RENTENIR
Fathan melirik ke arah pamannya, soalah meminta bantuan jawaban. Yang dilirik pun mengerti dengan kode yang diberikan oleh keponakannya .
"begini aja Kang! kalau masalah upah itu, seperti pada umumnya. namun untuk masalah makan dan jamuan ke pegawai itu terserah yang punya sawah. dan paling ada biaya tambahan, untuk membeli solar!" ujar Kamal memberikan jawaban.
"Berapa biaya untuk membeli solar?"
"Tadi habis berapa liter Tan? Untuk memanen sawah yang hanya 5000 meter?"
"Paling sekitar 5 literan Mang, karena saya tadi cek solarnya masih ada. Mamang tadi beli solar 10 liter kan?"
"Berarti kalau sawah saya yang satu hektar itu, membutuhkan solar 10 literan yaa!" tanya Dadun memastikan.
"Yah sekitar segituan, Mang!" jawab Fathan.
Dadun pun terdiam sesaat, seolah lagi menimbang menimbang pengeluaran yang akan dia keluarkan, ketika dia hendak memanen padi menggunakan mesin milik Fathan.
"Baik kalau seperti itu! bisa nggak besok kamu panen padi saya!" Tanya Dadun akhirnya mengambil keputusan, Karena setelah dihitung-hitung biaya itu lebih murah ketika dibanding dengan menggunakan tenaga manusia.
"Insya Allah, bisa Mang!"
"Ya sydah kalau bisa, ini saya ada Rp200.000. cukup nggak buat beli solar dan makanan?"
"Cukup Mang!" jawab Fathan.
Akhirnya Dadun memberikan uang itu sebagai DP pekerjaan yang hendak dilakukan oleh Fathan besok pagi. Fathan menerima uang pemberian itu, dan dia berjanji besok dia akan datang ke sawah bersama pamannya.
Setelah pembicaraan itu berakhir, ternyata warga-warga lainnya mulai berdatangan. untuk meminta Fathan membantu memanen padinya. akhirnya Fathan dan Kamal kebanjiran order dari para warga kampung sukadarma.
"Mang!" Panggil Fathan kepada pamannya, setelah tidak ada tamu yang datang.
"Ada apa Tan?" Tanya kamal sambil menghembuskan nafas berisi asap.
"Saya mau minta tolong! tapi maaf Sebelumnya, saya bukan kurang ajar!" ujar Fathan yang merasa tidak enak.
"Apa sih! Kalau kamu mau ngomong, ngomong aja! Nggak usah berdiksi seperti itu."
"Mau nggak! Mamang bantuin saya untuk memanen tanaman warga, nanti saya ajarkan tentang cara penggunaan mesin pemanen itu." Jelas Fathan mengutarakan maksudnya.
Mendapat tawaran yang sangat menggiurkan, karena sebenarnya dia sangat tertarik dengan mesin yang dimiliki oleh keponakannya. dengan segera Kamal menganggukan kepala tanda dia setuju.
"Mau Mang?"
"Boleh! Boleh banget! berarti Sekarang Mamang jadi karyawan kamu ya?" tanya Kamal sambil tersenyum bahagia.
"Enggak lah, Mang! kita sama-sama bekerja, nanti hasilnya kita bagi Tiga." Jelas Fathan yang tidak mau menjadi bos, karena dia ingin mereka bersama-sama mengembangkan pertanian yang ada di kampung sukadarma.
"Di Bagi tiga sama siapa tan? kan kalian cuma berdua?" Tanya Sari yang ikut nimbrung, dia tertarik ketika ada pembahasan uang di sana.
"Bagi tiga sama pelunasan mesin pemanen padi, karena saya membeli mesin itu tidak cash, Bi!"
"Oh kirain! Dibagi tiga sama Bibi." Jawab Sari sambil tersenyum. dia pun paham dengan apa yang hendak dilakukan oleh keponakannya.
"sudah kamu jangan dengerin bibi kamu, Kalau masalah duit dia nomor satu. Sekarang kamu atur aja Bagaimana baiknya, paman sudah tidak sabar ingin coba menjalankan mesin pemanen padi. dan kalau punya pekerjaan seperti sekarang, Mamang tidak harus menunggu si Idan, mengirimkan uang ketika membutuhkan sesuatu." Jawab Kamal menyanggah ucapan istrinya.
Akhirnya pembicaraan malam itu pun selesai, dengan keputusan mereka berdua besok akan bekerja bersama-sama, untuk memanen padi-padi warga yang sudah memberikan DP pembayaran. Fathan meminta izin untuk pulang ke rumahnya, walaupun Sari dan Kamal menyuruh dia untuk tidur di kamar anaknya. karena mereka tidak mau kalau keponakannya terus dimarahi oleh orang tuanya. namun Fathan menolak, karena menurutnya semakin kita menjauh dari orang tua, maka akan semakin renggang juga hubungan mereka. dia ingin menjalin kedekatan kembali secara perlahan dengan keluarganya. Mendapat penolakan dari keponakannya. akhirnya paman dan bibinya tidak bisa menolak, hingga mereka membiarkan Fathan untuk pulang.
Sesampainya di rumah, hanya sambutan muka masam yang Fathan dapat dari kedua orang tuanya. jangankan mengobrol, menegurnya pun tidak. Meski Fathan terus mendekat secara perlahan, namun mereka tetap Acuh seolah tidak memperdulikan keberadaan anaknya. Fathan hanya tersenyum karena dia sudah tahu sikap orang tuanya. kemudian masuk ke dalam kamar tak mau berlarut memikirkan hal yang tidak penting.
Setelah berada di dalam kamar dia membuka laptop yang dibawa dari kota. kemudian dia membuka aplikasi YouTube video untuk membuat akun. Dia memberi nama akun youtube-nya dengan nama, "keranjang sayur" dia memilih nama itu bukan tanpa alasan, dia berharap dengan nama itu dia bisa menjadi penampung sayuran-sayuran yang dihasilkan oleh warga kampung sukadarma. selain jadi penampung, dia juga ingin menjadi pelopor kesuksesan pertanian. Yang menampung keluh kesah dan mencarikan solusi dari para petani.
Setelah selesai membuat akun YouTube, dia pun mengedit video yang tadi diambil oleh adiknya. dia terus bekerja tanpa lelah sampai tengah malam pun lewat. meski ngantuk mulai menghampiri, namun dia tetap semangat sehingga akhirnya video yang diedit oleh Fathan selesai dibuat. kemudian dia mengupload video itu ke channel youtube-nya.
Keesokan paginya, Fathan pun siap-siap pergi menuju ke rumah bibinya, sama seperti semalam keluarganya belum memberikan respon apapun tentang pekerjaan Fathan. hanya muka masam dan cemberut yang dia terima, kecuali dengan adik-adiknya dia masih bisa bertegur sapa.
Sesampainya di rumah Sari, terlihat bibinya itu sedang menjemur padi yang baru dipanen kemarin. Melihat kedatangan keponakannya dia menghentikan pekerjaan sebentar, alu menghampiri.
"Sarapan dulu Tan!" tawar bibinya yang sudah tahu kalau Fathan belum sarapan di rumahnya.
"Wah! terima kasih! Tau aja kalau Fatan belum sarapan."
"Ya sudah, sana! Tadi Bibi sudah membuat nasi goreng. Bibi mau melanjutkan menjemur padi."
"Terus padi yang itu, mau dibawa ke mana?" tanya Fathan karena melihat kamal, yang baru pulang mengendarai motor, kemudian dia menaikkan beberapa karung padi ke atas motornya.
"Biasa buat setoran ke kang Ujang! soalnya sawah yang kemarin kamu panen suratnya udah ada di sana." mendengar penjelasan bibinya seperti itu Fathan pun mengerutkan dahi, tidak mengerti dengan apa yang disampaikan.
"Oh begitu!" Jawab Fathan yang tidak mau berkepanjangan membahas yang tidak Dia Mengerti.
"SUdah kamu sarapan dulu sana!"
Fathan pun tidak keterusan bertanya, dia masuk ke rumah bibinya, langsung menuju arah dapur, untuk sarapan terlebih dahulu. sebelum dia bekerja untuk memanen padi sawah Dadun. setelah selesai sarapan dia pun kembali ke halaman rumah.
"Kok padinya habis Bi?" tanya Fathan yang menatap heran ke arah bibinya yang sedang duduk di kursi depan rumah.
"Dulu pas si Idan kuliah, Bibi menggadaikan surat tanah ke kang Ujang, namun sampai sekarang bibi belum punya uang untuk menebusnya."
"Terus yang barusan apa?"
"Yang barusan itu hanya membayar bunganya saja, karena Bibi tidak bisa membayar pokoknya. Jadi mau tidak mau, setiap panen harus menyetorkan satu ton dari hasil pertanian bibi."
"Eda4n! Pinjaman Seperti apa itu bi, Itu mah bukan meminjamkan tapi merampok. Lagian Idan sudah lama lulus kuliah, masa belum selesai aja Itu hutang?"
"Nggak Tan! Bibi belum sepeser pun bisa membayar pokok hutang itu. karena Bibi hanya bisa membayar tunggakan bunganya yang sudah beranak pinak." Jawab Sari terlihat matanya yang mengembun, dia marasa sedih harus terus menerus dikejar rentenir.
Mendengar penuturan bibinya seperti itu, Fathan hanya menggaruk-garuk kepala yang tidak terasa gatal. pantas saja kenapa bibinya selalu kesusahan dalam pangan, padahal yang ia tahu, sawahnya Hampir sama dengan sawah yang dimiliki oleh orang tuanya. ternyata sekarang dia tahu letak permasalahannya ada dimana.
"Haduh bingung juga seperti itu, berarti Bibi cuma dapat 2 kuintal, kalau kemarin Fathan ambil bagian Patan."
"Ya segitu, Tan! Hasil itu belum termasuk membayar pupuk, yang sama bibi hutang. belum membayar yang lain-lainnya, makanya kita bertani, hanya mendapat capek dan capek tanpa menghasilkan apapun. Hanya kerja bakti." Cerita Bibi Fathan.sambil mengusap cairan bening yang mengembun hendak tumpah.
"Siapa aja yang terlilit hutang lintah darat ke Kang Ujang?"
"Hush! hati-hati, kalau ngomong, mata-mata Kang Ujang ada di mana-mana!"
"Masa!"
"Iya Kang Ujang kan, banyak hartanya. banyak juga yang menjadi penjilat. kamu harus hati-hati dengan orang yang bernama Kang Ujang!" Ujar Sari sambil berbisik, takut ada orang yang lewat dari mata-mata Kang Ujang.
"Oh begitu, terus siapa aja yang terlilit hutang?" tanya Fathan mengulangi pertanyaannya karena belum mendapat jawaban.
"Hampir setengah bahkan sebagian besar warga dari kampung kita, memiliki hutang ke Kang Ujang. Kecuali Bapak kamu yang menolak meminjam uang ke Kang Ujang. karena dia berpegang teguh dengan pendiriannya, yang tidak mau menanam hutang. yang paling Kang Ujang sasar dari peminjaman uang itu, adalah orang-orang yang diberi tanah oleh Pak Darma. Seperti yang kita tahu Pak Darma dulu pernah membagikan surat-surat tanah miliknya kepada warga warga yang kurang mampu. Dari situlah Kang Ujang berambisi ingin mengambil kembali tanah yang sudah diberikan almarhum mertuanya."
"Kurang ajar!" desis Fathan tak terkontrol, Dia sangat kesal. Harusnya orang kaya itu menolong orang-orang susah seperti yang dilakukan oleh almarhum Pak Darma, bukan malah mencekik warga dengan meminjamkan uang, dengan bunga yang begitu tinggi dan tidak jelas.
Namun ketika lagi bergosip Ria terdengar suara motor Kamal yang baru saja mengantarkan padi ke rumah Kang Ujang. dengan cepat Bi Sari Pun menempelkan telunjuk ke bibirnya, agar apa yang baru saja mereka bicarakan tidak sampai ke telinga suaminya.
"Kapan mau berangkat Tan?" tanya Kamal yang baru saja turun dari motor.
"Sekarang aja mang! Fathan dari tadi menunggu Mamang."
"Iya barusan Mamang juga ketemu Kang Dadun, dia mengingatkan kembali tentang apa yang dibicarakan tadi malam."
"Ya sudah ayo berangkat! sawahnya yang itu kan, yang dekat sawah Mamang?"
"Iya itu!"
"Tapi sebelum berangkat tolong belikan solarnya terlebih dahulu, sekalian membeli kebutuhan Mamang. rok0k dan kopinya!" seru Fathan sambil mengeluarkan uang pemberian dari Kang Dadun dan beberapa warga lainnya tadi malam.
Kamal pun mengangguk, lalu mengambil uang itu kemudian dia masuk ke dalam. untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu. setelah dirasa semuanya siap. akhirnya mereka berangkat bersama meski tidak searah.
Sesampainya di sawah, Fathan pun mulai bekerja untuk memanen sawah kang Dadun. Tak selang berapa lama, Kamal pun datang menyusul sambil membawa kompan berisi solar. Melihat pamannya datang, Fathan matikan mesinnya, kemudian Kamal pun menghampiri.
"Kenapa mesinnya mogok Tan?" Tanya Kamal terlihat raut khawatir di wajahnya.
"Gak mang! Fathan ingin mengajarkan Mamang cara mengoperasikan mesin pemanen Padi ini." Jawab Fathan
"Enggak besok aja Tan? Sekarang Paman bantu yang biasa-biasanya aja dulu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 115 Episodes
Comments