Bertani
Keesokan paginya sesuai yang direncanakan tadi malam. Fathan sudah bersiap-siap untuk berangkat kerja, namun sebelum sampai ke kantor, dia Berencana untuk mampir ke rumah Kirana terlebih dahulu.
Setelah semua di rasa siap, dia pun bergegas menuruni apartemen menuju Parkiran, di mana motornya terparkir. sesampainya di parkiran dengan cepat dia pun menyalakan motor itu, kemudian melaju meninggalkan losmen apartemen membelah kota Jakarta yang sudah kembali ke mode awal, mode kemacetan karena orang-orang yang bergelut mencari nafkah.
30 menit berlalu akhirnya Fathan pun sampai di pintu gerbang rumah besar yang ada di Menteng Jakarta Pusat. dia pun turun dari motor kemudian menekan bel rumah. tak menunggu lama, Pintu itu terbuka kemudian keluarlah Satpam Penjaga.
"Mau cari siapa Pak?" Tanya satpam dengan ramah.
"Saya Fathan, Saya sudah membuat janji untuk bertemu dengan keluarga Pak Wira Karna."
"Oh pak fathan, Silakan masuk Pak! Sekalian bawa motornya." ujar satpam sambil melebarkan pintu gerbang agar motor Fathan bisa masuk ke halaman rumah.
Fathan menggangguk memberi hormat, kemudian dia mendorong motornya masuk ke dalam gerbang.
"Nyalakan saja Pak, motornya!"
"Gak Apa-apa! Lagian dekat ini." jawab Fathan sambil terus mendorong motor sampai akhirnya tiba di parkiran, kemudian dia menurunkan kick standar agar motornya tidak terjatuh.
Setelah motornya terparkir dengan aman, dia pun melepas helm lalu menyimpannya di atas stang. kemudian dia berjalan menuju ke arah teras rumah.
"Assalamualaikum!" ujar Fathan setelah berada tepat di hadapan pintu rumah yang sangat besar. tak menunggu lama pintu rumah itu terbuka, karena Kirana Sudah dari tadi dia menunggu kedatangan pria idamannya.
"Ayo masuk!" ajak Kirana sambil menarik tangan Fathan masuk ke dalam rumah, langsung diajak ke ruang makan. terlihat Pak Wira bersama Bu Winda sedang duduk menunggu kehadirannya.
"Kita sarapan dulu, yah!" ajak Ibu Winda sambil tersenyum menyambut kehadiran Fathan, orang yang sering diceritakan oleh anaknya.
Mendapat sambutan dari tuan rumah Fathan pun mengangguk, kemudian dia duduk bergabung bersama keluarga Wira. dengan Sigap Kirana pun menyiapkan makanan sarapan untuk pria yang selalu ia kagumi. akhirnya mereka pagi itu menyantap sarapan bersama.
Selesai sarapan Pak Wira mengajak mereka untuk berkumpul di ruang tamu. beliau ingin mendengar apa yang hendak disampaikan oleh tamunya.
"Ada apa Pak Fathan, kata Kirana tadi malam Bapak ingin menemui saya?" tanya Wira mengawali pembicaraan pagi yang sudah mendekati siang.
"Sebelumnya saya mohon maaf terlebih dahulu, Kalau kedatangan saya ke sini, merepotkan dan mengganggu kenyamanan bapak dan ibu. maksud saya menemui Bapak, karena ada hal yang penting yang saya ingin sampaikan, selama ini saya menyukai anak bapak .namun Sekali lagi saya mohon maaf kalau saya lancang berkata seperti itu." tampak berbasa-basi Fathan pun menyampaikan maksud dan tujuannya. membuat Kirana terbang melayang mendapatkan pengakuan yang sudah lama ia tunggu. karena perjuangan yang selama ini dia kerjakan tidak sia-sia, namun dibalik Rasa Bahagia yang tak terhingga. dia pun merasa ngeri karena Pak Wira tidak langsung memberikan tanggapan.
Bapaknya Kirana hanya menatap lekat ke arah pria yang berani mengungkapkan perasaan terhadap anaknya, seolah dia ingin tahu sejauh mana keseriusan ucapan Fathan.
"Kenapa kamu menyukai anak saya?" tanya Wira semakin membuat hati Kirana berdegup dengan kencang, melihat perubahan kata yang dilontarkan oleh ayahnya. Yang awalnya memanggil Fathan dengan sebutan Bapak, sekarang berubah menjadi kamu.
"Tidak ada alasan lisan untuk menyatakan alasan kenapa kita mencintai seseorang. Karena rasa cinta itu tumbuh dari lubuk hati yang paling dalam, bukan dari ucapan. kalau bapak memaksa Kenapa saya menyukai anak bapak, karena putri bapak memang layak untuk disukai." jawab Fathan Tak sedikitpun keraguan tergambar di wajahnya.
Mendengar jawaban dari orang ditanya seperti itu, Wira menarik nafas dalam. Sebenarnya dia juga tahu tentang apa yang dilakukan oleh Kirana, namun dia tidak mau menghancurkan kebahagiaan anaknya.
"Kalau Pak Fathan menyukai anak saya, itu adalah suatu kehormatan bagi saya. karena saya yakin pak Fathan adalah orang yang tepat untuk mendampingi putri semata wayang kami!" jawab Wira membuat orang-orang yang berada di situ bisa menarik nafas lega.
Kirana dan Winda pun saling menatap, terlihat kedua sudut mereka terangkat lalu saling memeluk. mencurahkan Rasa yang paling dalam yang mereka dapatkan.
"Terima kasih banyak Pak! atas jawaban yang Bapak berikan. Saya sangat bahagia mendengarnya."
"Sama-sama! Sebenarnya saya sudah menunggu sangat lama, keberanian Pak Fathan untuk mengungkapkan hal itu. saya sempat khawatir karena Pak Fathan tidak memberikan respon positif terhadap anak saya. sekarang kekhawatiran itu sudah sirna, setelah mendapat pengakuan langsung dari orangnya."
"Sekali lagi! saya ucapkan terima kasih."
"Sama-sama! kalau nak Fathan serius dengan apa yang diucapkan. semua aset perusahaan saya sepenuhnya akan menjadi hak milik Kirana. karena hanya itulah yang saya punya, dan saya yakin perusahaan saya akan terus maju ketika dikelola oleh orang yang bertanggung jawab seperti nak Fathan." Puji Wira mengeluarkan kebahagiaannya.
"Kapan mau membawa keluarga, untuk melamar secara resmi anak saya?" tanya Winda yang sejak dari tadi terdiam menyimak, dia merasa gemas kalau tidak ikut nimbrung.
"Jangan seperti itu, Bu! jangan tekan calon menantu kita, nanti dia kabur." jawab Wira sambil tersenyum untuk mencairakam suasana yang sedikit menegang.
"Saya akan secepatnya membawa keluarga saya, namun ada satu hal yang saya ingin sampaikan." Fathan menghentikan ucapannya.
"Menyampaikan apa?" tanya Wira sambil mengurutkan dahi karana orang yang berbicara tidak melanjutkan ucapanya.
"Saya takut Kirana tidak mau menerima saya?"
"Aku mau kok! aku mau banget!" jawab Kirana kalau tidak malu dengan orang tuanya, dia akan melompat-lompat kegirangan.
"Takut kenapa?" tanya Ibu Winda yang mempunyai pemikiran panjang.
"Saya takut Kirana tidak mau diajak hidup susah, karena saya ingin pulang ke kampung halaman. Saya ingin mengembangkan kampung saya dengan cara bertani." jelas Fathan membuat semua orang yang berada di situ terdiam seketika.
Fathan pun mulai bercerita tentang Kenapa dia memilih bertani untuk melangsungkan kehidupannya. karena dia sangat mengagumi ayahnya yang seorang petani, yang sanggup menafkahi keluarga dari hasil panennya. bahkan Fathan sampai bisa seperti sekarang itu, hasil dari pertanian yang dikelola ayahnya.
Ketika dia masih kecil, dia sering diajak oleh ayahnya untuk mengurus sawah. mulai dari membajak, menanam, merawat, menjaga dari hama. semua mereka lakukan untuk mengisi hari-hari indah di masa kecil. dari situlah Fathan menganggap bahwa bertani adalah kebahagiaan dan kebanggaan. bahkan Dulu ketika dia hendak masuk kuliah, dia memilih untuk kuliah di bidang pertanian, namun bapaknya lebih memilih anaknya untuk kuliah mengambil jurusan Teknik Sipil. walaupun seperti itu, kecintaan Fathan terhadap pertanian tidak menghilang begitu saja. dia terus mempelajari tentang tata cara bertani yang baik dan benar agar menghasilkan panen yang melimpah.
Sedangkan orang yang dibanggakan oleh Fathan, mereka sedang sibuk ingin menyiapkan acara syukuran atas kebahagiaan yang mereka dapat tadi malam. setelah mengetahui anak kesayangannya sebentar lagi akan menjadi direktur perusahaan cabang di Surabaya.
"Katanya mau nyembelih kambing Pak, tapi masih diam di rumah?" tanya Sri yang merasa kesal karena suaminya masih duduk, sambil ngopi ditemani sebatang rok0k.
"Sabarlah Bu! tunggu Pak Ustad datang, Bapak kan nggak bisa nyembelih sendiri, lagian kalau bapak yang nyembelih nanti nggak afdol."
"Susul lagi, apa! nanti kalau kesiangan bisa-bisa kita telat memasaknya."
"Malu lah, bu! Biarkan saja, nanti juga pak ustad datang semdiri, dia tidak pernah mengingkari janjinya."
"Ibu suruh Sarah ya, untuk menyusul Pak Ustad."
"Jangan Bu! Lagian ini belum melewati waktu yang Pak Ustad janjikan."
"Ya sudah, jangan lama-lama! nanti daging dombanya nggak matang, sesuai dengan waktu acara syukuran."
"Iya! iya!" jawab Farhan sambil menghisap kembali Rok0k yang ada di tangannya.
"Jangan iya-iya doang! buruan keluarin kambingnya dari kandang, nanti ketika Pak Ustad datang tinggal menyembelih."
Namun Tak selang Berapa lama, orang yang ditunggu pun datang menghampiri, lengkap dengan alat tempurnya.
"Maaf saya datang terlambat ya?" Tanya pak ustad yang merasa tidak enak, karena Beliau mendengar perdebatan keluarga pagi itu.
"Enggak kok pak! ini juga belum masuk waktu yang bapak jamjikan. istri sayanya aja yang tidak sabaran." ujar Farhan sambil menunjukan jam yang menempel di tangannya.
"Buruan keluarkan kambingnya pak! Jangan malah ngobrol!"
"Iya! Iya! Sabar apa! Mending ibu siapkan kopi buat pak Ustad!" Seru Farhan sambil bangkit dari tempat duduk. kemudian dia mengajak pak ustad untuk pergi ke halaman belakang. terlihat di kebun belakang rumah, ada satu kandang yang diisi oleh beberapa kambing. dengan cepat Farhan pun memilih kambing terbaik untuk disembelih, agar kambing yang ia Potong cukup untuk makan warga Sekampung.
Hari itu keluarga Farhan disibukkan dengan mempersiapkan acara syukuran anaknya, dibantu oleh para tetangga yang ikut merasa senang. karena mendengar salah satu warga Kampung mereka ada yang menjadi direktur. mereka bekerja saling bahu-membahu untuk menyiapkan acara syukuran.
Malam hari setelah melaksanakan salat Isya, para warga Kampung pun berkumpul di rumah Farhan. untuk mengadakan syukuran dengan membaca Tahmid, tasbih dan Alquran. dipimpin langsung oleh pak ustad. Farhan yang terlihat bahagia dan bangga dia terus membicarakan anaknya kepada para tamu undangan yang hadir mengikuti acara syukuran.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 115 Episodes
Comments