Ezra yang pulang ke rumah, lagi - lagi terkejut dengan hadirnya Nara dan baby Alan yang sekarang duduk bersama Daffa dan Mahendra di ruang tamu.
"Daffa, di rumah ini cuma ada tiga kamar dan kalian mau Nara sama_" ucap Ezra melirik ke baby Alan.
"Sama adiknya tinggal sini? Kalian pasti bercanda, kan?"
"Kami serius, demi keselamatan bayi Bu Mayang," jawab Daffa dan Mahendra serempak.
"Terus dia mau tidur di mana? Di mana?!" tanya Ezra.
"Tidur di kamarku lah," kata Daffa singkat dan jelas.
"Apa? Maksudnya lo dan Nara tidur bareng, begitu?" Ezra membola.
"Dasar! Kita yang akan tidur bersama dan Nara tidur bareng adiknya di kamarku," jelas Daffa berdiri.
"Ogah banget, iihhh!" tolak Ezra.
"Ezra! Rumah ini milik Daffa, dia yang berhak mengatur, bukan kamu." Sentak Mahendra berdiri. Nara di tengah - tengah cuma meneguk ludah. Sedangkan baby Alan dengan tangan mungilnya asik merais - rais dada Nara, merengek ingin susu lagi.
"Ya sudah, gue tidur di luar," kata Ezra tapi tidak jadi karena melihat baby Alan ingin susu.
"Hmm… kenapa berhenti?" tanya Daffa dan Mahendra.
"Tau ah, gue mau ke atas, malam ini gue resmi tidur di kamar lo." Ezra menunjuk Mahendra.
"Apa? Kamarku?"
"Ya, gue lebih baik tidur bareng saudara daripada ketos lemah!" sindir Ezra pada Daffa kemudian naik ke atas dan mandi di kamar Mahendra.
'Hah? Pak Mahendra sama Ezra saudara? Sejak kapan?' batin Nara melihat Mahendra yang cemberut. Memang mirip matanya sama Ezra. Begitulah, terlahir konglomerat dari 12 bersaudara, Ezra Givandra hanya anak bungsu yang tidak berguna bagi 11 kakaknya. Kira - kira Mahendra anak ke berapa?
"Huhh… bocah kurang ajar! Sifatnya keras sekali! Awas saja kalau nanti tendang - tendang, bakal kupatahkan satu kakinya itu." Mahendra menyusul adik bungsunya itu. Sedangkan Daffa sudah terbiasa diremehkan Ezra.
"Daffa, maaf sudah merepotkanmu." Nara berdiri.
"Hm, tidak masalah, sekarang kamu tidur di kamarku dan yang terjadi hari ini kamu jangan pikirkan lagi, okeh?"
"Hm, terima kasih, Daffa." Nara tersenyum lalu pergi ke atas. Daffa menatap kepergian Nara, hatinya gelisah.
"Akh! Vano sialan, kamu sudah keterlaluan!" Daffa menelpon kepala sekolah untuk melaporkan Vano supaya secepatnya ditangkap dan dikurung oleh keluarganya. Tetapi sayang sekali, kepala sekolah sudah seringkali melaporkannya tapi keluarga Vano tidak peduli.
Daffa cuma mengacak - acak rambutnya. Satu - satunya menghentikan kelakuan Vano hanyalah membuat bocah itu berubah atau mati. Dari pada depresi, Daffa pun ke kamar Ezra untuk merileks pikirannya.
🍒🍒🍒🍒🍒🍒
Pukul 10 malam, semua sudah terlelap kecuali Ezra yang terus kepikiran Nara dan baby Alan. Cowok itu pun melirik Mahendra yang menikmati dengkurannya.
"Ah sial, berisik banget!" Ezra pun mengendap - endap keluar, ingin tidur ke bawah tapi seketika bersembunyi saat melihat Nara dari bawah membawa air satu botol penuh. Gerak - gerik yang mencurigakan membuat Ezra pun muncul mendadak.
"Ezra, umhh_"
"Shhtt, jangan teriak, aku cuma mau bicara sesuatu padamu," bisik Ezra.
"Sesuatu apa?" tanya Nara deg - degan. Bisa - bisanya cowok itu keluar malam - malam dari kamarnya.
"Itu soal hubungan kamu sama baby Alan," jawab Ezra tidak bisa tidur kalau belum tuntaskan rasa penasarannya.
"Ya sudah, sini ikut aku," tarik Nara masuk ke kamarnya membuat Ezra diam mematung.
"Kamu tunggu dulu, aku mau buat susu." Nara menyuruh Ezra duduk di dekat baby Alan yang terbaring di atas ranjang.
"Katanya mau dengar ceritaku, tapi kenapa diam saja?" Sembari meneguk habis susu pelancar asinya, Nara melihat Ezra yang masih berdiri di dekat pintu
"Kamu tidak takut?" tanya Ezra.
"Takut? Untuk apa aku harus takut?" tanya Nara pindah ke baby Alan yang belum tidur dan sedang asik merais - rais bola mainan plastik di tangannya.
"Ya bisa saja aku punya niat jahat mau menerkammu," ucap Ezra meneguk siliva gara - gara Nara mengingkat rambut panjangnya dan memperlihatkan lehernya yang halus. 'Sial, aku jadi pengen –' Ezra menahan bir@hinya.
"Kalau kamu mau begitu, berarti kamu sama saja dengan Vano." Nara menoleh dengan tatapan dingin lalu sedih.
"Enak saja, jangan samakan aku dengan si gila itu." Ezra menghentakkan kakinya membuat baby Alan tertawa melihatnya cemberut.
"Ya sudah, mau dengar cerita aku atau tidak?" tanya Nara dan tersenyum melihat anaknya tertawa. Ezra pun naik ke ranjang dan duduk di sisi lain. Nara dalam hatinya ingin meledeknya karena cowok itu masih punya rasa penasaran.
"Ayo, cepat cerita sebelum tengah malam," desak Ezra seraya memegang jari - jari pendek baby Alan.
"Ya…ya…sabar!"
Nara pun menjelaskan awal mengapa dia punya anak. Menjelaskan ketika orang tuanya dikabarkan meninggal, pada hari itu juga segerombolan gangster menculiknya, mereka membawa Nara yang sudah dibius obat tidur dan obat perangssang, setelah itu Nara terbangun di kamar hotel sendirian dengan tubuh yang penuh bekas percintaan yang banyak.
"Se…serius? Kamu mengalami hal itu?" Ezra jadi tidak enak mendengarnya, apalagi Nara sedang menahan tangisnya. Bagaimana tidak, trauma - trauma itu sulit dilupakan dan sulit untuk diobati sampai sekarang.
"Maaf, bukannya aku memaksa, tapi kenapa tidak kamu laporkan saja ke polisi?" tanya Ezra. Nara menggelengkan kepala, itu aib, aib keluarganya yang tidak boleh sampai bocor.
"Maaf, aku tidak bermaksud berbohong ke pihak sekolah, aku hanya …." lirih Nara dengan tubuh yang bergetar hebat. Tetapi seketika tenang saat tangan Ezra memegang tangannya dengan erat.
"Ini bukan salahmu, kamu masih pantas mengejar pendidikan, kamu cerdas, kamu punya prestasi dan baik hati. Kamu bukan penjahat dan semua orang sepertimu wajib bahagia. Jangan karena kamu merasa sendiri, dunia terlihat mengucilkanmu. Ingat Nara, ada orang - orang di sekitarmu yang selalu mendukungmu."
Nara tertegun karena kagum ke cowok itu yang bisa memberi kata motivasi untuknya.
"Siapa orang itu?" tanya Nara. Ezra menarik tangannya kemudian garuk - garuk pelipis karena Nara sudah tidak punya keluarga.
"Ehhh…ya baby Alan," jawab Ezra menunjuk.
"Terus siapa lagi?" tanya Nara ingin tersenyum mendengarnya.
"Ya… bu Mayang!" kata Ezra terbata - bata.
"Terus ada lagi nggak?" tanya Nara sedikit lagi tersenyum.
"Ya ada dong," jawab Ezra tambah gugup.
"Siapa itu?" tanya Nara mendekat membuat Ezra deg - degan karena matanya tidak tahan melihat belahan dada Nara dibalik dasternya itu.
"Tau ah, aku mau ke kamar, selamat malam, Junior!" Ezra melambai pada baby Alan yang tersenyum lebar. Ezra pun kemudian cabut ke kamarnya. Sedangkan Nara tersenyum bebas melihat sisi lain Ezra yang cukup perhatian. Setelah mengunci pintu, dia pun tidur di samping baby Alan. Memberikan pucuknya ke mulut kecil Alan, membiarkan putra kecilnya menyusu dengan leluasa. Sedangkan Ezra yang baring di sebelah Mahendra, tetap tidak bisa tidur walau sudah dengar cerita Nara.
"Ah sial, kenapa sih gue resah begini!" Acak Ezra pun memaksakan matanya terpejam. "Sial, kalau dia sudah punya anak, sepertinya dia juga tidak perawan lagi, kan?" gumam Ezra susah tidur. Tiba - tiba saja, Mahendra bicara.
"Siapa yang tidak perawan?"
"Astagaaa! Jangan kagetin gue dong!" Ezra melempar bantalnya ke muka wakepseknya itu.
"Habisnya ngomong terus sih, aku jadi kebangun!" Balas Mahendra lempar bantal.
"Sial, gue bobo di bawah saja!" Ezra ambil bantal, pergi tidur di bawah. Mahendra mencibikkan mulutnya. "Bagus, sekalian saja tidur di luar rumah." Mahendra kembali tidur, masuk ke dalam mimpi indah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Like + komen + favoritkan + terima kasih😍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Joveni
wwhhhaaattttttt... 12 bersaudara... ???!!!! pengen ketawa.. bisa buat tim sepak bola tuh...mungkin pak mahendra anak no 5 kalo si ezra ank 12 sih
2022-10-09
3