 66
67
Ks 66
68
KS 68
69
KS. 69
70
Ks. 70
71
ks. 71
72
KS 72
73
KS. 73
74
KS. 74
75
KS. 75
76
KS. 76
77
ks 77
78
Ks. 78
79
KS 79
80
KS. 80
81
Ks. 81
82
KS. 82
83
KS. 83
84
KS 84
85
KS. 85
86
ks. 86
87
KS. 87
88
KS. 88
89
ks. 89
90
KS. 90
91
ks. 91
92
KS. 92
93
KS. 93
94
ks. 94
95
KS. 95
96
KS. 96
97
ks 97
98
KS. 98
99
KS. 99
100
KS. 100
101
KS. 101
102
KS. 102
103
KS. 103
104
KS. 104
105
ks. 105
106
KS. 106
107
KS. 107
108
KS. 108
109
KS. 109
110
KS. 110
111
KS. 111
112
KS. 112
113
KS. 113
114
Ks. 114
115
KS 115 TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!