"Vanoooo!!"
"Keluar lo sialaaan!
"Nggak usah ngumpet lo!"
"Lo keluar lawan gueee!"
Puncak emosi Ezra sudah setinggi menara Eiffel. Dadanya menggebu - gebu bukan kerena cinta tetapi benci yang menumpuk di hatinya dan sekarang tidak ada satupun batang hidung preman yang muncul menghadangnya. Padahal Ezra sudah berada di lantai empat, apa dia harus ke lantai tujuh dan teriak di sana?
"Sial, jangan - jangan Vano nggak ada di sini?!"
BRAKHHH!
"Woyyy! Keluar lo bajingaaan!" teriak Ezra menendang apa saja di sebelahnya sampai terlempar.
"Gue hitung sampai tiga lo masih nggak mau keluar juga, gue runtuhin nih bangunan!"
"Keluar lo, VANO!"
"Lawan gue, pecundang!"
Saat mau menendang kayu di sebelahnya, suara baby Alan memecah keheningan.
"Huwaaa!Huwaaa!Huwaaa! Hoeek!"
"Ini kan suara adiknya Nara?" Ezra celingukan sana sini mencari sumber suara lalu dengan cepat ke satu tiang. Benar saja, suara itu milik baby Alan yang sedang direkam dalam panggilan suara langsung dari hape yang tergeletak di lantai. Ezra meremat hape itu yang punya simbol blackzak.
"Vano! Lo benar - benar udah keterlulan melibatkan anak kecil yang tidak ada hubungannya sama sekali! Lepaskan Nara dan adiknya, setan!"
Prok! Prok! Prok!
Sontak Ezra memicingkan matanya ke cowok yang keluar dari balik tiang sedang bertepuk tangan. Cowok itulah pemilik hape dan sekaligus wakil Vano.
"Sayang sekali, gue pikir yang akan datang kemari adalah ketos Daffa, rupa - rupanya serigala kelaparan yang lagi lepas dari kandangnya," cecar wakil itu sombong.
"Tapi tidak apa - apa, hari ini gue yang akan mengakhirinya," sambungnya menantang.
"Kalau lo bisa kalahin gue, anak itu selamat, tapi kalau gue kalahin lo, dua - duanya meninggol, hahaha…." Tawa wakil itu tidak main - main dalam bicara.
PRAAAK!
Setelah melempar hape itu, Ezra melepas jaketnya, maju siap menerima tantangannya. "Jangan sombong dulu, hari ini gue bukan cuma kalahin lo tapi bakal ngebuat lo nggak lihat dunia ini lagi!"
"Aaaahhhhhhhhhhh….."
Duaaaak!
Perkelahian sengit dimulai. Ezra sekarang tidak akan segan - segan seperti dulu lagi, ia tahu wakil blackzak gila itu kuat dan mampu mematahkan tulang - tulangnya. Tapi jika Ezra tidak menang melawan si gila itu, sama saja dia tidak mampu menghadapi Vano yang lebih gila. Tetapi bagaimana dengan Daffa? Ketos yang berpikir bisa menyelamatkan Nara dan baby Alan malah bertemu dengan Vano di tempat karaoke yang dikelilingi ratusan preman - preman sekolah bahkan ada dua gangster mafia di dekat Vano.
Ekspetasi Vano hancur sekarang. Dia kira yang datang adalah Ezra melainkan ketos yang tidak jago bela diri.
"Wah…wah… apa kamu sedang menyerahkan diri, Daffa?" Seringai Vano sedikit sopan ke ketosnya itu.
"Sialan," decak Daffa.
"Uhhh…. sialan? Hahaha…. siapa yang mengajarimu berkata kasar begitu? Apa itu Ezra? Mahendra? Atau ayahmu?"
"Hahaha… oh ya, ayahmu kan lagi koma, kasihan." Tawa Vano dengan muka tidak berdosa sedikitpun.
"BRENGGGSEK LO, VANO!" Daffa menunjuk. Sontak saja para preman maju tapi Vano dengan isyarat tangan menyuruh mereka tidak menggebuki ketosnya. Vano mendekat sampai ujung telunjuk Daffa menyentuhnya.
"Daffa, lo tau nggak alasan gue bangun oganisasi ini?" tanya Vano tapi Daffa diam menggertakkan giginya.
"Oh ya, lo kan saat itu masih bocah, sedangkan gue udah masuk duluan ke sekolah ini, enak banget ya bisa mengendalikan sebagian siswa di sini, tapi gara - gara lo masuk dan jadi ketua osis, gue muak lihat mereka lebih menyanjung bocah sialan yang nggak berguna sama sekali, dan lagi bapak lo yang sok pahlawan yang selalu cari cara untuk bubarkan blackzak, lebih memuakkan. Tapi ya tidak masalah, selagi si tua bangka itu koma, nggak ada yang bisa gangguin gue, tinggal menunggu caranya gimana lo nyusul, hahaha."
Mengira Daffa terpancing emosi, ketos tampan itu melemahkan kepalannya kemudian berbalik badan.
"Kedatanganku ke sini bukan bicara pada siswa yang tiga kali tinggal kelas."
Memang benar kata Daffa, Vano Bastian sudah 3x tinggal kelas karena memang sengaja tidak mau meninggalkan sekolah dan dia sudah berumur 20 tahun. Karena itulah mengapa dia suka bolos sekolah dan tidak pulang - pulang ke rumahnya.
Vano sempat terpancing, tetapi dengan elegannya dia melewati Daffa bersama dua gangster.
"Yosh, gue juga nggak tega gebukin anak pelakor." Balas Vano dingin kemudian memberi isyarat mata ke preman untuk pergi sebagian dan sebagiannya lagi menghajar Daffa. Emosi Daffa meledak melihat Vano sudah pergi dan sekarang 200 preman sekolah mengepungnya, siap membabi buta. Tapi mau bagaimana lagi, Daffa harus melawan sendirian.
"Akhhhhhhh…. brengseeek kalian!" Terjang Daffa berteriak dan berusaha menangkis mereka. DUAK!
Daffa jatuh tersungkur saat satu tangan berhasil memukul telak perutnya, sampai - sampai dia setengah sadar dan tidak berdaya lagi. Melihat Daffa tergeletak, satu preman gemuk dengan kebencian siap mengakhirinya, tetapi tiba - tiba ada balok kecil terbang ke lehernya.
DUAAAK!
Daffa membola melihat preman itu pingsan, begitupun semua preman di sana sontak menoleh ke arah pintu.
"Garce? Ngapain kamu ada di sini?" tanya Daffa dengan suara yang masih tersisa.
"Huwaaaa…. kalian harusnya belajar! Bukan di sini, gobllok!"
Daffa kembali kaget mendengar Garce bisa juga marah, tapi lebih kaget lagi ada yang keluar dari balik tembok membuat preman - preman sekolah mundur ketakutan.
Apa itu polisi? Tentara? Atau Alien? Tidak! Orang itu adalah wakepsek mereka yang sudah memasang muka dingin yang menyeramkan. Tentu saja wakepsek adalah mantan militer yang pernah mengalahkan seribu preman yang membahayakan negara.
"Garce, jangan berlebihan, sekarang kamu ke Daffa, bantu dia. Biarkan bapak yang mengurus mereka." Perintah Mahendra. "Siap, Pak!" Garce memapah cepat Daffa.
"Maaf, bantuannya datang terlambat, sekarang sini kita ke rumah sakit dulu, Kak Ketos."
"Tidak, kita harus menolong Nara dan adiknya," tolak Daffa.
"Tidak usah khawatir, Ezra sudah membawanya ke rumah sakit. Sekarang serahkan mereka padaku."
Karena Mahendra menyakinkan, Daffa dan Garce pergi. Kini tinggal Mahendra siap mendidik siswa - siswanya dengan ketegasan yang sebenarnya.
"Saya sangat kecewa pada kalian, punya potensi tetapi mempergunakannya dalam kekerasan. Kalau saja kalian punya otak sedikit saja, saya yakin kalian bisa diterima dalam anggota militer. Tapi hari ini kalian akan belajar dari perbuatan kalian sendiri bagaimana potensi itu dipergunakan."
"Akhhhhh….ampun, Pak!"
"Ampun, Pak!"
"Kami salah, Pak!"
Daffa dan Garce yang berada di luar tersentak - sentak mendengar karaoke itu diporak - porandakan. Mereka pun berlutut dan ketakutan di hadapan Mahendra.
"Cih, pergi ke kantor polisi dan masuk ke penjara anak - anak sekarang!"
"Baik, Pak! Maafkan kami! Tolong jangan bawa kami ke pulau kosong! Kami akan ke kantor polisi!" Mereka berlarian keluar takut ancaman Pak Mahendra yang mau mengirim mereka ke markas Mafia milik temannya. Mereka lebih memilih dapat skors seminggu. Membuat Pak polisi terheran - heran ada banyak anak sekolah menyerahkan diri dengan suka rela.
🍒🍒🍒🍒🍒🍒
"Uhhh…aku di mana?" Nara mengerjap - erjapkan matanya dan melihat di depannya ada cowok yang sedang bicara pada Dokter kemudian pergi meninggalkan cowok itu bersamanya.
"Oh, syukurlah, kamu akhirnya sadar." Ezra mengelus dada.
Spontan Nara beranjak duduk, ingin membuka infus di tangannya tetapi ditahan Ezra.
"Hei, bodoh! Kamu sedang dirawat, jangan seenaknya melepaskan infusmu."
"Tidak, aku harus —"
"Tenanglah, anakmu baik - baik saja, waketos."
Degg!
Nara terkejut Ezra sudah tahu hubungannya dengan baby Alan. Dia sudah tahu?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
agasaka
aku tuh bngung blm aja nara d slmtkn sma daffa ko udh d tngn ezra kn ejra d geng sblh dan daffa bru d geng vino mau nylmtin debay bngung apa ada yg k loncat ya
2022-10-10
2