FOKUS
Sesampainya di sawah, mereka bertiga mulai menurunkan traktor dari Jalan Besar ke sawahnya.
"Bagaimana Tan?" Tanya Kamal sambil menunda singkal yang baru diambil dari pinggir jalan.
"Pasang singkalnya, Mang!" seru Fathan setelah memarkirkan traktornya.
"Caranya?"
"Sini bawa aja, Mang!" Pinta Fathan.
Dua orang itu pun mengangguk, kemudian membawa alat yang diperintah oleh Fathan. dengan perlahan Fathan pun mengajari mereka cara memasang singkal ke mesin traktor.
Setelah singkal itu terpasang, Fathan pun mulai menjalankan mesin traktornya. Kamal dan Asep hanya menatap kagum melihat kecanggihan mesin yang dimiliki oleh Fathan, karena biasanya mereka membajak sawah hanya menggunakan kerbau.
"Siapa yang mau belajar duluan?" tanya Fathan setelah mengelilingi sawah yang ia bajak dua kali putaran.
"Boleh saya dulu, mang?" tanya Asep sambil menatap ke arah kamal.
"Boleh, silakan!" jawab Kamal sambil tersenyum, kemudian dia mengambil termos air panas lalu menyeduh kopi.
"Ini kopling, ini gas, Ini rem, ini tuas gigi!" ujar Fathan mulai menjelaskan tentang fungsi-fungsi traktor yang ia miliki.
"Oh jadi pengoperasiannya sama ya, seperti culvator?" tanya Asep.
"Sama, yang membedakan alat ini lebih berat. kamu harus berhati-hati, karena kalau tidak ini bisa membantingkan Tubuh kamu!"
"Baik!" jawab Asep sambil mengambil kendali, kemudian dia mulai mengikuti apa yang diajarkan oleh Fathan. "Iya Kang, ternyata lebih berat, dan lebih bergetar butuh tenaga untuk menyeimbangkannya."
"Benar! tapi kalau sudah terbiasa, akan terasa seperti mesin-mesin lainnya." jawab Fathan
Asep pun mulai membajak sawah menggunakan traktor, Dia sangat menikmati pekerjaannya. Karena dari awal dia sudah sangat mencintai mesin-mesin milik Fathan. sedangkan kamal yang baru saja selesai ngopi. dia pun mulai mencangkul pinggiran sawah yang tak terjamah oleh mesin traktor. kalau Fathan dia sibuk dengan handphonenya yang terus diarahkan ke arah Asep. dia ingin terus mengabadikan tentang perjuangannya, ketika merubah kampungnya menjadi Kampung pertanian. biar nanti bisa menjadi inspirasi bagi orang lain.
Setelah Asep merasa capek, Kamal pun bergiliran mencoba mesin itu. sekarang berbalik, dia yang diajarkan oleh Asep. hingga akhirnya mereka berdua pun saling bertukar posisi. ketika kamal merasa lelah, maka Asep lah yang akan menjalankan mesin traktor itu. dan sebaliknya ketika Asep lelah, Kamal lah yang akan menggantikannya.
Sore hari akhirnya pekerjaan itu pun berhenti, hampir 75% sawah milik orang tua Fathan sudah selesai dibajak. terlihat raut wajah kelelahan, yang penuh lumpur dipancarkan oleh ketiga orang itu.
"Kita istirahat dulu saja! Besok baru kita lanjutkan lagi." ujar Fathan yang duduk di jalan aspal dekat sawah.
"Terus mesinnya kita bawa ke rumah?" tanya Asep yang mengambil air minum dari dalam botol untuk dituangkan ke dalam gelas.
"Biarkan saja, di sini! Rasanya kalau harus bolak-balik akan membutuhkan waktu yang lama, dan tenaga yang lebih."
"Nggak ada yang nyolong."
"Enggak lah! paling kita bawa alat-alat penting, agar mesin itu tidak bisa jalan. karena kalau digotong itu sangat tidak memungkinkan." Jawab Fathan.
Akhirnya setelah dirasa capeknya sedikit mereda, mereka bertiga pun memutuskan untuk pulang. para warga yang melihat hasil kinerja mesin yang dimiliki oleh Fathan, mereka sangat tercengang karena biasanya sawah itu kalau dibajak menggunakan kerbau, membutuhkan waktu lebih dari 6 hari. Sehingga akhirnya para warga yang tidak menolak kemajuan zaman. Dan sawahnya belum dibajak karena menunggu antrian kerbau. mereka mendatangi rumah Kamal, untuk meminta Fathan membajak sawah mereka. namun Fathan belum menyanggupi, karena dia harus fokus terhadap niatnya yang ingin bertani bukan berkuli.
"Bagaimana nih Mang?" tanya Fathan sambil menatap ke arah pamannya yang sedang merok0k mengusir malam yang terasa dingin.
"Ya tinggal jalanin aja sih, Tan! Apa susahnya coba? Lagian mereka menyuruh kita bukan Gratis kok!" jawab Kamal menganggap enteng
"Kalau saya kuli membajak, nanti niat saya akan terabaikan." jelas fathan mengungkapkan kekhawatirannya.
"Kalau kamu percaya! ada si Asep yang kita bisa tugaskan untuk membajak sawah para warga, sedangkan kita bisa fokus dengan rencana awal kita yang hendak bertani. Lagian lumayan kan buat tambah-tambah setoran mesinnya daripada mesin traktor itu nggak terpakai sama sekali, lebih baik digunakan." jelas Kamal memberikan solusi.
"Bentar! saya telepon si Asep." ujar Fathan sambil mengambil handphonenya yang di simpan di atas meja, kemudian dia menekan tombol Panggil.
"Halo Kang! ada apa?" sapa Asep di ujung telepon.
"Kamu masih capek nggak? Kalau nggak, saya mau ngobrol!"
"Ngobrol apa kang?"
"Kalau nggak capek, kamu ke rumah Mang Kamal sekarang, Saya tunggu!" jelas Fathan.
"Baik Kang, Sebentar saya ke sana." Jawab Asep sambil memutus telepon, kemudian dia berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk menemui atasannya.
Setelah berpamitan, dia pun berjalan menuju ke rumah Kamal. benar saja di situ udah ada Fathan dan Pamannya, sedang ngopi menikmati malam yang mulai dingin.
"Ada apa ya, Kang. Kok saya dipanggil seperti ini?" tanya Asep setelah duduk berhadapan dengan mereka.
"Jadi begini Sep! tadi ada Mang Abror sama Mang Karmi yang menemui kita. Mereka meminta kita untuk membajak sawahnya. kira-kira kamu mau, nggak. mengoperasikan mesin traktor milik Fathan, untuk membajak sawah para warga?" jelas Kamal mewakili keponakannya.
"Mau Mang, mau banget!" Jawab Asep tanpa ragu.
"Kalau kamu mau, kamu tidak akan digaji harian. hitungannya akan dibagi tiga, sebagian buat kamu, sebagian buat Fathan, sebagian buat mesinnya."
"Kalau masalah itu, nggak usah dipikirkan! Tapi saya bingung kalau harus bekerja sendirian. seperti yang kita tahu, bahwa mesin itu tidak bisa dioperasikan sendiri. Apalagi Untuk memindahkan perlengkapannya yang berat-berat." Ujar Asep menyampaikan keberatannya.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Fathan dan Kamal pun saling menatap. mereka belum memikirkan sampai sejauh pemikiran Asep.
"Begini aja Sep! kamu cari orang yang mau kerja. nanti kamu jelaskan rincinya seperti apa. Tapi kalau nggak ada yang mau , nanti saya akan temenin." jawab Kamal memberi keputusan
"Yah, saya coba Nanti ajak bapak, siapa tahu aja dia mau. kalau nggak, ada si sandi yang masih nganggur." Jawab Asep.
"kamu atur aja! yang penting pekerjaannya selesai."
"Terus Kapan mulai bekerja?"
"Nanti setelah sawah kita selesai, baru bekerja di sawah yang lain." jelas Kamal.
Akhirnya mereka bertiga pun melanjutkan obrolan obrolan, membahas tentang seputar pertanian yang sedang mereka kerjakan. obrolan itu terhenti setelah pukul 22.00 lewat. Asep dan Fathan meminta izin untuk kembali ke rumahnya masing-masing. untuk mengumpulkan tenaga, sebelum bekerja kembali Keesokan paginya.
Hari-hari berikutnya, Mereka pun sibuk membajak sawah milik Farhan dan Kamal. hingga 3 hari bekerja akhirnya semua sawah Mereka pun sudah selesai dibajak. tinggal menunggu kapan waktunya untuk Tandur.
Selesai bekerja, seperti biasa mereka mengistirahatkan tubuhnya terlebih dahulu, sebelum pulang ke rumah masing-masing.
"Berarti, mulai besok saya harus membajak sawah manh Karmi?" tanya Asep sambil mengatur nafas yang terengah-engah.
"Iya nanti saya tanyakan dulu, apakah dia masih mau atau enggak." Jawab Kamal.
"Iya, terima kasih mang!"
"Sama-sama, oh iya Tan. kita sekarang mau ngapain lagi? Kan sawah sudah selesai dibajak?" tanya Kamal sambil mengalihkan tatapannya ke arah Fathan.
"Mungkin besok kita menanam bibit padi, setelah menanam bibit padi kita kembali lagi ke kebun. untuk melanjutkan tahap selanjutnya. Mungkin di kebun juga saya akan mulai menanam bibit." jelas Fathan.
"Mau nanam bibit padi di mana, di darat apa di sawah?"
"Sawah aja, Mang! biar hasilnya bagus. Karena kelembabannya bisa terjaga."
"Ya sudah, besok! Saya bantu!"
"Haruslah, Mang!" Ujar Fathan sambil tersenyum.
Setelah mereka selesai melepaskan lelah dan dahaga setelah seharian bekerja, Mereka pun kembali ke rumah masing-masing.
Keesokan paginya seperti yang sudah direncanakan hari kemarin. Fathan dan Kamal pergi menuju ke sawah untuk membuat bibit padi. sedangkan Asep ditemani sabroni mereka pergi ke sawah kamal untuk mengambil mesin traktor, hendak membajak sawah Karni dan Abror.
Sesampainya di sawah Fathan pun membuat petakan kecil, dibantu oleh pamannya. setelah petakan itu selesai dibuat. Mereka pun mulai menaburkan padi yang udah keluar kecambahnya. benih yang sedikit, hingga tak membutuhkan waktu yang lama. akhirnya pukul 10.00 pun pekerjaan itu sudah selesai.
Setelah pekerjaan di sawah. Fathan ditemani oleh Kamal kembali ke rumah untuk mengambil mesin culvator untuk membuat bedeng kebun. Kamal yang masih sepenuhnya belum mengetahui tentang fungsi-fungsi mesin yang ada di rumahnya, dengan semangat dia terus membantu keponakannya.
Sesampainya di kebun. Fathan seperti biasa dia mengajarkan cara menggunakan alat pembuat bedengan kebun. hingga beberapa saat Kamal pun sudah lancar mengoperasikan mesin itu. karena memang dasarnya mesin itu adalah mesin culvator, yang berbeda hanya pisaunya.
Pamannya bekerja menggunakan mesin, sedangkan Fathan dia mulai sibuk membuat pembibitan sayuran yang hendak dia tanam.
Fathan mulai membibitkan sayuran. mulai dari cabe, terong, tomat, dan berbagai macam sayuran yang biasa dibibitkan. sedangkan untuk yang tidak di bibitkan dia akan langsung menanamnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 115 Episodes
Comments