Nara terkejut pada Ezra yang tahu hubungannya dengan baby Alan. Bagaimana dia tahu? Tentu saja Ezra tahu karena dia sendiri yang menyelamatkannya.
#Flashback
Di kontruksi terbengkalai.
"Hahaha… sepertinya aku harus melepaskanmu lagi, Ezra." Tawa wakil Vano berdiri di pinggiran karena mendapat pesan dari Vano untuk kembali ke markas.
"Cuih, sini lo!" Tantang Ezra yang bibirnya kena tonjok tadi.
"Upsss… lo yakin nih mau lawan gue atau ngebiarkan waketos dan bayi itu meninggal?"
Degg!
Ezra tersadar. Hampir saja lupa pada dua nyawa yang sedang dalam bahaya. Karena Ezra diam, wakil Vano meraih tali tembaga dan melompat bebas.
"Sampai jumpa serigala bodoh!"
"Sialan! Jangan kabur lo, bajingan!" Ezra menangkap tali itu tetapi wakil Vano sudah pindah ke lantai bawah dan pergi.
"Arghhh!" Ezra menendang angin. Kemudian menarik nafas dalam - dalam. "Okeh, aku harus tenang, berpikir Ezra!!! Berpikir!"
PLAK!
Ezra menampar wajahnya supaya berpikir, kemudian mencari hape tadi yang belum rusak. Ezra pakai jaketnya kemudian menelpon ke nomor milik Nara tadi. Ezra berlari sana sini, naik ke lantai mencari nada dering.
"Sial, di mana kamu, Nara!" Teriakan Ezra sampai - sampai berdengung ke seluruh kontruksi. Sontak saja, matanya menangkap sumber suara tangisan baby Alan.
"Huwaaa! Huwaaa! Huweeek!"
Ezra membuang hape itu, berlari ke pintu yang dicekal besi yang terdapat Nara dan baby Alan di dalam sana.
Brak!
Ezra berhasil menemukannya. Kedua matanya membola melihat Nara duduk di lantai sembari menyusui baby Alan. Nara yang pucat gara - gara berusaha terlepas dari ikatannya pun terkejut seseorang mendapatinya. Pandangan yang samar - samar dan suara yang sudah habis membuat Nara pun lemas tidak berdaya sehingga keseimbangannya hancur.
Ezra bergegas menahan punggung Nara sebelum baby Alan ikut terjatuh. Nara yang pingsan pun tidak sempat mengenali siapa orang itu. Sedangkan Ezra diam membisu seolah tidak habis pikir Nara punya anak sungguhan. Apalagi matanya sudah ternodai melihat dua panyudara Nara yang besar dan berisi sedang diEmut baby Alan.
"Sial, apa ini mimpi?" Ezra menampar wajahnya sendiri.
Plak!
"Aduh, sakit, njiirr!" Umpatnya ke diri sendiri membuat baby Alan yang kaget tiba - tiba tertawa lucu.
"Huwahaha…"
Ezra segera membawa Nara dan baby Alan ke rumah sakit.
#flashbackoff
"Maaf…." lirih Nara menunduk. Ezra yang berdiri pun jadi canggung mau bilang apa. Tapi kalau terus - terusan diam, membuat Ezra tidak tahan.
"Hahaha… maaf buat apa sih? Hahaha," tawa Ezra benar - benar bingung mencari topik. Padahal ada banyak pertanyaan yang mau dia tahu soal baby Alan.
"Maaf… gara - gara aku, kamu terlibat." Isak Nara menutup wajahnya dengan selimut.
"Aduh, jangan nangis dong, aku kan tidak bermaksud menertawaimu. Jangan nangis dong, waketos." Ezra panik sendiri melihat Nara sesugukan terus. Tiba - tiba Garce datang.
"Naraaa! Syukurlah kamu selamat! Huhuhu… maafkan aku yang sibuk - sibuk akhir ini." Garce memeluk Nara. Ezra kembali mengelus dada melihat Garce menenangkan Nara, tapi seketika membuatnya syok saat Daffa datang dan memeluk gadis itu. Bukan cuma Ezra saja, Garce dan Mahendra juga terkejut Daffa yang terang - terangan memeluk Nara.
"Maaf Nara, harusnya aku datang menyelamatkanmu, tapi syukurlah kamu baik - baik sekarang." Daffa mengelus punggung Nara yang diam karena gugup.
"Astaga! Aku kelepasan! Maaf, Nara!" Daffa segera melepaskan pelukannya kemudian sedikit menjauh.
"Yaelah, kelepasan? Bilang saja pengen meluk." Ezra memutar bola mata malas. Sedangkan Garce tertawa cekikikan bisa melihat ketosnya tersipu malu - malu. Tidak seperti Mahendra masih dengan muka dinginnya tidak suka siswa - siswanya kasmaran.
"Ehem, bagaimana keadaan adikmu, Nara?" tanya Mahendra memecah kecanggungan mereka.
"Oh anaknya —" Ezra berhenti, hampir keceplosan.
"Anaknya? Anaknya siapa?" tanya Garce.
"Anaknya Bu Mayang! Nah itu dia di ruang sebelah lagi … lagi dirawat sama dokter, tapi sekarang sudah membaik kok," jelas Ezra yang memang tahu dari Dokter tadi.
Nara menghela nafas lega Ezra mau rahasiakan dulu identitas baby Alan. Tapi tiba - tiba cemas ketika Dokter datang.
"Permisi, boleh panggil ayah bayi ke ruangan saya?"
"Eh, ayah bayi?" ucap Garce, Daffa dan Ezra kompak.
'Waduh, bagaimana nih?' pikir Ezra melirik Nara yang gelisah. 'Baiklah, gue saja deh,' batin Ezra mau angkat tangan tapi tidak jadi karena terkejut Mahendra yang jawab duluan.
"Saya, Bu."
Hah? Hah? Hah? Apa ini?
Daffa, Ezra, Garce dan Nara kompak tercengang.
"Kalau begitu mari ikut saya, Pak."
Mahendra pun pergi tanpa berkata - kata ke siswanya, terutama ke Nara yang masih melongo.
"Apaan dah tuh? Kenapa tiba - tiba nyamar jadi ayahnya baby Alan?" gumam Daffa bingung dengan tindakan Mahendra.
"Ya tuh, apa - apaan sih dia, sok baik banget sampai segitunya." Ketus Ezra cemberut. Tapi tidak untuk Garce yang marah.
"Hei, kalian berdua ini memang tidak berperasaan!" Celoteh Garce bertolak pinggang.
"Hah? Maksud lo apaan gendut?" tanya Ezra marah.
"Isshh! Kalian harus bersyukur ada Pak Mahendra yang baik mau membantu, tidak usah juga ejek aku gendut! Aku ini cuma tembem sedikit! Sedikit tahu!" gerutu Garce.
"Serah lo dah, gue mau cabut, good by!" Sentak Ezra tapi berhenti dan melihat Nara.
"Oh ya waketos, lo nggak usah mikirin hal itu, gue nggak bakal ngomong - ngomong apa dan lo banyak - banyak minum air, udah segitu saja! Good by!"
"Ilih, sombong amat dia!" ketus Garce tidak suka sikap Ezra yang main cabut - cabutan. Sementara Daffa melihat Nara yang diam. 'Apa yang mereka sembunyikan?' pikir Daffa jadi penasaran.
"Anu, terima kasih sudah membantu, sekarang aku sudah baik - baik saja jadi kalian bisa pulang." Nara memaksakan dirinya tegar lagi.
"Nara, aku turut prihatin sama Bu Mayang dan sekarang aku jadi takut kalau nanti kamu diincar lagi sama blackzak, aku di sini saja deh sampai –" putus Garce gara - gara Daffa.
"Tidak usah cemas, Nara akan tinggal bersamaku."
"What? Kamu serius mau bawa Nara dan adiknya?" Kaget Garce dan Nara juga.
"Ya, ini sudah tanggung jawabku, mereka pasti akan mengulanginya lagi dan tidak akan berhenti sampai tujuan mereka tercapai," ucap Daffa serius.
"Memang tujuannya apa?" tanya Garce mulai kepo.
"Maaf Garce, sebaiknya kamu pulang, nanti orang tuamu marah dan komplain ke sekolah, jika itu terjadi kamu akan dipindahkan," ucap Daffa serius lagi.
"Aihhh, ketos benar - benar menyebalkan! Ya sudah, aku pulang ya, Nara." Setelah memeluk Nara, Garca pulang sebelum bapaknya marah di rumah. Sekarang tinggal Nara dan Daffa berdua saja.
'Aduh, aku ngomong apa ya?' pikir Daffa bingung memecah suasana hening ini. Tapi tiba - tiba Dokter datang bersama Mahendra menggendong baby Alan. Dokter melepaskan infus Nara dan mengizinkan Nara pulang. Setelah itu pergi lagi ke pasien lain.
Suasana tambah canggung saja.
"Nara, seperti yang kamu alami sekarang, saya tidak punya pilihan selain membawamu ke rumah," ucap Mahendra.
"Lho, tapi aku duluan yang ajak Nara, Pak," timpal Daffa.
"Ya itu maksud saya, di rumah kamu, bukan di rumah saya sungguhan!" Kata Mahendra gemas, membuat baby Alan tertawa melihat dua cowok itu berdebat terus.
"Terima kasih, tapi —" putus Nara gara - gara baby Alan menangis. Huwaaa! Huweekk!
"Ya sudah aku mau, Pak." Setuju Nara bersamaan baby Alan berhenti nangis membuat Daffa dan Mahendra menahan tawa karena baby Alan berpihak kepadanya. Sungguh bayi imut yang cerdas, bukan?
...'Ω''Ω''Ω''Ω''Ω''Ω'...
Ya baby Alan🤣
Ayo baby cari bapak aslimu juga🤭
...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Riyas Warman
fiks ayahnya Mahendra wes gak mau nebak² baca lanjut aja 😉😉🤭
2022-11-18
2