TEERTARIK
"Ya sudah! Saya mau pulang dulu, nanti habis dzuhur kita lanjutkan lagi pekerjaan." ujar Fathan sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Iya, Mamang juga mau menemui Yayan, mau menanyakan tentang kotoran kambingnya. kebetulan rumahnya kan dekat. jadi Mamang mau ke sana dulu, sebelum adzan dzuhur berkumandang." jawab Kamal sambil mengikuti apa yang Fathan lakukan. Dia bangkit dari tempat duduk lalu bersiap-siap menemui tetangganya.
Akhirnya keponakan dan Pamannya pun berpisah, Fathan pulang ke rumahnya, sedangkan kamal bersiap-siap untuk menemui Tetangganya.
Sesampainya di rumah terlihat orang tuanya sedang berkumpul sambil menonton televisi. setelah sawahnya diambil alih pengurusannya oleh Fathan, mereka tidak memiliki kegiatan sama sekali.
"Si Agus, Bu ! dia lebih memilih membeli barang-barang yang tidak penting, daripada memberi uang kepada orang tuanya." ujar Farhan setelah melihat anaknya masuk ke dalam rumah, dia daripada menjawab salam anaknya lebih memilih menceritakan orang lain.
"Iya Si Agus emang nggak punya hati. dia sombong, Padahal dia bisa tumbuh sebesar itu, hasil dari siapa? hasil dari orang tua yang membesarkan dengan jerih payah!" Timpal Sri menyahuti pendapat suaminya.
Fathan yang mengetahui bahwa Agus hanyalah sindiran buatnya, dia hanya tersenyum tanpa mempedulikan ucapan orang tuanya. dia lebih memilih masuk ke kamar, tidak mau berdebat dengan orang yang telah mengurusnya. Fathan terus bersabar, dan bersabar, selalu bersabar. ketika diperlakukan seperti itu. padahal setiap minggu Fathan selalu ngasih uang belanja, meski dia belum pernah makan di rumah orang tuanya.
"Yang paling parah, ketika dia dinasehati. dia malah masuk kamar, tidak menganggap keberadaan orang tuanya." tambah Farhan sambil menatap ke arah kamar anaknya.
"Yah, untung orang tuanya Sabar ya! kalau nggak sudah diusir tuh dari rumah."
"Si Agus mana ngerti masalah yang seperti itu, padahal orang tuanya Sudah beberapa kali mengusir dia dari rumah. tapi dia masih tetap betah tinggal, Mungkin dia tidak merasa bahwa apa yang dilakukannya itu benar-benar salah, dan melukai hati orang tuanya."
"Nggak tahu otaknya terbuat dari apa, sampai dia tidak punya malu seperti itu?"
Di dalam kamar. Fathan yang Mendengar pembicaraan orang tuanya, dia hanya meneteskan cairan bening. meski dia tidak pernah menunjukkan kesedihan di hadapan orang lain. namun ketika sendiri dia akan menangis layaknya seorang anak yang tidak diterima oleh keluarganya.
"Si Agus itu terlalu sombong Bu! dia ingin bertani padahal kehidupannya sudah enak. itu berkat orang tuanya yang banting tulang menyekolahkannya tinggi-tinggi. namun apa hasil buat orang tuanya, selain sakit hati. karena tidak pernah dianggap!"
"Aduh, bingung Pak lah! masih ada aja orang seperti itu ya! orang yang tak tahu terima kasih, orang yang tak tahu balas budi." Timpal Sri menyahuti perkataan suaminya.
"Padahal dua hari yang lalu, Kang Dadun sudah menyarankan orang tuanya untuk membawa anak itu ke psikiater. mungkin otaknya ada yang konslet, sehingga dia tidak mengerti tentang cara menghormati pengorbanan. Namun orang tuanya tetap tidak melakukan hal itu karena takut membuat anaknya malu.
Fathan pun yang sejak dari tadi tinggal di kamar, dia keluar langsung menuju kamar mandi, ingin membersihkan tubuhnya terlebih dahulu tanpa menyapa mereka.
"Bingung Bu! bapak bingung! dengan keadaan anak kita yang semakin hari semakin menjadi. pasti Uang Tabungannya sudah ludes habis terkuras, untuk membeli alat-alat pertanian yang belum pasti penghasilannya." curhat Farhan setelah tidak melihat anaknya.
"Sama ibu juga Bingung, dengan anak keras kepala seperti itu, kita tidak bisa menasehatinya!" jawab Sri sambil menghela nafas pelan menyembunyikan kesedihannya.
"Iya padahal bertani itu tidak semudah yang dibayangkan, banyak orang yang bangkrut gara-gara bertani. Ini yang baru pemula dan tidak mengerti tentang tata cara bertani, malah so-soan ingin bertani."
"Biarkan saja Pak! nanti juga kalau dia sudah tahu susahnya bertani, dia akan menyerah dan bekerja kembali di kantor."
"Iya, mending kalau ada kantor yang mau menerima, kalau nggak, dia akan menjadi beban keluarga. sedangkan adik-adiknya saja sedang membutuhkan biaya banyak. Masa kita harus membiayai anak yang sudah dewasa."
"Ibu yakin pasti banyak perusahaan yang mau menerima dia bekerja. karena menurut pengakuannya, dia sangat pandai dalam arsitek. sampai-sampai pemilik perusahaan ingin menaikkan jabatannya sebagai Direktur." tenang Sri menenangkan perasaan suaminya, Padahal dia sendiri juga bingung dengan apa yang dilakukan oleh Fathan.
"Iya kalau dia tidak bohong! Tapi kalau bohong bagaimana?"
"Ibu yakin Walaupun dia keras kepala, tapi dia tidak pernah melakukan hal serendah itu. doakan saja agar dia cepat sadar, cuma itu jalan satu-satunya yang bisa kita lakukan untuk kehidupan anak kita."
Mereka terus membicarakan Fathan yang ingin bertani, dan mengeluarkan modal yang begitu banyak. obrolan itu terhenti sesaat, ketika Fathan masuk kembali ke dalam kamarnya. setelah berada di kamar, Fathan pun mengganti baju dengan baju bersih. Untuk bersiap-siap untuk melaksanakan kewajibannya ke masjid.
Selesai melaksanakan salat, seperti biasa dia akan pulang ke rumah bibinya, untuk makan siang terlebih dahulu. selesai makan siang dia pulang sebentar ke rumah untuk mengganti baju dengan baju kerja, lalu kembali ke rumah bibinya.
Setelah sampai di rumah bibinya, dia pun mengambil mesin culvator, mesin pembajak kebun. lalu membawa mesin itu menuju kebunnya yang sudah dibersihkan. setelah sampai di kebun, terlihat Asep dan sabroni yang baru datang setelah beristirahat di rumahnya.
"Mesin Apa itu Tan?" tanya sabroni sambil memperhatikan mesin yang dibawa oleh Fathan.
"Buat nyangkul kebun Mang!" jawab Fathan sambil tersenyum.
"Emang bisa, kang?" tanya Asep yang umurnya di bawah Fathan.
"Mudah-mudahan bisa!"
"Coba dong praktekan, tan! soalnya saya baru melihat mesin seperti ini!" pinta sabroni sambil menatap ke arah Fathan.
Tanpa disuruh Fathan pun mulai menjalankan mesinnya, kemudian dia menurunkan Cangkul yang ada di belakang mesin itu. dengan sendirinya tanah yang terlewati pun terangkat lalu terbalik, membuat anak dan bapak yang menonton, terkagum-kagum dengan mesin yang dimiliki oleh Fathan.
"Wah hebat Kang, ternyata ada ya mesin seperti ini." ujar Asep yang menghampiri.
"Ada Sep! Bahkan ada yang lebih canggih dari ini. mereka pakai mobil besar, untuk menggerakkan mesinnya. jadi hasilnya lebih bagus, namun harganya lebih mahal." jelas Fathan sambil terus menjalankan mesinnya
"Masa sih, Kang! ternyata orang-orang bertani sudah tidak menggunakan tenaga manusia ya?" tanya Asep yang masih terkagum-kagum dengan mesin yang dimiliki oleh Fathan.
"Benar, semuanya Sudah Serba canggih, manusia hanya sebagai pengontrol dan pengoperasi."
"Asep! Aseeep!" Panggil sabroni.
"Ya, ada apa Pak?"
"ayo! Kerja lagi, nanti kamu lanjutkan menontonnya setelah kita menyelesaikan pekerjaan." ujar sabroni mengingatkan anaknya tentang tanggung jawab.
Dengan malas Asep pun kembali kepekerjaannya. Mereka pun mulai bekerja kembali menggali tanah. sambil sesekali melihat ke arah Fathan yang sedang bekerja tanpa sedikitpun merasa lelah. karena alat yang digunakan tidak harus membutuhkan tenaga ekstra.
Sebenarnya mesin yang digunakan oleh Fathan tidak mengharuskannya untuk membabat rerumputan terlebih dahulu. karena mesin itu bisa sekaligus menghancurkan rumput, Namun karena rerumputan yang tumbuh di kebun Bapak dan Pamannya sangat tinggi. sehingga itu akan menyusahkan ketika dikerjakan, hingga akhirnya Fathan melakukan inisiatif untuk membabatnya terlebih dahulu. mungkin kedepannya, itu tidak akan membutuhkan mesin pemotong rumput.
*****
Dua hari berlalu Fathan dan Kamal terus bekerja, sedangkan Asep dan sabroni tengah menyelesaikan pekerjaannya, hanya tinggal beberapa persen kolam itu akan jadi, sesuai dengan pesanan Fathan.
Setelah selesai dengan pekerjaannya. Fathan menghampiri Asep dan sabroni untuk mengecek hasil kinerja mereka, sedangkan mesin culvator dipegang oleh Kamal.
"Kira-kira, hari ini beres nggak Mang?" tanya Fathan yang berjongkok di salah satu tepian kolam.
"Insya Allah, beres! Kenapa emangnya Tan?" tanya sabroni sambil menghentikan pekerjaannya. kemudian dia menyeka keringat dengan ujung baju yang masih bersih oleh tanah.
"Nggak! kalau sudah beres, mau nggak bikin galian lagi?"
"Mau! mau!" tanpa pikir panjang Asep yang sudah tertarik dengan mesin yang dimiliki oleh Fathan, dia menjawab tanpa menunggu persetujuan ayahnya.
"Apaan?" ujar sabroni sambil menatap ke arah anaknya, membuat Asep menundukkan pandangan tidak berani beradu tatap dengan bapaknya.
"Maaf Pak!" hanya kata itu yang keluar dari Asep.
"Mau bikin galian apalagi, Tan?"
"Saya mau membuat galian untuk pupuk kompos, pupuk yang tidak diberi dari toko namun saya butuh Galian berukuran satu kali satu." jelas Fathan, membuat bapak dan anak itu saling bertatapan.
"Kalau satu orang yang bekerja, nggak apa-apa kan, tan? soalnya Mamang kan sudah berusia lanjut, tidak kuat bekerja seperti ini, kalau harus setiap hari." jawab sabroni
"Nggak apa-apa! tidak jadi masalah. Justru, saya sangat berterima kasih, kalau mang sabroni mau membantu saya."
"Mau bekerja sendiri sep?" tanya sabroni sambil menatap anaknya.
"Mau Pak! mau yang terpenting pekerjaannya terus menerus, nggak mau sampai berakhir di galian tanah." jelas Asep bernegosiasi
"Kamu dengarkan Tan! kemauan anaknya seperti itu?"
Mendapat keterangan dari Asep, Fathan pun hanya tersenyum bahagia. karena sudah ada dua orang yang tertarik dengan pertanian modern.
"Nggak boleh ya kang?" tanya Asep yang menunjukkan raut kekhawatiran.
"Boleh! Boleh banget, terima kasih kalau kamu bersedia seperti itu."
"Serius?" Tanya Asep memastikan.
"Iya serius, selagi kamu sehat dan kamu mau. kamu boleh membantu saya dan Mang Kamal.
"Terima kasih! terima kasih banyak, Kang! tapi nanti boleh nggak saya megang mesin kayak Mang Kamal?" tanya Asep dengan ragu-ragu.
"HArus! kamu harus bisa mengoperasikan semua mesin milik saya." jelas Fathan yang sudah tahu ke mana arah pembicaraan anak muda yang ada di bawahnya.
"Wah terima kasih! saya mau Kang! Saya mau!" jelas Asep sambil tersenyum kemudian menatap orang tuanya yang tersenyum pula. karena merasa bahagia anaknya walaupun tidak Merantau, dia tetap masih bisa bekerja dengan penghasilan yang lumayan, untuk menyambung kehidupan keluarga mereka.
Akhirnya hari-hari berikutnya Fathan, Kamal ditemani oleh anak baru, yang bernama Asep. mereka terus bekerja mengurus tanah yang hendak dijadikan lahan pertanian. meski Asep hanya baru menggali tanah, namun dia yakin suatu saat dia akan bisa memegang mesin yang dimiliki oleh Fathan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 115 Episodes
Comments
❤Rainy Wiratama Yuda❤️
Suka banget sama novel ini, ceritanya bukan tentang kemewahan , tapi tentang seseorang yg bersemangat seperti Fathan. Awalnya memang menyayangkan kenapa Fathan harus berhenti jadi arsitek dgn karier yg luar biasa, tapi cerita tentang seorang yang kaya raya, yang tampan dan yang bucin dengan pasangannya itu udah biasa banget.. Beda dengan Fathan, bisa aja kan karena saking cinta nya si perempuan anaknya pak bos (lupa namanya Thor hehe.. ) mau menerima Fathan yg banting setir menjadi petani, dan bisa saja menjadi petani yang sukses adalah syarat yang diajukan keluarga gadis tersebut. Saya yakin pasti author punya kejutan di ending kisahnya nanti...
Semangat Fathan, abaikan lingkungan yg tidak mendukung, buktikan bahwa pemikiran mereka selama ini adalah salah.
2022-10-20
2
LO AUTHORNYA GW JURINYA
ini ceritanya gmna sebenarnya gmna Thor? gaada penjelasan tentang si cewe nya sama sekali kalo tau gini mending gw skip dari awal nih novel
2022-10-20
0