CACIAN
"Jangan besok-besok! kalau belajar itu jangan ditunda-tunda! Ayo naik!" paksa Fathan.
Mendapat paksaan dari keponakannya. Kamal pun akhirnya mengalah dia naik ke atas mesin pemanen padi. Fathan pun mulai menjelaskan tentang fungsi-fungsi yang ada di mesin panen itu.
"Ngerti kan Mang?" Tanya Fathan setelah selesai menjelaskan semua.
"Insya Allah! tapi kalau salah jangan dimarahin ya!" Pinta kamal yang terlihat mengiba.
"Enggak lah! Mamangkan sudah nggak muda lagi, Masa harus dimarahin segala, coba Nyalakan mesinnya!"
Dengan tangan bergetar, Kamal pun mulai menghidupkan mesin pemanen padi, namun ketika di gas mesin itu mati kembali.
"Ayo Nyalakan lagi!"
Kamal pun mengangguk kemudian dia mengulang kembali apa yang ia kerjakan sehingga setelah mencoba beberapa kali , akhirnya mobil mesin itu bisa menyala. Fathan pun terus mengarahkan pamannya agar bisa mengendarai mesin itu.
Dua jam berlalu akhirnya Kamal pun mulai bisa mengoperasikan mesin pemanen padi. meski belum lancar tapi perkembangannya sangat memuaskan Fathan. sehingga dia bisa duduk sambil menikmati secangkir kopi yang sudah dibuat oleh Dadun.
Perlahan tapi pasti akhirnya Kamal pun bisa memanen seluruh padi milik Dadun, Kemudian mereka pun menimbang hasil padinya. lalu membagi hasil panen itu dengan Fathan.
Begitulah keseharian Fathan untuk sekarang. biasanya dia bergelut dengan komputer dan sketsa-sketsa bangunan, sekarang dia mulai bergelut dengan Lumpur dan terik matahari, sehingga kulitnya yang semula putih sudah mulai menghitam kecoklatan, terkena sengatan matahari. namun itu adalah kebanggaan bagi dirinya, Karena dia benar-benar sudah menjadi petani. hasil yang dikumpulkan dari mengoperasikan mesin untuk memanen padi para warga. Fathan bisa membayar setengah dari hutangnya kepada Seno, meski awalnya Seno menolak, namun Fathan tetap memaksa karena kerjasama itu tidak akan sampai berakhir sampai di situ. mungkin kedepannya dia akan mengambil mesin-mesin yang lainnya.
Selesai memanen padi semua warga kampung sukadarma. Fathan pun mulai menjalankan teori yang ia miliki tentang perawatan tanah pasca panen. dia tidak langsung membajak sawah milik orang tuanya. dia membiarkan sawah itu untuk istirahat terlebih dahulu.
"Kapan mulai menanam padi Tan?" tanya Kamal waktu sore itu.
"Dua minggu lagi Mang, sambil menunggu bibit unggul dikirim!" jawab Fathan sambil meminum teh yang dihidangkan oleh bibinya.
"Terus sekarang rencana kamu ke depannya apa?"
"Saya ingin memabat kebun milik bapak, yang ditumbuhi ilalang, saya akan memanfaatkan lahan itu untuk menanam sayur-sayuran." jelas Fathan menyampaikan rencananya.
"Sekalian saja! kalau menanam sayur di tanah bapak kamu, tanah Bibi yang ada di sampingnya Kamu urus! biar bisa bermanfaat, sayang kalau tanah itu kalau dibiarkan belukar begitu saja."
"Serius Bi?" tanya Fathan antusias."
"Seriuslah, Emang kapan Bibi berbohong?"
"Aduh! Terima kasih banyak Bi! terima kasih." ujar Fathan sambil tersenyum menunjukkan raut kebahagiaan.
"Masih butuh tenaga nggak?" tanya Kamal karena sudah mulai menikmati pekerjaan yang ia jalani, Walaupun dia pekerja sebagai kuli pertanian, namun tubuhnya tidak terasa capek. Karena hanya mengoperasikan mesin-mesin canggih milik Fathan.
"Butuh banget Mang! butuh sekali! Emang Mamang mau membantu saya untuk mengelola tanah kebun kita. Oh iya terus aturannya seperti apa, kalau saya mengolah tanah kalian?" tanya Fathan yang baru ingat dengan tawaran bibinya.
"Gunakan saja! Lagian sayang tanah itu menjadi tanah yang tak terurus, soal pembayarannya itu terserah kamu, Bibi yakin kamu orangnya sangat baik. Dan tahu cara mengatur hasil panen.
"Ya sudah! seperti biasa hasilnya kita akan bagi dua!"
"Tumben dibagi dua Tan?" tanya bibinya sambil tersenyum.
"Iya dibagi dua itu setelah modalnya kembali, Tapi walau begitu tenang saja! untuk Mang Kamal kalau mau membantu, saya akan bayar sesuai upah kerja yang ada di kampung kita." jelas Fathan memberikan pengertian.
"Atur aja sama kamu Tan! Mamang yang orang bod0h yang tidak tahu tentang pengaturan masalah yang gituan, paman ngikut aja! Paman yakin kamu tidak akan menyusahkan orang. Dan kalaupun tidak dibayar Mamang akan tetap membantu, karena Mamang udah jatuh hati sama mesin-mesin yang kamu punya." Jawab Kamal yang tak mempedulikan masalah upah. Karena Semenjak dia ngikut sama Fathan kehidupannya mulai membaik, dari lauk makan yang biasa hanya ikan asin sekarang dia tidak ragu untuk membeli telur dan ayam.
Akhirnya pembicaraan itu dilanjutkan dengan obrolan-obrolan biasa, Fathan sekarang lebih sering berada di rumah bibinya. Fathan pulang hanya untuk mengganti baju dan mengupload video-video yang ia buat, ke channel Youtubenya.
*****
Keesokan paginya, Fathan dan kamal sudah bersiap-siap menuju lahan perkebunan, yang ditumbuhi oleh Ilalang dengan membawa alat-alat yang dibutuhkan. Sesampainya di kebun Fathan pun memperhatikan tanah yang lumayan luas dengan teliti.
"Sekarang bagaimana Tan?" tanya Kamal sambil menatap ke arah keponakannya.
"Kita babat dulu tumbuhan liarnya Mang, pakai mesin ini!" ujar Patan sambil menunjukkan mesin rumput.
"Emang bisa pakai gituan?"
"Bisa mang! Mamang masih belum yakin dengan alat-alat yang saya miliki?"
"Buktikan Tan!" tantang Kamal sambil tersenyum, Sebenarnya dia tidak ada keraguan sedikitpun dengan mesin-mesin yang dimiliki oleh Fathan, namun dia ingin tahu cara menggunakannya seperti apa.
Fathan pun mulai mengengkol mesin pemotong rumput, hingga akhirnya mesin itu menyala mengeluarkan asap. kemudian dia menekan tuas gas untuk mengecek Apakah mesin itu berfungsi atau tidak, Ternyata mesin itu berfungsi dengan baik.
Setelah puas dengan pengetesan, dia pun mulai membabat rumput-rumput ilalang yang tumbuh liar di kebun bapaknya. melihat mesin yang dimiliki Fathan bisa membabat rumput dengan begitu cepat, tanpa mengeluarkan tenaga ekstra. membuat Kamal kembali menganga, mau tidak percaya tapi itu adalah kenyataan.
"Kenapa mang, mau mencoba?" tanya Fathan yang melihat perubahan sikap mamangnya.
"Emang Boleh?"
"Bolehlah Mang, nih!" Ujar Fathan sambil melepaskan alat yang digendongnya. dengan semangat Kamal pun menggendong mesin itu, lalu Fatan mengajarkan cara penggunaannya. Kamal yang sangat suka dengan alat-alat canggih, dengan cepat dia menguasai dan mengerti cara penggunaannya. sehingga akhirnya dialah yang bekerja memotong rumput, sedangkan Fathan dia bertugas mengumpulkan rumput-rumput yang baru dipotong di samping kebunnya.
"Kumpulkannya di tengah aja Tan! ngapain dibawa ke samping, nanti setelah kering kita bakar!" Ujar Kamal di sela-sela pekerjaannya.
"Sengaja Mang saya kumpulkan Buat pupuk! agar nanti kita bisa menghemat pupuk non organik."
"Apalagi tuh, tan?" Tanya Kamal yang baru mendengar karena menurutnya sampah hanyalah sampah tidak bisa digunakan.
"Udah Mamang kerja aja! nanti pisaunya kena kaki." Seru Fathan yang mengkhawatirkan keselamatan pamannya.
Ketika mereka sedang asyik bekerja diselingi dengan tawa-tawa ringan. terlihat ada Seorang warga yang mendekati, karena merasa heran dengan apa yang hendak dilakukan oleh Fathan.
"Kamu mau bikin lapangan bola, Tan?" tanya Dadun sambil menatap ke arah Kamal yang sedang mengoperasikan mesin.
"Nggak Kang Saya mau menanam sayuran di sini." Jawab Fathan sambil menghampiri Dadun
"Hahaha!" tanggapan Dadun membuat Fathan mengerutkan dahi.
"Kenapa tertawa?"
"Kamu lucu Tan! masa, ladang seperti ini mau dijadikan tempat mennanam sayuran, kamu ada-ada aja! mana bisa tanah seperti ini dipakai nanam sayur.
"Bisa Mang! sangat bisa!"
"Serius?" tanya Dadun sedikitpun tidak menunjukkan keyakinan.
"Insya Allah bisa!"
"Kalau bisa, dan kamu berhasil. tuh tanah saya kamu garap, Saya tidak akan meminta sepeser pun dari hasil pertanian.: tantang Dadun sambil menunjuk kebun yang ia miliki.
"Serius Mang!"
"Tanya mamangmu! apakah saya suka berbohong atau tidak? tapi ingat! itu kalau berhasil kalau nggak ,hahaha!" ujar Dadun sambil menutup mulutnya.
Mendengar ledekan seperti itu, Fathan pun hanya tersenyum, namun Hatinya sudah bulat dia akan membuktikan bahwa apa yang dikerjakannya tidak akan sia-sia.
"Kang Farhan! Kang Farhaaan! sini Kang!" Panggil Dadun ketika melihat bapaknya Fathan melewati kebun itu mungkin dia baru pulang saja mengecek sawah.
"Ada apa Dun?" tanya Farhan yang menghampiri.
"Lihat anakmu ini! kayaknya harus dibawa ke rumah sakit jiwa. masa iya ladang Ilalang seperti ini, mau dijadikan perkebunan?" cerita Dadun kepada Farhan.
"Tahulah Dun! anak bod0h seperti ini, susah untuk diatur. udah enak-enak kerja kantoran dengan gaji besar, malah berjudi dengan ingin menjadi petani. apa namanya kalau bukan bod0h dan gobl0k!" ujar Farhan sambil melirik sinis ke arah anaknya.
Melihat dua orang yang memojokkannya, Fathan pun bangkit kemudian meneruskan pekerjaan, dia mulai merapikan kembali sisa-sisa pemotongan rumput.
"Iya! Akang harus bawa anak Akang ke psikiater, Mungkin dia mengalami gangguan jiwa."
"Bingung lah, Dun! lihat sawah saya, orang lain sudah pada ngebajak, dia malah ngurusin kebun."
"Itu kan! Sawah Akang, kenapa nggak akan bajak sendiri?"
"Saya sudah menyerahkan pengurusannya selama 1 tahun kepada Fathan. kalau dia tidak berhasil saya akan kembali lagi mengambil pengurusan sawah itu."
'"Akang yakin, kalau si Fatan akan berhasil?"
"Enggak!" jawab Farhan sambil menghela nafas kasar.
"Sama! saya juga nggak yakin, bahkan saya menawarkan Kebun saya untuk digarapnya, tanpa harus mengeluarkan sewa sepeserpun. dengan catatan dia berhasil membuat lahan ini menjadi lahan pertanian." jawab Dadun sambil tersenyum sinis, menatap kedua orang yang sedang sibuk bekerja.
"Ya sudah, ayo kita pulang! lama-lama Di Sini nanti kita kebakar!" ajak Farhan sambil berjalan mendahului Dadun, tidak kuat dengan teriknya matahari.
Kamal hanya mendengus kesal melihat kelakuan kakak iparnya, bukannya mendukung malah menghina. Padahal Fathan masih tetap memberikan uang seperti yang ia berikan ketika bekerja di kota. Itu bisa membuktikan bertani dan bekerja itu sama-sama saja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 115 Episodes
Comments