Terlepas dari insiden kemarin, hari - hari berikutnya Nara bisa belajar dengan damai. Meski begitu, Vano bisa kapan saja mempermainkannya. 'Jika benar, cowok itu ayahnya anakku, kenapa dia tega melakukan itu pada kami?' Nara terus saja memikirkan Vano.
"Hai Nara, lagi mikir apa sampai bengong begitu?" Daffa datang dari belakang. Nara menoleh, tersenyum padanya yang selalu ada di sampingnya seminggu ini.
"Awas loh, nanti ketabrak tiang bisa masuk rumah sakit," canda Daffa mentoel hidung mancung Nara, membuat waketosnya itu malu - malu. "Lagi mikir, akhir - akhir ini blackzak tidak membuat ulah, kenapa ya?" tanya Nara masih belum berani jujur ke Daffa.
"Ah soal itu, sebagian anak - anak blackzak sedang masa skors, jadi mereka seminggu ini tidak akan berbuat lagi," jelas Daffa tahu dari Mahendra yang sekarang pria dewasa itu berada di ruangannya bersama baby Alan yang ikut bersekolah. Kecil - kecil sudah masuk SMA, memang baby Alan yang beruntung, bukan?
"Ya sudah, aku ke kelas dulu, kamu kalau mau ketemu adikmu, pergi saja ke ruang Pak Mahendra," ucap Daffa menunjuk. "Hm, baik." Nara kemudian menghembus nafas lega dapat perlindungan dari Daffa, Ezra dan Mahendra. Entah kenapa, dia merasa seperti ratu yang dijaga ketat. Saat mau jalan lagi, tiba - tiba Ezra memanggil.
"Woy, waketos!" Nara pun menoleh ke kiri.
"Hm, apa?" tanya Nara. Ezra mendekat, berbisik - bisik.
"Anakmu nangis, cepat gih ke ruang Pak Mahendra."
Tanpa babibu lagi, Nara berlari ke ruang Mahendra disusul Ezra juga ikut. Sementara Garce, tidak sengaja melihat keduanya. "Kenapa ya, aku merasa mereka tambah dekat, apa cuma perasaanku saja kalau dua cowok itu menyukai Nara?" gumam Garce. Tiba - tiba ada cowok melewatinya.
"Ya itu hanya perasaanmu saja," ucapnya menoleh dan melirik sinis pada Garce yang terbelalak dapat disahut oleh ketua blackzak. "Vano Bastian?" Garce terkejut melihat Vano datang ke sekolah. Aura kekuasaannya memang kuat, sampai - sampai Garce tidak berdaya dan bergetar ketakutan. Terutama siswa lainnya berlari pergi, hanya fansnya yang masih bertahan memuja cowok tampan itu.
🍒🍒🍒🍒🍒🍒
"Nara, coba kamu tenangkan adikmu." Mahendra memberi baby Alan. Nara pun menggendongnya lalu menenangkan baby Alan yang merengek terus.
"Ezra, kamu di sini jagain Nara,"
"Hah? Kenapa harus gue?" tanya Ezra namun diberi jitakan di kepalanya.
PLATAK!
Aduh!!!
"Di sekolah harus sopan, berhenti pakai istilah gue - gue, dan nurut saja apa kata gurumu," ucap Mahendra marah. Ezra mengendus dan duduk manis di kursi. 'Mentang - mentang tua dari gue, sok - sokan bijaksana,' gerutunya dalam hati.
"Pak Mahendra mau kemana?" tanya Nara.
"Ke ruang kepala sekolah," jawab Pak Mahendra.
"Untuk apa, Pak?" tanya Nara lagi. Belum juga dijawab, tiba - tiba ada yang menjawab duluan.
"Yosh, tentu saja bertemu denganku," sahut Vano sudah ada di dekat pintu yang terbuka. Sontak saja Ezra berdiri ingin menghajarnya, tetapi Mahendra mencegat.
"Tahan, Ezra. Dia datang bukan untuk melanjutkan waktu itu, dia hanya ingin bicara sesuatu padaku, kalian berdua tetap di sini dan jangan keluar sampai aku kembali, mengerti Nara?" Tatap Mahendra pada Nara yang menggigil ketakutan diberi seringai Vano. Secepatnya, Ezra berdiri di depan Nara menghalangi pandangan Vano.
"Ck, dia pasti ada maunya, jarang - jarang dia masuk sekolah," decak Ezra setelah Mahendra dan Vano pergi. Dia pun menoleh, sontak terkejut melihat Nara masih ketakutan dan tidak mendengar baby Alan merengek.
"Nara, hei… tenanglah, selagi aku ada di sini kamu bakal aman - aman saja, sekarang mending tenangin anakmu dulu." Ezra menepuk bahunya.
"Keluar," kata Nara tanpa menoleh.
"Lha, kenapa tiba - tiba ngusir?" tanya Ezra. Nara pun mendongak, memperlihatkan baby Alan yang mau menettek.
"Baby Alan mau susu, apa kamu juga mau nyussu?"
Deggg…
"Ya kalau begitu, aku keluar jaga - jaga." Ezra terbata - bata saking malunya gara - gara Nara. Tetapi saat mau berbalik, tangan Nara yang begertar itu menahannya.
"Ada apa?"
"Jangan keluar,"
"Terus, aku mau berdiri di mana?" tanya Ezra meneguk ludahnya.
"Berdiri di situ, tapi jangan menoleh." Tunjuk Nara pada pintu yang tertutup. "Sial, kamu ini yang benar saja!" Kesal Ezra tidak suka diperintah - perintah. Tapi mau apa lagi, sebagai ketua Ozara, dia harus menjaga siswa di sekolah. Tetapi, setelah berdiri di tempatnya, baby Alan yang rakus entah dengan sengaja membuat Ezra tidak tahan.
"Caph…caph…caph!"
"Woy, Nara. Bisa nggak sih suruh anakmu jangan bikin suara kek begitu? Bikin geli dengarnya!" celetuk Ezra sedikit melirik punggung Nara yang sedang menyussui Alan.
"Sayang, diam ya, jangan begitu sama teman Bunda," tegur Nara, tetapi bayi kecil itu lebih rakus lagi membuat Nara mendeccah. "Ahh…shhtt…jangan sayang," lirih Nara membuat wajah Ezra memerah tomat.
"Ah sial, aku nggak tahan!"
Brak!
Nara tersentak cowok itu keluar, sedangkan baby Alan tertawa ria dan kembali menyussu. Kini Nara benar - benar tidak tahu apa yang harus dia lakukan menghadapi Vano Bastian. Kebenciannya pun muncul serasa ingin mencekkik cowok yang kejam itu.
🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒
Sepulang sekolah, di rumah Daffa. Mahendra langsung membawa baby Alan yang terlelap ke kamar Nara kemudian melihat gadis itu yang sedang memikirkan Vano.
"Nara, setelah kamu ganti seragam, tolong ke bawah dan panggil Ezra juga, saya punya sesuatu yang harus ditanyakan pada kalian berdua. Mumpung Daffa sedang berada di rumah sakit." Titah Mahendra lalu turun ke bawah. Nara pun gelisah. "Apa jangan - jangan Vano sudah jujur soal rahasiaku? Tapi ini kan bahaya untuknya juga." Nara pun memanggil Ezra di kamarnya.
"Apaan?" tanya Ezra malas keluar kamar dan sedang bersiap tidur siang.
"Itu, Pak Mahendra panggil kita,"
"Buat apa?" tanya Ezra pun membuka pintunya.
"Aku juga tidak tahu, tapi mungkin saja ada hubungannya sama Vano yang datang ke sekolah hari ini," jelas Nara menjawab dengan cemas.
"Hmm, ayo ke bawah, aku juga penasaran apa yang sudah mereka bicarakan." Ezra dan Nara pun turun ke bawah, duduk berhadapan dengan Mahendra.
"Ada apa panggil kita berdua?" tanya Ezra. Sontak saja, Mahendra menyerahkan sebuah berkas dari rumah sakit. Nara dan Ezra saling terbelalak diberi hasil tes DNA baby Alan. Tertera nama orang tua asli bayi mungil itu yang sebenarnya.
"Jelaskan sekarang, kenapa ini bisa terjadi?" Mahendra bertanya dengan penuh kekecewaan. Ezra melihat Nara terdiam kemudian melihat hapenya yang berdering, pesan dari_ "Friska?"
@babyfris
Sayang, jadi kencan malam ini?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments