SAHABAT
Pukul 16.00. handphone Fathan berbunyi, dengan segera Ia mengambil handphone yang ada di dalam kantong celana, kemudian melihat Siapa yang menelpon.
"Halo! kamu jadi nggak ke rumah?" tanya Seno setelah teleponnya terhubung
"Jadi dong! aku sudah dari jam 02.00 sudah berada di kota."
"Kenapa kamu nggak langsung ngasih kabar?"
"Takut mengganggu!"
"Padahal santai aja! kalau Aku tahu kamu dari tadi sudah datang, aku akan izin pulang, kebetulan hari ini di kantor tidak ada pekerjaan.
"Hahaha, maaf!"
"Ya sudah, saya pulang nih, Kamu buruan datang ya!"
"Baik Pak Seno! rumahnya masih yang dulu kan."
"Masih!"
Akhirnya telepon itu terputus, kemudian Fathan mengambil tas lalu menggendongnya. Setelah dirasa tidak ada yang tertinggal. Fathan berjalan menuju ke arah motor yang terparkir di halaman masjid. Tak lama motor itu pun menyala, kemudian dia menarik tuas gas pergi menuju arah Cisaat.
Tak lama di perjalanan, akhirnya dia sampai di salah satu rumah, yang ada di salah satu Perumahan Kecamatan Cisaat. dengan segera dia pun menekan bel yang ada di luar pagar. Seno yang sejak dari tadi menunggu dengan cepat menghampiri.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!" jawab Seno sambil mengulurkan tangan kemudian memeluk sahabatnya dengan begitu erat, karena mereka sudah begitu lama tidak bertemu.
"Waduh! malu saya datang ke sini, sekarang rumahmu sudah berbeda banget ya No!"
"Ah! kamu bisa aja, ayo masuk!" ajak Seno sambil menggandeng sahabatnya masuk ke dalam rumah.
"Motor saya aman kan di situ"
"Sangat aman! kalaupun motor kamu hilang, nanti saya akan ganti dengan mobil." jawab Sambil tertawa
"Terima kasih banyak! mendengarnya saja saya sudah sangat senang."
Sesampainya di ruang tamu, istri Seno pun dengan Sigap menyambut kedatangan tamunya. Dengan menyiapkan kopi dan berbagai makanan ringan. karena istrinya Seno sangat kenal dengan Fathan. Dulu mereka bertiga adalah teman sekampus.
"Bagaimana keadaanmu Tan? sekarang semakin gagah aja." tanya istri Seno setelah selesai menyiapkan jamuan, dia pun duduk di samping suaminya.
"Alhamdulillah hampir semuanya baik-baik saja, walaupun tak sebaik keluarga kalian." jawab Fathan menghiasi bibirnya dengan senyum, memuji keharmonisan rumah tangga sahabatnya.
"Alah! bisa aja kamu tan! kapan menyusul? kita sudah punya sepasang ratu dan raja loh!" tanya Seno.
"Wah mantap, Si Sandi sudah punya adik sekarang? Kalau masalah menyusul saya akan Secepatnya, doakan saja Nanti kalian akan kalah saing!"
"Buktikan jangan ngomong doang, Perasaan dari dulu jawabanmu hanya itu-itu saja! secepatnya, secepatnya, tapi kenyataannya tidak ada." ujar istri Seno sambil menggenggam erat tangan suaminya.
"Siap laksanakan! tapi kalau saya menikah, kalian harus hadir ya! Di manapun pernikahan saya."
"Kalau masih di bumi! Kita pastikan, kita pasti hadir!" jawab Seno sambil tersenyum.
Akhirnya mereka pun terlarut dalam obrolan obrolan masa lalu, dengan penuh canda tawa menghiasi bibir-bibir mereka, sambil ditemani makanan ringan.
"Oh iya, kamu ditelepon tadi mau minta bantuan apa?"
"Jadi begini Sen, aku sekarang sudah resign dari tempat kerjaan." Fathan pun menceritakan kejadian yang baru saja ia alami beberapa hari terakhir. membuat Seno dan Firda manggut-manggut seolah mengerti dengan apa yang ceritakan oleh tamunya.
"Jadi sekarang kamu ingin bertani meski keluargamu tetap menolak?" tanya Seno setelah mendengar cerita dari Fathan.
"Itulah sen! namun ada beberapa kendala karena kurangnya alat, untuk memulai pertanian, bahkan bukan itu saja, tadi sebelum ke sini, Saya sudah mengecek beberapa toko yang menyediakan alat-alat pertanian dan bibit bibit unggul."
"Toko alat pertanian yang di Ahmad Yani bukan?" tanya Seno.
"Iya, salah satunya itu. kenapa emang?"
Seno dan Firda pun saling menatap, kemudian tersenyum lalu menatap kembali ke arah tamunya.
"Kenapa malah senyum senyum kayak kambing yang mau kawin?"
"Kamu butuh alat apa? nanti saya kirimkan."
"Mungkin untuk sekarang, Saya hanya membutuhkan alat yang baru ada. yaitu alat panen padi agar menghemat waktu, terus traktor untuk membajak sawah."
"Ya sudah besok kita ke sana lagi, kebetulan toko itu adalah milik saya. maaf bukannya sombong."
"Wow, Hebat!" ujar Fathan memperlihatkan raut kebanggaan, terhadap sahabatnya yang sudah sukses.
"Nggak ada yang hebat, kita hanya menjalani peranan masing-masing, sebelum kita kembali ke pemiliknya."
"Ngomong-ngomong Terima kasih ya sebelumnya?"
"Kamu butuh bibit unggul serta alat-alat perkebunan, seperti plastik buat membuat rumah kaca, mulsa atau yang lainnya?"
"Sangat butuh! kenapa masih punya lagi tokonya?"
"Hahhaha. Enggak lah, enggak! Tapi kalau kamu mau, nanti saya bisa rekomendasikan ke teman saya. agar mendapat harga yang miring dengan kualitas yang bagus.
"Aduh jadi nggak enak nih! merepotkan terus. saya sampai bingung harus berkata apa lagi?" jawab Fathan sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak terasa gatal.
"Udahlah! kamu juga dulu membantu kami tidak perhitungan. mungkin sekarang bagian kami yang membantu kamu, walaupun pengorbananmu lebih besar dibandingkan yang hendak kami lakukan. Dan Kami yakin kamu melakukan hal ini bukan untuk dirimu sendiri, melainkan untuk orang banyak." Jelas Seno sambil mengulang kembali memori pertolongan yang Fathan berikan.
"Sekali lagi terima kasih! Oh iya, maaf kalau nggak merepotkan lagi. Saya sudah membawa sampel tanah dan air yang ada di kampung saya. kalau bisa tolong cek kadarnya seperti apa, agar nanti saya bisa menentukan Tanaman apa yang cocok dan cara perawatannya Seperti apa. Biar tanah yang ada di kampung saya bisa ditanggulangi dan bisa menjadi tanah yang gembur.
"Coba mana lihat?"
Fathan pun mengeluarkan sampel-sampel yang tadi siang diambil dari kebun dan sawahnya. lalu menyerahkan kepada sahabatnya, Seno pun memperhatikan dengan kasat mata benda yang baru diambil.
"Kamu capek nggak Tan?" tanya Seno setelah memperhatikan tanah itu.
"Nggak? kenapa emang?"
"Kalau Nggak capek, nanti sehabis makan malam kita pergi ke lab untuk mengecek tanahnya."
"Kalau seperti itu, saya yang harusnya bertanya apakah Pak Seno enggak capek?"
"Hahaha. bisa aja, ya sudah nanti Sehabis makan malam kita pergi ke laboratorium, untuk mengecek tanah dan sampel-sampel lainnya."
Akhirnya mereka pun terus mengobrol hingga akhirnya adzan maghrib berkumandang. obrolan mereka terhenti untuk melaksanakan salat magrib berjamaah di Masjid. selesai melaksanakan salat, firda istri dari seno sudah menyiapkan makan malam lebih awal, karena tadi sebelum suami firda mau berangkat ke masjid, Seno sudah meminta istrinya untuk menyiapkan itu.
Seusai makan malam yang waktunya agak dimajukan sedikit. Seno dan Fathan pun berangkat dengan mengendarai mobil menuju ke arah kantor Seno. tak di ceritakan lamanya di perjalanan, akhirnya mereka pun sudah berada di lab, lengkap dengan memakai baju APD.
"Jadi pekerjaanmu setiap hari begini sen? enak banget ya, kerja hanya menggoyang-goyangkan botol kaca, gajinya puluhan juta."
"Hahaha, ilmunya yang mahal tan! karena kalau salah goyang nanti salah masuk." jawab seno sambil tertawa.
"Hah! Pertanyaannya ke mana, jawabannya ke mana."
Mereka pun terlarut dalam pekerjaannya, Seno yang merasa punya hutang Budi terhadap Fathan, dia dengan ikhlas membantu sahabatnya. sedangkan Fathan yang ingin memajukan kampung halaman, dia sebisa mungkin membantu pekerjaan Seno.
Pukul 22.30 akhirnya pekerjaan mereka pun selesai, kemudian mereka berdua memutuskan kembali ke rumah, untuk beristirahat terlebih dahulu, sebelum menentukan cara pengolahan tanah yang tepat.
Keesokan paginya. setelah mereka sarapan bersama. Fathan dan Seno berangkat menuju ke toko penjualan alat-alat pertanian, namun yang berbeda sekarang Fathan menggunakan motor, tidak ikut menumpang dengan mobil Seno.
Sesampainya di toko, terlihat toko itu masih sepi, karena mungkin baru awal buka, mengingat waktunya masih pagi. melihat pemiliknya datang para karyawan pun memberikan hormat.
"Pandi sudah datang?" tanya Seno ke salah satu karyawan.
"SUdah Pak! mungkin dia sedang mengganti baju."
"Tolong panggil!"
Karyawan yang disuruh pun mengangguk, kemudian dia pergi menuju arah loker, untuk memberi tahu karyawan yang bernama Pandi. tak lama menunggu pandi pun datang.
"Tolong Kamu urus Semua pesanan sahabat saya, nanti saya yang akan bayar." Ujar Seno memberikan arahan.
"Jangan begitulah sen, itu harga traktor sama alat pemanen padi harganya kan lumayan sangat mahal, Nanti kamu rugi loh!"
"Hahaha. siapa yang mau memberi kamu gratisan, Saya hanya ingin kamu mendapat barang yang bagus dengan cicilan yang ringan. untuk sekarang Simpan dulu tabungan kamu, kamu cukup ambil beberapa uang untuk membayar dp-nya. Namun nanti setiap bulan kamu harus menyetor uang ke saya."
"Tanpa ada jaminan?"
"Kepercayaan!"
"Terima kasih banyak yah Sen! terima kasih!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 115 Episodes
Comments