Seusai Nara resmi diangkat sebagai anggota OSIS, dia pun dipanggil menghadap ke Kepsek dan berjalan di sebelah Mahendra. Rasa canggung melanda perasaannya sekarang dapat melihat kepala sekolahnya yang sudah cukup tua. Matanya redup dan rambutnya sudah beruban.
"Nara, selamat datang di sekolah kami." Pak Kepsek menyambut dengan senyum ramah dan duduk di kursinya.
"Terima kasih atas kebaikannya sudah memberi saya kesempatan untuk masuk ke sekolah ini, Pak." Dengan sopan, Nara membungkuk setengah badan lalu berdiri normal.
"Maaf sebelumnya, tapi bisakah Pak Kepsek jelaskan kenapa harus saya yang terpilih masuk dan menjadi anggota OSIS?" tanya Nara dan melihat Pak Mahendra duduk di sebelah kepala sekolah.
"Sudah saya katakan tadi tapi kamu masih tidak percaya penjelasanku?" Mahendra menatap dengan sinis.
"Pak Mahendra, jangan pasang wajah seram seperti itu. Kamu menakutinya." Pak Kepsek menegur Mahendra yang selalu bermuka dingin.
"Duduklah dulu kemari, biar bapak jelaskan yang sebenarnya padamu, Nara." Nara mengangguk kemudian duduk di hadapan dua laki - laki dewasa itu. Kepsek pun menjelaskan kalau sekolah sudah menantikan kehadirannya sejak tahun lalu. Tetapi kerena musibah yang terjadi pada keluarga Nara membuat gadis cerdas itu menunda pendidikannya. Padahal tahun lalu sudah diresmikan untuk memulai sistem OSIS yang baru, tapi karena Nara yang punya nilai rata - rata tinggi tidak masuk, Pak Kepsek pun menunda dan akhirnya memulai tahun ini.
"Maaf, Pak. Saya saat itu sedang terpuruk." Nara menunduk sedih. 'Semoga saja pihak sekolah hanya mengetahui musibah orang tuaku.' Nara tidak mau pihak sekolah tahu dia sudah punya anak dan rahasianya yang pernah dilecehkan orang yang tega menculiknya dan memperkosanya di kamar hotel yang gelap. Karena itu juga, Nara tidak tahu siapa ayah Alan sampai saat ini.
"Sekarang apa kamu bisa belajar dan melakukan tugasmu dengan konsisten selepas kematian orang tuamu, Nara?" tanya Pak Kepsek sangat prihatin melihat Nara yang sedang tegar di hadapannya.
"Baiklah, saya akan berusaha semaksimal mungkin menjaga organisasi ini dan konsisten." Nara tersenyum mantap dan mengkepal tinjunya dengan semangat.
"Bagus, jiwa semangat muda yang tinggi, Nara," puji Pak Kepsek bangga kepada anak mantan didikannya dulu yang juga punya potensi yang tinggi di sekolah dulu.
"Kalau begitu pergilah ke kelasmu dan mohon kerjasamanya untuk tidak banyak bicara tentang pembicaraan kita hari ini," ucap Mahendra serius.
"Siap, Pak! Saya ke kelas dulu, permisi." Nara bergegas keluar, tidak tahan ditatap sinis. Bukannya ke kelas, Nara berjalan ke toilet untuk memperbaiki bhnya yang sedikit longgar. Namun saat sendirian di koridor yang sepi, Nara tersentak kaget dan menampol jidatnya.
"Haih, aku lupa tanya siapa nama ketua OSIS di sekolah ini!"
"Ya sudahlah, aku ke toilet dulu dan mencarinya nanti." Nara berlari cepat. Sesampainya di depan dua toilet yang terpisah, tiba - tiba dari toilet cowok, Nara berhadapan dengan seorang siswa yang tampan, tapi tampilannya berandalan. Dia baru saja keluar dan melihat Nara sebentar kemudian pergi dengan angkuh.
"Idih, sepertinya di sekolah ini banyak banget warganya yang sombong - sombong. Hmp!" Kesal Nara pun masuk ke toilet cewek. Dia membuka bajunya dan bertelanjang dada. Nara mengganti kuttang yang sedikit dibasahi asinya yang keluar tadi. Untung saja tidak tembus ke seragamnya.
Melihat tampilannya sudah rapih, Nara keluar bersamaan bel pelajaran pertama dimulai.
"Haih, jangan sampai aku terlambat masuk!" Sebagai OSIS yang resmi dipilih, Nara tidak mau membuat kesan buruk di hari pertamanya. Tidak sangka, Nara satu kelas dengan Garce. Mereka berdua pun duduk bersama dan belajar dengan tenang. Tetapi karena jabatan Nara, siswa di kelas tidak bisa berhenti meliriknya. Nara yang risih pun hanya bisa diam dan bersabar.
🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒
Jam istirahat pun tiba, Nara yang selesai merapikan buku - bukunya membuka ponselnya untuk mencari siapa nama anak wakepsek yang dulu.
"Nara, lagi cari apa?" tanya Garce yang mengunyah sanwich di tangannya.
"Nama anak wakepsek dulu," jawab Nara.
"Memang kamu tidak tahu?" tanya Garce lagi.
"Ya, aku tidak tahu siapa ketos kita," ucap Nara karena sibuk belajar di rumah dan mengurus Alan, jadi baru mencari biodatanya di internet. Garce menahan tawa melihat temannya yang kesusahan.
"Kenapa sih harus cari ke internet, kamu kan bisa tanya ke aku, hahaha…." Tawa Garce, anak yang terlahir kaya raya dan punya banyak informasi tentang sekolah. Tidak seperti Nara yang miskin dan hanya punya ponsel jadul alias murah.
"Iya haha, aku lupa!" Tawa Nara baru sadar. Garce pun menjelaskan nama ketos yang sudah bocor. Bernama Daffa Pratama, kelas dua kesenian dan umurnya tujuh belas tahun beda delapan bulan dari Nara.
"Wih, lihat! Tampan kan?" Tunjuk Garce ke foto profil instagram Daffa yang memiliki followers ratusan ribu. Gara - gara insiden ayahnya, banyak orang simpatik sehingga Daffa sangat terkenal di sekolah.
"Oh ya, mau apa kamu mencarinya?" tanya Garce berjalan di sebelah Nara yang pergi mencari Daffa dan menemani Nara supaya tidak digoda oleh cowok - cowok kecentilan.
"Sebagai partnernya, aku perlu berkenalan dengannya dulu dan juga meminta info lain soal organisasi kita," jelas Nara menuruni tangga ke lantai bawah.
"Eh memang kamu tidak diberitahu oleh Pak Kepsek?" tanya Garce heran bisa - bisanya Nara tidak tahu menahu organisasinya sendiri.
"Haha soal itu, sepertinya cuma ketos yang bisa memberitahuku." Senyum Nara grogi.
"Berarti kamu tidak tahu juga siapa nama - nama anggota lain?" Nara mengangguk. Dia harus mematuhi ucapan Kepsek untuk tidak banyak bicara.
"Aih, sayang sekali ya." Garce mengeluh, gagal mendapat info terbaru. Nara pun sadar kalau Garce gadis ceria yang banyak bicara. Tiba - tiba saja saat menginjak lantai bawah, semua murid di lantai itu berlari ke lapangan.
"Hei apa yang terjadi sampai kalian berlarian?" Garce menahan salah satu siswa cewek. Siswa cewek itupun tersentak melihat Nara.
"Kamu waketos, 'kan?"
"Ya, kenapa?" tanya Nara.
"Bagus, cepat ikut saya ke lapangan. Kamu harus menghentikan mereka sebelum tambah parah!" Nara ditarik pergi dan Garce ikut juga.
Seketika, Nara membelalak melihat perkelahian dua kakak kelasnya. Tapi lebih kaget lagi diantara mereka ada cowok angkuh itu.
"Hei kalian! Berhenti membuat masalah di hari pertama adik kelas belajar! Berhenti!" lantang Pak Satpam mencoba melerai cowok yang emosi ingin menghajar cowok angkuh itu.
"Woy sialan, mentang - mentang lo anak yayasan di sekolah ini beraninya nuduh gue pencuri! Mana buktinya, haaa?!" teriak lawannya marah - marah.
"Cih maling mana ada yang mengaku," cemohnya tanpa perasaan kemudian pergi begitu saja.
"Woy Ezra! Sini lo! Jangan cuma seenaknya pergi setelah merusak nama baik gue!" Teriaknya ingin menerjang tapi Pak Satpam tetap mencekal tangannya.
"Lepasin gue, Pak!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Ade Bunda86
blm jelas nih alurnya...lanjut baca dulu deh....semangat thor.
2022-10-19
2
Joveni
komenku cuman ini... karena lagi nyimak biar faham🤭🤭🤭
2022-10-09
1
🌹🌹🍀🍀Edelweis🌻🌻🌈🌈
like favorit dan bunga buat othor nya ...semoga semangat💪💪
2022-10-06
1