MULSA
Hari itu mereka kerja full. sampai Azan Ashar berkumandang Bedeng pun sudah mulai terlihat, meski belum semuanya. seperti biasa Fathan dan Kamal pun beristirahat di bawah pohon jambu, sebelum mereka pulang ke rumah.
"Kalau dibuat Bedeng seperti ini, nantinya diapain lagi Tan?" tanya Kamal yang ingin mengetahui apa yang akan diperbuat oleh Fathan.
"Nanti kita akan campur dengan pupuk kompos, kapur, pupuk NPK dan TSP."
"Bukannya pupuk nanti setelah tumbuhan memasuki fase tumbuh?" Tanyak Kamal yang belum paham.
"Nanti ketika fase vegetatif, Kita hanya tinggal menambahkan pupuk UREA dan perawatan dari hama saja mang!" jelas Fathan.
"Jadi sekarang bagaimana?"
"Sekarang pulang aja, besok baru kita mikir mau bagaimana lagi!" ujar Fathan sambil tersenyum kemudian dia bangkit dari tempat duduknya. lalu merapikan alat-alat pertanian yang hendak dibawa pulang.
Melihat keponakannya sudah berjalan duluan, Kamal pun mengikuti dan membantu Fathan membawa sebagian alat-alat itu.
*****
Keesokan paginya, seperti yang sudah direncanakan Fathan pun membuka pupuk kompos yang ia pendam selama beberapa hari. baunya lumayan menyengat, namun dia tidak menghiraukan itu. Fathan mulai mengambil pupuk itu memasukkan ke dalam ember agar mudah ketika dibawa. sedangkan Kamal masih terfokus membuat Bedeng menggunakan mesin.
Fathan mulai menaburkan kohe yang terbuat dari kotoran kambing dan rumput yang dibuat kompos ke atas tanah secara merata. sesuai perhitungan yaitu dari setengah kilo sampai sekilo untuk luas tanah satu meter persegi. Fathan terus bekerja tanpa mengenal lelah, sehingga tanah yang sudah dibuat Bedeng sudah dia taburi oleh pupuk kompos.
Setelah pupuk kompos ditaburkan, dia mulai menaburkan kapur pertanian, ditambah NPK dan TSP. setelah sesuai dengan takaran Fathan mulai mengaduk tanah itu agar tercampur rata dengan pupuk. Kamal yang melihat hanya menggeleng-geleng kepala. melihat cara bertani Fathan yang seperti itu. namun dia tidak protes karena mungkin pengetahuan Fathan lebih tinggi daripada pengetahuan dia ketika bertani.
Hari-hari berikutnya, Fathan terus melakukan pupuk dasar di tanah yang ia hendak Tanami sayuran. tak lupa dia juga memberikan pupuk dasar di sawah yang akan ditanami padi. tiga hari kemudian semua tanah pun sudah menjadi bedengan bedengan yang tersusun rapi, sehingga melihatnya saja sudah menarik. apalagi kalau di tanah itu ditumbuhi dengan sayuran-sayuran yang segar pasti, akan lebih sedap ketika dipandang.
Setelah selesai melaksanakan salat ashar, seperti biasa Fathan berada di rumah bibinya. karena semenjak penolakan orang tuanya dia memang lebih sering di rumah bibinya, yang selalu mendukung apa yang ia lakukan. Fathan bukan tidak berusaha untuk memperbaiki hubungannya dengan kedua orang tua yang retak, namun Farhan dan Sri yang menolak untuk berbaikan dengan anaknya.
"Mau diapakan bambu-bambu itu, Tan?" tanya Sari yang melihat keponakannya sedang memotong bambu menjadi beberapa bagian dengan ukuran 80 cm sampai 1 meter.
"Buat mulsa Bi!" jawab Fathan menjelaskan.
"Apa itu mulsa, emang sayuran butuh kuota untuk menelepon?" Tanya Sari yang tidak nyambung.
"Itu mah, pulsa Bi! Ini mah Mulsa. pakai m, bukan pakai p." jelas Fathan sambil tersenyum menanggapi ucapan bibinya.
"Hahaha! makanya dengerin, kalau orang lagi ngomong biar gak salah dengar!" ujar Kamal menimpali menertawakan ketidaktahuan istrinya.
"Ngapain Ketawa, emang Akang tahu mulsa itu apa?" ujar Sari sambil mendelik ke arah suaminya.
"Tahulah!" jawab Kamal sambil membusungkan dada.
"Apa coba, kalau tahu?"
"Yang jelas bukan pulsa internet atau pulsa telepon. itu pakai m, mulsa!" jelas Kamal Sambil tertawa, walaupun sebenarnya tidak tahu, namun ketika melihat istrinya terpojokan Dia sangat merasa bahagia.
"Mulsa itu apaan, Tan! nanya sama Mamang kamu nggak jelas, dia hanya sok tahu." tanya Sari sambil menatap ke arah keponakannya, tidak mempedulikan lagi suaminya yang masih tertawa lepas.
"Mulsa itu adalah penutup media tanam, agar media tanaman itu menjadi lebih baik. ada yang memakai organik mulai dari jerami atau rerumputan. ada juga yang memakai plastik, seperti Fathan. plastik khusus buat tanaman yang warnanya hitam, tapi di dalamnya warna silver." jelas Fathan sambil menunjuk ke arah gulungan hitam yang ada di dalam rumah.
"Katanya mau bertani, kok malah ditutup pakai plastik. nanti tumbuhnya bagaimana, bisa bisa busuk tuh."
"Ya tinggal dibolongin lah, Bi! nanti kita taruh tanaman kita di bolongan itu."
"Kegunaannya?"
"Yang paling masuk akal, agar tumbuhan yang tidak kita tanam tidak ikut tumbuh. dan ketika membersihkannya kita sangat mudah." jawab Fathan menjelaskan dengan sederhana, padahal kegunaan mulsa itu sangat banyak. mulai dari menjaga kelembaban, menjaga tanaman dari cipratan air hujan dan masih banyak lagi yang lainnya.
"Jadi nanti kita tidak membersihkan rumput yang tidak Diundang?" tanya Sari memastikan.
"Yah! sederhananya seperti itu." jelas Fathan sambil terus membelah bambu-bambu yang baru dia potong menjadi seukuran telunjuk.
Setelah dirasa cukup membuat bambu panjang. Fathan pun mulai memotong bambu berukuran 30 sampai 40 cm lalu dibelah kecil-kecil, namun agak besar daripada bambu yang pertama. kemudian ujung bambu itu dikasih bendulan agar mirip seperti paku. Kamal dan Sari yang dari tadi menonton Mereka pun mulai membantu, merasa kasihan ketika keponakannya bekerja sendirian.
Setelah selesai membuat paku yang terbuat dari bambu. Fathan pun mulai memotong bambu berukuran 20 cm, lalu dia membelahnya kecil-kecil dengan ketebalan 1 mili. agar mudah untuk ditekuk. paman dan bibinya yang sebenarnya tidak mengerti dengan apa yang Fathan lakukan. namun mereka tetap membantu keponakannya. Sehingga pekerjaan pekerjaan itu selesai sebelum Azan Maghrib berkumandang.
Setelah melaksanakan salat Isya. malam itu Fathan tidak mengobrol di rumah bibinya. karena keadaan langit yang tidak memungkinkan. langit malam itu terlihat sangat gelap, sesekali kilatan cahaya petir menerangi, seperti akan ada hujan besar. benar saja, ketika pukul 20.30 hujan pun turun membuat Fathan mengucap syukur, karena dia tidak harus menunggu seminggu lagi untuk memasang mulsanya.
Keesokan paginya, seperti biasa Kamal dan Fathan pergi ke kebun. sedangkan Asep dan sabroni mereka pergi ke sawah, Karena setelah selesai membajak sawah Karmi sama Abror, banyak warga-warga yang lainnya, yang menyuruh mereka untuk membajak sawah-sawahnya.
Sesampainya di kebun Mereka pun duduk di bawah pohon jambu yang tidak berbuah. sambil menikmati kopi dan cemilan yang dibawa dari rumah Kamal. semenjak Kamal ikut kerja dengan Fathan, kehidupan ekonomi Mereka pun mulai kembali pulih. sehingga Sari sering membuat cemilan untuk menemani mereka bekerja atau mengobrol malam.
"Kapan mulai kerja?" tanya Kamal sambil membuang nafas yang berisi asap.
"Nanti nungguin panas Mang!"
"Ngapain nungguin panas, kalau kepanasan suka malas Tan. Mending sekarang aja!"
"Biar pemasangan mulsanya efektif, ketika ada panas matahari!" jelas Fathan sambil memasukkan goreng pisang ke mulutnya, karena mulsa plastik sifatnya yang elastis, mulsa akan menuai dengan sempurna ketika tersinari dengan panasnya matahari.
"Terus kita ngapain sekarang, masa kita gini terus?"
"Yah Ngapain lagi! sesekali kita istirahat di sini. Oh iya nanti kapan-kapan kalau tanaman kita sudah mulai tumbuh, dan hanya membutuhkan perawatan. kita membuat Saung di sini mang! biar kita bisa berteduh ketika hujan dan ada panas." saran Fathan.
"Dari kemarin Mamang mau ngomong itu, namun Mamang lupa terus, sibuk sih!" jawab Kamal sambil mengulum senyum.
"Kira-kira yang bagus kita buat Saung dari apa?"
"Kalau kamu mau saungnya terlihat bagus, kamu suruh Mang Tatang, Dia sangat ahli membuat Saung menyaung." jelas Kamal mengungkapkan pendapat.
"Bisa sesuai desain mang?"
"Oh iya, sampai lupa. kamu kan mantan arsitek yang dipecat, eh, apa namanya tuh kalau mengundurkan diri itu?" ujar Kamal sambil menggaruk kepala, mengingat-ingat kata yang pernah dia dengar.
"resign Mang!"
"Iya itu! Mamang juga mau ngomong itu, tapi susah! Coba saja kamu gambar! nanti Tunjukkan ke Mang Tatang, siapa tahu aja dia bisa membuat. karena kalau bukan ahlinya, nanti hasilnya akan jelek. Mang Tatang adalah tukang pembuat rumah di kampung kita."
Fathan pun berpikir sebentar menimbang apa yang harus dia lakukan. namun setelah dipikir-pikir apa yang dikatakan oleh Kamal memang benar. jadi dia tidak harus menunggu nanti-nanti, ketika dia mau membuat Saung kebun, karena ada orang lain yang mengerjakannya.
"Ya sudah nanti malam saya akan buatkan desainnya, biar kelihatan estetik. Semoga saja suatu saat kampung kita bisa dijadikan tempat wisata! bukan hanya tempat pertanian." jelas Fathan memutuskan.
Pukul 10.00. Matahari pun mulai terik, panasnya mulai terasa menyengat. Fathan dan Kamal pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian mengambil gulungan mulsa yang belum terbuka.
"Ini mah bukan plastik ya Tan?"
"Ini plastik Mang, namun sudah di desain sedemikian rupa, agar bisa menahan sinar matahari, dan menjaga kelembaban tanah." Fathan mulai menjelaskan.
"Terus cara pemakaiannya bagaimana?"
"Bentar saya Praktekkan!" jawab Fathan sambil membuka pembungkus plastik itu, lalu dia melepaskan gulungannya sedikit demi sedikit. setelah gulungan itu terbuka, Fathan pun mulai mengambil bambu yang kemarin ia buat, untuk menjadi penahan.
"Ini digulung dulu Mang, biar ada tenaga ketika kita hendak memakunya ke tanah dan tidak mudah robek." jelas Fathan sambil menggulung bambu itu dengan plastik mulsa.
Kamal pun seperti biasa, dia memperhatikan dengan teliti. takut ada ilmu atau penjelasan yang terlewat oleh Fathan. karena semenjak kedatangan keponakannya itu, dia mulai menikmati cara bertani yang belum pernah dia lakukan.
"Tarik mang sampai ujung!" Fathan menyuruh kamal untuk menarik plastik itu sampai ke ujung bedeng.
Yang diperintah pun hanya mengangguk, kemudian dia mengikuti saran Fathan, dia mulai menarik plastik itu sampai ujung bedeng.
"Terus bagaimana Tan?" tanya Kamal setelah melihat keponakannya menghampiri.
"Tarik agar kencang!" jelas Fathan.
"Terus?" tanya Kamal setelah mengikuti apa yang diperintahkan.
"Potong setengah meter ke arah dalam dari ujung bedeng. agar plastik ini kencang!" ujar Fathan sambil memotong plastik itu. kemudian dia memasukkan bambu lalu menggulungnya sama seperti yang awal dia lakukan. setelah bambu tergolong Fathan pun mulai menarik sampai plastik mulsa itu menutupi seluruh area bedeng. setelah dirasa cukup Fathan mulai memaku dengan paku bambu.
"Sudah begini aja Tan?"
"Ayo bantu pasang jepitannya." ujar Fathan sambil menunjukkan bambu tipis yang kemarin ya buat. bambu yang berukuran 20 cm dengan ketebalan 1 mili, dia pun mulai menjelaskan caranya, yaitu mematahkan bambu itu namun tidak sampai putus, lalu kedua sisi ditancapkan di samping mulsa.
"Jaraknya segimana?"
"Minimal 1 meter atau maksimal 1 meter setengah. yang terpenting plastik ini tidak akan terbang atau tergeser dan plastik ini bisa kencang." jelas Fathan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 115 Episodes
Comments