"Itu bisakah kamu lepaskan tanganku?"
Sontak saja, Daffa melepaskan tangan Nara.
"Ya maaf, aku tidak sadar tadi, hahaha…." Daffa tertawa sedikit canggung.
"Ti… tidak apa - apa kok," ucap Nara ikutan canggung.
"Oh ya, kenapa kamu ingin aku tetap jadi partnermu?" tanya Nara yang berjalan di sebelah Daffa.
"Huft, habisnya aku tidak percaya dengan anak - anak lainnya," jawab Daffa lesu.
"Eh kalau begitu, apa kamu percaya padaku?"
"Hm, benar sekali." Daffa mengangguk.
"Kenapa kamu percaya aku?" tanya Nara lagi.
"Karena…."
"Karena apa?"
"Karena cantik," ucap Daffa memuji. Nara yang bertanya sedikit salting mendengarnya.
"Hahaha… alasan yang tidak lucu," tawa Nara.
"Kalau tidak lucu, kenapa kamu tertawa?"
Deg
"Ya itu karena kamu…." ucap Nara merasa bodoh sudah tertawa.
"Hm aku apa?" Daffa mendekat.
"Ya… kamu itu…."
"Aku ganteng?" tebak Daffa pedenya.
"Hahahaha…." Nara tertawa kembali melihat rasa percaya dirinya Daffa yang tinggi.
"Eh tambah ketawa lagi, aku kenapa sih?" tanya Daffa garuk - garuk kepala.
"Kamu lucu," ucap Nara tersenyum senang Daffa yang sudah membuatnya ceria hari ini.
"Astaga, kata - kata receh begitu kamu langsung tertawa, hahaha…." Daffa ikutan senang adik kelasnya sudah tidak murung.
"Terima kasih," ucap Nara tiba - tiba.
"Terima kasih karena apa lagi nih?" tanya Daffa heran.
"Terima kasih sudah meringankan beban pikiranku, sekarang aku mau ke kelas dulu, permisi Kak Daffa." Nara tersenyum manis kemudian berbalik badan ingin pergi tetapi tangannya ditahan hingga Nara sontak menepisnya. Daffa terkejut melihat Nara yang ketakutan.
"Nara, apa aku tadi menyakitimu?"
Nara menggelengkan kepala dan meminta maaf lalu berlari pergi karena trauma penculikannya muncul barusan. Melihat Nara menjauh, Daffa mengeluh. "Padahal tadi aku mau ajak dia masuk ekskul musik, tapi tidak masalah deh, nanti aku ajak dia pas pulang sekolah." Daffa pun jalan ke kelasnya dan tidak sengaja berpapasan dengan Ezra. Cowok angkuh dan judes itu jalan melewatinya dan tidak lupa berbisik kecil.
"Jaga baik - baik waketosmu, ketua osis."
Daffa mengepal tangan, dia tahu kalimat itu pertanda buruk. Sebuah masalah akan muncul lagi dari anggota blackzak.
.
"Nara!" Garce memeluk Nara dengan erat.
"Ihh kamu dari mana saja?" tambahnya cemberut.
"Tadi dari ruang Pak Mahendra," jawab Nara murung.
"Eh kamu dipanggil ke sana?" Seperti biasa, Garce selalu kepo dengan segala hal tentang wakepsek dan Nara juga cuma mengangguk.
"Kenapa ke sana?" tanya Garce sambil makan krupuk kentang. Nara pun jujur apa yang terjadi soal kemarin dan niatnya undur diri tapi ditolak.
"Parah sih, mereka sudah berbuat terang - terangan padamu, kalau saja kemarin aku tidak pulang cepat, pasti sudah kupukul mereka satu - satu!" Kesal Garce meremat - remat bungkusan krupuknya. "Hahaha, kamu imut sekali Garce." Nara mencubit pipi tembem temannya itu.
"Oh ya, hampir lupa nih,"
"Lupa apa?" tanya Nara.
"Kamu mau masuk ekskul apa?"
"Emang wajib masuk?" tanya Nara lagi.
"Ya dong, ekskul itu memang dibutuhkan mengasah skill kita," ucap Garce langsung ke intinya.
"Hahaha… kayak game saja pakai skill-skill."
Nara dan Garce pun sama - sama berhenti ketika di papan pengumuman ada yang mencantumkan beberapa ekskul yang sedang mencari anggota baru.
"Wih, ada ekskul memasak, aku pilih ini deh." Kebetulan banget Garce suka mesak dan makan.
"Kamu pilih apa, Nara?"
Nara masih diam, memikirkan yang cocok.
"Semuanya bagus tapi aku pilih ini deh,"
"Eh teater? Serius?" tanya Garce. Nara mengangguk.
"Weeh, jangan - jangan kamu mau jadi aktris?"
"Garce, aku cuma mau gabung doang kok, tidak berniat jadi ini itu," ucap Nara tidak tahan ditanya bertubi - tubi.
"Tapi aku doain semoga jadi artis internasional,"
"Aminkan saja deh, hehehe..."
Nara dan Garce pun berpisah, masing - masing ke ruang ekskul untuk mendaftarkan diri.
"Kalau aku belajar drama, sepertinya aku bisa menghibur Alan kalau lagi rewelnya." Nara pun membuka pintu dan terdiam karena tidak ada siapa - siapa.
"Oh, kenapa sepi? Apa semua anggotanya sedang sibuk? Tapi kan ini masih jam istirahat, waktu masuk juga masih lama," gumam Nara masuk saja dan melihat - lihat di lemari ada alat - alat teater sekolah.
Tiba - tiba pintu digeser seseorang, Nara cepat berbalik badan dan membisu itu adalah cowok angkuh yang datang sendirian saja. Ezra dan Nara sama - sama saling menunjuk diri.
"Kamu? Kenapa ada di sini?"
Sejenak suasana hening dan seketika Nara mundur ke belakang setelah Ezra menutup pintu ruangan.
"Apa…apa yang mau kamu lakukan?!" Nara terpojok ke loker siswa dan ketakutan saat Ezra mendekatinya tanpa ekspresi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Linda Wulandari
Lanjut Thor.. Cerita Nya Bagus Thor Semangat Yah Thor...😊
2022-10-18
2