"Menikah? Kami harus menikah?" Belum juga dijelaskan, Mahendra meminta Ezra menikahi Nara.
"Sebentar dulu, tolong jelaskan dulu, Pak." Nara masih belum mengerti mengapa tiba - tiba DNA Ezra dan baby Alan cocok, sedangkan Vano sendiri pernah bilang Alan adalah anaknya.
"Kamu yakin ingin mendengarnya, Nara?" Nara mengangguk sudah memantapkan hatinya menerima kenyataan siapa ayah anaknya. Mahendra pun berkata kalau dari awal sudah curiga pada kehadiran baby Alan di tengah - tengah masalah ini. Apalagi sama sekali baby Alan tidak terdaftar di KK keluarga Nara, dan Bu Mayang tidak pernah bekerja sebagai pelachur, maka dari itu baby Alan sudah pasti anak Nara hasil dari penculikan tahun lalu yang dilakukan oleh blackzak.
"Blackzak? Jadi preman - preman jalanan itu disuruh oleh Vano?" tebak Nara dengan tangannya yang terkepal.
"Ya Nara," ucap Mahendra.
"Kenapa mereka lakukan itu padaku?" tanya Nara menepuk dadanya.
"Itu karena dia tidak mau kamu dan ayah Daffa membubarkan organisasinya,"
"Ayah Daffa? Apa hubungannya sama aku?" tanya Nara.
"Karena ayahmu bekerja di lembaga pendidikan, ayah Daffa berharap kamu masuk ke sekolah dan membantunya menentang organisasi itu untuk dibubarkan, beliau ingin kamu menjadi ketua Ozara, tetapi dengan kematian orang tuamu yang mendadak dan kamu yang hilang kontak, membuat keinginan ayah Daffa pun tertunda sampai tahun ini beliau harap kamu masuk ke sekolah, tapi lagi beliau yang sekarang koma di rumah sakit," tutur Pak Mahendra panjang lebar.
"Apa mungkin kecelakaan ayahku ulah Vano juga?" tanya Nara dengan rasa benci yang sudah menggunung.
"Tidak, kecelakaan ayahmu alami, tidak ada unsur kesengajaan dan unsur rencana pembunuhan."
"Terus bagaimana tiba - tiba aku jadi ayah?" tanya Ezra angkat bicara.
"Ezra, apa kamu tidak ingat? Pada hari itu juga kamu datang menemui Vano untuk bicara baik - baik, kan?"
"Ah ya, aku ingat saat itu dia meracuniku obat bius! Ck, dia sengaja menjebakku!" Ezra masih ingat tahun lalu, demi menghentikan kegilaan Vano, ia naif tidak berpikir dulu dalam bertindak. Ezra pun dengan mudah dijebak dan terbangun di kamar hotel sendirian. Hotel yang sama namun keduanya dipisahkan setelah bercocok tanam.
"Sekarang kalian harus memutuskan, menikah atau keluar dari sekolah?" Satu pertanyaan itu membuat Nara dan cowok angkuh itu membulatkan matanya.
"Keluar sekolah?"
"Manikah?"
"Kami harus memilih?" ucap Nara dan Ezra bersamaan.
"Ya karena itulah tujuan Vano menjebak kalian supaya dikeluarkan dari sekolah ini," jelas Mahendra meremat kertas DNA dari Dokter yang pernah memanggilnya ke dalam ruang rawat baby Alan. Saat itulah Mahendra meminta dites DNA dan kecocokan adalah Ezra. Lalu apa yang dikatakan Vano ke Pak Mahendra dalam ruang kepsek? Cowok itu hanya menunjukkan rekaman percintaan Ezra dan Nara malam itu. Rekaman di tangannya yang jadi ancaman bagi sekolah. Jika Nara dan Ezra melapor ke polisi, maka rekaman itu akan tersebar luas ke penjuru dunia. Maka bukan cuma Nara yang menanggung malu, tapi keluarga terbesar Mahendra dan Ezra, serta mempermalukan sekolah.
"Arghh! Tidak! Aku tidak mau keluar sebelum kuhabisi si sinting itu!" Ezra memukul meja. Mahendra menghembus nafas kecewa, kecewa pada diri sendiri yang tidak menjaga Ezra sampai dijebak oleh Vano karena Mahendra sendiri masih bekerja sebagai anggota militer saat itu. Dua - duanya kacau balau, namun tiba - tiba diam setelah Nara bicara.
"Aku keluar sekolah saja," lirih Nara sudah dibanjiri air matanya.
"Kumohon, kirim aku ke luar negeri saja, kumohon, Pak!" Nara terisak - isak, jika saja kakinya sanggup berjalan sekarang, ingin rasanya menabrakkan dirinya ke rel kereta api.
BRAK!!
Demi menenangkan suasana, Mahendra dengan sangat keras menggebrak meja. Ezra dan Nara pun tenang meski agak ketakutan.
"Satu - satunya pilihan kalian adalah menikah, sekarang Nara ke atas bawa anakmu dan Ezra ikut aku ke mobil, hari ini juga kalian menikah!" titah Mahendra diiringi tangisan kencang baby Alan yang terkejut dengan keributan di bawah. Tidak ada alasan menolak lagi, Nara dan Ezra terpaksa menuruti Mahendra.
Cklk!
Pintu rumah terbuka, Daffa yang baru pulang dari rumah sakit diam terheran - heran tak ada siapa - siapa di rumahnya. Tak ada tangisan baby Alan dan jejak semua orang.
"Oh, apa mereka masih di sekolah?" gumam Daffa membuka satu demi satu kamar di rumahnya, tapi semua hening mencekam. Daffa menunduk sedih karena rasa kesepiannya ini yang paling dia benci.
"Sudah jam tujuh malam, apa mereka makan di luar? Terus tidak ajak - ajak aku? Atau mereka ke rumah sakit? Periksa baby Alan?"
"Ish! Kenapa aku jadi gelisah begini!" Daffa menghempas 'kan tubuhnya ke ranjang, kemudian melihat kresek berisi mainan di atas meja yang tadi sempat dibeli di jalanan. "Kira - kira, baby Alan suka nggak ya sama hadiahku?" Asik memikirkan reaksi baby Alan dan Nara, cowok tampan itu pun bergegas ke bawah saat mendengar klakson mobil Mahendra. Senyum Daffa melebar melihat Nara dan baby Alan pulang bersama wakepseknya. Terus kemana Ezra?
"Kalian dari mana saja baru pulang sekarang?" tanya Daffa ke Mahendra sambil jalan di sebelah Nara yang terus menunduk.
"Makan," ucap Mahendra singkat.
"Cih, kenapa tidak menungguku sih!" celetuk Daffa.
"Oh ya, Ezra kemana? Di sini ada motornya, tapi dia kok tidak ada?" tanya Daffa lagi.
"Tidak tahu." Mahendra masuk duluan, masih sedih pada kenyataan adiknya yang sudah punya anak daripada dia yang masih bujang.
"Eh, kenapa dia jadi marah begitu? Aneh banget," gumam Daffa menggaruk kepalanya.
"Daffa, aku ke kamar dulu ya, baby Alan sudah mengantuk. Ka…kalau mau bahas osis nanti setelah baby Alan tidur," ucap Nara naik tangga tapi dihadang Daffa.
"Oh ya, nih ambil dulu, aku belikan sendiri loh tadi." Senyum Daffa memberikan mainannya. Nara menatapnya sedih, kemudian melewatinya dengan air mata yang tergenang. Daffa tersentak mainannya tidak diterima lalu mendongak kecewa ke Nara yang tiba - tiba pergi.
"Apa aku sudah buat salah?" pikir Daffa memegang dadanya yang sakit. Mainan saja sudah ditolak, apalagi kalau hatinya pasti tidak diterima, kan? Lantas bagaimana Ezra? Cowok arogan itu dan ketua Ozara itu pergi ke geng Cancer blackzak. Melampiaskan amarahnya ke mereka malam ini juga, masih tidak percaya sudah sah jadi suami Nara.
Sementara di club malam, seorang gadis berseragam sekolah sedang berfoya - foya bersama teman - temannya yang tidak lain adalah Friska Cantika, cewek yang resmi pacaran dengan Ezra Givandra tepat di hari penerimaan siswa baru kelas satu. Sombong dan kecentilan, suka semena - mena.
....
Malam pertama tidur berdua❌
Malam pertama beran teem✔️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Riyas Warman
main tebak² , dan tebakan nawalbyang benar 😆😆
2022-11-18
1
Joveni
wkwkwk.. pak mahendra galau krna kalah saing ma ezra., cari pacar/istri donk pak..🤣🤣🤣🤣
2022-10-09
3
Dzikri Muhammas
lanjut di tunggu up nya
2022-10-07
2