Dalam diskusi yang selesai dilakukan, Nara yang sebagai waketos masih tidak tahu siapa dan nama OSIS lainnya karena saat panggilan zoom, mereka tidak menunjukkan wajah dan hanya suara saja. Satu - satu dari mereka punya suara yang unik dan karakter yang berbeda. Serta masing - masing punya tugas rahasia.
"Daffa, aku merasa kalau osis lainnya kayak agen rahasia yang memata - matai siswa, hehe…"
Mendengar Nara, Daffa juga sama berpikir begitu. "Tapi karena ini, mereka aman dari pembullyan dan ancaman dari blackzak," ucap Daffa merapikan barang - barangnya.
"Blackzak? Apa itu?" tanya Nara baru tahu.
Daffa pun duduk bersila di depan Nara. Inilah waktu menjelaskan ke Nara soal tiga organisasi besar di sekolahnya. Termasuk blackzak yang tidak pernah bocor ke luar sekolah karena mereka takut membicarakannya.
"Blackzak adalah organisasi gelap, terdiri dari 12 geng rasi bintang dan beranggota 500 preman sekolah dari kelas satu sampai tiga."
Baru segitu saja, bulu kuduk Nara sudah merinding.
"Terus kenapa tidak dibubarkan saja?"
"Karena diketuai oleh cucu salah satu tiga pendiri sekolah ini," ucap Daffa seperti kata Garce soal Ezra yang juga anak pendiri sekolahnya.
"Siapa nama ketuanya?" tanya Nara.
"Vano Bastian, dia kelas tiga dan jarang masuk sekolah, bahkan tidak pernah pulang ke rumahnya tahun lalu sampai sekarang," jelas Daffa.
"Apa dia brokenhome?" tebak Nara.
"Bisa dibilang ya, bisa juga dibilang tidak," tutur Daffa ingin memperlihatkan wajah Vano tapi tidak punya gambarnya.
"Terus apa lagi?" Nara ingin tahu semua.
"Okeh, kedua itu Ozara Wz adalah organisasi pembela siswa." Tunjuk Daffa ke lencana Ozara yang ada di ponselnya.
"Organisasi pembela? Maksudnya?" tanya Nara baru dengar. Itulah bedanya ELIPSEAN II.
"Ya, Ozara itu sebaliknya dari blackzak, anggotanya adalah siswa yang mampu mengurus keluhan dan masalah yang dibuat oleh blackzak. Walau begitu anggotanya masih tegap diganggu juga oleh mereka, tapi tenang saja karena ada ketua yang selalu maju di garis depan," jelas Daffa begitu menikmati karena seperti sedang mengajari muridnya.
"Terus siapa nama ketua Ozara?"
"Ezra, dia ketua utama dari 12 geng rasi bintang di Ozara dan juga dia yang menjadi tiang kokoh bagi sekolah ini," jawab Daffa menunjuk foto Ezra di ponselnya.
"Pantas saja di hari pertama dia bebas menghajar pencuri di sekolah, ternyata ketua Ozara dan anak pendiri,"
"Ya, itu dia," ucap Daffa menahan tawa melihat reaksi Nara yang lucu.
"Tapi kenapa Ezra tidak pakai lencana?"
"Ah karena dia tidak mau terlihat mencolok di sekolah," jawab Daffa ke Nara.
"Kalau begitu, osis seperti kita apa gunanya?" tanya Nara merasa tidak berguna masuk osis.
"Kenapa tanya begitu?"
"Habisnya, osis kita seperti dihimpit di tengah - tengah oleh dua organisasi yang bermusuhan," jelas Nara seperti anak kecil bicara.
"Hahaha… justru kita berada di tengah bukan untuk dihimpit tapi menetralisikan dua pihak ini supaya sekolah tidak hancur."
"Oh aku tahu, ini seperti jadi polisi yang sedang melerai preman pasar dan preman tertib," ucap Nara membuat Daffa tertawa geli.
"Hahaha… ada - ada saja kamu, Nara." Saking gemesnya, Daffa mengacak - acak rambut Nara.
"Hehehe… terima kasih sudah jelaskan, Daffa." Nara diam - diam tersipu malu - malu merasakan tingkah Daffa yang lembut kepadanya. Namun sedetik berlalu mereka mulai canggung.
"Aku ke atas dulu mau lihat baby Alan." Nara menuju ke tangga, sedangkan Daffa ke toilet untuk membasuh mukanya yang kusut. 'Huft, Nara itu kasihan sekali, sudah yatim piatu dan sekarang diberi jabatan sulit ini. Tapi kalau saja musibahnya tidak terjadi, mungkin saja aku bisa satu kelas dengannya.' Daffa mulai memikirkan terus adik kelas cantiknya itu.
Cklk!
Nara membuka pintu di depannya, tetapi tidak ada baby Alan atau Mahendra.
"Eh aku pikir kamar ini punya Pak Mahendra tapi sepertinya kamar Daffa. Isinya rapih banget, sepertinya Daffa anak yang disiplin juga." Nara kagum dengan pribadi Daffa, ia pun pindah ke kamar sebelahnya. Setelah pintu terbuka, rasa kagum Nara hilang melihat isi kamar yang berantakannya luar biasa parah.
"Tidak perlu dipikir - pikir lagi, kamar ini milik Ezra. Ckckck…. dia itu numpang di rumah orang, tapi tidak bisa jaga kebersihan. Sepertinya aku tahu kenapa Daffa menawarkanku pekerjaan, karena yang mau dibereskan adalah kamar Ezra. Huft, dia itu sangat mengecewakan. Ganteng - ganteng tapi jorok." Karena hari ini adalah hari pertama kerjanya, Nara pun masuk sebentar, memungut pakaian Ezra yang berceceran di mana - mana, seperti kamar yang habis diterjang tsunami.
Wangi kamar Ezra juga sangat tidak enak, bau yang bisa membuatnya mabuk. Jadi Nara menjepit hidungnya sesekali supaya tidak pingsan dan terperdaya.
"Yosh, sekarang rapih semua." Nara berkacak pinggang di dekat pintu dan lega melihat kamar Ezra kinclong dan bersih. Untung saja ia pintar beres - beres rumah. Tiba - tiba Mahendra sudah ada di dekatnya.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Nara?"
"Eh Pak Mahendra, maaf saya cuma sedikit beres - beres," ucap Nara menatap ke lantai. Takut dengan tatapan dinginnya. Mahendra menghembus nafas kasar kemudian menunjuk keluar. "Itu kamar saya, kamu ke sana kalau mau lihat adikmu dan jangan suka sembarangan masuk kamar orang." Tegas Mahendra.
"Baik, maaf Pak!" Nara berlari pergi ke kamar Mahendra, sedangkan pria dewasa itu melihat kamar Ezra sebentar kemudian menutupnya lalu turun ke bawah, membiarkan Nara di kamarnya. "Syukurlah, Pak Mahendra tidak main tuduh aku mau mencuri dan sepertinya dia juga suka anak - anak." Senyum Nara ke baby Alan yang dikelilingi mainan dan melihat ke luar jendela sudah mulai malam.
"Aku harus pulang nih sekarang." Nara mengambil baby Alan di ranjang lalu membawanya ke bawah. Sampai di bawah, Nara diam tertegun melihat Daffa dan Mahendra di dapur berdua sedang mau memasak dan juga berdebat. Bagai adik kakak yang sedang memperebutkan mainan. Tidak seperti murid dan guru lagi.
"Sudah kubilang, malam ini aku yang masak!" Mahendra menunjuk Daffa pakai teflon.
"Kemarin kan sudah, sekarang aku saja yang masak!" Protes Daffa pakai wajang di kepalanya.
"Masakmu kurang enak! Tidak cocok dilidah!" Mahendra menolak.
"Lidah - lidah kamu, bukan lidahku!" Ikut Daffa sebal juga.
"Kamu ini kok ngeyel banget sih, Daffa!" Gemes Mahendra.
"Ya itu karena kamu tidak mau ngalah sama yang muda, Pak!" Gemes Daffa juga. Sontak saja teflon Mahendra menampol kepala Daffa.
Tuanggg!
"Aduh, sakit, Pak!" Ringis Daffa meski sudah pakai wajang di kepalanya.
"Pak-pak-pak! Emang aku nih bapakmu?! Panggil Kakak! Kita bukan di sekolah, tidak usah formal di rumah. Lagian juga aku nih masih muda, belum tua - tuaan amat." Cemberut Mahendra.
Melihat Daffa dimarahi, Nara menahan tawa di dekat pintu dapur tetapi tersentak kaget pada Ezra yang tiba - tiba sudah ada di dekatnya dan memanggil Daffa dan wakepsenya itu.
"Woy, nih gue bawa makanan dari luar, nggak usah berantem deh! Bikin malu saja berdebat di depan bayi. Sudah besar tapi masih kek bocah."
Karena ditegur Ezra, Pak Mahendra dan Daffa kompak menatap sinis ke arahnya, tapi Ezra lebih sinis lagi. "Serah kalian dah, gue mau makan." Ezra jalan ke kursi. Cowok yang tidak suka repot itu duduk sendirian kemudian menoleh ke Nara.
"Woy, waketos! Dari pada bengong di situ, sini makan dulu sebelum lo pulang. Tapi habis makan, jangan ngarep gue pulangin lo."
Mau tidak mau, Nara terpaksa duduk di antara tiga cowok di satu meja. Sedangkan baby Alan digendong Mahendra. Nara pun terus - terusan menelan ludah tidak tahan dikepung tiga cowok tampan sekaligus, ditambah baby Alan yang terbangun suka tarik - tarik baju Mahendra.
'Ya Allah, suasana macam apa ini?'
'Kalau begini sih, aku tidak bisa makan.'
Nara terpaksa melahap meski perutnya berusaha menolak. Tapi demi asi Alan tetap lancar, Nara harus kuat makan.
...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments