Lagi dan lagi hari ini Ezra kembali menyeret satu siswa di koridor sekolah. Para siswa yang melihatnya hanya bisa diam dan bergidik ngeri. Mereka tahu Ezra jago berantem dan kejam, sehingga di mata adik kelasnya, Ezra itu lebih menakutkan dari blackzak.
"Sepertinya kamu sangat menyukai pekerjaanmu saat ini, Ezra." Daffa datang entah dari mana. Ezra yang habis keluar dari ruang guru BK pun cuma cuek dan pergi, tetapi berhenti dan menoleh.
"Oh ya, tumben lo nggak sama tuh cewek? Kemana dia?" tanya Ezra mencari Nara.
"Justru itu kenapa aku mencarimu juga." Tunjuk Daffa.
"Haaahh, gue? Apa urusannya sama gue?" tanya Ezra heran.
"Aku seharian tidak melihat dia di sekolah dan barusan aku ke ruang wakepsek tapi tidak ada catatan izin dari Nara, jadi kupikir mungkin karena kita berdua kemarin bicara soal Ozara, dia bersamamu hari ini," jelas Daffa panjang lebar.
"Sial lo, kenapa kasih tahu Ozara ke dia?" Bentak Ezra marah dan menarik kerah Daffa.
"Dia waketos kita, wajib tahu segala hal tentang sekolah ini dan jawab saja apa kamu bersama Nara?" Daffa membuka cengkraman Ezra.
"Cih, gue nggak tahu dan nggak peduli!" Ezra pergi namun tidak jadi karena ada pesan masuk dari hapenya Daffa.
"Siapa yang kirim pesan?" tanya Ezra berdiri di dekat Daffa kemudian terbelalak seperti ketosnya itu. Sebuah pesan anonim berisi ancaman.
@Anonymous
"Ke jalan X12 waketos kalian sudah menunggu dan ke jalan N13 jika ingin bertemu Vano Bastian."
@Anonymous
"Jadi pilih mana nih Pak Ketos?"
(stiker joker menyeringai)
"Nara diculik?"
"Vano juga ikut campur?"
Jemari - jemari Ezra mengeras ingin ke jalan N13 yang merupakan tempat kontruksi terbengkalai dan Daffa masih diam. Dia juga ingin bertemu Vano karena dendamnya gara - gara mencelakai ayahnya, tapi nyawa tetaplah paling utama di sini. Apalagi pesan kembali masuk dan mengagetkan dua cowok tampan itu. Sebuah foto Nara diikat dan baby Alan di depan Nara yang tengah menangis.
@Anonymous
"Kira - kira siapa yang akan selamat nanti?"
Daffa dengan emosi pun melemparkan hapenya sampai hancur kemudian melihat Ezra yang terkejut karena Daffa yang dulu santai seketika dibakar kekesalan.
"Kamu ingin ke jalan N13 kan, Ezra?"
"Ya, itu pasti," ucap Ezra.
"Bagus, lakukan apa saja padanya, bahkan jika kamu bisa, tolong patahkan kedua kakinya, aku akan ke jalan X12 menolong Nara dan adiknya."
Ezra mengangguk paham dan menyeringai, itu sangat mudah jika tidak ada croco - croco yang menghalanginya. Keduanya pun tanpa izin dari Mahendra pergi ke tujuan masing - masing dan tidak sadar Garce mendengar obrolan mereka.
"Nara diculik dan adiknya juga?" Garce melihat ponselnya dan berlari pergi.
#flashback
Dua jam yang lalu di rumah Nara. Gadis itu tidak niat ke sekolah hari ini karena Bu Mayang dipenjara atas tuduhan mencuri di rumah majikannya dan ditahan selama enam tahun. Waktu lama itu membuat Nara setengah depresi. Dari kantong matanya saja bisa dilihat Nara sepanjang malam menangis.
"Hiksss…. kenapa tambah kacau hidupku, hikss… hiks….." Nara sesugukan di sebelah ranjangnya dan melihat baby Alan yang menyeddot jempolnya. Nara yang kusut dan lusuh tidak kuat menahan depresinya. Matanya yang merah dan wajahnya setengah pucat tidak memancarkan semangat hidup lagi.
Nara berjalan perlahan ke ranjang, menatap kosong bayi mungil yang merengek manja itu. Tapi buih - buih keputus asaan yang jatuh dari pelupuk matanya mewakili perasaan Nara yang tambah rapuh.
"Ooeekkk! Ooooekkk!"
Tetapi dengan tangis baby Alan, Nara segera memeluk buah hatinya dan berusaha menenangkannya. Nara menanggalkan bajunya, menyusui baby Alan yang kelaparan dari tadi. Hampir saja niat jahat mengendalikan dirinya. Jika tidak sadar, Nara sudah bunuh diri dan membunuh bayi tidak berdosa itu.
"Maaf, maafkan Bunda, Alan." Nara tersedu - sedu sembari mencium kepala Alan dengan lembut. Beberapa saat berlalu, Nara pun tenang dan menidurkan Alan kembali ke dalam ayunan. Dia pun melihat sedih seragam sekolahnya yang tergantung.
"Apa sekalian saja aku berhenti sekolah?"
"Dan cari uang saja?"
"Tapi –" Isak Nara mengingat pesan orang tuanya untuk tetap belajar, belajar, belajar dan terus belajar sampai cita - citanya tercapai. Tapi sebenarnya apa cita - cita yang sedang Nara kejar saat ini?
Nara jatuh bersimpuh ke lantai, menepuk - nepuk hatinya yang perih. Bingung memutuskan hal - hal baik untuknya. Tiba - tiba seseorang mengetuk pintu rumahnya. Nara buru - buru mengusap air matanya sampai kering, memperbaiki pakaiannya. Ia pikir itu Pak Fahri. Tetapi setelah membuka pintu, punggung yang membelakanginya itu bukan milik gurunya. Melainkan siswa dari sekolahnya.
"Maaf, kamu siapa?" tanya Nara sedikit was - was. Cowok bertindik telinga itu berbalik badan dan tersenyum dengan manisnya, membuat Nara sedikit terpana dengan pesona yang kuat dari Vano Bastian.
"Hai selamat pagi, Nara," sapa Vano lemah lembut.
"Selamat pagi, kamu siapa ya?"
Nara terkesiap ketika Vano meraih tangannya dan mencium punggung tangan putih cerah itu.
"Senang bertemu denganmu, nona waketos," ucap Vano lagi - lagi tersenyum.
"Maaf, tolong jangan lancang padaku, katakan saja siapa kamu?" tanya Nara menarik lepas dari tangan Vano.
"Astaga, maaf, ini kebiasaanku kalau melihat nona cantik, tapi sepertinya nona waketos tidak begitu tertarik ya," ucap Vano jalan mendekat.
"Tolong jangan macam - macam," kata Nara mundur ketakutan namun berhenti saat Vano menahan tawa.
"Pfft, maaf sudah membuatmu takut, kedatanganku ke sini untuk melihat keadaanmu," senyum Vano sambil bertingkah malu - malu.
"Keadaanku? Siapa yang menyuruhmu? Dan bagaimana kamu tahu aku tinggal di sini?" tanya Nara bertubi - tubi.
"Soal itu, aku disuruh oleh pihak sekolah," jawab Vano jelas bohong.
"Pak Mahendra?"
Vano tersentak, bisa - bisanya Nara menyebut nama itu dengan lancar di depannya.
"Apa Pak Mahendra juga menyuruhmu bawa mainan itu?" Tunjuk Nara ke kresek di tangan Vano. Padahal mainan itu Vano sendiri beli untuk baby Alan. Tapi Nara malah mengira itu dari wakepseknya.
"Ya begitulah, apa aku boleh melihatnya?" tanya Vano.
'Melihatnya? Apa dia tahu soal Alan dari Pak Mahendra juga?' pikir Nara kurang yakin tapi melihat Vano serius, ia pun mengisinkan cowok itu masuk.
"Kamu boleh duduk di sini, aku ke dapur dulu." Nara seperti biasa selalu memberi jamuan ke tamunya. Setelah keluar dari dapur, Nara terdiam dan langsung meletakkan nampannya ke atas meja kemudian ke kamarnya. Nara tertegun melihat baby Alan bangun dan sedang tertawa gara - gara candaan Vano.
"Tolong keluar sekarang!" Ujar Nara mengusir tegas. Tidak suka Vano yang asal main masuk ke kamarnya.
"Kenapa kamu marah? Aku kan hanya bermain dengan anakmu, Nara," senyum Vano licik. Mata Nara terbuka sempurna, terkejut siswa itu tahu rahasianya dan lebih terkejut lagi Vano menggendong baby Alan kemudian menyeringai.
"Sepertinya aku salah, maksudku anak kita berdua." Senyum Vano dan mencium ubun - ubun baby Alan.
Anak kita?
Dia mengakui Alan anaknya?
Si…siapa dia sebenarnya?
Nara mundur namun tiba - tiba seseorang dari belakang langsung membungkam mulutnya. Nara pingsan setelah menghirup cairan bius dari kapas. Sebelum terpejam, Nara sempat melihat baby Alan menangis. "Hoeekkk."
#flashbackoff
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Riyas Warman
tarik napas buang napas 😌😌
2022-11-18
2
Chy Teteh Bhawel
cerita nya masih mudeng
2022-10-06
0
Ant'z Mayya
apa bener vino ayahnya baby alan???
duuh bkin penasaran aja..
2022-10-06
3